NovelToon NovelToon
Sahabatku Adalah Jodohku

Sahabatku Adalah Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Nikahmuda
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nayemon

sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG YANG KUSUT DISEBERANG TELEPON

​Pagi di Surabaya terasa gerah bagi Arlan, meski pendingin ruangan di kamar hotelnya sudah dipasang maksimal. Setelah percakapan video semalaman dengan Kira, Arlan merasa memiliki energi baru. Ia menyelesaikan urusan perizinan hotel dengan cepat, bahkan sempat memberikan beberapa revisi desain yang membuat kliennya berdecak kagum.

​"Mas Arlan memang tidak pernah mengecewakan," ujar Pak Baskoro, sang pemilik hotel, sambil menjabat tangan Arlan di lobi. "Terima kasih sudah jauh-jauh datang. Oh ya, Mbak Safira mana? Katanya tadi mau ikut pamit?"

​Arlan menoleh ke sekeliling. "Sepertinya dia sedang di kafe, Pak. Tadi katanya ada janji temu dengan teman lamanya di Surabaya."

​Sebenarnya, Arlan tahu Safira sedang menghindar. Sejak pembicaraan jujur mereka di mobil kemarin, gadis itu tampak jauh lebih pendiam namun terlihat lega. Arlan menghargai itu. Ia lebih suka kejujuran yang pahit daripada kepura-puraan yang manis namun beracun.

​Namun, di Jakarta, sebuah badai sedang terbentuk tanpa sepengetahuan Arlan maupun Kira.

​Bu Rahmi duduk di ruang tengah rumahnya yang luas. Di tangannya, sebuah ponsel pintar model terbaru menampilkan sebuah nomor kontak yang sudah lama tidak ia hubungi. Ibu Lastri (Ibunya Kira).

​Selama bertahun-tahun, Bu Rahmi dan Ibu Lastri menjalin hubungan baik. Mereka sering berkirim hantaran saat lebaran atau sekadar menanyakan kabar anak masing-masing. Namun kali ini, niat Bu Rahmi berbeda.

​"Assalamualaikum, Jeng Lastri?" sapa Bu Rahmi dengan nada yang sengaja dibuat terdengar cemas dan sedikit bergetar.

​"Waalaikumsalam, Bu Rahmi. Aduh, tumben sekali telepon jam segini. Ada apa? Kira baik-baik saja kan di sana?" suara Ibu Lastri terdengar panik dari seberang telepon di kampung.

​Bu Rahmi menghela napas panjang, sebuah desahan yang penuh drama. "Itulah, Jeng. Saya sebenarnya ragu mau bicara, tapi saya tidak tega kalau tidak kasih tahu Jeng Lastri. Saya khawatir sekali sama anak-anak kita."

​"Khawatir kenapa, Bu? Arlan dan Kira berantem?"

​"Bukan berantem, Jeng. Malah... terlalu dekat. Jeng tahu sendiri kan, mereka itu sudah seperti kakak adik sejak SMA. Tapi belakangan ini, saya lihat arahnya sudah tidak benar. Mereka bilang mereka pacaran, Jeng."

​Hening sejenak di seberang sana. "Lho, bukannya itu bagus, Bu? Mereka kan sudah saling kenal. Saya malah senang kalau Kira punya pendamping seperti Arlan yang sudah jelas bibit, bebet, bobotnya."

​Bu Rahmi memutar bola matanya, meski tidak terlihat oleh lawan bicaranya. "Aduh, Jeng Lastri. Justru itu masalahnya. Persahabatan sebelas tahun itu kalau dipaksa jadi cinta, biasanya tidak awet. Kasihan Kira nanti kalau mereka putus di tengah jalan. Kira bakal malu, Jeng. Apalagi di lingkungan kerja Arlan, orang-orang sudah mengenal Arlan sebagai calonnya anak teman Ayahnya dari Surabaya."

​"Maksud Bu Rahmi bagaimana?" suara Ibu Lastri mulai terdengar ragu.

​"Begini, Jeng. Arlan itu sedang saya persiapkan untuk proyek besar dan masa depan yang sudah tertata. Safira, calon yang saya maksud, sangat mendukung itu. Tapi Arlan jadi bimbang karena Kira 'menempel' terus padanya. Saya takut Kira cuma dianggap pelarian atau sekadar rasa nyaman sesaat. Apa Jeng Lastri tega lihat Kira nanti ditinggal Arlan demi tuntutan keluarga? Lebih baik dicegah dari sekarang, Jeng. Biarkan Kira cari pria lain yang memang benar-benar memulai dari awal dengannya, bukan yang terjebak karena rasa kasihan sebagai sahabat."

