Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
balapan liar
Suara erangan Devan yang tertahan di seberang telepon masih terngiang-ngiang di telinga Aura, membakar seluruh keberaniannya.
Tanpa berpikir panjang, tanpa memedulikan rasa takut atau pesan Nisa, Aura berlari keluar dari area kampus dan langsung menyetop taksi online menuju area pelabuhan tua di pinggiran kota.
Namun, yang tidak Aura tahu, panggilan telepon tadi hanyalah sebuah jebakan gertakan dari anak buah Bagas untuk memancingnya datang.
Devan saat itu tidak disekap di gudang pelabuhan. Devan justru sedang berada di arena balap liar lintas jalanan bypass, terdesak situasi di mana ia harus mempertaruhkan segalanya.
Satu jam sebelum telepon gila itu masuk ke ponsel Aura...
Suara deru puluhan mesin motor besar menggelegar di sepanjang jalanan lurus jalur bypass pelabuhan malam itu.
Lampu-lampu jalanan remang-remang memantulkan bayangan anak-anak muda yang berkumpul di pinggir jalan. Bau asap knalpot dan aroma bensin menyengat udara malam yang dingin.
Devan berdiri di samping motor besarnya. Tangan kanannya masih dibalut perban putih tipis akibat luka kemarin sore, tapi matanya menatap lurus ke depan dengan tajam. Di sampingnya, Bagas berdiri sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Akhirnya lu datang juga, Dev," kekeh Bagas sambil meludah ke samping. "Gue pikir si bad boy nomor satu kampus udah berubah jadi cowok penakut gara-gara cewek pintar itu."
Devan mengepalkan tangannya yang terbalut perban. "Nggak usah bawa-bawa nama orang lain, Gas. Lu yang nyari gue, kan? Lu yang nahan Bimo sama Rian di sini?"
Di sudut jalan, Bimo dan Rian tampak ditahan oleh beberapa anak buah Bagas. Bimo berteriak dari jauh, "Dev! Jangan mau, Dev! Ini jebakan! Bagas main curang!"
"Diam lu!" bentak salah satu anak buah Bagas sambil mendorong Bimo.
Devan melangkah maju satu tindak, menatap Bagas dengan kilatan kemarahan yang pekat. "Apa mau lu sebenarnya, Gas?"
"Gampang," Bagas menyandarkan tubuhnya di stang motornya. "Kita balapan malam ini. Jalur bypass dua kilo sampai dermaga tua. Kalau lu menang, teman-teman lu bebas, dan masalah kemarin gue anggap selesai. Tapi kalau lu kalah..." Bagas tersenyum licik. "...motor lu, kamera kesayangan lu, dan sertifikat tanah bengkel tua tempat nongkrong lu itu jadi milik gue!"
Devan menatap Bagas tanpa berkedip. Taruhan itu terlalu gila. Tapi Devan tidak punya pilihan lain.
Bagi Devan, bengkel tua itu bukan sekadar tempat nongkrong, tapi satu-satunya tempat berlindung dari kenyataan hidupnya yang kelam.
Rian berteriak panik, "Devan, jangan! Tangan lu lagi luka parah, lu nggak bakal sanggup nahan stang di kecepatan tinggi!"
"Gue bakal balapan," potong Devan dingin, memotong kata-kata Rian.
Devan berjalan mendekati motornya dan memakai helm. Di balik kaca helm yang gelap, pikiran Devan kembali melayang ke masa lalunya—alasan utama kenapa ia menjadi sosok pemberontak yang begitu dibenci sekaligus ditakuti orang-orang.
Orang-orang kampus cuma tahu Devan sebagai anak nakal yang suka bikin masalah. Mereka tidak tahu bahwa Devan adalah korban dari keluarga yang hancur.
Ayahnya seorang pengusaha gagal yang abusive, yang selalu melampiaskan kekerasan pada Devan sejak kecil dan meninggalkannya dengan tumpukan utang. Ibunya pergi memilih kehidupan baru, meninggalkan Devan sendirian bertahan hidup di tengah kerasnya jalanan.
Satu-satunya hal yang menyelamatkan akal sehat Devan dari kegelapan adalah kamera tua peninggalan almarhum kakeknya, dan balapan liar yang menjadi caranya melampiaskan rasa sakit di dadanya.
