NovelToon NovelToon
WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: aina susiyanti77

Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.

Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.

karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.

Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.


Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.

Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?

Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Situasi Yang Rumit

​Mobil Avanza hitam itu berhenti tepat di depanku. Sopir yang berada di dalam membuka kaca jendela, Pak Baskoro tersenyum ramah melambaikan tangannya.

​Aku yang masih bersama Bu Aminah di halaman perbatasan rumah kami segera pamit dengan mencium tangan beliau, kemudian mencium anakku, Rian.

​"Aku pergi, Bu."

​"Iya, hati-hati ya, Nak," jawabnya.

​"Ibu, jangan lupa es krim ya!"

​"Iya, Sayang," ucapku pelan sambil mengelus kepala Rian.

​Aku lantas berlari kecil menghampiri mobil Pak Baskoro yang pintu depannya sudah terbuka. Tanpa diperintah lagi, aku langsung masuk dan duduk di sampingnya, tak lupa aku memakai sabuk pengaman. Mobil pun melaju.

​"Kita langsung ke kantor pusat ya, Pak?"

​"Iya May. Sepertinya sudah lama perusahaan dari kakekmu itu digerogoti rayap dari dalam. Bagaimana mungkin Prasetio selaku direktur bisa lalai begini?"

​Aku menghela nafas pelan. "Kita lihat dulu Pak, ada masalah apa di sana." Aku menjawab pelan.

Dengan memakan waktu satu jam perjalanan, ​Avanza hitam yang kami kendarai berhenti beberapa meter dari kerumunan, depan kantor yang tertulis besar di atas gedungnya CV ABADI PERMAI.

Dari dalam mobil, aku bisa melihat puluhan karyawan yang mengamuk di depan pintu utama kantor pusat CV Abadi Permai.

​"Tanggung jawab, Pak Prasetio. "

"Jangan cuma mau enaknya saja! Anak istri kami butuh makan!"

​Nama Prasetio bergaung di mana-mana. Pahit benar nasibku, setelah bertahun tahun aku tidak tahu tentang perusahaan ini, setelah aku tahu tentang pendirinya dan aku adalah pewaris tunggal, namun kenyataan yang ku dapati jerih payah kakekku dan ayahku ini sekarang tinggal cangkang kosong! Ucapku lirih dalam hati.

"Jangan terpancing, May," tegur Pak Baskoro pelan, menyadarkan ku dari lamunan. Tangannya menepuk tas kulit berisi dokumen lama milik almarhum ayahku.

"Biarkan mereka fokus mencari Prasetio, lalu mereka akan mencari Prilia yang statusnya adalah nyonya di sini. " Pak Baskoro berkata datar.

"Ini kesempatan kita untuk masuk lewat pintu samping sebelum berkas-berkas penting di dalam dimusnahkan."

​Aku menarik napas panjang, mencoba meredakan gemetar di jemariku. "Baik, Pak."

​Kami berdua turun dari mobil. Aku menundukkan kepala, berjalan agak di belakang Pak Baskoro saat melewati beberapa karyawan yang sedang berdebat dengan emosi meluap-luap.

Tak ada satu pun yang memedulikan ku. Karena memang mereka tidak mengenal siapa aku. Bagi mereka, aku cuma orang asing yang tak sengaja melintas.

​"Ibu Prilia itu cuma tahu dandan dan habiskan uang kantor! Sekarang gajiku belum dibayar tiga bulan!" umpat seorang staf wanita dengan mata sembap di dekat tangga samping.

​Langkahku sempat tertahan sejenak. Kata-kata itu menusuk dada, tapi juga memicu sisa-sisa kesabaranku. Prasetio pergi membawa rasa bersalahnya, sementara Prilia dan ibunya lari setelah puas menggerogoti tempat ini, "dasar rayap semua. " Aku mengumpat kesal dalam hati.