​Ibu Lastri terdiam cukup lama. Beliau adalah tipe ibu yang sangat menjaga harga diri anaknya. Mendengar kata "pelarian" dan "menempel terus" membuat hatinya mencelos.

​"Jadi... menurut Bu Rahmi, saya harus bagaimana?"

​"Tegur Kiranya, Jeng. Suruh dia pulang sebentar atau minta dia menjauh demi masa depan mereka berdua. Ini demi kebaikan Kira juga, Jeng. Saya bicara begini karena saya sayang sama Kira."

​Sore itu, Kira baru saja hendak berkemas pulang dari kantor ketika ponselnya berdering. Ibunya menelepon.

​"Halo, Ibu? Tumben sore-sore telepon. Sudah makan?" sapa Kira dengan riang.

​"Ra, Ibu mau tanya sesuatu. Jujur sama Ibu," nada bicara Ibu Lastri terdengar sangat dingin dan kaku, tidak seperti biasanya.

​Jantung Kira berdegup kencang. "Tanya apa, Bu?"

​"Kamu... benar pacaran sama Arlan?"

​Kira tertegun. Ia tidak menyangka berita ini sampai ke telinga ibunya secepat ini. "Iya, Bu. Kami memang sudah bicara serius. Rencananya Arlan mau ajak Kira pulang bulan depan buat bicara sama Ibu langsung."

​"Nggak usah! Nggak usah ajak Arlan ke sini!" seru Ibu Lastri, suaranya mulai meninggi. "Ra, kamu itu perempuan. Punya harga diri. Kenapa kamu harus memaksakan diri sama laki-laki yang ibunya saja tidak setuju sama kamu?"

​"Ibu... Ibu bicara sama siapa? Tante Rahmi ya?" tanya Kira, suaranya mulai bergetar.

​"Nggak penting Ibu bicara sama siapa. Yang jelas, Ibu malu dengar kalau kamu dianggap cuma jadi penghalang masa depan Arlan. Ibu malu kalau anak Ibu dianggap cuma jadi 'pelarian'. Apa nggak ada laki-laki lain di Jakarta selain Arlan?"

​"Ibu, itu nggak benar! Arlan mencintai Kira, Bu. Dia yang mengejar Kira!"

​"Cukup, Ra! Ibu nggak mau dengar alasan. Kalau Arlan benar sayang sama kamu, dia nggak akan biarkan ibunya merendahkan kamu seperti itu. Sekarang Ibu minta kamu menjauh dari Arlan.

Jangan temui dia dulu. Kalau perlu, Ibu yang susul kamu ke Jakarta buat bawa kamu pulang."

​Klik.

Sambungan diputus secara sepihak. Kira terduduk lemas di kursinya. Air matanya jatuh tanpa permisi. Ia merasa dunianya runtuh berkali-kali dalam sehari. Pertama, penolakan Bu Rahmi, dan sekarang ibunya sendiri ikut menentang karena manipulasi Bu Rahmi.

​Saat Arlan baru saja mendarat di Jakarta malam itu, ia langsung meluncur menuju apartemen Kira. Ia membawa sekotak oleh-oleh lapis kukus Surabaya dan senyum yang merekah. Namun, saat ia sampai di depan pintu apartemen, ia mendapati Kira sedang duduk di lantai depan pintunya, memeluk lututnya sendiri sambil menangis sesenggukan.

​"Ra! Kamu kenapa?" Arlan langsung berlutut di depan Kira, menjatuhkan tas dan oleh-olehnya begitu saja.

​Kira mendongak, wajahnya sembab. "Lan... Ibu, Lan. Ibu telepon tadi."

​Arlan mengerutkan kening. "Ibu kamu? Ada apa?"

​"Tante Rahmi telepon Ibu di kampung. Dia bilang aku cuma jadi penghalang buat kamu. Dia bilang aku nggak punya harga diri karena 'menempel' terus sama kamu. Sekarang Ibu marah besar, Lan. Ibu nggak mau aku ketemu kamu lagi."

​Rahang Arlan mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. "Ibu keterlaluan. Kenapa dia harus bawa-bawa orang tua kamu?"

​Arlan menarik Kira ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya dengan penuh penyesalan. "Maafin aku, Ra. Maafin Ibuku.

Aku nggak tahu kalau dia bakal bertindak sejauh ini."

