NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Nama Terakhir yang Dipanggil

GRAAAAAH!

Brindle Prowler menerjang dengan rahang terbuka lebar.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 tidak mundur.

Matanya mengikuti pergerakan bahu kanan makhluk itu, sementara kaki kirinya mulai bergeser.

𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨!

Wusss!

Tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergerak menyamping tepat ketika Brindle Prowler melompat.

Tapi celah itu terlalu sempit untuk menghindar sepenuhnya.

SRAK!

Cakar depan BETA itu menyambar sisi tubuhnya.

“𝘈𝘳𝘨𝘩!”

Rasa panas menjalar dari pinggang hingga tulang rusuk.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hampir kehilangan keseimbangan, tetapi kaki kirinya berhasil menahan tubuh.

Kali ini ia tidak membiarkan rasa sakit menghentikan gerakannya.

Gauntlet kanannya sudah ditarik ke belakang.

Di hadapannya, rusuk Brindle Prowler kembali terbuka.

Bagian yang tadi sempat ia pukul.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘴𝘦𝘵.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memutar pinggul dan bahunya.

Sedikit Mana mengalir menuju Gauntlet kanan.

Cahaya redup muncul pada permukaan logam.

“𝘏𝘢𝘢𝘢𝘩!”

BUAAAK!

Pukulan pendeknya menghantam titik yang diincar.

Brindle Prowler meraung.

Tubuh besarnya terdorong ke samping hingga menghantam kendaraan yang terparkir di dekat dinding beton.

BRAAAK!

Makhluk itu belum tumbang.

Dengan geraman penuh amarah, Brindle Prowler memutar kepala dan menyambar lengan kiri 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

KRAK!

Rahangnya mengatup pada pelindung logam Gauntlet.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 meringis ketika tekanan gigitan menjalar hingga pergelangan tangannya.

“𝘚𝘪𝘢𝘭... 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴!”

Ia mencoba menarik tangan, tetapi makhluk itu justru mengencangkan gigitannya.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘶𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘰𝘣𝘦𝘬 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti menarik.

Sebaliknya, ia menekuk siku kiri, membiarkan pelindung logam menjadi penghalang sementara antara rahang BETA dan lengannya.

Kaki kanannya nyeri saat menopang beban.

Tapi posisi Brindle Prowler kini jauh lebih buruk.

Salah satu sisi tubuhnya terjepit antara kendaraan dan dinding.

Ruangnya untuk bermanuver semakin sempit.

𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memajukan bahu kiri untuk menahan tekanan rahang, lalu melepaskan pukulan kanan dari jarak dekat.

DUK!

Pukulan pertama menghantam sisi dada.

Brindle Prowler meronta.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hampir terjatuh.

Sebelum makhluk itu memperoleh pijakan yang stabil, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali memutar tubuhnya.

BUK!

Pukulan kedua menghantam rusuk yang sama.

Geraman Brindle Prowler berubah menjadi pekikan kesakitan.

Gigitannya mengendur.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 segera menarik lengan kirinya, lalu mundur setengah langkah.

Makhluk itu mencoba bangkit.

Namun, kaki depannya kehilangan tumpuan karena tubuhnya masih terjepit.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melihat celah itu.

𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢.

Ia mengerahkan sisa tenaga yang masih mampu dikendalikannya menuju Gauntlet kanan.

Tidak banyak.

Hanya cukup untuk memperkuat satu pukulan terakhir.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menurunkan pusat gravitasinya.

Kemudian melangkah maju.

“𝘏𝘢𝘢𝘢𝘩!”

BUAAAGH!

Gauntlet kanannya menghantam bagian bawah rahang Brindle Prowler.

Kepala makhluk itu terangkat sebelum bagian belakangnya membentur dinding beton.

DUAAK!

Tubuh Brindle Prowler kehilangan keseimbangan.

Kemudian ambruk.

Debu beterbangan di sekitar mereka.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 masih berdiri dengan kedua tangan terangkat.

Napasnya tersengal.

“𝘏𝘢𝘩... 𝘩𝘢𝘩...”

Darah menetes dari luka di pinggangnya.

Kedua lengannya gemetar hebat.

Meski begitu, pandangannya tidak meninggalkan Brindle Prowler sedetik pun.

𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩?

Makhluk itu terbaring miring.

Sesekali kakinya bergerak lemah.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 ingin mendekat untuk memastikan, tetapi lutut kanannya hampir tidak mampu menopang berat tubuhnya.