​Pak Baskoro dengan cepat menempelkan kartu akses di pintu samping gedung, lalu mendorong pintu kaca itu sebelum ada karyawan luar yang menyadari pergerakan kami. Begitu pintu tertutup rapat dan terkunci kembali, suara riuh teriakan demonstrasi di luar mendadak teredam, berganti dengan keheningan lorong kantor yang mencekam.

​"Bapak punya kartu akses dan kunci gedung ini?" tanyaku pelan, sedikit terkejut melihat kelancaran Pak Baskoro membawa ku masuk.

​Pak Baskoro tersenyum tipis sambil memasukkan kembali kartu magnetik itu ke saku jasnya.

"Dulu saat kakekmu masih memimpin, Bapak bukan cuma sekadar pengacara keluarga, May, tapi juga memegang kuasa hukum penuh atas aset perusahaan ini. Kakekmu sendiri yang menyerahkan duplikat kunci dan kartu akses master ini pada Bapak untuk situasi darurat seperti sekarang. Bapak juga sudah hafal betul denah gedung ini."

​Aku mengangguk mengerti, ada rasa tenang menyelusup di dada mengetahui Pak Baskoro sangat mengenal tempat ini.

​"Ayo, May. Kita langsung ke ruang direksi," bisik Pak Baskoro sambil mempercepat langkahnya menuju tangga.

​Ruang direksi di lantai dua tampak sudah terbuka dan berantakan bagai dihantam angin topan. Laci-laci meja kerja terbuka menganga.

Di sana ku lihat seorang laki laki sedang berdiri dalam keadaan seperti bingung, dengan nama Rijal yang tertulis di depan kemeja putihnya terjahit rapi di dadanya.

Ku lihat Rijal mendesah panjang, menyisir rambutnya yang acak-acakan dengan jemarinya. Matanya menatapku dan Pak Baskoro yang tiba tiba ada di muka pintu sinar matanya menyiratkan pertanyaan.

Aku dan Pak Baskoro menghampiri laki laki yang bernama Rijal itu.Kami berdiri saling berhadapan.

"Selamat pagi. " Sapanya.

"Kalian siapa? Ia bertanya dengan nada sopan.

"Saya Pak Baskoro, pengacara yang di tugaskan mendampingi Maya. " Pak Baskoro menjelaskan dengan tenang dan ramah. Lalu menjabat tangan Rijal, yang kemudian ku ikuti, kami saling berjabat tangan.

"Oh mbak Maya? " Laki laki yang bernama Rijal itu menatapku dalam. Aku heran kok bisa dia seakan mengenalku, apa Prasetio bercerita tentangku, ujarku dalam hati.

"Gini Mbak, kemarin dulu Pak Prasetio ada menelpon ku, Beliau menceritakan semua apa yang baru saja beliau alami dalam keluarga, jadi sebelum pergi Beliau memberikan amanah ini padaku? "

​"Beliau mengaku sangat bersalah. Pak Prasetio minta saya bertahan sementara di sini untuk membereskan kekacauan akibat ulah Bu Prilia," Rijal menatap mataku dengan sungguh-sungguh.

"Pak Prasetio bilang, kalau Mbak Maya datang, Mbak Mayalah pemilik asli dari semua yang ada di CV Abadi Permai ini. Beliau juga jujur kalau Mbak Maya adalah istri yang dinikahinya secara siri."

​Rijal menarik napas pendek lalu melanjutkan, "Pak Prasetio minta tolong sekali agar saya mendampingi dan membantu Mbak Maya di sini, karena Mbak Maya belum tahu kondisi kantor dan belum punya pengalaman mengurus perusahaan ini."

​"Jadi Prasetio yang menugaskan menunggu di sini?" Ujar Pak Baskoro menimpal.

​"Iya, Pak Baskoro. Pak Prasetio tidak sanggup berhadapan langsung karena merasa sangat malu dan berdosa pada Mbak Maya atas semua yang terjadi. Makanya beliau menyerahkan map dokumen ini lewat saya," Rijal mengangkat map cokelat tebal yang dipegangnya, lalu membentangkan isinya di atas meja yang berdebu.