​"Lan, mungkin Ibu benar. Mungkin kita memang nggak seharusnya begini. Lihat, baru berapa hari kita mulai, semua orang sudah tersakiti. Aku nggak mau kamu berantem sama ibumu, dan aku nggak mau ibuku kecewa sama aku," isak Kira.

​Arlan melepaskan pelukannya, memegang kedua pipi Kira agar gadis itu menatap matanya. "Ra, dengerin aku baik-baik. Masalah Ibu, itu urusanku. Aku yang akan bicara sama Ibu malam ini juga. Dan soal ibumu di kampung, aku

yang akan ke sana sendiri buat jelasin semuanya.

Aku nggak akan biarkan siapa pun merusak hubungan ini, bahkan orang tua kita sekalipun."

​"Tapi Lan..."

​"Nggak ada tapi-tapian. Sebelas tahun aku diam melihatmu dekat sama pria lain karena aku takut kehilanganmu. Sekarang, saat aku sudah memilikimu, aku nggak akan menyerah karena tekanan orang tua. Aku arsitek, Ra. Aku tahu bagaimana cara memperbaiki struktur yang rusak. Dan aku janji, aku akan perbaiki ini."

​Arlan membantu Kira berdiri, membimbingnya masuk ke dalam apartemen. "Sekarang kamu istirahat. Aku mau pulang ke rumah Ibu. Aku harus selesaikan ini sekarang juga sebelum apinya makin besar."

​"Lan, jangan emosi. Bicara pelan-pelan sama Tante Rahmi," pesan Kira dengan suara serak.

​Arlan hanya mengangguk singkat, namun sorot matanya menunjukkan tekad yang tak tergoyahkan. Ia mengecup kening Kira sekali lagi, lalu berbalik pergi dengan langkah lebar.

​Malam itu, rumah Bu Rahmi menjadi saksi bisu pertengkaran hebat antara ibu dan anak.

​"Ibu kenapa telepon Ibunya Kira?" tanya Arlan langsung begitu masuk ke rumah, suaranya rendah namun penuh penekanan.

​Bu Rahmi yang sedang membaca majalah di ruang tengah mendongak tenang. "Ibu cuma silaturahmi, Arlan. Apa salahnya?"

​"Silaturahmi atau sabotase? Ibu bilang Kira cuma pelarian? Ibu bilang Kira menghalangi masa depanku? Apa Ibu sadar betapa jahatnya kata-kata itu?"

​"Ibu bicara kenyataan, Lan! Kamu itu butuh orang seperti Safira, bukan Kira yang ceroboh dan tidak punya ambisi. Lihat saja, baru begitu saja ibunya sudah marah. Itu tandanya mereka memang tidak selevel dengan kita!"

​"Cukup, Bu!" Arlan memukul meja kayu di depannya, membuat vas bunga bergetar. "Kira adalah ambisiku. Kira adalah masa depanku. Kalau Ibu merasa Safira lebih baik, silakan Ibu angkat dia jadi anak. Tapi jangan pernah sekali-kali Ibu menghina wanita yang aku cintai di depan ibunya sendiri."

​"Kamu berani membentak Ibu demi perempuan itu?" mata Bu Rahmi mulai berkaca-kaca, menggunakan senjatanya yang paling ampuh: air mata.

​"Arlan tidak membentak, Arlan membela kebenaran. Mulai malam ini, Arlan akan keluar dari rumah ini. Arlan akan tinggal di apartemen sendiri. Dan sampai Ibu mau minta maaf pada Kira dan Ibunya, jangan cari Arlan."

​Arlan berbalik tanpa menunggu jawaban. Ia melangkah keluar dari rumah yang selama ini menjadi tempat berlindungnya, menuju malam yang gelap. Ia tahu perjalanannya akan berat.

Besok, ia harus berangkat ke kampung Kira, menempuh perjalanan darat berjam-jam demi mendapatkan kembali restu yang telah dicuri oleh ibunya sendiri.

​Di dalam rumah, Bu Rahmi terduduk lemas. Ia tidak menyangka putra satu-satunya yang selalu patuh itu akan memilih pergi demi seorang sahabat yang kini menjadi kekasihnya. Namun, apakah Bu Rahmi akan menyerah? Ataukah beliau akan menyiapkan taktik yang lebih licin lagi?

1
Penikmat Sunyi
Bagus, layak dibaca..
Nani Wulandari: trimakasih kak uda mampir di novelku ☺
total 1 replies
Penikmat Sunyi
Bagus banget cerita sampe sedih bacanya, semangat ya buat lanjutan ceritanya tulisanmu layak dibaca 💪👍😍. Aku tunggu eps selanjutnya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!