Adakalanya semua yang buruk belum tentu terjadi atas ke inginan hati seseorang. Terkadang suatu hal dapat merubah seseorang menjadi lebih buruk dari yang kita bayangkan.
Lihat lah seseorang dari sisi lain yang bukan dari sisi pendapat mu saja, namun cobalah utk melihat dari sisi mereka berdiri, maka kamu akan melihat sesuatu hal yang berbeda.
Jangan lupa like, comment, Vote.
Terimakasih readers setia ku❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceritaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Clara menatap kedua orang tuanya yang terbujur kaku, ia tak pernah menyangka jika Mama dan Papanya akan pergi secepat ini.
Perlahan air mata Clara kembali mengalir membentuk sebuah aliran disana.
"Mama.... " panggil Clara menatap wajah pucat Maria.
Clara kembali terisak, hatinya begitu sakit. Ia belum bisa menerima semua ini, berharap semua ini hanya mimpi.
Clara beralih menatap papa nya terbaring disamping mama nya.
"Papa... "
"Kenapa kalian tega sama Ara?? kenapa begitu cepat!!! Katanya Ara bakal dijagain. "
"Ara lagi sedih, Mama peluk Ara dong, jangan diam ajah Ma"
Rancau Clara menggoyang goyangkan tubuh Maria berharap mamanya akan bangun dan merengkuh tubuh mungilnya.
Semua mata menatap Clara iba, hati siapa yang tak tersentuh melihat bagaimana kacaunya Clara saat ini.
"Ra lo yang sabar yah Ra" ujar Risma memeluk tubuh Clara, mencoba untuk menguatkan hati Clara.
"Kenapa mereka tega Ris, meninggalkan gue sendiri disini"
"Lo harus kuat yah Ra, ini semua cobaan untuk lo" Risma semakin memeluk sahabatnya erat.
"Ujian apa coba Ris, yang menenggelamkan gue kejurang terdalam" balas Clara disela sela tangisnya.
Sejak sadar dari pingsannya Clara terus menetes kan air matanya. Ia berfikir jika mendengar kabar bahwa kedua orang tuanya telah pergi merupakan mimpi buruk. Namun setelah melihat jasad kedua orang tuanya membuat Clara menjadi tersadar bahwa semua ini adalah nyata.
"Non, yang sabar yah. Bibi turut sedih non hiks hiks." Ujar bi Ina yang setia duduk dibelakang Clara dan Risma.
Adam dan Rani tiba di kediaman Yuda, mendengar berita buruk tentang kedua sahabatnya itu mereka langsung bergegas pergi ke rumah Ramlan.
Rani menutup mulutnya tak percaya, melihat Clara yang tengah menangis disamping jasad Maria.
"Sayang, kamu yang tabah yah" ucap Rani memeluk tubuh Clara, ikut menangisi kepergian Ramlan dan Maria.
Clara hanya diam dan terus meneteskan air matanya. Ia sekarang tidak punya siapa siapa lagi.
Hidup Clara benar benar sudah hancur, ia merasa tak ada guna lagi untuk hidup.
Setelah selesai acara pemakaman Ramlan dan Maria, masyarakat ataupun kerabat jauh maupun dekat mulai berangsur pulang.
Sekarang yang tersisa hanya Adam, Rani, Risma, bi Ina dan Clara.
Prihatin, bagaikan mayat hidup Clara termenung duduk diatas sofa, yang terlihat hanya air mata yang mengalir kembali di pipi Clara mengikuti jejak air mata yang telah kering.
Rani menghampiri Clara membawa sepiring nasi, kemudian berusaha menyuapi sesendok nasi ke mulut Clara.
"Sayang, kamu harus makan" bujuk Rani.
Tak bergeming, Clara tak merespon, air matanya terus mengalir.
"Kemana Jeri? " tanya Adam ,sejak ia sampai di sini tak pernah melihat keberadaan Jeri.
"Sejak saya menemukan Clara pingsan di apartemen, saya tidak melihat Jeri berada disana Om. "Ucap Risma angkat bicara.
" Kemana dia? " tanya Adam pelan namun masih dapat di dengar oleh Clara dan yang lain.
"Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini ma. " Ujar Clara pelan dengan suara seraknya yang hampir tak terdengar jelas.
Rani dan Adam kaget, menatap Clara penuh tanda tanya.
"Sayang, kenapa bicara seperti itu? " Tanya Rani pelan, mengusap bahu Clara lembut.
"Mungkin Ara memang gak pantes untuk dampingi Kak Jeri" tuturnya yang mulai kembali berkaca-kaca.
Adam menatap intens Clara ketika mendengar panggilan kak untuk Jeri."Sayang, kamu sudah ingat? "
"Ya, Ara udah ingat. "
"Ara sudah berusaha menerima perjodohan ini, Ara menjalankan kewajiban Ara mah. Tapi.. " Ucapan Clara terhenti karena tangis yang mulai pecah.
