Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Keesokan paginya, ruang kerja utama di lantai teratas Gedung Ashford Group berguncang hebat oleh gemuruh amarah.
Aroma kopi hitam yang pekat beradu dengan ketegangan yang sanggup membekukan udara di dalam ruangan luas berdinding kaca tersebut.
Suara dokumen tebal yang dijatuhkan kasar ke atas meja jati menggelegar nyaring, memecah keheningan pagi yang mencekam.
Brak!
"Kau menyebut dirimu lulusan terbaik Harvard, tapi mengurus satu draf kerja sama saja kau tidak becus!" bentak Draxler dengan suara baritonnya yang berat dan mengintimidasi.
Pria berusia 26 tahun itu berdiri di balik meja kerjanya, menyingsingkan lengan kemeja hitamnya hingga memperlihatkan urat-urat menonjol di lengannya yang tegap.
Manik matanya yang tajam berkilat merah menatap lurus ke arah asisten pribadinya yang menunduk kaku, memegang iPad dengan jemari yang gemetar hebat.
"M-maafkan saya, Mr. Ashford..." bisik sang asisten dengan napas tertahan.
"Pihak Huntington Group kembali mengembalikan dokumen penawaran kita tanpa dibaca. Tim legal mereka menyatakan bahwa jajaran direksi... khususnya CEO mereka, tidak memiliki minat sedikit pun untuk bermitra dalam proyek pelabuhan ini."
"Tidak minat?!" Draxler terkekeh sinis—sebuah tawa dingin yang tak menyentuh matanya sedikit pun. Ia mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dia bukan tidak berminat pada proyeknya, tapi dia memang sengaja menolak apa pun yang membawa nama Ashford!"
Draxler tahu betul.
Selama Dua tahun terakhir sejak wanita itu memegang kendali penuh atas Huntington Group, seluruh proposal investasi, konsorsium, hingga kerja sama perbankan yang diajukan oleh dinasti Ashford selalu ditolak mentah-mentah di meja sekretariat utama.
Marcella Ember Vitiello—secara konsisten memblokir seluruh akses bisnis keluarganya.
Draxler meremas dokumen di tangannya, melemparkannya ke dalam tong sampah.
Kau pikir kau bisa mengisolasiku dari duniamu, Ember? batin Draxler dengan amarah yang membara.
Aku sudah bersumpah. Kau boleh menolak bisnisku seribu kali, tapi aku akan menjadi parasit yang mengganggu ketenangan hidupmu setiap hari!
"Cari tahu dengan siapa saja wanita itu bertemu minggu ini!" perintah Draxler dengan intonasi dingin yang tak menerima bantahan.
"Setiap klien, setiap investor asing, hingga tempat makan siangnya! Jika dia menolak bermitra denganku, maka aku akan memastikan seluruh mitranya merasa tidak nyaman saat berhadapan dengan Ashford Group!"
"Baik, Mr. Ashford! Segera saya proses!" asisten itu membungkuk dalam-dalam lalu tergesa-gesa melangkah keluar kamar, takut menjadi sasaran amukan sang bos lebih lanjut.
Draxler berjalan menuju jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan pencakar langit kota. Ia menyesap wiskinya yang masih tersisa dari semalam, menatap jauh ke bangunan megah Huntington Tower di seberang kawasan bisnis.
Tujuh tahun berlalu, namun rasa penasaran, benci, dan dendam yang membakar dadanya atas jebakan malam itu bukannya padam, justru menjelma menjadi obsesi liar yang tak terobati.
Sementara itu, di dalam lantai teratas Huntington Tower.
Ember sedang membolak-balik berkas analisis pasar di meja kerjanya yang serba putih. Kacamata berbingkai emas bertengger anggun di hidung mancungnya, menambah kesan canggih dan tak tersentuh pada paras cantiknya yang matang.
Di depannya, Prilly yang mengenakan pakaian seragam eksekutif meletakkan segelas jus jeruk segar.
"Draxler Ashford baru saja mencoba menembus jalur investasi pelabuhan utara kita lagi pagi ini, Ember," ujar Prilly pelan, mengamati reaksi sahabatnya.
