NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nostalgia, Bubur Dan Harapan

Pukul 09.30

Dewa sudah berdiri di depan Apartemen Anggrek sejak setengah jam lalu. Ia tidak bisa diam jalan mondar-mandir memainkan kunci motor, menatap pintu masuk lalu mengalihkan pandangan.

Gugup.

Bukan gugup biasa tapi gugup level dewa, ini kisah mantan Ibu dosen yang hatinya ancur 15 tahun lalu, mantan yang sekarang muncul lagi dengan membawa "sesuatu" tentang cincin.

Pukul 10.00 tepat, Dian keluar memakai

blazer hitam kembali menjadi mode Dosen Killer dengan rambut di kuncir rapat dan wajah datar. Tapi Dewa bisa melihat—matanya sedikit sembab, apakah dia tidak tidur semalaman?

"Sudah siap, Bu?" tanyanya menyodorkan helm.

Ia hanya diam mengambil naik ke motor

"Ke mana, Bu?"

"Kopi Kenangan Senopati."

Dewa mengernyit itu tempat nongkrong anak muda bukan tempat kumpulan Bapak Bapak stress apalagi Mak Mak Arisan.

"Arif yang pilih," jawabnya seolah membaca pertanyaan di kepalanya. "Katanya biar santai."

Laki laki berkulit putih itu tidak berkomentar hanya menjalankan motor pelan.

--

Pukul 10.30, Kopi Kenangan Senopati.

Tempat itu ramai, untung mereka mendapatkan meja pojok yang cukup sepi. Dian duduk menghadap pintu sementara Dewa duduk di sampingnya malu malu —bukan di seberang. Posisi yang aneh untuk "asisten", tapi dia tidak protes.

"Mau pesan apa, Bu? Saya ambilkan."

"Kopi hitam pahit."

Dewa pergi ke kasir. Sekilas ia melihatnya memegang cincin di jari, memutar gugup.

Tidak lama Dewa kembali dengan dua gelas kopi, untuk ibu dosen kopi hitam pahit, sementara untuknya kopi susu kekinian gaul—bohong, sebenarnya ia lebih suka jus ."Belum datang, Bu?"

"Arif bilang jam 11," jawabnya menggeleng," masih ada waktu setengah jam."

Dewa mengangguk tidak tahu harus bicara apa.

"Kamu nggak usah jaga jarak kayak gitu duduk santai aja. Ini bukan di kampus."

"Iya, Bu."

"Dan kalau nanti Arif datang... kamu lihat saya kalau saya kasih kode, kamu tarik keluar."

"Kode apa, Bu?"

"Terserah, yang penting kamu lihat."

Dewa mengangguk mantap. "Siap, Bu."

--

Pukul 11.05. laki laki itu datang memakai

kemeja putih, celana bahan gelap. Wewangian mahal tercium begitu ia duduk mungkin merek Dior atau Lois Vuitton

Dewa mengkerut ia hanya pakai parfum isi ulang toko laundry

Arif tersenyum lebar mengarah ke perempuan itu."Maaf, macet kalian sudah lama menunggu?"

Ibu dosen tidak menjawab hanya menatap.

"Oh, ya, ini... asisten kamu, yang kamu tenteng di Bandung ? "

"Dewa. Dia yang temani saya ke mana-mana."

Ia mengulurkan tangan, hanya jabatan biasa, tapi bagi Dewa seperti pertemuan pertama Hercules melawan singa.

"Dewa," sapanya ramah. "Mahasiswa?"

"Iya, Pak."

"Jurusan?"

"Ekonomi Bisnis."

Ia mengangguk pelan lalu pandangannya beralih, "Dian, boleh kita bisa bicara empat mata? Mungkin asisten mu bisa nunggu di—"

"Tidak." Potongnya cepat. "Dewa tetap di sini. Apa pun yang mau kamu bicarakan, dia boleh dengar."

Arif tertegun mengulas senyum getir, "Baiklah terserah kamu."

