"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.
"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adelaine & Damian Cassano
DEG
Mendengar namanya saja Dariush sudah muak. Dia meletakan sendok dan garpu begitu saja. Rusak sudah mood-nya untuk sarapan pagi. "Ayo sayang, kita pergi."
Bella mengangguk pelan dan berdiri. Sebelum dia pergi, wajahnya menoleh ke arah Sean. "Aku pergi dulu yah adik ipar." Ucapnya dengan menahan tawanya.
"Terserahlah, aku mau tidur!"
Sean tidak menetap dirumah kakaknya, dia lebih memilih tinggal di apartment miliknya dan hidup bebas tanpa aturan kakaknya.
Pengantin baru itu pergi dari sana, Dariush tak sedikit pun melepaskan tautan jemarinya di jari istrinya. "Kita di mobil bisa lepas dulu enggak tangannya?" Ketus Bella.
"Tidak bisa!"
"Ck...kita bukan mau nyebrang Dariush." Bella berdecak sebal dia memalingkan wajahnya ke kaca mobil. Namun suaminya tak bergeming dengan sikap tenang dan angkuhnya.
-
-
-
Mobil mereka sampai di lobby perusahaan Dariush. Sebelum turun mata Bella terpanah akan gedung perusahaan yang entah dia tidak tahu milik siapa. Gedung dengan design elegant dan cozy itu membuat Bella senang melihatnya.
Dariush keluar duluan membukakan pintu mobil untuk istrinya, tangan Bella menyambut uluran tangan suaminya. Keduanya berjalan ke dalam. Banyak staff disana melihat mereka. Bella nampak canggung ketika berdampingan dengan suaminya.
Fabio mengekor di belakang mereka. "Atur jadwal meeting kita." Ucap Dariush tegas. Badannya yang tegap, rahangnya yang lugas membuat hati Bella berdesir.
"Baik boss!"
Biasanya dia hanya melihat mafia seperti itu di film saja. Namun kali ini dia justru menikah dengan Dariush. Sungguh takdir yang tidak bisa ditebak.
Mereka bertiga naik ke lantai 20. Tempat ruang kerja Dariush. Khusus untuk petinggi dan juga sekertaris. Mata Bella tak henti menatap gedung pencakar langit ini.
Saat di lift Bella membisikkan sesuatu dengan suara s*ksinya. "Gedungmu bagus sekali. Kamu pasti sering bawa wanita nakal kan kesini?" Seringai Bella dengan wajah tak berdosanya.
Dariush sedikit geram dengar perkataan istrinya. Dia memilih menahan emosinya. Ketika sampai di depan ruangannya, Bella melihat wanita cantik dengan pakaian minim, sepertinya sekertaris suaminya.
"Sudah ku duga." Celetuk Bella sinis.
"Morning boss." Ucap Sera, sekertaris centil dan genit yang selalu ingin mencuri perhatian Dariush. Dia merapihkan rambutnya dan membuka satu kancing kemejanya.
"Hmmm." Jawab Dariush singkat tanpa menoleh. Bella mengulum senyumnya dia ingin sekali menertawakan wanita itu.
BRAK
"Syalan...siapa wanita itu? Beraninya dia datang bersama calon suami masa depanku." Gerutu Sera, dia menghentakkan kakinya dan kembali duduk.
Pasangan baru ini sudah ada di ruang kerja. "Duduk sini." Tutur Dariush. Bella duduk di sofa dekat suaminya. Fabio memberikan jadwal meeting dengan beberapa klien. Setelah itu dia keluar.
"Untuk apa aku disini? Kamu sibuk kan?" Ucap Bella dia mendekati suaminya dan bersandar didepan meja kerja itu.
"Menemaniku." Dariush menarik istrinya dalam pangkuannya. Tangan Bella sudah mengalung di leher suaminya.
"Hmm aku akan menemani kamu. Tapi apa tidak ada makanan atau cemilan ringan gitu?" Ucapnya, sembari memanyunkan bibir mungilnya.
"Hmmmpt_"
Bibir istrinya dibungkam Dariush. Ciumannya semakin menuntut, dia makin melahap menyesap dan melumat bibir istrinya. Bella juga menikmati ciuman suaminya. Bahkan tangan Dariush sudah meremas b*kong istrinya.
"Aku pesankan makanan. Temani aku di sini. Nanti siang kita keluar." Tutur Dariush lembut. Bella menurut ia mengangguk pelan dan tersenyum manis. Kepalanya menelusup ke ceruk leher suaminya.
Hanya dalam 30 menit semua makanan yang di pesan Bella datang. Ia memakan sebentar makanan itu. Dan duduk lagi di pangkuan sang suami. "Aku kenyang."
"Tidurlah di sini."
Tangan Dariush sibuk di laptop, lalu tangan satunya masih memegang pinggang sang istri. Cukup lama Dariush menyelesaikan pekerjaannya, hingga istrinya tertidur di pangkuannya.