"Tapi.. Ara masih belum bisa menjadi Istri yang baik untuk kak Jeri" lanjut Clara berusaha menahan tangisnya.
"Sekuat apapun Ara berusaha, sekuat apapun Ara mencoba, tetap saja Ara tak akan pernah pantas ma, pah"
"Tapi kenapa sayang?, kenapa kamu menyerah? " tanya Adam yang tahu bagaimana perjuangan Ara semasa masih belia dulu, meskipun Jeri mengusirnya Ara tetap berusaha mendekati Jeri pantang menyerah.
"Kenapa menyerah?, " tanya Ara tersenyum getir.
"Harusnya Ara bertanya pah, kenapa Ara harus bertahan pada seseorang yang tak pernah mempercayai Ara, seseorang yang tak pernah mengharapkan Ara ada. Buat apa??. " Tanya Ara menangis kembali.
Rani spontan memeluk Clara erat, seolah merasakan kepedihan yang Ara rasakan.
Adam memalingkan wajahnya, jauh di lubuk hatinya menyesal memaksa kehendak mereka untuk menjodohkan Clara dan Jeri jika tahu akan begini Jadinya.
Adam menunduk perkataan sahabat nya dahulu mengiang di telinganya.
Semua tak akan sesuai dugaan mereka. Takdir, jodoh, kematian tak ada yang bisa memprediksi nya.
"Sayang, maafin mama yah, udah maksa kamu buat nikah sama anak nakal itu. " Ucap Rani menyesal.
Risma hanya menjadi penonton setia, hatinya ikut merasakan sakit disetiap isak tangis Clara.
"Semua terserah pada mu sayang, Mama gak bisa memaksa mu. tapi kamu harus ingat mama akan selalu menjadi mama untuk Clara, meskipun kalian bercerai" Ucap Rani panjang lebar, yang hanya dibalas anggukan oleh Clara.
"Papa dan mama akan menjaga mu sayang" tutur Adam.
Risma berdiri dari duduknya menghampiri Clara yang sudah terlihat begitu lelah.
"Yaudah Om, tante aku ajak Clara istirahat ke kamarnya yah Tan, Om. " Menuntun Clara menuju kamarnya.
...****...
Jeri kembali apartemennya, sudah 1 minggu Jeri menghilang, pergi untuk menenangkan diri.
Jeri memasuki apartemen nya yang seperti biasanya selalu terlihat rapi dan bersih. Ia sudah bisa menebak jika Clara pasti selalu membersihkannya.
Jeri menyelusuri ruang TV, sedikit aneh apartemen nya terlihat seperti sudah beberapa hari tak dihuni.
Penciuman Jeri juga tak mencium aroma khas wangi parfum Clara.
"Kemana Gadis itu? " tanya Jeri dalam hati sembari berjalan menuju sofa.
Jeri meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja kecil didepan sofa, sejak ia pergi dari apartemen bersama Sela Jeri tak membawa ponselnya.
Ting~
Jeri mengerut melihat banyak sekali pesan masuk mencari dirinya. Jeri membuka pesan dari Papahnya.
Deg~ mata jeri membulat, tubuhnya menegang membaca isi pesan dari papanya.
...Papa🍀...
Jeri!!!, Dimana kamu?? dasar suami tak tahu malu. Istri kamu sedang berduka kamu malah pergi meninggalkannya!!
"Berduka?? " ulang Jeri, Kemudian melanjutkan membuka salah satu pesan dari mamanya.
...Mama😘...
sayang, kamu dimana?? orang tua Clara meninggal dunia nak.
Bagaikan di sambar petir, Jeri gemetar membaca pesan dari mamanya.
Jeri terhuyung mencerna semua yang baru saja ia baca. Jeri kemudian berlari menuju kamar Clara berharap menemukan Clara disana.
Blam~
Jeri membuka pintu kamar Clara dengan kasar tak sabar ingin cepat cepat melihat Clara.
Tertata sangat rapi, kamar Clara telah kosong. Persis seperti awal sebelum kamar ini di huni oleh Clara, tata letak perabotan kembali seperti dulu.
Seolah menghapus jejak, Clara juga mengganti aroma kamar ini.
Jeri terhenyak, ia tersadar betapa brengs*knya dirinya meninggalkan Clara didalam keadaan terpuruk.
Seburuk apapun Clara hati Jeri masih sama, masih untuk Clara.
Jeri melirik meja belajar yang sengaja ia beli untuk Clara membuat tugas kuliah. Meja yang sudah bersih tanpa ada barang apapun diatasnya.
Jeri meraih sepucuk surat yang tergeletak diatas meja itu.
...TBC...
Terimakasih 😘😘😘
ini yg dinamakan klo semua org baik akan cepat mati dan org jahat klo tiba2 baik bisa bahagia tanpa ada karma
awas luw ya... 👊👊👊
👍👍👍
follback ya kak.