Ember tidak memalingkan pandangannya dari lembar dokumen. Jemari lenturnya memutar pulpen mahal dengan gerakan yang sangat teratur. "Tolak seperti biasa. Aku tidak punya waktu untuk melayani drama keluarga Ashford."
Prilly menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya di tepi meja. "Kau tahu, dia seperti orang gila. Kelab malam terbesarnya yang bernama EMBER masih menjadi pusat keramaian di pusat kota. Semua orang membicarakan kelab itu... dan membicarakan bagaimana sang pemilik sangat membenci nama itu."
Ember terdiam sejenak. Gerakan pulpennya terhenti seribu detik sebelum ia kembali menulis.
Tentu saja ia tahu tentang kelab malam bernama EMBER itu. Ia tahu bagaimana Draxler menamai tempat pelampiasan malamnya dengan nama raganya demi membiarkan seluruh pria di luar sana menyebut namanya dalam kemabukan.
Namun, di balik kabar kelab malam itu, ada satu rumor besar lima tahun lalu yang selalu tersimpan di sudut terasing pikiran Ember—sebuah berita gempar yang menyatakan bahwa Draxler Lutolf Ashford telah menikah secara tertutup dan sangat rahasia, sebuah pernikahan eksklusif keluarga yang tidak pernah dipublikasikan ke media mana pun.
Ember menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa pahit yang tersembunyi.
Pria yang dulu menangis dan bersumpah mencintaiku di taman asrama... pada akhirnya tetap menikahi wanita lain.
Ia melepaskan kacamatanya, merapikan gaun blazer hitamnya yang pas di tubuh, lalu berdiri dengan anggun.
"Siapkan mobil," perintah Ember tenang. "Aku ada janji makan siang bisnis dengan investor dari Prancis di Grand Palace Hotel pukul satu tepat."
****
Siang menyengat pelataran parkir VIP Grand Palace Hotel. Sinar matahari memantul silau di atas marmer lantai depan lobi hotel bintang lima tersebut.
Ember baru saja melangkah keluar dari pintu kaca utama seusai menyelesaikan makan siang bisnis yang alot.
Di belakangnya, dua pengawal pribadi berbadan tegap berjalan menjaga jarak. Ember merapikan kacamata hitamnya, bersiap melangkah menuju mobil limousine hitam yang sudah bersiap di depan undakan tangga.
Namun, tepat saat kakinya menapak anak tangga kedua... sebuah langkah kaki yang mantap dan tegas terdengar memotong jalurnya dari arah kanan.
Aroma wangi parfum maskulin berbahan woody dan tobacco yang sangat khas seketika menyapu indra penciuman Ember—sebuah aroma yang tak pernah mampu dilupakan oleh memori raganya selama tujuh tahun terakhir.
Ember menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan.
Draxler berdiri di sana.
Pria itu baru saja keluar dari restoran sebelah bersama beberapa klien eksekutifnya.
Dalam balutan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap yang sangat berkelas, Draxler tampak begitu perkasa, berbahaya, dan memancarkan pesona matang seorang penguasa.
Manik matanya yang tajam dan berkilat dingin kaku seketika saat pandangannya bertabrakan lurus dengan mata bundar Ember di balik kacamata hitam.
Atmosfer di pelataran lobi hotel yang tadinya riuh oleh suara mesin mobil mendadak membeku secara instan.
Para pengawal pribadi dan asisten kedua belah pihak secara naluriah menahan napas, merasakan gelombang ketegangan yang teramat pekat menyengat udara.
Draxler melangkah maju dua tapak, mengikis jarak di antara mereka hingga hanya tersisa dua meter. Pria itu menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap wajah cantik Ember yang tak menyisakan celah kerapuhan sedikit pun.
"Wah... lihat siapa yang baru saja menyelesaikan makan siang bisnisnya," sapa Draxler dengan suara bariton rendahnya yang dalam, sarat akan nada sindiran yang tajam bagaikan sembilu.
"Presdir Huntington yang sangat terhormat... wanita paling sibuk di pantai timur yang selalu kehabisan waktu untuk sekadar membaca proposal kerja sama dari perusahaan keluarga Ashford."
Ember menatap Draxler dari balik kacamata hitamnya dengan ketenangan yang terlatih sempurna. Ia tidak mundur satu milimeter pun.