Kecepatan adalah satu-satunya saat di mana Devan merasa benar-benar bebas dari bayang-bayang masa lalunya.
Sampai akhirnya... Aura hadir di hidupnya dan menjadi alasan baru baginya untuk ingin menjadi manusia yang lebih baik.
"Gue nggak boleh kalah malam ini," bisik Devan pada dirinya sendiri di dalam helm.
Dua motor—milik Devan dan Bagas—kini sejajar di garis start. Seorang cewek dengan pakaian minim melangkah ke tengah jalan, mengibarkan bendera hitam-putih di atas kepala.
Mesin motor Devan meraung keras, menggetarkan semen jalanan. Meski rasa nyeri yang luar biasa menjalar dari tangan kanannya yang terluka ke seluruh lengannya, Devan mencengkeram stang gas erat-erat.
Wusss!
Bendera dikibarkan, dan kedua motor itu meloncat kencang membelah kegelapan malam.
Balapan berlangsung sengit dan gila. Bagas terus mencoba memotong jalur Devan dengan cara berbahaya. Di tikungan tajam pertama, Bagas sengaja menyenggol badan motor Devan.
Brak!
Motor Devan sedikit goyah. Rasa sakit menyengat tangan Devan hingga wajahnya meringis di balik helm, tapi ia sekuat tenaga menahan keseimbangan motornya.
Devan menarik gas lebih dalam, melaju sejajar kembali dengan Bagas menembus angin malam yang menusuk.
Sementara itu, di ujung jalur balapan—dekat gudang tua pelabuhan...
Taksi yang ditumpangi Aura baru saja berhenti. Aura turun dengan napas terengah-engah dan hati yang dipenuhi rasa takut yang teramat sangat.
Suasana pelabuhan tua itu gelap gulita, hanya diterangi beberapa lampu jalanan yang berkedip-kedip.
Aura menggenggam ponselnya erat-erat, berjalan pelan memasuki area dermaga yang sepi. "Devan? Devan, kamu di mana?!" teriak Aura dengan suara bergetar.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah deburan ombak laut yang menghantam tiang-tiang dermaga.
Tiba-tiba, dari kejauhan jalur utama bypass, suara deru mesin motor berkecepatan tinggi yang memekakkan telinga terdengar makin dekat dan makin kencang.
Dua sorot lampu depan yang sangat terang membelah kegelapan malam, melaju lurus menuju ke arah dermaga tua tempat Aura berdiri!
Aura membelalak kaget. Ia menyadari salah satu motor sport hitam itu adalah milik Devan!
"Devan?!" jerit Aura panik, berdiri terpaku di tengah area dermaga.
Di atas motornya, Devan yang sedang memimpin balapan kaget setengah mati saat melihat sosok gadis di ujung jalan.
Dari jarak beberapa puluh meter, sorot lampu motornya menerangi Aura yang berdiri ketakutan di tengah jalur finis.
"Aura?! Kenapa dia ada di sana?!" teriak Devan panik dari balik helmnya.
Bagas yang berada di belakang Devan melihat celah itu. Bukannya mengerem, Bagas justru sengaja memotong jalur Devan dari sebelah kiri, membuat stang motor mereka saling mengunci di kecepatan di atas 120 km/jam!
"Mampus lu, Dev!" teriak Bagas gila.
Dengan kecepatan segila itu dan jarak yang tinggal beberapa meter dari tubuh Aura, Devan berada dalam pilihan mematikan: terus melaju dan menabrak Aura, atau membanting stang motornya ke arah pembatas besi pelabuhan yang langsung mengarah ke laut.
Tanpa ragu semenit pun, Devan mengambil keputusan ternekat dalam hidupnya.
"Auraaa!" jerit Devan sekuat tenaga.
Devan membanting keras stang motornya ke kanan demi menghindar dari Aura. Motor besarnya berdecit hebat, hilang kendali, menyapu pembatas besi dengan keras, dan melempar tubuh Devan melayang ke udara sebelum menghantam dinginnya air laut di bawah dermaga malam itu.
BYURRR!
"DEVANNN!" jerit Aura melengking, menyaksikan tubuh Devan menghantam air dan menghilang ditelan kegelapan laut pelabuhan.
Bersambung...