" menikahlah dengan ku dan jadilah ibu untuk putriku, apa kamu mau ?"
" apa om meminta ku hanya untuk menjadi ibu untuk anak om bukan istri om ?"
Apa jadinya jika di lamar secara mendadak oleh duda dingin yang bahkan baru Mala temui dimana bukan menjadi istrinya tapi hanya menjadi ibu dari anaknya ?
Apakah Mala akan menerima pinangan duda dingin itu ?
Dan apakah cinta itu akan tumbuh saat keduanya masih memiliki luka yang di sebabkan karena cinta orang di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R-kha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Darrel
Tanpa pikir panjang dan dengan bantuan sahabatnya Fildan yang berhasil mendatangkan seorang ustadz yang bisa menikahkan dirinya dan Kemala tepat di depan jenazah yang sudah rapih dan siap di berangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhirnya dan pernikahan itu pun hanya di saksikan oleh Bu Reva, Okta, Fildan dan dua orang dokter sebagai saksi pernikahan mereka.
" saya terima nikah dan kawinnya Kemala Ayu binti almarhum Darmo dengan mas kawin uang sebesar satu juta di bayar tunai " ucap Darrel yang hanya bisa memberikan mahar apa yang ada di dompet nya saat ini tapi suara sah langsung di sambut riuh dan haru dari orang orang yang menyaksikan pernikahan dramatis ini.
" pak Darmo, saya Darrel yang saat ini sudah menjadi suami dari putri bapak " ucap Darrel sambil memegang ujung keranda yang berisikan jenazah pak Darmo.
" saya tak bisa berjanji akan menjadi suami yang sempurna untuk putri bapak tapi saya akan menjadi suami, teman,sahabat dan ayah yang baik untuk istri dan anak anak kami kelak " ucap Darrel sambil menggenggam tangan Mala yang kini sudah sah menjadi istrinya.
" aku harap anda tak akan melupakan janji anda untuk memberikan sertifikat itu besok !" ucap Okta sambil mencoba menahan amarah dan kecewa saat melihat pernikahan Mala dan laki laki yang baru sore tadi iya temui.
" kamu tenang saja, setelah saya dan Mala selesai memakamkan jenazah pak Darmo, saya akan mengirim seseorang untuk mengirim sertifikat itu ke rumahmu "
" tapi ingat, setelah itu kamu dan ibu mu tak ada lagi urusan apapun dengan Mala !" ucap Darrel yang bisa menebak orang seperti apa Okta dan juga Bu Reva.
" tidak, aku tak akan membiarkan kamu membawa jenazah suamiku " ucap Bu Reva yang tak ingin di pisahkan dari pak Darmo.
" ayo om " ucap Mala tanpa memperdulikan ibu tirinya meski Mala sadar jika yang iya lakukan itu jahat tapi yang Mala pikirkan saat ini semua itu sepadan setelah keserakahan yang Okta lakukan membuat Bu Reva tak akan bisa melihat pusara suaminya sendiri.
Jenazah pak Darmo pun langsung di bawa ke tempat peristirahatan yang sudah Darrel siapkan di bantu Fildan, di iringi Isak tangis Mala mengiringi kepergian ayahnya yang tak pernah mencurahkan kasih sayangnya selama ini tapi Mala tau jika ayahnya sangat menyayangi dirinya.
" maaf om, jika di pertemuan pertama kita Mala banyak merepotkan om " ucap Mala saat mereka dalam perjalanan pulang setelah mengantar almarhum pak Darmo ke tempat peristirahatan terakhirnya.
" tapi Mala mengucapkan terima kasih mewakili mendiang ayah " ucap Mala di sela sela isak tangisnya.
" mungkin sudah menjadi nasib Mala harus kehilangan orang orang yang Mala cintai " ucap Mala sedih.
" semuanya sudah suratan takdir, pertemuan kita semalam juga bagian dari takdir " ucap Darrel yang tak tau harus berkata apa saat ini.
" aku harap kamu kuat karena semuanya tak bisa kamu kendalikan seperti yang kamu inginkan " ucap Darrel.
Mala hanya bisa mengangguk menghapus air mata yang terus saja mengalir tanpa bisa di tahan sedangkan Darrel hanya bisa fokus mengemudikan mobilnya menuju rumah setelah mereka selesai mengebumikan jenazah pak Darmo untuk terakhir kalinya.
" apa kamu akan menyerahkan sertifikat rumah itu seperti yang Okta inginkan ?" tanya Darrel saat mereka baru saja sampai di rumah saat menjelang malam.
" ya "ucap Mala yang sambil melihat ke arah Darrel yang baru saja mematikan mesin mobilnya.