​"Ini semua bukti penjualan aset di balik layar yang dilakukan Bu Prilia, Mbak," tunjuk Rijal pada lembaran kertas di atas meja.

"Tiga bulan lalu, Bu Prilia secara diam-diam menjual dua unit armada truk pengangkut milik perusahaan kepada pihak ketiga. Uangnya sama sekali tidak pernah masuk ke kas CV Abadi Permai."

​Aku melangkah mendekat, meneliti lembar demi lembar bukti transaksi itu. "Lalu kenapa Prasetio tidak menghentikannya dari awal?"

​"Pak Prasetio baru tahu belakangan, Mbak. Begitu beliau tahu permainan Bu Prilia sudah melampaui batas dan membuat kas perusahaan habis hingga gaji karyawan menunggak tiga bulan, Pak Prasetio benar-benar hancur. Bu Prilia sendiri langsung kabur begitu tahu semua aset yang bisa diperah sudah habis."

​Rijal menatapku dengan penuh harapan. "Pak Prasetio memang salah karena memilih pergi, tapi beliau sangat berharap Mbak Maya bisa menyelamatkan tempat ini. Saya siap bantu Mbak Maya sepenuhnya, sesuai amanat Pak Prasetio."

​Keheningan sejenak melingkupi ruangan yang acak-acakan itu. Setiap patah kata yang diucapkan Rijal bagaikan kepingan puzzle yang akhirnya menyatu, memperlihatkan betapa hancurnya CV Abadi Permai di tangan orang yang salah.

​"Rijal," Pak Baskoro memecah keheningan, suaranya tenang namun menuntut ketegasan. "Berapa total tunggakan gaji karyawan yang belum terbayar selama tiga bulan ini?"

​Rijal membalik lembar terakhir di dalam map cokelatnya, matanya menyipit meneliti deretan angka yang ditulis tangan dengan tergesa-gesa. "Untuk empat puluh lima orang pekerja lapangan dan sepuluh orang staf administrasi, totalnya mencapai sembilan ratus delapan puluh juta rupiah, Pak Baskoro. Itu belum termasuk tagihan listrik gedung yang menunggak dan biaya operasional dasar."

​"Sembilan ratus delapan puluh juta..." bisikku pelan. Angka itu bergaung di kepalaku. Bagi perusahaan di masa kejayaannya dulu, nominal itu mungkin hanya pendapatan beberapa hari. Namun, bagi kondisi perusahaan yang kini tinggal kerangka kosong, angka itu bagai gunung yang mustahil dipindahkan.

​"Kas perusahaan saat ini benar-benar nihil, Mbak Maya," sambung Rijal muram. "Saldo di rekening operasional tidak sampai lima juta rupiah. Prilia benar-benar mengeruk bersih sisa modal sebelum melarikan diri."

​PRANG!

​Suara pecahan kaca yang membentur lantai bawah mengejutkan kami bertiga. Bunyi teriakan massa di luar gedung mendadak melengking, disusul oleh gedoran keras pada pintu pualam utama yang terkunci rapat.

​"Keluar kalian! Jangan sembunyi di dalam!"

"Kalau tidak ada kepastian, kami rubuhkan gedung ini!"

"Gaji kami mana?! Anak istri kami kelaparan!"

​Pak Baskoro berjalan cepat menuju jendela besar, menyibak sedikit tirai kain yang berdebu. Matanya membelalak melihat situasi di halaman pelataran.

​"May, situasi di luar makin tidak terkendali," ujar Pak Baskoro dengan nada cemas. "Beberapa karyawan lapangan mulai membawa balok kayu dan batu. Pintu kaca utama tidak akan bertahan lama kalau terus digedor seperti itu. Kita harus telepon pihak kepolisian sekarang untuk mengamankan lokasi."

