NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Nama Perusahaan

Ibu Naya berdiri perlahan dari kursi samping tempat tidur suaminya. Setelah beberapa jam berjaga, tubuhnya mulai terasa lelah.

"Ibu ke kantin sebentar ya, Nak. Mau beli sarapan." ujarnya hangat.

Naya yang sedang merapikan selimut ayahnya mengangguk. "Iya, Bu. Naya di sini aja."

Pintu ruang rawat tertutup pelan saat ibunya keluar.

Koridor rumah sakit tidak terlalu ramai saat itu. Langkah ibunya berjalan perlahan menuju ke arah kantin. Namun saat tak jauh dari ruangan, seorang perawat menghampirinya sambil membawa sebuah parsel besar.

"Permisi, Ibu keluarga Pak Robihot?" tanya perawat ramah.

Ibu Naya tampak sedikit bingung, "iya.... Saya istrinya."

"Ini ada kiriman parsel buah. Tadi diantar kurir. Atas nama perusahaan Aruna Pratama." ucapnya sambil memastikan tulisan di kartu tersebut.

Alis ibu Naya terangkat heran. Ia menerima kotak itu dengan hati-hati. Bungkusnya rapi dan terlihat mahal, membuatnya semakin kebingungan.

Niat ke kantin pun tertunda. Ia segera berbalik arah, membawa parsel itu ke ruang rawat.

Pintu dibuka perlahan.

Naya yang sedang duduk langsung menoleh.

"Ibu? Kok cepat balik?"

Pandangannya jatuh pada kotak besar di tangan ibunya.

"Itu apa, Bu?" tanyanya heran.

Ibunya meletakkan parsel di meja dekat tempat tidur sebelum menjawab. "Tadi perawat yang kasih. Katanya kiriman dari perusahaan kamu."

Naya terdiam sesaat, jelas tidak menyangka.

"Dari kantor Naya?" tanyanya pelan untuk memastikan.

Ibunya mengangguk sambil membuka pita keemasan yang melingkar rapi di kotak itu.

"Iya. Tempat kerjamu sepeduli itu ternyata, ya." ucap ibunya dengan nada lega. "pantas kamu nyaman disana." lanjut ibunya sambil tersenyum.

Naya tak langsung menjawab. Matanya tertuju pada kartu kecil yang terselip di antara buah-buahan itu. Ia mengambilnya perlahan.

'Semoga lekas pulih' _Atas nama perusahaan.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

_

Sebuah mobil berhenti di area parkir pengunjung. Pria itu mematikan mesin lalu diam cukup lama. Hanya tatapannya yang tertuju pada gedung rumah sakit di depannya.

"Ini profesional, hanya memastikan." gumamnya pelan.

Ia keluar, menutup pintu mobil tanpa suara keras.

Ia menunduk, memperhatikan pakaian yang dikenakannya.

"Sepertinya, tak usah pakai ini," Katanya lirih sambil membuka jas dan dasinya. Ia kembali ke dalam mobil, meletakkan jasnya. Dia merasa itu terlalu mencolok di tempat itu.

Hari ini, maksud kedatangannya ia tidak ingin datang sebagai seorang CEO untuk urusan pekerjaan.

Langkahnya masuk ke lobi rumah sakit, dengan kemeja sederhana. Tanpa dasi.

Seorang petugas informasi yang sedang merapikan berkas menoleh dan tersenyum ramah.

"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa dibantu?"

CEO itu berhenti sebentar. Nada suaranya tenang, tapi jelas berhati-hati.

"Pasien atas nama Pak Robihot, dirawat di ruangan mana?"

Petugas itu mengecek, jemarinya mengetik cepat.

"Pak Robihot.... Ruang rawat inap lantai 2 kamar 207, Pak."

Ia mengangguk singkat, "Terima kasih."

CEO itu kembali berjalan ke arah sebelah kanan menuju lift. Ekspresinya lebih tegang dari biasanya.

Pintu lift terbuka di lantai dua.

Ia berjalan perlahan, membaca nomor kamar satu per satu.

'203.... 205...' Langkahnya melambat saat melihat angka 207.

Ia berhenti.

Pintu kamar itu tidak tertutup rapat.

Dari dalam, suara Naya terdengar lembut. "Yah, coba yang ini. Sedikit aja... " Naya menyuapkan sepotong apel.

CEO itu tanpa sadar berdiri lebih dekat ke pintu. Ia tersenyum melihat Naya.

