Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Arak Pernikahan
Malam kian larut ketika Han Seol membawa Jin So Hwa masuk ke dalam kediaman tersembunyi keluarga Han.
Langkah kaki mereka disambut oleh Oh Myung Ja yang sudah menunggu dengan cemas di selasar rumah. Wanita paruh baya itu terbelalak menatap gadis bergaun pengantin mewah yang dibawa oleh tuan mudanya.
Meskipun kepalanya dipenuhi ribuan pertanyaan, sebagai pengasuh yang setia, Myung Ja tetap melayani Jin So Hwa dengan sangat baik. Ia bergegas menyiapkan teh hangat dan handuk kering.
Namun, begitu So Hwa pergi ke kamar mandi untuk membasuh diri, Myung Ja segera menghampiri Han Seol yang sedang berdiri menatap keluar jendela.
"Tuan Muda," bisik Oh Myung Ja dengan raut wajah yang tak habis pikir. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Mengapa kau tiba-tiba membawa pulang seorang pengantin wanita yang bahkan baru kau kenal semalam? Dan dia... dia adalah putri dari Jinyowon!"
Han Seol tidak menoleh. Tatapannya tetap dingin menembus kegelapan malam. "Dia bukan sekadar wanita biasa, Bibi Myung."
Myung Ja menghela napas panjang. Ia mengerti betul tabiat Han Seol. Pria muda itu bukanlah orang yang bertindak impulsif tanpa perhitungan.
Myung Ja yakin, pasti ada alasan tersendiri yang sangat krusial hingga tuan mudanya nekat melakukan hal segila ini.
Beberapa saat kemudian, Jin So Hwa keluar dengan pakaian yang lebih sederhana, namun aura kecantikannya tetap memikat. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan kayu kecil berisi dua cangkir arak. Tatapan matanya lurus dan penuh tekad menatap Han Seol. Ia berniat untuk meresmikan ikatan di antara mereka malam ini juga.
"Han Seol," panggil Jin So Hwa lembut namun tegas, meletakkan nampan itu di atas meja kayu.
"Ini adalah arak pernikahan. Jika kita berdua meminumnya bersama, maka secara sah di mata langit dan bumi, kita telah resmi menjadi suami istri. Jinyowon tidak akan bisa mengusikku lagi, dan aku akan menjadi milikmu."
Han Seol melirik dua cangkir arak itu, lalu beralih menatap tajam ke dalam manik mata So Hwa. Pria itu sama sekali tidak menyentuh cangkirnya. Baginya, pernikahan ini bukanlah tentang romansa, melainkan sebuah transaksi kekuatan.
"Aku menyelamatkanmu bukan karena aku ingin menikah," ucap Han Seol dingin, suaranya terdengar datar tanpa emosi.
"Aku membutuhkan kekuatanmu. Aku harus memastikan terlebih dahulu apakah kau benar-benar memiliki kemampuan luar biasa seperti yang dikatakan orang-orang, atau kau hanya membual demi bisa lolos dari ibumu."
Han Seol berjalan ke sudut ruangan, lalu mengambil sebuah kotak kayu kuno. Saat dibuka, di dalamnya terdapat sebuah lampu lentera mistis khusus dengan ukiran batu giok di sekelilingnya.
Lampu itu adalah relik kuno yang dulunya diberikan oleh Jinyowon sebagai hadiah diplomatik.
Wussh.
Han Seol mengalirkan sedikit energinya, dan api di dalam lampu lentera itu seketika menyala terang, memancarkan cahaya biru keperakan yang aneh.
"Ini adalah lentera pelindung Jinyowon. Api di dalamnya akan terus menyala abadi dan tidak akan bisa dipadamkan oleh sembarangan orang, sekadar tiupan angin atau penyihir tingkat biasa tidak akan mempan," jelas Han Seol, meletakkan lentera itu di hadapan So Hwa.
"Jika kau memang pewaris asli yang memiliki kekuatan spiritual agung, buktikan padaku. Padamkan lampu ini. Jika kau berhasil, aku akan meminum arak pernikahan itu dan kita resmi menikah."
Jin So Hwa menatap lampu lentera itu dengan tatapan bergetar. Ia mengulurkan tangannya yang halus, mencoba memusatkan pikiran dan energinya untuk menekan nyala api tersebut.
