NovelToon NovelToon
MENGHAPUS JEJAK

MENGHAPUS JEJAK

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan / Cinta Murni / PSK / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:166.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

S 2. Novel "Jejak Luka"
Lanjutan kisah 'rudapaksa yang dialami oleh seorang gadis bernama Enni bertahun-tahun.

Setelah berhasil meloloskan diri dari kekejaman seorang pria bernama Barry, Enni dibantu oleh beberapa orang baik untuk menyembuhkan luka psikis dan fisiknya di sebuah rumah sakit swasta.

"Mampukah Enni menghapus jejak trauma masa lalu dan berbahagia?"

Ikuti kisahnya di Novel "Menghapus Jejak"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia selalu. ❤️ U. 🤗


Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. MJ

...~•Happy Reading•~...

Setelah masuk ke kamar yang diberikan padanya, Enni menangis sesenggukan. Kesedihan yang ditahan melihat Bu Titiek di kamarnya, tumpah. Dia jadi teringat pada Ibunya yang sakit sebelum meninggal. Hanya Ibunya tidak sekurus Ibu Titiek.

Hatinya bergejolak oleh berbagai rasa dan terutama sangat terharu, karena dia diperlakukan seperti seorang putri oleh Bu Titiek yang baru mengenal dan bertemu dengannya. Padahal selama ini, dia merasa dirinya sangat tidak berharga.

Ternoda dan sangat kotor, karena profesinya. Apa lagi mengingat diperlakukan sesukanya dan hanya sebagai pemuas nafsu para lelaki yang menginginkan tubuhnya. Enni jadi menangis sambil menutup mulutnya, agar tidak terdengar oleh yang ada di luar kamar.

Ketika melihat kamar yang ditempati, air matanya mengalir deras dan berlinang. Kamar dan isinya benar-banar disediakan untuknya. Sangat nyaman dan hangat untuk tempat istirahat.

Enni melihat jendela sedang terbuka. Perlahan dia berjalan mendekati jendela dan berdiri di depannya. Dia menyentuh gorden indah dan sangat serasi dengan penutup tempat tidur dan selimut bermotif bunga dan garis-garis.

Dia menyingkapkan tirai, lalu melihat jalanan di bawah dan jejeran rumah mewah di seberang jalan. Enni kembali memegang dada dan air mata kembali mengalir. Suatu kebebasan dan kemewahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Rumah orang tua Mathias berada di komplek perumahan mewah, sebab Alm. Ayah Mathias bukan saja dari keluarga berada, tapi Ayahnya seorang Jaksa Agung aktif saat mengalami kecelakaan dan meninggal. Sehingga hidup mereka tidak berkurangan.

Enni membiarkan jendela tetap terbuka, lalu membaringkan tubuhnya begitu saja di atas ranjang. Tanpa mengangkat selimut yang menutupi tempat tidur. Hatinya sangat tentram, mencium harum selimut yang lembut. Perlahan, dia memejamkan mata yang masih berair sambil mengelus pelan selimut.

...~▪︎▪︎▪︎~...

Di sisi lain ; Barry sedang di apartemen menunggu kedatangan dokter yang sudah berjanji akan datang untuk memeriksa kesehatannya.

Dia juga sedang menunggu Bashu yang belum kembali sejak pagi. Barry minta dia bicara dengan bagian administrasi RS Sopaefams yang sudah dihubungi oleh Barry agar bisa membantu Bashu menemukan Enni.

Barry sendiri belum bisa beraktivitas dengan baik, sebab belum nyaman saat mengenakan boxer. Dia sudah berusaha mengenakan celana panjang tanpa boxer, tapi tetap tidak nyaman dan mengganggu saat berjalan atau membuat suatu gerakan. Sehingga dia meminta dokter datang untuk memeriksa dan mau konsultasi.

Semua pekerjaannya dilakukan dari apartemen. Jika harus bertemu dengan orang lain atau rekan bisnis, Bashu yang akan mewakili sesuai petunjuk yang dia berikan.

"Pak Barry, ini sudah sembuh. Bapak bisa beraktivitas seperti biasa." Ucap dokter yang sudah datang dan memeriksa Barry.