Di dalam, Naya duduk di samping tempat tidur. Ibunya berdiri dekat meja, merapikan buah lainnya.

"Ibu masih heran," ujar ibunya pelan. "Perusahaanmu perhatian sekali ya. Padahal kan masih satu hari kamu izinnya."

Naya tersenyum tipis, "aku juga nggak nyangka, Bu. Aku kan bukan siapa-siapa di kantor, bukan orang penting."

Ayahnya yang masih lemah berbisik, "orang baik kan masih banyak.... jadi bilang terima kasih, ya."

"Iya, Ayah." jawab Naya lembut.

Di luar, CEO itu terdiam.

Tatapannya jatuh pada parsel buah di meja. Ada kelegaan yang muncul di wajahnya.

Tangannya sempat terangkat, hampir mengetuk pintu. Namun ia ragu.

"Apa yang harus kukatakan?" tanyanya dalam hati.

Ia mundur dan berbalik. Melangkah selangkah.

Namun... 'Klik'

Pintu terbuka.

Ibu Naya keluar sambil membawa botol minum kosong, ia mau mengisi air. Ia hampir saja berjalan melewati pria itu sebelum akhirnya berhenti.

Keduanya saling menatap.

Ibu Naya sedikit terkejut melihat pria yang pernah dia temui berdiri tepat di depan kamar mereka.

"Nak? " sapanya sopan.

CEO itu sempat terdiam, jelas ia tidak menyangka akan tertangkap seperti itu. Namun ekspresinya cepat kembali tenang.

Wajah Ibu Naya langsung cerah. "Ada temannya Naya?" Katanya hangat. "Silahkan masuk, Nak. Naya ada di dalam."

Ia segera menggeleng halus, sedikit mengelak. "Tidak usah, Bu. Saya kebetulan menjenguk teman juga di sini.... jadi sekalian ingin memastikan keadaan ayahnya Naya sebentar."

"Oh begitu, " Jawab ibu Naya mengangguk mengerti. "Terima kasih ya, Nak, sudah menyempatkan datang."

"Bagaimana kondisi beliau, Bu?" tanyanya sopan.

"Sudah lebih baik." jawab ibu Naya dengan senyum lelah.

Adrian mengangguk kecil.

"Naya pasti senang kalau tahu temannya datang," tambah ibu Naya.

Adrian menunduk sedikit, lalu berkata pelan, "Bu, saya pamit dulu, ya."

Ia lalu berjalan menjauh menyusuri koridor dengan langkah tenang.

Ibu Naya kembali masuk, masih memegang botol minum yang kosong.

"Nay.... " Panggilnya.

"Loh.... Kok botolnya kosong, Bu?" tanya Naya heran.

"Ibu belum mengisinya, tadi di depan ada temanmu datang."

"Teman Naya?"

"Iya. katanya sekalian menjenguk temannya di sini. "

Naya berdiri cepat, "siapa, Bu? Nadira?"

"Bukan, Nak. Teman kamu yang menolong ibu kemaren." Jelas ibunya.

Naya segera membuka pintu dan melihat ke luar.

Koridor sudah kosong. Hanya kesunyian pagi.

"Pak Adrian? Tapi tak mungkin, ini kan jam kerja, apalagi dia selalu sibuk." gumamnya tak percaya.

Langkah CEO itu akhirnya berhenti di area parkir. Napasnya terdengar sedikit berat. Tangannya masih berada di atas setir. Sedikit gemetar.

Bayangan Naya kembali muncul, caranya

berbicara lembut pada ayahnya.

CEO itu menundukkan kepala sebentar.

"Hari ini.... " napasnya tertahan sesaat, "... Sudah cukup."

Ia memejamkan mata beberapa detik, menenangkan dirinya.

Naya yang masih tak percaya, tanpa banyak berpikir, melangkah lebih cepat menyusuri koridor.

"sebentar ya, Bu." teriaknya pelan.

Ia sampai di pintu utama rumah sakit dan langsung melihat ke arah parkiran.

Sebuah mobil hitam baru saja bergerak meninggalkan area parkir.

Naya berhenti, napasnya sedikit terengah.

Matanya mengikuti mobil itu, mencoba mengenali bentuknya dari kejauhan.

Naya menyipitkan mata, "itu... "

Mobil itu terus melaju keluar gerbang tanpa berhenti.

Naya berdiri diam beberapa saat. Ia tak benar-benar yakin. Mobil hitam seperti itu banyak.

Ia memandangi area parkir, tapi tak menemui siapapun disana.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!