NovelToon NovelToon
Menua Bersamamu

Menua Bersamamu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Cintamanis / Nikahmuda / CEO / Tamat
Popularitas:11.2M
Nilai: 5
Nama Author: Casanova

Menikahi Majikan Ibu — Season 2

Genre : Komedi Romantis

Perjalanan rumah tangga Barata Wirayudha, pemilik BW Group yang menikahi putri dari pembantunya sendiri, Bella Cantika.

Perbedaan umur, latar belakang dan karakter membuat rumah tangga keduanya menjadi berwarna.

Bara yang temperamen, arogan dan mudah terpancing emosi, tetapi ia seorang yang penyayang keluarga dan daddy terbaik untuk putra-putrinya.

Bella yang lemah lembut dan dewasa, terkadang suka ketus pada suaminya berusaha menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya di usia yang masih muda.

Keduanya tidak romantis tetapi bercita -cita memiliki kehidupan rumah tangga yang romantis. Apakah rumah tangga mereka tetap berjalan mulus di tengah perbedaan?

Ikuti kisah rumah tangga Bara dan Bella bersama putra putrinya, Rania Wirayudha, Issabell Wirayudha dan The Real Wirayudha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Rikka dan ibunya

Waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa hari-hari yang mereka lewati melesat begitu saja. Bara sibuk dengan pekerjaan kantornya, Bella sibuk mengurus rumah dan ketiga buah hatinya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Satu purnama terlewati sudah.

Pagi itu, tidur Bara terusik saat bunyi pintu gerbang depan terbuka. Tak lama, suara motor matic milik Pak Rudi terdengar keluar dari pekarangan rumah. Sudah menjadi kebiasaan, sejak dulu sopir keluarga itu selalu melaksanakan salat subuhnya di masjid komplek. Di antara para pekerja di kediaman Bara, Pak Rudi salah satu yang tidak pernah melewatkan ibadahnya. Sebisa mungkin sopir paruh baya itu meluangkan waktu di tengah akitivitasnya yang padat.

Melirik sekilas jam digital di atas nakas, Bara menggeliat kecil. Bella yang sedang memeluk erat tubuhnya ikut terusik dengan pergerakan kecilnya.

“Mas, jam berapa sekarang?” Belum sempat pria tampan itu menjawab, azan subuh sudah berkumandang indah.

“Sudah subuh, Sayang.” Bara menjawab dengan suara khas bangun tidur.

“Aku masih mengantuk, Mas.” Bella menelusupkan wajahnya semakin menempel di tubuh Bara. Aroma maskulin khas pria itu begitu memabukan bagai candu. Beberapa hari ini, Bella begitu menyukai aroma tubuh Bara, apalagi saat keringat bercampur parfum Bara sehabis pulang kerja. Aroma yang begitu menyenangkan baginya akhir-akhir ini.

“Ya, sudah. Kamu bisa tidur sepuluh menit lagi.” Bara mengeratkan pelukannya, menikmati tubuh mungil yang bergelung di sampingnya.

Kedua mata Bara baru saja akan terpejam, saat merasakan perutnya bergejolak. Sensasi aneh yang membuatnya ingin memuntahkan semua isi perutnya. Ia baru saja melabuhkan kecupan di puncak kepala sang istri, tetapi wewangian dari shampo yang masih menempel di rambut Bella menguncang isi lambungnya.

“Bell, kamu mengganti shampomu?” tanya Bara, menutup hidung dan mulutnya secara bersamaan dengan telapak tangan. Sesekali terlihat dada pria itu naik turun, berusaha menahan agar isi lambungnya tidak tertumpah keluar.

“Tidak Mas.” Bella mengerutkan dahi. Buru-buru mengurai pelukannya.

“Minum dulu, Mas.” Bella menyambar segelas air putih di atas nakas dan menyodorkannya pada Bara.

Glek ... glek ... glek. Isi gelas itu habis dalam tiga tegukan. Bara yang sudah duduk bersandar di atas ranjang tampak mengusap dadanya. Dalam hitungan detik, pria itu melompat turun dari atas tempat tidur, berlari ke dalam kamar mandi. Memuntahkan semua isi perut yang berusaha ditahannya sejak tadi.

“Mas ....”

“Mas, kamu baik-baik saja?” tanya Bella. Panik membuatnya ikutmengekor ke kamar mandi untuk memastikan kondisi Bara baik-baik saja. Berdiri di belakang, tangan Bella memijat tengkuk sang suami.

Tidak ada jawaban, Bara masih sibuk berdiri dan membungkuk di depan wastafel. Hampir lima menit, akhirnya Bara bisa bernapas lega setelah semua isi perutnya kosong.

“Sudah baikan, Mas?” tanya Bella lagi.

“Apa kita ke dokter saja. Wajahmu pucat, Mas.” Bella terlihat khawatir.

“Aku baik-baik saja, Bell.” Bara akhirnya bersuara. Dengan berjalan tertatih-tatih, ia kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.

“Mau aku buatkan air jahe, Mas? Sepertinya kamu masuk angin, Mas,” tawar Bella sembari menempelkan punggung tangannya di dahi Bara.