 ---

Pria dengan uban tipis di pelipis itu mengambil napas mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya, sebuah kotak beludru hitam bentuknya sangat familiar, kotak cincin.

Tubuh Dewa menegang.

"Ini untuk mu, Dian," ucapnya pelan.

Dian menatap kotak itu tidak menyentuhnya. "Apa itu?"

"Cincin. Cincin tunangan kita dulu."

Wajah perempuan itu tidak terbaca, apakah senang atau mangkel, berkerut kerut

"15 tahun lalu, kita berpisah, Dian, tapi cincin ini tidak pernah saya berikan kepada Dina. Saya selalu simpan simpan entah suatu saat menjadi harapan."

"Berharap apa Arif? Dian tersenyum pahit," Aku menjadi simpanan? Atau cadangan ?"

"Bukan begitu, Dian—"

"Lalu kenapa sekarang kamu kasih?"

Arif menghela napas berat "Karena Dina sudah tiada, karena saya sadar... saya masih—"

"Jangan." Dian mengangkat tangannya "Jangan bilang apa pun."

Pria itu hanya diam.

Dian menatap cincin di jarinya, "Arif, 15 tahun lalu kamu hancurkan hidup saya, saya marah bukan karena kamu nikah dengan Dina, bukan, tapi kamu tega datang ke acara wisuda hanya sekedar memberi tahu, menghancurkan semua kebahagiaan.

"Saya tahu," ia tertunduk kelu, "'Maafkan untuk semua nya, Dian, mohon jangan diungkit lagi."

"Dan sekarang kamu datang lagi membawa cincin, kamu pikir semuanya bisa kembali seperti dulu, Arif ?"

"Aku nggak—"

"Tapi kamu harus tahu." Perempuan berwajah lembut itu memegang cincin safir nya. "Saya sudah punya cincin dari orang lain, Orang yang... yang tidak perlu saya sebutkan ."

Dewa menegang jantungnya berhenti sejenak, untung nya mereka tidak melihatnya.

"Saya sudah katakan itu bukan dari...."

"Aku tahu kamu sudah bilang."

"Lalu dari siapa?"

"Itu rahasia."

"Dik, " Laki laki itu menurunkan suaranya dengan panggilan sayang mencoba merayu, " Aku tahu kamu marah, tapi aku... aku serius mau menebus semua kesalahan."

"Kamu tahu nggak apa yang paling menyakitkan dari semua ini?"

Arif menunggu.

"Bukan karena kamu nikah sama Dina, tapi setelah 15 tahun... kamu pikir aku akan terima kamu kembali ? Atau dalam pikiranmu aku lemah dan berpikir cincin bisa menyelesaikan semuanya?"Ia berdiri. Dewa refleks ikut berdiri seperti ajudan takut kalau tuannya pecah.

"Makasih untuk semuanya," Ia menunjuk kotak di atas meja. "Tapi aku nggak butuh ini, simpanlah sebagai kenangan atau jual, terserah kamu."

"Dian..."Arif terpaku

"Mungkin ini cukup," Ia melangkah pergi.

Arif termangu dengan kotak cincin di tangannya .

---

Pukul 12.00, parkiran Kopi Kenangan.

Dian berdiri di samping motor tidak langsung naik memandangi langit Jakarta yang cerah.

"Bu..." Dewa ragu. "Ibu nggak apa-apa?"

Ia menoleh sambil tersenyum tapi matanya basah."Baik-baik saja, Dewa. Lega."

"Lega?"

"Iya. Lega karena akhirnya... Saya bisa bilang tidak."

Dewa diam menghormati.

"15 tahun saya membayangkan kalau ketemu bakal lembek, nangis, terima dia balik. Tapi ternyata... saya kuat."

"Ibu memang kuat, Bu."

Ia menatapnya lamat" Kamu lihat tadi bagaimana saya kukuh menahannya? "

"Iya, Bu, saya lihat."

"Dengan cincin ini." Ia mengangkat tangan kirinya. "Cincin misterius ini... siapapun yang punya, dia telah mengingatkan saya tidak perlu kembali ke masa lalu."