"Tapi saya masih tidak nyaman pakai boxer. Kalau ngga pakai boxer, malah terasa ngilu jika dibuat jalan atau bergerak." Barry mengatakan yang dia rasakan.

"Pak Barry harus berlatih terus, karna sudah lama tidak pakai boxer. Jangan berhenti kalau kurang nyaman, biar terbiasa lagi." Ucap dokter serius. Barry hanya bisa mengangguk pasrah.

Setelah dokter meninggalkan apartemen, Barry melakukan apa yang disarankan dokter dengan bergonta-ganti celana panjang dan pendek. Dia ingin segera keluar apartemen, sebab selain ada masalah dengan isi boxer, dia sering gelisah menunggu kepastian tentang keberadaan Enni yang belum diketahui keberadaannya.

Ada banyak hal yang membuat dia was-was, tapi belum bisa konsultasi dengan pengacaranya. Dia masih berharap, Enni tidak melakukan sesuatu untuk melawannya. Oleh sebab itu, dia izinkan Bashu mengikut sertakan orang-orangnya bergerilya untuk mencari Enni.

Dalam ketidak tenangannya, tiba-tiba telponnya berdering. "Barry, belum juga selesai tugasmu?" Ucap Temi tanpa sapaan, saat Barry merespon panggilannya.

"Bikin kaget saja. Belum! Ada apa?" Barry tidak bisa menyembunyikan rasa kesal dan emosinya yang belum surut.

"Eeeh, mengapa kau emosi? Seharusnya aku yang kesal. Banyak pekerjaanmu yang aku tangani. Kau ngapain saja? Cepat kembali. Aku sudah pusing, bisa botak belum waktunya." Ucap Temi tidak kalah emosi.

"Kau masih pikir botak? Nanti kau pergi tanam rambut, jika botak." Barry yang sedang kesal, tidak menyadari Temi mulai emosi.

"Semprulll.... Kau rencana mau lepas kerjaanmu buat aku dan kau enak-enakan indehoiii? Urus sendiri kerjaanmu. Kerjaanku juga banyak." Temi ikutan kesal, sebab mengira Barry masih bersenang-senang dengan Winda.

"Aku bingung denganmu. Pakai asisten buat ngurusin kerjaanmu. Duitmu buat apa saja? Beberapa hari ini, aku nggak ke kantormu. Jadi kalau kau ngga balik-balik juga, siap-siap gulung tikar." Ucap Temi lagi.

"Aku kerja dari sini, jadi tahu semua aman. Sabar, napa. Seperti mak-mak, di akhir bulan." Ucap Barry berusaha tenangkan Temi yang sudah emosi.

"Karna kau sudah bilang mak-mak, aku jadi ingat. Winda kau apain saja?" Tanya Temi, serius.

"Winda? Mengapa kau tanyakan dia?" Barry jadi bertanya dengan hati yang tidak tenang.

'Apa Temi sudah dihubungi oleh Mami Sinna?' Barry bertanya dalam hati dan makin tidak tenang.

"Apa aku ngga bisa tanya tentang dia? Kau lupa, aku yang lakukan transaksi atas namamu? Kau yang dapat enaknya, aku yang neknya." Protes Temi, kesal.

"Sialaaann... Moodku lagi ngga enak. Ngga usah ngomong yang buat tambah emosi. Ada apa?" Barry penasaran dengan pembicaraan Temi yang tiba-tiba membicarakan Winda.

"Cepat kembali dan sesekali bawah Winda ke Anjungan. Aku sudah tidak punya alasan karna sering ditanya sama si Mami itu."

"Ditanya Mami Sinna? Tanya apa?" Barry was-was.

"Saat aku ke Anjungan tanpa Winda. Ya, ditanya, mengapa datang sendiri dan pertanyaan lainnya. Bikin ngga enak hati untuk jawab." Temi cerita bertemu dengan Mami Sinna di Anjungan.

"Aku dikira sudah punya bidadari, tapi masih datang sendiri ke Anjungan buat main dengan gagak atau icip-icip daging kiloan..." Temi lanjutkan.

"Aaah, jawab saja sesukamu. Dibeli mahal, jadi simpan di rumah. Begitu saja, susah." Protes Barry.