" anggap saja itu nafkah terakhir yang ayah berikan untuk istri dan anaknya dan itu juga yang memutuskan hubungan ku dengan ibu dan juga Abang tiri ku " ucap Mala yang benar benar tak ingin lagi berurusan apapun dengan ibu dan kakak tirinya.
" apa kamu yakin ?" tanya Darrel.
" Mala sangat yakin " ucap Mala yang langsung turun dari mobil Darrel meninggalkan Darrel yang masih berada di dalam mobil.
" entah takdir apa yang tuhan tunjukan padaku saat ini dimana di pertemuan kita sejak semalam sampai saat ini semuanya begitu mengejutkan dan tak memberi jeda padaku untuk bisa mencerna semuanya " ucap Darrel sambil menatap Mala yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.
" tapi apapun itu kini aku dan wanita itu sudah menikah dan mau tak mau aku sudah menjadi suaminya dan mulai saat ini gadis itu menjadi tanggung jawab ku " ucap Darrel yang harus bisa menerima semuanya.
Darrel pun turun dari mobil menuju rumahnya tapi seperti biasanya saat masuk hal pertama yang iya cari adalah putrinya baru setelah itu Darrel masuk ke dalam kamarnya membersihkan diri sebelum beristirahat.
Berbeda dengan yang terjadi di rumah pak Darmo dimana Bu Reva benar benar kesal dengan keputusan sepihak putranya yang lebih memilih sertifikat rumah di banding mendiang ayahnya.
" kenapa kamu membiarkan Mala menguburkan ayah mu tanpa sepengetahuan kita ?" tanya Bu Reva.
" Bu, kita tetap harus berpikir realistis " ucap Okta sambil menghisap sebatang rokok di sela sela jari tangannya.
" apa yang akan kita lakukan jika kita tau dimana mendiang ayah di makamkan ?"
" tapi jika kita memiliki sertifikat rumah ini kita bisa tinggal di rumah ini sampai kapan pun dan jika kita ingin menjualnya itu bisa kita lakukan " ucap Okta santai.
" lagi pula ibu masih muda apa ibu akan selamanya menjadi janda ?" tanya Okta santai seolah pak Darmo tak berarti apapun bagi dirinya.
" apa sedikit pun kamu tak merasa kehilangan ayah mu ?" tanya Bu Reva pada Okta.
" Okta sedih tapi dia hanya ayah tiri Okta dan hidup tetap harus di lanjutkan, jadi cukup sampai disini kisah ayah Darmo " ucap Okta seolah pak Darmo tak berarti apapun bagi dirinya.
" ibu tak mengerti kenapa hati mu begitu dingin dan membatu seperti itu " ucap Bu Reva saat melihat putranya saat ini.
" Okta lelah " ucap Okta yang memilih masuk ke dalam kamarnya meninggalkan ibunya yang masih sangat kehilangan suami yang selama ini menemaninya.
Mala meringkuk memeluk lututnya di samping tempat tidur ditambah air mata yang sejak tadi tak bisa Mala hentikan sampai pagi tiba Mala tetap di posisinya dengan mata yang sudah sembab.
" mba, mba Mala " panggil bi Ani yang langsung mengetuk pintu kamar tamu dimana Mala berada.
" apa mba Mala masih tidur ?" tanya Bi Ani tapi tangannya mendorong pelan pintu kamar yang ternyata tidak di kunci dan bi Ani langsung datang menghampiri Mala saat melihat Mala jatuh tersungkur ke arah samping tempat tidur tepat di hadapannya.
" mba Mala, bangun mba..."
" pak Darrel " panggil bi Ani panik.
" tolong mba Mala pak " teriak Bu Ani dari dalam kamar Mala.
Darrel yang baru saja keluar dari kamar langsung berlari menuju kamar tamu saat mendengar suara bi Ani yang terdengar panik.
" Mala kenapa Bi ?" tanya Darrel sambil mengecek kondisi Mala yang ternyata demam tinggi.
" ya tuhan dia demam Bi " ucap Darrel sambil menggendong Mala untuk memindahkannya ke atas tempat tidur.
" bi tolong ambilkan kompres dan juga air minum agar Mala bisa minum obat " ucap Darrel yang mau tak mau harus mulai bertanggung jawab pada Mala.
" sebenarnya siapa wanita muda ini pak ?" tanya bi Ani yang merasa heran kenapa Mala masih ada di rumah ini sedangkan yang iya tau Darrel tak pernah ingin dekat dengan wanita mana pun selama ini.
✍️✍️✍️ apa Darrel akan mengakui pernikahan sirinya dengan Mala atau kah nanti saat pernikahannya dan Mala sudah benar benar sah secara agama dan negara ?
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Love you moreee 😘 😘 😘
terus si Reva dan si Okta diusir dari rumah itu😏