Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan ya
Di hari pertama pelajaran yang Anisa terima cukup membuat kesabarannya teruji. Anisa terbiasa dengan perkataan kasar ini saat di panti asuhan tapi, saat di sini Anisa lupa rasah sakit hati karena ucapan kasar karena semuanya memperhatikannya.
Saat kelas selesai di hari pertama Canaria menghampiri Anisa yang kata Nena duduk di taman memandang air mancur sendirian.
"Nona anda suka sus?"
"Aku tidak mau makan apapun Kak, kapan ayah pulang aku tidak suka sendirian. "
Canaria tersenyum memegang tangan Anisa.
"Anda sudah rindu pada Tuan ya, kalo gitu kita berenang di belakang aku akan menemani nona sampai puas. "
Menatap Canaria yang berusaha membuat suasana hatinya membaik menghela nafasnya.
Selema bermain air Canaria melaporkan perasaan nonanya pada Tuannya tapi karena sinyal pesan belum benar-benar terkirim.
Hari berikutnya datang dan pertemuan keduanya ini benar-benar membuat Mis Alena terlihat sangat jelas apa niatnya.
Anisa menatapnya dengan ramah seolah tak tahu apapun.
Dalam hatinya ia sudah lelah dan tak mau berurusan lagi.
"Nona seperti ini sudah bagus sedikit membungkuk dan tersenyum sedikit ketika di sapa orang yang tidak terlalu kita kenal tidak terlalu heboh itu lebih baik. "
"Jika dari awal sudah memiliki kebiasaan dari tempat yang tidak tertib perubahannya akan sulit, jangan kan tata Krama kesopanan pasti tidak di ajarkan, benarkan Nona. "
"Iyaa, anda benar. " Senyumannya terlihat sangat polos, Mis Alena terlihat puas mengendalikan anak kecil yang ia tak suka karena bisa menjadi anak seorang James.
"Anda harus tahu tentang kesan anda di tempat ini, jika anda lebih menyadari semuanya sejak awal itu akan baik untuk posisi anda. "
Senyuman Anis sudah sangat menahan diri untuk tidak membuat masalah.
Kelas berakhir setelah dua jam berlalu yang berisi penghinaan dan kesadaran diri Anisa.
James menerima pesan dari Canaria saat rapat di mulai ia belum membacanya.
Di ruang belajar didalam kamarnya sendiri Anisa menggambar sesuatu diatas kertas tentang dirinya yang keluar dari panti asuhan yang terbakar.
Lalu gambar kayu dan genangan darah disana tapi, Anisa masih menggunakan pakaian dari panti asuhan.
"Setelah ini aku tidak mau mengikuti kelas, aku sakit. "
Hari berlalu Anisa tertidur saja di kasurnya sampai Miss Alena mendatanginya ke kamarnya dan menatapnya sinis.
"Anda cukup lemah untuk menjadi seorang Oceanus ya nona?"
James sampai di depan gerbang dan langsung masuk kedalam halaman.
Tangannya yang santai dan tenang membuka ponselnya sebelum berjalan menjauh dari mobilnya.
"Hari ini kelas tidak bisa di liburkan karena sudah hari terakhir dan semuanya harus selesai. "
Anisa menatapnya dengan datar dingin.
"Lebih baik kelas selesai saja Miss, aku sudah tidak perlu pelajaran apapun dari anda. "
"Kau hanya anak adopsi yang ada menjadi anak haram dari Arthur kenapa kau sangat sombong!"
Terdiam kedua matanya terkejut.
Anisa menahan air mata yang tak terlihat tapi, ia merasa kalo air matanya mau tumpah.
"Pelayan !" Teriakan Anisa membuat James yang barusan menaiki tangga mendengarnya dengan jelas.
Terbuka perlahan pintunya melihat Anisa menatap Miss Alena yang mau menampar Anisa yang ada di tempat tidur duduk bersandar.
"Anda hanya beban, harusnya anda tahu siapa anda... Bahkan keluarga ini menentang adanya anak di luar nikah. "
James mendengarnya, sisi lain dalam dirinya seperti tertusuk tiba-tiba. Terkoyak-koyak di bagian yang tertusuk.
"Sol, bawa orang asing dalam kamar ku keluar, dimana Canaria?"
Sol bergegas datang.
"Canaria sedang keluar membeli obat ke apotik bersama dokter karena demam tinggi nona tak kunjung turun, Tuan. " James berjalan mendekat kearah Miss Alena yang langsung turun tangan mengusap kepala Anisa.
Tangan James mencengkram kuat tangan Miss Alena. Di tarik dari cengkraman James.
"Sayang ku.. " James mengambil Anisa dan menggendongnya, suhu tubuh Anisa benar-benar mendidih seperti panci panas.
"Kau di pecat pergi dari kediamanku sekarang sebelum keluargamu yang mengusirmu dari rumah mereka juga.
Terdiam malu dan bingung.
"Aku hanya sadar jika kau sudah menikah dan tidak lagi merasa bisa memiliki lagi, kau membuat perasaannya jadi buruk."