Dewa menunduk dadanya sesak, batinnya berbisik, ' Seandainya Ibu tahu... kalau Ibu tahu cincin itu dari saya...

"Dewa."

Ia mengangkat wajahnya.

"Makasih sudah temani."

"Sama-sama, Bu."

"Pulang yuk. Saya laper."

"Mau makan di mana, Bu?"

Ia berpikir sejenak tersenyum nakal—pertama kali Dewa melihat ekspresi seperti itu.

"Bubur ayam kamu."

"Bu... serius? Ibu gak malu makan di emperan pasar ?"

" Kenapa harus malu?" Ia tersenyum tipis.

" Lebih baik ...."

" Kemarin saya cuma beli satu mangkuk bubur, " potong nya cepat, " Dan sekarang saya mau makan sepuasnya traktir kamu."

"Ibu yang traktir? Saya seharusnya memberi gratis, Bu."

" Gak usah, asalkan kamu yang masak. Deal?"

"Eh..b-baik, bu."

 ---

Pukul 13.30, Pasar Inpres.

Dian duduk di bangku panjang dengan blazer hitamnya, memegang mangkuk bubur kedua. Pedagang lain sudah mulai terbiasa melihatnya. Ibu-ibu kepo tidak lagi berbisik heboh malah ada yang menyapa.

" Selamat makan Bu dosen," sapa Bu Tuti penjual gorengan sebelah.

" Eh Ya, Bu, buburnya enak."

" Ibu cantik," celetuk Mia, tukang keripik tempe gak malu makan bubur ayam, Dewa."

Wajah Dian seketika memerah Dewa hanya tersenyum malu.

"Dewa, boleh saya tanya sesuatu." Ia berhenti sesaat menyendok.

"Apa, Bu?"

"Mengapa kamu nggak pernah tanya soal cincin ini."

Dugh, jantung Dewa lepas dari sangkutannya

pertanyaan itu lagi muncul.

"Orang lain selalu bertanya, teman-teman dosen, bahkan Dekan, tapi kamu...kamu selow aja."

Otak Dewa berasap memikirkan jawaban yang tepat "Saya tidak tahu, Bu, saya hanya bisa mengamati, nanti ibu tahu sendiri."

"Kamu beda, Dewa."

" Bedanya apa, Bu?"

"Dari semua laki-laki yang saya kenal... kamu satu-satunya orang yang tidak pernah meminta apa-apa."

Dewa menunduk menghela napas, dadanya mau meletus" Saya hanya seorang mahasiswa Bu, hanya seorang asisten."

" Apa salahnya?"

" Saya senang membantu ibu iklas tanpa mengharap kan apa apa."

Dian tercenung sesaat lalu," Atau kamu saya gaji "

" Eh..gak usah, Bu, anggap ini sebagai bakti saya sebagai mahasiswa dodol."

Dian tertawa terkekeh," Hus, kamu bisa aja, akhir akhir ini nilai mu mulai naik."

" Terimakasih banyak, Bu, terimakasih, saya akan lebih tingkatkan

"Sudah, gak pa pa, ayo pulang besok kita masuk kampus lagi."

Dewa mengangguk membereskan gerobaknya.

 ---

Pukul 19.00, Apartemen Anggrek perempuan itu turun dari motor melepas helm."Makasih hari ini, Dewa."

"Sama-sama, Bu."

Namun wajahnya tampak sedikit ragu "Besok, kembali rutinitas biasa lagi Tapi...saya senang kamu ada."

"Saya juga senang, Bu."Dewa tersenyum kecil

Ia masuk dan pintu pun tertutup.

Dewa berdiri di sana, memandang dari kejauhan sebelum men stater sepeda motor butut nya berbisik " Hari ini, besok, saya masih menjadi asisten ibu menjaga jarak. Tapi suatu saat ibu akan tahu bahwa cincin itu benar adanya bukan untuk Sasha "

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!