"Cantik."
Dariush seperti menemukan seorang yang sangat berarti di hidupnya. Meskipun cara yang dia pakai salah. Tapi dia tidak akan pernah menyakiti istrinya ini.
Ponsel Dariush bergetar, Sean menghubungi kakaknya itu. "Kau harus tahu siapa ayahnya istrimu itu. Mungkin itu bisa jadi petunjuk untuk kita." Semprot Sean dari sebrang telepon.
"Maksudmu?"
"Dave Dirgantara, ternyata dia adalah sahabat daddy. Ku pikir kau sudah mencari tahu asal usul istrimu."
Dariush tampak berpikir sejenak, dia melirik istrinya yang masih terlelap. "Aku hubungi lagi nanti. Aku masih ada meeting." Dia menutup ponselnya.
"Jadi ayahmu_Arabella ini bukan sebuah kebetulan. Takdir yang mempertemukan kita meskipun dengan cara yang tak wajar." Gumam Dariush yang tak henti menatap wajah teduh sang istri.
Biasanya seorang Dariush detail akan segala sesuatu. Tapi sekarang dia seperti anak kecil yang tidak tahu apa apa.
Memang salahnya Dariush tidak sempat mencari tahu secara detail tentang keluarga istrinya. Namun setelah tahu dia akan mengorek lagi tentang kedekatan Dave bersama almarhum daddy-nya.
-
-
Dariush dan Sean terlahir dari pasangan Adelaine Moreno dan Damian Cassano. Keduanya adalah pebisnis yang sangat terkenal di negara itu. Bahkan kekayaan mereka sudah menjadi turun temurun dari leluhurnya.
Baik di bidang kuliner, otomotif, property, rumah sakit dan lainnya. Kematian orang tua Dariush dan Sean masih jadi misteri. Mereka menghembuskan nafas terakhirnya satu tahun lalu. Saat itu juga baik Dariush ataupun Sean hanya menemukan jalan buntu.
Tapi dengan Sean bicara bahwa Dave adalah sahabat dari Damian, pikiran Dariush sedikit terbuka. Dia akan menemui mertuanya itu ketika nanti membawa istrinya pulang.
"Eugh...hoaaaam." Arabella menggeliatkan badannya saat dia membuka matanya dan bibirnya tersenyum manis ke wajah tampan suaminya.
"Aku udah di surga yah?"
"Jangan berpikir aneh aneh Arabella. kamu masih di pangkuanku." Celetuk Dariush datar tangannya masih sibuk di laptopnya.
Bella bangun dan berdiri dia berjalan pelan ke meja satunya lalu menenggak segelas air putih sampai habis.
"Hmm aku juga ingin bekerja, kamu tahu kan aku masih punya tanggung jawab? Aku juga harus membayar semua karyawan ku." Lirihnya.
Dariush menoleh dan nampak berpikir sejenak. "Oke. Mulai besok kamu bisa selesaikan pekerjaan mu."
Dia berdiri mendekati sang istri yang masih memegang gelas. Dia menyimpan gelasnya dan satu tangannya merapatkan pinggang keduanya.
"Kita pergi sekarang." CUP
Dariush mengecup sekilas bibir merah sang istri. Dia menautkan jemarinya, Bella mengangguk pelan. Keduanya keluar dari ruangan itu.
Berbeda dengan sekertaris Dariush yang menatap mereka sinis. Fabio muncul dan mengikuti bossnya. "Siapa sih wanita itu?" Geram Serra.
Kini mereka bertiga sudah ada di dalam Mobil, entah Dariush akan membawa Bella kemana. Bella menuruti saja. Karena hanya dengan cara ini suatu saat dia bisa kabur dari Dariush.
Mobil itu berhenti di sebuah pemakaman khusus orang orang penting. Mata Bella celingukan seperti tengah mencari sesuatu. "Ini pemakaman, untuk apa kita kesini?"
Dariush tak menjawab dia membawa sang istri ke sana. Fabio menunggu dari kejauhan sambil memantau sekitar.
"Ini orang tuaku! Aku ingin mengenalkan kamu pada mereka. Dad, mom, ini istriku." Ucap Dariush dengan wajah yang amat serius namun seperti ada luka yang tertancap di matanya.
Bella menunduk hormat Dan tersenyum teduh. "Hallo mom, dad, aku istri dari anakmu. Aku Arabella." Ucapnya.
Keduanya berdoa didampingi pemuka Agama yang baru datang. Bella menoleh ke suaminya ada perasaan yang sulit di artikan. Tapi dia juga tak menampik bahwa Dariush sangat perhatian padanya.
Dia menatap air mata suaminya yang sebentar lagi akan tumpah. Tangannya memeluk lengan suaminya. Namun matanya tak henti menatap wajah sang suami.
"Ada apa Dariush? Apa Luka yang kamu simpan? Apa luka itu menjadi penyebab kamu jadi mafia?"