Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 – Diculik Lagi
Bab 13 – Diculik Lagi
Langit sore berwarna jingga ketika Alvaro berdiri di depan kafe kecil itu. Tangannya terasa dingin meski udara tidak terlalu sejuk. Lima tahun ia mencari tanpa hasil pasti. Alamat yang barusan ia dapat terasa seperti titik terang setelah sekian lama berjalan dalam gelap.
Ia menatap ke dalam lewat kaca. Seorang gadis sedang membersihkan meja. Rambutnya lebih panjang. Tubuhnya lebih kurus dibanding lima tahun lalu. Cara ia menata kursi, gerakan tangannya saat mengelap meja—terlalu familiar untuk diabaikan.
“Itu dia…” gumamnya pelan.
Ia mendorong pintu. Bel kecil berdenting. Gadis itu menoleh.
Waktu terasa berhenti.
Mata mereka bertemu. Wajah itu lebih dewasa, sorotnya lebih tegas, tapi itu tetap Alisha.
Atau Alya.
“Kak… Alvaro?” suaranya bergetar.
Alvaro melangkah mendekat, pelan seolah takut bayangan itu menghilang.
“Alisha.”
Nama itu keluar lirih, hampir seperti bisikan yang lama tertahan.
Air mata langsung menggenang di mata gadis itu. Ia menutup mulutnya, berusaha menahan tangis. Beberapa pelanggan menoleh, merasa ada sesuatu yang terjadi.
“Aku pikir kakak benci aku…” katanya dengan suara pecah.
Alvaro menggeleng keras. “Aku cari kamu ke mana-mana. Aku kira kamu diculik. Aku hampir kehilangan akal.”
Ia menggenggam tangan Alisha. Hangat. Nyata. Bukan mimpi.
“Kamu hidup,” ucapnya pelan, seolah masih memastikan.
Tangis Alisha akhirnya pecah. “Aku nggak punya pilihan waktu itu. Mereka bilang aku dalam bahaya. Aku disuruh pergi malam itu juga.”
Alvaro menarik napas panjang. Banyak pertanyaan muncul di kepalanya, tapi ia tahu bukan sekarang waktunya menginterogasi. Yang terpenting, gadis di depannya masih bernapas.
Mereka duduk di sudut kafe setelah jam tutup. Pemilik kafe memberi waktu karena melihat situasi mereka.
“Aku pakai nama Alya sekarang,” ujar Alisha. “Identitas baru. Sekolah baru. Hidup baru.”
“Kamu sendirian?”
“Iya. Ibu dipindahkan ke kota lain demi keamanan.”
Alvaro mengangguk pelan. Informasi itu ia simpan rapi dalam pikirannya.
“Ada yang kejar kamu waktu itu?” tanyanya.
Alisha ragu sebentar. “Mereka bilang orang bernama Bram berbahaya.”
Nama itu membuat rahang Alvaro menegang. Selama lima tahun terakhir, ia menggali informasi tentang satu orang: Bram Santoso. Musuh lama keluarga Mahendra. Pria yang bergerak dalam bayangan.
“Aku tahu siapa dia,” jawab Alvaro singkat.
Alisha menatapnya heran. “Kakak berubah.”
“Hidup bikin aku berubah.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Aku juga bukan siapa-siapa lagi di keluarga Mahendra. Aku bukan anak mereka.”
Alisha terkejut. “Maksudnya?”
“Aku anak sopir lama. Hidupku dibangun di atas kebohongan.”
Ia menunggu reaksi kecewa atau jarak.
Yang ia dapat justru genggaman tangan yang makin erat.
“Kakak tetap orang yang nolong aku dulu. Itu nggak berubah.”
Kalimat itu terasa sederhana, tapi cukup untuk menenangkan sesuatu dalam dada Alvaro.
Di luar kafe, seorang pria duduk di dalam mobil gelap. Kamera ponsel mengarah ke dalam. Foto diambil saat Alvaro memegang tangan Alisha.
Pesan dikirim.
Target bertemu.
Balasan datang cepat.
Awasi. Tunggu instruksi.
Malam semakin larut saat Alvaro mengantar Alisha pulang ke kosnya. Jalan terlihat sepi. Lampu jalan menyala redup.
“Kamu aman di sini?” tanya Alvaro sambil melihat sekitar.
“Selama ini aman.”
Alvaro merasa ada yang tidak beres. Sejak keluar dari kafe, ia seperti diawasi.
Sebuah mobil hitam melintas pelan. Lalu berhenti beberapa meter di depan mereka.
Pintu terbuka.
Empat pria turun dengan langkah cepat.
“Masuk mobil sekarang!” salah satu berteriak.
Alvaro langsung berdiri di depan Alisha. “Lari!”
Dua pria langsung memukulnya sebelum ia sempat bersiap. Pukulan keras mengenai wajahnya. Ia terhuyung, lalu membalas. Tinju beradu. Suara sepatu menghentak aspal.
Alisha menjerit. Salah satu pria mencoba menariknya. Ia berusaha melawan, menendang, mencakar.
Alvaro berhasil menjatuhkan satu orang, tapi yang lain memukul perutnya hingga ia tersungkur. Napasnya tercekat.
“Pegang ceweknya!” teriak seseorang.