Ia memilih bertahan di tempat. Guard-nya tetap terangkat.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian pengeras suara memenuhi arena.

Bip!

“𝘛𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 𝘥𝘪𝘯𝘦𝘵𝘳𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘍𝘪𝘦𝘭𝘥 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪. 𝘛𝘪𝘮 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴, 𝘴𝘪𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak langsung bergerak.

Ia memandang Brindle Prowler, lalu kedua Gauntlet yang masih terpasang di tangannya.

“𝘈𝘬𝘶... 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨?”

Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.

Namun, sebelum ia sempat menikmatinya, kakinya menyerah.

Bruk!

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 jatuh terduduk.

“𝘈𝘥𝘶𝘩... 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨?”

Ia mencoba tertawa, tetapi tulang rusuknya langsung protes.

Pintu arena terbuka.

Dua petugas medis masuk bersama seorang Hunter pengawas.

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶,” kata salah satu petugas medis sambil berlutut di sampingnya. “𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘭𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat tangan kanannya perlahan.

“𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘗𝘢𝘬. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘱𝘶𝘯, 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢.”

Petugas itu mendengus pendek, setengah menahan tawa, lalu mulai menggunting kain baju di bagian pinggang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

---

Di ruang observasi, beberapa peserta masih menatap monitor.

Pertarungan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 termasuk yang paling lama di kelompok tujuh.

“𝘚𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴? 𝘉𝘢𝘣𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘳 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘛𝘩𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘓𝘦𝘷𝘦𝘭 𝘌?”

“𝘗𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬.”

“𝘊𝘰𝘣𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴. 𝘒𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪.”

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 memperhatikan rekaman terakhir sebelum layar berpindah ke peserta berikutnya.

“𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢,” katanya tanpa mengalihkan pandangan. “𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬, 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘵.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀, yang berdiri tidak jauh darinya, menoleh.

“𝘛𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘢𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬? 𝘉𝘳𝘪𝘯𝘥𝘭𝘦 𝘗𝘳𝘰𝘸𝘭𝘦𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳 𝘭𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘪𝘵 𝘪𝘵𝘶, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘗𝘳𝘰𝘸𝘭𝘦𝘳 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘳𝘶𝘴𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪.”

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 melipat kedua tangan.

“𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴? 𝘋𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘮𝘯𝘺𝘢. 𝘉𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 tidak langsung menjawab.

Di layar, peserta berikutnya sudah memasuki arena.

“𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳,” katanya akhirnya. “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪, 𝘬𝘢𝘯? 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨, 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘵𝘰𝘱𝘸𝘢𝘵𝘤𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴.”

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 mendengus.

“𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪, 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬.”

---

Tidak lama kemudian, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sudah berbaring di ranjang fasilitas medis.

Perban menutupi luka di lengan dan pinggangnya.

Dokter membaca hasil pemeriksaan awal, lalu menatap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

“𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘸𝘢𝘭, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘵𝘢𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘳𝘶𝘴𝘶𝘬𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘳 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘭𝘶𝘢𝘴, 𝘭𝘶𝘵𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘤𝘦𝘥𝘦𝘳𝘢 𝘫𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘯𝘢𝘬, 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘳𝘰𝘣𝘦𝘬 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘫𝘢𝘩𝘪𝘵.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengembuskan napas lega.

“𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘋𝘰𝘬?”

Dokter mengangkat alis.

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶.” Ia mengetuk papan catatannya dengan ujung pena. “𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘤𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘢 𝘰𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮. 𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘨𝘪𝘨𝘪𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 meraba perban di pinggangnya.

Ia teringat bunyi logam yang berderak di antara gigi makhluk itu.

“𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪, 𝘋𝘰𝘬. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴.”

“𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘰𝘣𝘴𝘦𝘳𝘷𝘢𝘴𝘪, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘪 𝘳𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘵𝘢𝘣𝘪𝘭, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘦 𝘢𝘶𝘭𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘶𝘮𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘷𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩.”

Dokter keluar. Belum lama pintu tertutup, seseorang mengetuknya.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 muncul sambil membawa sebotol air mineral.

“𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢. 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘣𝘴𝘦𝘳𝘷𝘢𝘴𝘪, 𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪.”

“𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melirik lengan kirinya. “𝘚𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘪𝘨𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 tertawa. Ia membuka tutup botol lebih dulu sebelum menyodorkannya, seolah tahu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 akan kesulitan memutarnya dengan satu tangan.

“𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴. 𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘪𝘨𝘪𝘵 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘳 𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘢𝘥𝘪𝘰. 𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢.”

“𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 meneguk air, lalu menatap perban di lengannya. “𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶: 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪.”

Ia diam sebentar.

“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙨𝙩𝙞𝙖𝙣 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯. 𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘗𝘳𝘰𝘸𝘭𝘦𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘢𝘳 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘵𝘢𝘯𝘤𝘦-𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menarik kursi ke samping ranjang.

“𝘗𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘪 𝘢𝘱𝘢.”

“𝘏𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menghitung dengan jari tangan kanannya. “𝘑𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳, 𝘨𝘶𝘢𝘳𝘥, 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘶𝘯𝘵𝘭𝘦𝘵... 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙨𝙩𝙞𝙖𝙣 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘩𝘶𝘴𝘶𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶.”

Keduanya tertawa kecil.

Tawa 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung putus. Ia meringis sambil memegangi rusuknya.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menggeleng.

“𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘸𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘩𝘪𝘵𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴, 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘸𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢.”

---

Sementara itu, di ruang evaluasi W.H.O, sejumlah pengawas memeriksa hasil akhir seluruh peserta.

Ketika nama 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 muncul di layar, perdebatan mulai terjadi.

“𝘌𝘧𝘪𝘴𝘪𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘵𝘢-𝘳𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬,” ujar seorang evaluator. “𝘗𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳. 𝘏𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘷𝘢𝘳𝘪𝘢𝘴𝘪.”

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶,” jawab evaluator lain. “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘣𝘦𝘭𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘰𝘯𝘦𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘪𝘯𝘪𝘮𝘶𝘮.”

“𝘋𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘱𝘪𝘴 𝘬𝘦𝘳𝘵𝘢𝘴.”

“𝘚𝘦𝘵𝘪𝘱𝘪𝘴 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯, 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴. 𝘉𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘵𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯.”

Evaluator pertama menunjuk rekaman pertarungan.

“𝘏𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢. 𝘋𝘪𝘩𝘢𝘯𝘵𝘢𝘮, 𝘥𝘪𝘤𝘢𝘬𝘢𝘳, 𝘥𝘪𝘨𝘪𝘨𝘪𝘵, 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘋𝘪 𝘰𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢, 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘯𝘢𝘻𝘢𝘩. 𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯.”

“𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩. 𝘒𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢.” Evaluator kedua memutar rekaman ke bagian akhir. “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯 𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵-𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘢𝘸𝘢𝘭. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪. 𝘋𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘶𝘬𝘢𝘪. 𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯.”

Seorang evaluator senior yang sejak tadi diam akhirnya bicara.

“𝘋𝘢𝘵𝘢 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘥𝘢𝘯 𝘓𝘪𝘮𝘪𝘵𝘦𝘳-𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢?”

“𝘉𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘰𝘯𝘫𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪 𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘗𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘯𝘢-𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘳𝘰𝘴, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪.”

Evaluator senior menutup tabel nilai di layarnya.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘨𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. '𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘦𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘵𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯' 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘳𝘪𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪.” Ia menatap kedua rekannya bergantian. “𝘉𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘪𝘯𝘪𝘮𝘶𝘮 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬𝘶𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘰𝘭𝘰𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵, 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘵𝘶𝘳𝘯𝘢𝘮𝘦𝘯.”

Tidak ada yang membantah.

Ia lalu membuka berkas tambahan.

“𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵.”

Sebuah laporan insiden muncul di layar.

Laporan Hunter Patroli — Insiden BETA di Kawasan Industri Dekat Permukiman.

Di dalamnya tercantum identitas 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿.

Laporan itu menyebutkan bahwa 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri setelah terjadi kontak dengan BETA.

Makhluk yang ditemukan tidak jauh darinya mengalami luka berat.

Namun, tidak ada Regalia maupun senjata yang dapat diidentifikasi sebagai milik 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di lokasi tersebut.

“𝘚𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘭𝘢𝘪𝘯?” tanya salah seorang evaluator.

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢. 𝘛𝘪𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪. 𝘊𝘢𝘵𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯 '𝘬𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘢𝘯'.”

“𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨?”

“𝘐𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢.”

Evaluator senior menutup sebagian laporan.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘶𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩-𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘢𝘬𝘵𝘢. 𝘓𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘴 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘬𝘶𝘯𝘨. 𝘒𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘶𝘫𝘪 𝘳𝘦𝘴𝘮𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘳𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨.”