Namun, lima menit berlalu dalam keheningan, api biru itu tetap menyala dengan gagah, bahkan tidak berkedip sedikit pun.
Peluh dingin menetes di pelipis So Hwa. Akhirnya, dengan bahu yang merosot lemas, ia menarik kembali tangannya dan mendongak menatap Han Seol dengan tatapan penuh penyesalan.
"Aku... aku tidak bisa," aku Jin So Hwa dengan suara parau.
"Saat ini, aku hanya bisa merasakan energi spiritual dengan cara melihatnya saja. Aku bisa melihat Batu Es di dalam dadamu, tapi... semenjak aku kehilangan seluruh ingatanku di masa lalu, kekuatan sihirku pun ikut menghilang entah ke mana."
So Hwa menundukkan kepalanya, meremas ujung bajunya. "Maafkan aku... pada intinya, dengan kondisiku yang sekarang, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan Batu Es dari dalam tubuhmu."
Mendengar pengakuan jujur itu, kilatan kecewa sempat melintas di mata Han Seol, sebelum akhirnya kembali menjadi dingin tak tersentuh.
Harapannya untuk terbebas dari siksaan arwah jahat kembali menemui jalan buntu.
"Kalau begitu, keberadaanmu di sini sudah tidak ada gunanya lagi," kata Han Seol kejam.
Ia berbalik memunggungi So Hwa. "Istirahatlah malam ini. Begitu pagi menjelang dan matahari terbit, kau harus segera pergi dari rumah ini."
Namun, Jin So Hwa tidak mau pergi. Ia sudah merasa aman dan nyaman berada di dekat Han Seol, pria yang auranya mampu meredam ketakutannya.
Dengan tergesa-gesa, So Hwa menyibak lengan bajunya, memperlihatkan sebuah gelang perak berukir mantra rumit yang terikat erat pada pergelangan tangan kanannya.
"Aku tidak bisa pergi begitu saja, Han Seol! Lihat ini!" seru So Hwa mendesak.
"Ini adalah gelang pelacak milik Jinyowon. Karena sebab gelang terkutuk inilah orang-orang ibuku selalu berhasil menangkapku ke mana pun aku berlari."
So Hwa meringis kecil, memegang gelangnya yang mendadak memancarkan pendaran merah redup. "Dan kau tahu? Saat ini, ikatan gelang ini terasa semakin kencang dan panas di kulitku. Ini adalah tanda bahaya... hal ini menandakan bahwa orang-orang dari Jinyowon sudah berada di posisi yang sangat dekat dengan rumah ini!"
Han Seol menatap gelang itu dengan kening berkerut.
"Itu adalah relik mistis tingkat tinggi Jinyowon. Kau tidak bisa melepasnya sendiri."
"Aku tahu! Tidak ada satu pun pedang logam atau sihir pemotong biasa di dunia ini yang bisa memutus ikatan gelang pelacak ini!" ucap So Hwa frustrasi.
Mendengar hal itu, Han Seol hanya mendengus pelan. Dengan langkah tenang, ia maju mendekati So Hwa. Tanpa peringatan, ia menarik pergelangan tangan gadis itu, mendekatkannya ke wajahnya, dan dengan sangat enteng...
KRAKK!
Han Seol menggigit gelang mistis tersebut menggunakan giginya yang dialiri energi gichul murni.
Tingg!
Gelang yang katanya tak hancur oleh pedang apa pun itu seketika retak dan putus menjadi dua bagian, lalu jatuh berdentang di atas lantai batu.
Jin So Hwa melongo tak percaya, menatap pergelangan tangannya yang kini telah bebas dan bekas gigitan Han Seol yang begitu kuat.
Lantas, pada detik yang sama di luar sana, dengan putusnya gelang pelacak tersebut, gelombang radar sihir yang diikuti oleh para pengawal Jinyowon mendadak mati total.
Orang-orang Jinyowon yang semula sudah hampir menemukan titik persembunyian Jin So Hwa seketika kebingungan dan kembali kehilangan jejak di tengah hutan kota.
Di sisi lain, dengan putusnya gelang tersebut, Han Seol menatap So Hwa dengan tatapan mengusir yang mutlak.
"Sekarang gelangmu sudah putus. Jinyowon tidak akan bisa melacakmu lagi. Tidak ada alasan bagimu untuk tetap tinggal di sini. Pergilah."