Tangan kasar menarik Alisha. Ia menjerit memanggil nama Alvaro.
Alvaro bangkit lagi meski darah mengalir dari bibirnya. Ia menabrak pria yang memegang Alisha. Mereka jatuh berguling. Alisha sempat lepas.
Sebuah mobil lain berhenti mendadak di belakang. Pintu terbuka.
Gerakan terjadi begitu cepat.
Seseorang menarik Alisha dari belakang dan menyeretnya masuk ke mobil kedua.
“ALISHA!”
Mobil itu langsung melaju kencang.
Alvaro mencoba mengejar, tapi langkahnya goyah. Mobil menghilang di tikungan.
Ia berdiri di tengah jalan dengan napas berat. Tangan mengepal, tubuh gemetar bukan karena takut, melainkan marah.
“Aku nggak akan biarin ini terjadi lagi,” gumamnya.
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Kalau mau dia hidup, datang sendirian besok malam. Jangan bawa polisi.
Lokasi menyusul.
Alvaro membaca pesan itu berulang kali. Dadanya terasa sesak.
Ia tahu ini bukan sekadar penculikan. Ini pesan.
Permainan dimulai.
Alisha sadar saat mobil berhenti. Tangannya terikat. Matanya ditutup kain hitam.
Ia dibawa masuk ke sebuah ruangan. Bau ruangan terasa dingin dan bersih, seperti gedung perkantoran.
Penutup matanya dilepas.
Ruangan luas dengan jendela besar. Lampu terang.
Seorang pria berdiri membelakanginya.
“Lama tidak bertemu,” ucap suara berat itu.
Pria itu berbalik.
Wajahnya tenang dengan senyum tipis.
“Aku nggak kenal kamu,” kata Alisha dengan suara bergetar.
Pria itu mendekat. “Namaku Bram Santoso.”
Nama itu membuat darahnya terasa turun.
“Kamu seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu,” lanjutnya datar.
Alisha menggeleng. “Aku nggak ngerti apa-apa.”
Bram tersenyum kecil. “Kamu lebih penting dari yang kamu kira.”
Ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk membuka ikatan tangan Alisha.
“Aku nggak akan sentuh kamu malam ini. Aku cuma butuh umpan.”
“Umpan?”
“Alvaro pasti datang.”
Jantung Alisha berdetak keras. “Jangan sakiti dia.”
Bram tertawa pelan. “Kita lihat seberapa jauh dia mau berkorban.”
Di sisi lain kota, Alvaro sudah berada di ruang kerjanya. Luka di wajahnya belum sempat dibersihkan dengan benar. Ia menatap layar ponsel, menunggu lokasi yang dijanjikan.
Ia tahu risiko datang sendirian.
Ia tahu ini bisa jadi jebakan.
Tapi pilihan lain tidak ada.
Ponselnya bergetar lagi.
Sebuah alamat gudang tua di kawasan industri.
Datang pukul 10 malam. Sendiri.
Alvaro mengambil jaketnya. Ia membuka laci meja, mengambil sesuatu yang selama ini ia simpan: pistol kecil berlisensi yang ia dapat sebagai bagian dari keamanan perusahaan.
Ia menatap benda itu lama.
Lalu menaruhnya kembali.
Kalimat di pesan tadi jelas.
Datang sendirian.
Ia tidak ingin mempertaruhkan nyawa Alisha karena melanggar aturan.
Alvaro keluar dari gedung dengan langkah mantap. Malam terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di dalam gedung tinggi tempat Alisha ditahan, Bram berdiri di depan jendela, melihat lampu kota.
“Dia pasti datang,” kata salah satu anak buahnya.
“Dia akan datang,” jawab Bram yakin. “Cinta bikin orang bodoh.”
Alisha duduk di kursi dengan tangan bebas, tapi dijaga dua orang. Ia mencoba menenangkan diri. Kepalanya dipenuhi bayangan Alvaro yang datang sendirian ke tempat berbahaya.
Ia menutup mata.
“Kak, jangan datang…” bisiknya pelan.
Jam dinding berdetak pelan.
Waktu terus berjalan menuju pukul sepuluh malam.
Alvaro menghentikan mobilnya di depan gudang tua sesuai alamat. Tempat itu gelap, hanya satu lampu menyala di pintu masuk.
Ia keluar tanpa ragu.
Pintu gudang terbuka perlahan dari dalam.
Seorang pria berdiri di sana.
“Masuk.”
Alvaro melangkah masuk tanpa menoleh ke belakang.
Pintu tertutup.
Lampu menyala terang, memperlihatkan ruangan luas yang kosong.
Di tengah ruangan berdiri Bram Santoso.
Tersenyum.
“Selamat datang, Alvaro.”
Alvaro menatapnya tajam. “Di mana Alisha?”
Bram bertepuk tangan pelan. Suara langkah terdengar dari belakang.
Alisha dibawa masuk.
Mata mereka bertemu lagi.
Kali ini bukan di kafe kecil.
Bukan dalam pelukan hangat.
Melainkan di tengah permainan yang belum menunjukkan akhirnya.
Bram memandang keduanya bergantian.
“Sekarang kita mulai,” katanya tenang.
Alvaro mengepalkan tangan.
Ia tahu satu langkah salah bisa berakibat fatal.
#Bersambung 😊