Beberapa saat kemudian, hasil akhir disahkan.

---

Sore harinya, para peserta yang sudah mendapat izin medis berkumpul kembali di aula utama.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 datang dengan langkah sedikit pincang.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 berjalan di sampingnya, sengaja menyamakan kecepatan.

“𝘠𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪? 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘶𝘮𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢.”

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘶𝘢𝘵, 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬. 𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘩𝘪𝘵 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 tersenyum miring.

“𝘞𝘢𝘩. 𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘪 𝘯𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨.”

Tak lama kemudian, layar utama menyala.

Nama-nama peserta yang dinyatakan lulus mulai diumumkan satu per satu.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗣𝗿𝗮𝗱𝗶𝗽𝘁𝗮 termasuk peserta dengan hasil tinggi.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 juga dinyatakan lulus.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 ikut tersenyum ketika mendengar nama temannya, lalu menepuk bahu 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 dengan tangan kanannya.

Namun, ketika daftar terus bergulir, namanya sendiri belum juga muncul.

Beberapa peserta mulai meninggalkan barisan untuk mengambil dokumen hasil mereka.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap layar tanpa berkata apa-apa.

𝘈𝘱𝘢 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱?

Ia teringat betapa buruk penampilannya selama Survival Field.

Keputusan yang lambat.

Penggunaan Gauntlet yang belum stabil.

Dan begitu banyak serangan yang gagal ia hindari.

Mungkin semua itu memang terlalu besar untuk diabaikan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menundukkan kepala.

𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭, 𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩. 𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳.

Tepat saat itu, suara pengawas kembali terdengar.

“𝘗𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳...”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat wajah.

“...𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧.”

Ia membeku.

“𝘋𝘪𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 langsung menoleh. Tangannya sudah terangkat untuk menepuk punggung 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, lalu berhenti di udara ketika ia ingat rusuk temannya masih memar.

“𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣! 𝘐𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶! 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memandang layar.

Di sana terpampang namanya beserta hasil akhir.

LULUS — PERINGKAT TERAKHIR DI ANTARA PESERTA YANG LOLOS.

Tidak ada tepuk tangan meriah.

Malah terdengar beberapa gumaman tidak percaya dari peserta lain.

Namun, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 nyaris tidak mendengarnya.

Ia hanya memandangi satu kata itu.

Lulus.

Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai 𝗭𝗲𝗿𝗼.

Pemuda dengan kompatibilitas CORE sembilan puluh sembilan persen, tetapi instalasi nol persen.

Seseorang yang bahkan tidak dianggap punya kesempatan menjadi Hunter.

Dan sekarang—

Ia berhasil melewati seleksi resmi W.H.O.

Meski hanya di peringkat terakhir.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menundukkan kepala, menyembunyikan senyum yang perlahan muncul.

𝙎𝙚𝙗𝙖𝙨𝙩𝙞𝙖𝙣... 𝙉𝙚𝙣𝙚𝙠 𝙍𝙤𝙨𝙖𝙡𝙞𝙣𝙚... 𝘼𝙢𝙢𝙮...

𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘰𝘭𝘰𝘴. 𝘗𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘭𝘰𝘭𝘰𝘴.

Ia tahu masih harus menjalani proses administrasi dan penerbitan lisensi sebelum resmi menyandang pangkat Novie.

Namun, untuk pertama kalinya, jalan menuju impiannya benar-benar terbuka.

---

Di ruang evaluasi yang mulai sepi, evaluator senior kembali membuka laporan insiden 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Ia memperbesar dokumentasi luka pada tubuh BETA yang ditemukan di dekat pemuda itu.

Beberapa bagian memperlihatkan kerusakan jaringan akibat benturan kuat.

Namun, pola kerusakannya tidak sepenuhnya cocok dengan jejak Regalia standar yang biasa ditemukan dalam laporan pertempuran.

Evaluator itu memperhatikan foto tersebut cukup lama.

Kemudian ia membaca ulang satu kalimat dalam laporan patroli.

Tidak ditemukan Regalia maupun senjata yang dapat dikaitkan dengan korban.

Ia menyandingkannya dengan data verifikasi CORE 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Compatibility: 99%.

Installation: 100%.

Status: Active.

Evaluator itu mengerutkan kening.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯...” gumamnya pada layar.

Jarinya berhenti di atas papan ketik.

“...𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘪𝘯𝘪?”

---

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!