Theo dan Arem masuk membawa Miss Alena yang tidak mau keluar, terpaksa di seretnya sampai tak terlihat.
Silva dan Sol. Keduanya diam mengamati James dan Anisa dalam gendongannya.
"Tuan... " Canaria terdiam melihat Miss Alena di seret Theo dan Arem.
"Berikan obatnya dan keluar kalian semua tutup pintunya. "
Setelah berduaan didalam kamar dan James duduk di kasur bersandar pada kepala kasur.
"Apa kamu menahannya, efek dari telekinesis mu yang tidak bisa keluar adalah demam tinggi seperti hampir mendidih seluruh tubuhmu. Kau pintar menahannya. Tapi, jika seperti ini dan aku terlambat jantungmu akan berhenti berdetak. "
Mengecup lama pucuk kepala Anisa dan membantunya meminum obatnya setelah memakan tiga suap bubur.
Berteriak tak karuan Mis Alena menantang James untuk keluar.
Saat langkah yang perlahan menapaki tangga teras rumah yang mengarah ke Miss Alena disana terdiam sekujur tubuhnya.
"Kau pikir dengan merusaknya kau terlihat lebih baik di mataku?"
Alena menatap lagi terpaksa untuk tetap kuat berani.
"Kau cantik dan seluruh tubuhmu adalah kesempurnaan dari kecantikan, kau membuatnya terlihat buruk bahkan aku tak pernah menatap mu sama sekali, aku beruntung. "
Sialan!
Kepalan kuat tangan Alena didepan James yang melontarkan kata-kata hinaan.
"Kau menghinaku!"
"Kau lebih dulu menghina putri tunggalku yang baik hatinya dan kau membuatnya hampir mati, terlambat aku datang untuk memeluknya seluruh keluargamu bahkan keluarga suamimu sampai yang paling kecil akan aku sama ratakan dengan tanah."
"Apa! Hanya anak haram.. " Seketika itu James sudah mencengkram mulut Alena sampai terasa mati rasa, tatapannya berair menahan sakit.
Darah keluar mengalir dari dalam kepalan tangan Alena akibat kuku tajamnya menancap di dalam telapak nya.
"Ayah memarahinya?" Anisa memperhatikan dari jendela kamarnya dengan satu tangan memegang kaca dingin akibat air ujan.
"Nona anda harus kembali istirahat." Canaria memintanya dengan pelan.
"Iya, aku hanya ingin melihatnya sebentar. "
Dari tempatnya seketika tatapan matanya mengalihkan keatas dimana ada bayangan Anisa di balik jendela kaca menatapnya tajam dengan senyuman miring.
"Anak haram!"
Semuanya mengalihkan pandangan tapi, Anisa tidak.
Suara jeritan melengking dalam bayangan Alena yang keras membuat suasana yang masih hujan terasa sangat mencekam bagi Alena, tubuhnya terdiam membeku.
"Kau masih beruntung..." James sudah muak melihatnya memilih berbalik badan dan masuk kedalam. Anisa yang masih memperhatikan dari atas di balik jendela mengacungkan dua jari tengah nya.
******
Hari ini Anisa bermain sendirian di taman belakang memetik bunga dan duduk di teras gazebo.
James mendatangi pertemuan kolega di ruang tertutup.
"Ada apa ini?"
"Kurasa tidak ada masalah dalam urusan bisnis?"
"Kalian semua mengusiknya?"
Kebingungan membuat semua kolega yang datang berkumpul semakin tak karuan bingungnya.
"Kalian semua sudah hadir?" James masuk dan duduk di depan sana di ujung meja panjang.
"Pertama Alexa Alba yang sudah mendapatkan peringatan langsung lalu Alena Sansy yang sudah pulang dengan selamat karena kebaikan hatiku yang paling tidak tega."
Semua diam.
Mereka tahu arah pembahasan ini kemana, karena semuanya adalah orang yang memiliki hubungan kuat dengan dua nama yang di sebutkan Tuan James.
"Tuan Grey Alba..." Suara panggilan terasa mencekiknya. James menyentuh bahunya.
Lalu sampai pada Suami dari Alena Sansy.
"Kalian semua harus tahu jika aku tidak sama seperti mereka, kalian tahu betapa murah hatinya aku jika kalian masih bisa bernafas dengan baik walau bagian tubuh hancur."
Menelan ludah seolah semuanya sedang ada di tempat tanpa adanya hawa sejuk.
Silva tahu kemarahan Tuan James sudah di tahan saat kedatangan nona Alexa kerumah yang menuntut Tuan James. Tentang kematian nona Rosa Alba sampai mengurus tentang kematiannya yang di biarkan menjadi bangkai.
Lalu kisah cinta yang kandas bahkan sama sekali tidak di tanggapi Tuan James dari miss Alena membuat nona muda kami hampir henti jantung hanya karena demam tinggi yang tidak normal menahan kekuatan telekinesis nya.
"Silva bersihkan semua sampah di ruangan ini jika ada noda menempel gunakan pembersih lain agar semua tidak lagi mengotori rumahku."
James keluar lebih dulu meninggalkan Silva didalam ruangan penuh dengan serangga menyebalkan.