NovelToon NovelToon
GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Isekai / Romansa Fantasi
Popularitas:441
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.

Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. APARTEMEN MEWAH

Deru mesin mobil sport bertenaga tinggi itu mengaum membelah keheningan kompleks elite di pusat kota, sebelum akhirnya berhenti mendadak dengan decit ban yang tajam. Leo tiba di depan gerbang menara apartemen mewah bernuansa modern minimalis itu. Di pelataran parkir khusus, Bara sudah menunggu, berdiri santai bersandar di kap depan mobil SUV hitamnya.

Melihat kedatangan tuannya, Bara menegakkan tubuh. Leo mematikan mesin, keluar, lalu membanting pintu mobilnya dengan keras hingga suaranya menggema di depan apartemen yang ingin dibelinya, Wajah pemuda itu sedingin bongkahan es, langkahnya lebar dan penuh penekanan.

"Kau sudah datang. Pemilik unit apartemen ini sudah menunggu kita di dalam," lapor Bara, bergegas menyamai langkah panjang Leo.

"Bagus. Ayo langsung masuk," jawab Leo tanpa menoleh.

Keduanya melangkah melewati gerbang besi yang besar dan masuk kedalam apartemen pintu kaca otomatis ganda, langsung disambut oleh kemewahan lobi privat yang terhubung langsung dengan unit penthouse di lantai atas. Setibanya mereka di ruang tamu utama yang berdinding kaca setinggi langit-langit, seorang wanita muda berpakaian modis dan elegan berdiri menyambut.

"Selamat pagi. Saya Kinara, selaku pemilik apartemen ini," sapa wanita muda itu dengan senyum ramah yang terlatih. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, menatap takjub pada sosok pemuda tampan dengan aura mematikan yang baru saja melangkah masuk ke ruang tamunya.

Leo menyambut uluran tangan itu dengan sangat singkat, seolah hanya formalitas belaka. Tanpa menunggu dipersilakan, ia langsung mendudukkan dirinya di sofa kulit berwarna charcoal, menyilangkan sebelah kakinya dengan dominasi penuh.

"Kita tidak usah membuang waktu dengan basa-basi. Langsung saja sebutkan harga pasnya. Aku sudah melihat gambar-gambar spesifikasinya, dan tempat ini cukup layak untuk kutinggali," potong Leo dengan nada datar, matanya menatap tajam menembus bola mata Kinara.

Kinara terdiam sejenak. Tangannya yang baru saja ditarik kembali terasa sedikit kaku. Ia menelan ludah, terheran-heran melihat sikap pembeli di depannya ini. Biasanya, para miliarder akan menghabiskan waktu berjam-jam memeriksa setiap sudut marmer dan sistem ventilasi sebelum berbicara soal harga. Namun pemuda di hadapannya ini bersikap seolah sedang membeli kacang goreng di pinggir jalan.

Kinara berdeham pelan, ikut duduk di sofa tunggal yang berjarak selangkah dari meja kaca ruang tamu, mencoba mempertahankan profesionalismenya. "Baiklah, jika Anda memang lebih suka langsung pada intinya. Dengan fasilitas mewah tiga lantai, furnitur high-end impor yang sudah fully furnished, serta kolam renang pribadi di dek samping, saya melepas tempat ini di harga 96 miliar rupiah."

"Emm. Berikan nomor rekeningmu sekarang," sahut Leo tanpa berkedip sedikit pun.

Mata Kinara membulat sempurna. "Maaf, Pak? Apa Anda... tidak ingin berkeliling melihat-lihat isinya terlebih dahulu? Setidaknya melihat kondisi kamar utama atau sistem keamanannya?" tanyanya tak percaya.

"Tidak perlu. Aku sudah melihat keseluruhan area dari foto dan video yang dikirimkan pengawalku. Keamanannya biometrik, kacanya antipeluru, dan harganya 96 miliar. Itu sudah cukup merangkum semuanya. Berikan saja berkasnya," gumam Leo, mengetukkan jarinya dengan tidak sabar di lengan sofa.

Masih dalam keadaan syok berat, Kinara buru-buru mengeluarkan map kulit dari tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja. "B-baiklah. Kalau begitu, silakan tanda tangan di sebelah sini, Pak. Ini adalah surat kuasa dan akta pengalihan hak milik atas nama Anda."

Dengan tatapan setajam elang, Leo membaca sekilas rentetan pasal dalam dokumen tebal itu. Otaknya yang cerdas memindai celah hukum dalam hitungan detik. Setelah memastikan semuanya bersih, ia mengambil pena fountain dari saku dalam jasnya dan menggoreskan tanda tangannya yang tegas. Segera setelah itu, ia mengeluarkan ponselnya, memindai kode rekening bank milik Kinara, dan melakukan otorisasi transfer jalur khusus VVIP.

"Sudah kutransfer. Cek mutasi rekeningmu sekarang," ujar Leo, meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Ponsel Kinara bergetar. Saat melihat rentetan angka nol yang masuk seketika tanpa proses kliring yang panjang, napasnya tercekat. Ia segera berdiri dan membungkuk hormat. "Dana sudah masuk sepenuhnya. Semoga Anda betah menempati hunian baru ini, Pak Leo. Terima kasih banyak atas kerja samanya yang sangat luar biasa cepat. Saya permisi dulu, kuncinya ada di laci meja ini," ujar Kinara sambil tersenyum lebar.

Wanita muda itu melangkah keluar dari penthouse miliknya yang kini telah resmi berpindah tangan, masih menggelengkan kepala tak percaya atas transaksi tergila dalam hidupnya.

"Terima kasih kembali," jawab Bara pelan, mengantar kepergian wanita itu hingga ke ambang pintu keluar dari apartemen.

Begitu pintu lift tertutup, Leo langsung berdiri dari sofa. Aura santainya seketika lenyap, digantikan oleh ketegasan seorang pemimpin.

"Bara, aku mau naik ke lantai tiga untuk mengecek kamar utama yang akan kutempati dan mengatur titik buta keamanan," titah Leo seraya melangkah menuju lift internal apartemen tersebut. "Sementara aku di atas, kau kumpulkan anak buah kita. Pergi ke kediaman Theodore sekarang juga dan kemas semua barang-barang penting kita, terutama barang-barang milik Vellora."

Bara mengangguk patuh. "Baik, Bang Leo. Bagaimana dengan Kakek Liam?"

Jari telunjuk Leo menekan tombol lantai 3 dengan keras. "Bawa Kakek kemari hari ini juga. Jika pak tua itu banyak protes dan tidak mau pindah dari rumah kayunya, bawa dia secara paksa. Seret saja dia kalau perlu!" pekik Leo. Pintu lift tertutup rapat, membawa Leo naik ke atas dan meninggalkan Bara yang hanya bisa memijat pelipisnya membayangkan harus menyeret mantan pembunuh bayaran paling mematikan di negara ini keluar dari rumahnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!