"Mr. Ashford," panggil Ember dengan suara seraknya yang tenang, begitu formal dan berjarak.
"Waktu saya memang terlalu berharga untuk dibuang pada proposal yang tidak memiliki nilai yang jelas. Saya hanya berbisnis dengan pihak yang memiliki profesionalisme tinggi, bukan dengan pihak yang membawa emosi pribadi ke dalam ruang rapat."
Draxler terkekeh sinis.
Tawa lirih yang penuh kepahitan dan dendam mendalam.
"Profesionalisme?" ulang Draxler seraya melipat kedua tangannya di dada, menatap Ember dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang teramat sengit.
"Kata yang sangat elegan keluar dari bibir seorang wanita yang dulu menjual kehormatannya hanya demi selembar cek bernilai sepuluh juta dolar."
Deg.
Tuduhan itu dilontarkan Draxler tanpa sedikit pun kata-kata kotor secara eksplisit, namun artinya begitu membakar dan menyayat hati bagi siapa saja yang memahami sejarah kelam mereka.
Dua pengawal di belakang Ember sempat maju satu langkah, namun Ember mengangkat tangan kanannya pelan, menahan mereka.
Ember melepaskan kacamata hitamnya, memamerkan manik mata bundarnya yang memancarkan kekosongan dan keanggunan yang tak tergoyahkan. Ia menatap lurus ke dalam mata memerah Draxler.
"Harga diri dan profesionalisme adalah dua hal yang berbeda, Mr. Ashford," balas Ember dengan intonasi lambat, menusuk tepat di titik terlemah ego pria di hadapannya.
"Jika transaksi Tujuh tahun lalu merasa merugikan pihak keluargamu... bukankah seharusnya kau bersyukur? Karena berkat transaksi itu, kau bisa belajar bahwa rasa percaya dan kebodohan atas nama 'cinta' adalah investasi paling cacat yang pernah kau buat."
Draxler membeku.
Rahangnya terkatup rapat hingga otot pipinya menegang keras. Kata-kata Ember bagaikan racun yang menyiram kembali luka bakar di dadanya.
"Kau benar-benar tidak punya nurani, Ember," desis Draxler dengan tatapan membunuh.
"Kau berpura-pura menjadi suci dan agung di atas singgasana kekuasaanmu, sementara kau membangun kerajaan itu dari hasil perasan darah orang lain. Kau pikir dengan uang sepuluh juta dolar itu kau bisa membuang masa lalumu dan hidup bahagia?"
Ember menyunggingkan senyum paling dingin—senyum yang menutupi rahasia besar tentang putri kecil mereka yang kini menunggunya di rumah.
"Aku sangat bahagia dengan kehidupanku saat ini, Mr. Ashford," sahut Ember pelan namun penuh penekanan yang mutlak.
"Aku memiliki segalanya yang kubutuhkan. Kerajaan bisnis yang stabil, kehidupan yang tenang, dan kebebasan tanpa harus terikat pada pria mana pun. Jadi, berhentilah bertingkah seperti korban yang malang. Kembalilah ke rumah mewahmu, peluk istri rahasiamu yang terhormat itu, dan berhentilah mengejar bayang-bayang wanita yang sudah lama mati dari hidupmu."
Kata 'istri rahasia' meluncur dari bibir Ember dengan keheningan yang tajam.
Draxler terkesiap tipis.
"Semoga harimu menyenangkan, Mr. Ashford," ucap Ember tanpa menoleh lagi.
Ember melangkah masuk ke dalam mobil limousine-nya.
Pintu hitam tebal itu tertutup rapat dengan bunyi klek yang solid, menyisakan kaca gelap yang tak lagi bisa ditembus pandangan. Mobil mewah itu bergerak mulus meninggalkan pelataran lobi hotel.
Draxler berdiri terpaku di anak tangga lobi, menatap kepergian mobil hitam itu dengan dada yang naik turun oleh napas yang memburu dan gejolak emosi yang hampir membuatnya gila.
Kata-kata dingin Ember... tatapan matanya yang tak menyisakan sedikit pun penyesalan... serta rasa sakit akibat perjumpaan singkat itu membuktikan satu hal pasti: perang di antara mereka tidak akan pernah usai sampai salah satu dari mereka hancur berantakan.