“Normal, tidak demam.” Bella berkata sambil mengusap leher Bara yang berkeringat.

“Mas, kamu tidak salah makan, kan?” tanya Bella.

Bara menggeleng dengan mata terpejam. Setelah mual dan muntah, sekarang tubuhnya melemas. Kepalanya pusing, dunia serasa berputar.

“Ya, sudah. Mas istirahat saja dulu. Aku buatkan air jahe hangat. Kalau masih tidak enak badan, sebaikanya Mas tidak usah ke kantor dulu. Biarkan Dion dan Donita mengurusnya untukmu, Mas.”

Langkah kaki Bella baru saja sampai ke pintu kamar, terdengar suara manja Bara menyuarakan namanyanya. “Bell ....”

“Ya, Mas. Ada apa?” tanya Bara menghentikan langkahnya.

“Jangan lama-lama, Sayang,” pinta Bara dengan nada lembut mengalun.

“Ya, Mas. Cuma sebentar. Sekalian mau mengurus anak-anak. Mereka harus bersiap ke sekolah.”

***

Setelah memastikan anak-anaknya siap dan mengantar Rania dan Issabell sampai ke teras rumah, Bella kembali ke kamar sambil menggandeng Real. Ibu muda itu terkejut saat melihat Bara yang sedang bersiap di depan meja rias.

“Mas ... mau ke mana?” tanya Bella heran. Kurang lebih satu jam meninggalkan Bara di kamar, dikiranya sang suami masih bergelung di balik selimut. Ternyata dugaannya salah, ia malah mendapati Bara sedang bersiap.

“Aku harus ke kantor, Bell.” Bara masih sibuk dengan kancing kemejanya.

“Bukannya Mas masih sakit?” tanya Bella, melepas genggaman tangannya pada sang putra. Bergegas menghampiri Bara. Ia harus memastikan kalau suaminya baik-baik saja. Kalau memang tidak memungkinkan, ia tidak akan mengizinkan Bara berangkat ke kantor.

“Aku sudah baikan. Setelah mandi, tubuhku sudah jauh lebih baik. Kepala juga sudah tidak pusing.”

“Mas yakin?” tanya Bella.

“Ya, Sayang.” Jemari masih sibuk dengan kancing kemejanya, tatapan Bara tertuju pada Real. Putra kesayangannya itu sibuk dengan mobil-mobilan yang baru dibelinya minggu kemarin.

“Anak-anak sudah berangkat ke sekolah, Bell?” tanya Bara lagi.

“Sudah, Mas. Baru saja ke sekolah. Maaf, mereka tidak berpamitan padamu. Aku kira Mas masih sakit, jadi aku tidak mengizinkan Kakak dan Caca mengganggu istirahatmu, Mas.”

Bara berjalan mendekati putranya dan membawa anak tiga tahun itu ke dalam gendongannya. “Sepertinya Real suka sekali dengan mobil-mobilan yang baru. Mau dibelikan lagi?” tawar Bara.

“Mau, Dad.”

“Minggu depan Daddy akan membelikannya lagi untukmu. Warna yang berbeda, supaya koleksimu lengkap,” ungkap Bara.

“Mau ...” pekik Rela merentangkan tangannya dengan gembira,

“Ayo kita ke bawah. Daddy harus ke kantor sekarang.” Masih menggendong Real, Bara menghadiahkan kecupan di pipi gembul putranya. Mengekor di belakang keduanya, Bella membawa tas kerja milik suaminya.

***

“Mas, hati-hati di jalan. Apa sebaiknya menunggu Pak Rudi saja?” tanya Bella. Terselip khawatir yang enggan pergi di dalam hati. Masih tidak tenang dengan keputusan Bara. Apalagi suaminya menyetir mobil sendiri.

“Aku baik-baik saja, Bell.”

“Mas berangkat dengan Pak Rudi saja. Nanti aku yang akan menjemput anak-anak di sekolah,” tawar Bella.

“Aku baik-baik saja,” tegas Bara.

Berdiri di teras rumah, Bella masih enggan melepas suaminya berangkat kerja. Apalagi Bara memilih tidak sarapan. Perut Bara bergejolak saat melihat isi meja makan. Pria itu memilih berangkat kerja dengan perut kosong. Hanya meneguk segelas air jahe panas.

“Tidak apa-apa, Mas. Lagipula, sekolah anak-anak tidak terlalu jauh. Aku bisa membawa Real juga. Putra kesayanganmu itu sudah mulai bisa tenang saat duduk di dalam mobil,” tawar Bella lagi.

“Tidak, kamu tidak boleh ke mana-mana meskipun rambutmu sudah menghitam kembali,” goda Bara, menurunkan Real dari gendongannya.

“Daddy berangkat ke kantor, Sayang.” Bara berjongkok menyejajarkan tingginya dengan sang putra. Menyodorkan pipinya, menunggu ciuman basah dari Real.

“Real, Daddy titip Mommy padamu. Kamu harus membantu Daddy untuk mengawasi Mommy supaya tidak nakal, ya. Kalau ada laki-laki yang mendekati Mommy, Real harus memasang wajah menyeramkan. Kalau perlu, Real menangis sekencang-kencangnya. Daddy mengizinkanmu memukul laki-laki yang berani mendekati Mommy,” ungkap Bara setengah bercanda. Menepuk pelan pucuk kepala putranya.