​"Jangan, Pak!" potongku cepat, melangkah maju menahan tangan Pak Baskoro yang hendak merogoh ponsel dari saku jasnya. "Jangan panggil polisi."

​Pak Baskoro menatapku heran. "Tapi May, kalau mereka sampai jebol masuk, mereka tidak tahu siapa kamu. Kamu dan Rijal bisa jadi sasaran amarah mereka!"

​"Kalau kita mendatangkan polisi, situasi justru akan makin keruh," sahutku tegas. Dadaku bergelora, namun pikiran terasa sangat jernih. "Mereka itu bukan penjahat, Pak Baskoro. Mereka bukan perusuh. Mereka adalah pekerja yang sudah memeras keringat untuk tempat ini selama tiga bulan tanpa dibayar sepeser pun. Mereka marah karena merasa dikhianati dan diabaikan!"

​Aku berbalik menatap Pak Baskoro, lalu menunjuk tas kulit hitam yang sejak tadi dipeluknya erat-erat.

​"Di dalam tas Bapak ada dokumen resmi atas nama ayahku dan surat kepemilikan tanah ini dari Kakek, kan?" tanyaku.

​Pak Baskoro mengangguk pelan. "Iya, May. Lengkap dengan sertifikat asli dan surat kuasa hak waris tunggal atas namamu."

​"Dan Rijal..." aku mengalihkan pandangan pada pria berkacamata itu. "Kamu pegang semua daftar rincian tunggakan gaji beserta nama-nama karyawannya?"

​"Pegang, Mbak. Semua data otentik ada di map ini," jawab Rijal mantap.

​"Bagus," ku rapikan helai rambut yang terurai di wajahku, menatap mereka berdua dengan sorot mata yang tak lagi menyimpan keraguan.

"Prasetio memang sudah pergi membawa rasa bersalahnya. Prilia dan ibunya lari setelah puas menggerogoti tempat ini. Tapi aku tidak akan lari. Ini adalah tanah Kakek, ini adalah keringat Ayah. Jika perusahaan ini harus berdiri kembali dari reruntuhannya, maka aku yang akan memimpinnya." Aku berkata tenang tapi tegas.

Bersambung

​

1
Night Watcher
pak burhan?
Aina Senja: Trimakasi kk koreksinya🙏🙏😍
total 1 replies
Night Watcher
satu halaman diulang😇
Aina Senja: iya salah kirim kk, mau perbaikan tapi lagi di audit jadi belum berani kotak katik dulu, sebelum turun kontrak🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
kok nasi?
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
Aina Senja: hoho iya iya😍😍trimaksi kk
total 1 replies
Night Watcher
tadi pas prilia yg menyeret langkah kakinya mundur, lantainya kayu.
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇
Aina Senja: trimakasi kk, ini dia yg ku tunggu komen yg membangunkan tidurku 😍😍😍
total 1 replies
Night Watcher
mulai bosan,
Night Watcher
ngapain masih ngurusin karung bangkai yg nyimpen & ngelindungi para penyakit itu mayaaa..?!!
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kamu kuat maya. kamu tidak salah. mereka sendiri yang mengundang mu. kamu datang dengan niat tulus
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasihan kamu. padahal kamu datang bukan sebagai pelakor
Aina Senja: trimakasi kk sudah mau mampir😍
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
oh akhirnya aku paham. memang tak selamanya istri kedua itu di utamakan
Aina Senja: begitulah nasib istri ke dua🥲🥲
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kok bisa Thor. aku masih belum paham?
Aina Senja: yg mana kk?
total 1 replies
Night Watcher
jangan kelamaan susahnya.. mulai trik² menjatuhkan lawan & nikmati sedikit² kebahagiaan.
Aina Senja: siap bosku
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir... mudah²an cerita sengsaranya gak kesuwen..
Aina Senja: sangat tersanjung dengan hadirnya dirimu😍😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!