"Memang kau kira aku belum bilang itu? Jangan bilang kau aneh-aneh dengan Winda, jadi ngga mau bawa dia ke Anjungan." Temi bertanya dan mengancam.

"Aneh apaan. Jangan ngaco. Aku ngga mau bawa, karna ngga enak sama Yabet...." Barry beralasan.

"Aahh, sudah pada dewasa. Bilang saja terus terang sama dia. Kau ngga kasihan sama Yabet? Dia masih ke tempat si Mami itu untuk bertemu bidadarinya."

"Jangan sampai dia tahu terakhir. Kau tahu kelakuannya, jika dicurangi, kan? Aku ngga akan berdiri di tengah lagi." Temi berkata serius.

"Aku akan biarkan kalian saling gebuk. Lagian kau juga serakah. Bukannya pakai sebentar dan biarkan juga buat Yabet, malah kau kekap sendiri."

"Aku sudah bilang, kalian berdua akan adu jotos karna bisnis atau wanita."

"Sudah, ya. Aku sudah bilang semua, mengenai kerjaan dan Winda. Kau yang putuskan sendiri. Aku mau konsen ngurusin kerjaanku."

"Aku sudah bilang mau bayar, malah ngga mau." Protes Barry.

"Ngga usah, nanti aku ngga bisa bergerak bebas urus kerjaanku. Bayar saja asisten buatmu." Temi mengakhiri pembicaraan mereka.

Barry melihat ponselnya dengan kesal. Ucapan Temi membuat Barry makin emosi dan marah.

...~▪︎▪︎▪︎~...

...~●○¤○●~...

1
siapa saja
ini ceritanya bagus banget, penulisan bagus, emosinya tersampaikan, dan pesan atau moral dalam cerita juga bisa didapat.... sukses selalu author🙏
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: Amin 🙏

Waaah.. 👍🏻❤️ Makasih dukungannya Kak. Smg selalu sehat & bahagia di mana pun berada 🙏😍🤗
total 1 replies
Sheety Saqdiyah
terimakasih banyak² buat author, yg telah menyajikan cerita yg bukan hanya sekedar menghibur saja, tp jg memberikan pesan² kehidupan yg luar biasa.. /Good//Good//Good//Good//Good/
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: Waaaah . 🤭👍🏻❤️ Makasih dukungannya Kak. smg sehat & bahagia sllu. 🙏😍🤗
total 1 replies
Betty
bagus jg menguras air mata & emosi.
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: wuaaaah 🤭👍🏻❤️
Makasih dukungannya Kak ..🙏😍🤗
total 1 replies
sukensri hardiati
/Pray//Ok//Good//Heart//Rose//Gift/
sukensri hardiati
alhamdulillah.....makasiiih...../Heart/
sukensri hardiati
/Sob//Sob//Heart/
sukensri hardiati
baru nemu ini setelah selesai baca kualitas mantan...
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: Oh iya Kak. makasih dujungannya.🙏❤️😍🤗

itu novel lanjut dari "Jejak Luka" 🙏
total 1 replies
Agus Tina
Baguus sekali ceritanya ....serasa benar2 ikut dlm persidangan Enni
Gendhis
saking lama nya di sekap oleh berry, untuk di jadikan budak pemuas nafsu,
Gendhis
yuhhhhh🙈🙈🙈🙈 berfungsi lagi gak tuh joni nyaa 🤣🤣🤣
☠ႦαRAkudA
lanjuuut
☠ႦαRAkudA
berdoa lah, Krn usaha tanpa doa bagai sayur tanpa garam
☠ႦαRAkudA
semoga hari pembalasan buat si durjana segera tiba
☠ႦαRAkudA
cerdas sekali kau dokter..
☠ႦαRAkudA
bener2sadis yg nyiksa ya...sereem
☠ႦαRAkudA
kabur yg jauuuuh en, yang gak mungkin ditemukan oleh orang2 tak berhati itu
Bambut That
woiiiii.... keren thor... makasih banyak banyak ya thor... kisah nya buat ku meleleh
Bambut That
bisa meleleh dibuatnya
Bambut That
Emily jadian sama Bram saja
Bambut That
cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!