Pria itu segera berdiri, berganti mengecup kening Bella. “Aku berangkat ya. Ingat jangan nakal di rumah,” ucap Bara berpesan pada istrinya. Ia tersenyum sembari memainkan kedua alisnya. Puas melihat Bella yang cemberut kesal.

“Yang benar saja. Sejak kapan aku jadi nakal, Mas. Lagipula untuk apa meminta Real menjagaku,” gerutu Bella kesal.

“Sudah berdebatnya. Aku berangkat ke kantor dulu. Ibu jadi ke Surabaya hari ini, Bell?” tanya Bara sambil berjalan menuju mobil sport hitamnya. Ia tidak melihat ibu mertuanya sejak keluar dari kamar.

“Aku tidak tahu, Mas. Kemarin katanya sih jadi. Ibu masih di kamar, beres-beres koper.” Bella menjelaskan.

Mobil Bara keluar dari gerbang rumah diiring dengan lambaian tangan anak dan istrinya. Pagi itu suasana jalan komplek perumahan tempat mereka tinggal belum terlalu ramai. Terlihat dari teras, penjaga pos keamanan sedang mendorong kembali pintu pagar. Pagar besi itu baru menutup setengah saat sebuah taksi berhenti di depan pintu gerbang.

Bella yang hendak masuk ke dalam rumah sempat terkejut saat mendengar panggilan security yang menyerukan namanya.

“Maaf ... Bu Bella, ada tamu di depan.” Security menunjuk ke arah gerbang. Tampak dua orang wanita turun dari taksi.

“Siapa lagi itu?” tanya Bella belum melihat dengan jelas tamunya.

“Itu Mbak Rikka? Mau apa dia ke sini pagi-pagi. Siapa lagi itu?” Bella bertanya heran saat melihat Rikka berjalan sambil menuntun seorang wanita tua.

***

1
I'm lala
seperti biasa ceritanya bagus. sebenarnya udah pernah baca cerita ini sama kalila dan cerita" lainnya sampai beribu" eps, sebelum ganti ke apk wat*ad trus ke f**zzo. karna udah bosan cerita yang di dua apk itu kembali lagi ke apk ini, dimana apk ini yang membuat aku pertama kali jadi hobi baca novel online
Permata Sarlia
wah karya yg bgus
ERNY TRY SANTY
dadady
ERNY TRY SANTY: dady bara luar biasa ,bikin ngakak terus karena omongan atau kelakuannya 🤣🤣🤣
total 1 replies
ERNY TRY SANTY
tiap saat,ada aja gebrakan yg tak terduga 😂😂😂😂.... pengasuh baby Ella sungguh luar biasa 😂😂
ERNY TRY SANTY
🤣🤣🤣🤣..bara bikin kesel plus ngakak sama kelakuannya 🤣🤣🤣
ERNY TRY SANTY
🤣🤣🤣🤣...makin ke sini ,makin ke sana koplak nya bara😂😂😂
ERNY TRY SANTY
Rahmat Hidayat, nasibmu ngenes banget..ga bpk ga anak ,sama" bikin dunia nya jungkir balik 😂😂😂
ERNY TRY SANTY
bara bener keterlaluan ya , curigaan Mulu sama utusannya kaila 🤣
ERNY TRY SANTY
KAI SM bara ,sama" koplaknya😂😂
ERNY TRY SANTY
😂😂😂. good job kai..aq suka klo dia udh debat SM Bara😅
Anonymous
Namanya saja novel
bacaan ringan disaat wsktu luang
hiburan bukan bacaan spiritual 🙏🙏🤭
Borahe 🍉🧡
Hahahaha 😂😂😂
Borahe 🍉🧡
Hahaha😄😄
Borahe 🍉🧡
Hahaha lucu banget
Eka_Pramesti
suka
itin
umur tua pemikiran bocah SD yang suka ngebully si bara. gimana kalau bella sama sawannya minta donita dipecat ga boleh lagi ada disekitaran bara
itin
ya kali didepan orang banyak dasteran tapi didepan suami bisa hot pants 🤭🤣😄
pemahaman rumahtangga bara pasca penghianatan brenda sang mantan istri membuat ruang bella terbatas. kalau bara suamiku sudah ku tukar tambah
itin
pria disini pun begitu menginginkan istrinya utk memikirkan dirinya juga jangan hanya rumah anak dan suami. tapi begitu diikutkan malah protes sama seperti bara ini ono kucrut apalah apalah ga sesuai bla bla bla alasan sama "karna kamu istriku dan aku suamimu" prettt 😄😄😄
itin
kepekaan insting lakilaki
itin
artinya selama itu pernikahan bara dan bella komunikasinya hanya sebatas tugas dan tanggung jawab saja belum sampai ke hal yang prinsipal. seolah bella dituntut jadi cenayang yang harus bisa baca pikiran bara.
bara masih agak jauh dari perfeksionis seorang pimpinan dan kepala keluarga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!