Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL01. SAH!
“Saya terima nikah dan kawinnya Lyana Shaqiera binti Antoni Aljufri dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”
“Bagaimana saksi? Sah?”
“SAH!!”
Suara para saksi menggema di ruangan yang sejak beberapa menit lalu dipenuhi suasana khidmat. Beberapa orang mengucapkan syukur, sebagian lainnya tersenyum lega, sementara suara doa dari Pak Penghulu kembali terdengar, mengiringi awal kehidupan baru dua insan yang baru saja mengikat janji. Namun, di tengah suasana haru tersebut, ada satu orang yang sama sekali tidak bisa merasakan kekhidmatan yang sedang memenuhi rumah itu.
Gadis dengan balutan kebaya putih tersebut justru duduk terpaku di depan meja rias kamarnya, menatap pantulan dirinya sendiri dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Riasan wajahnya terlihat sempurna, rambut panjangnya ditata dengan anggun, bahkan senyum tipis yang sejak tadi dipaksakan oleh make-up artist masih tersisa di sudut bibirnya. Seharusnya ia terlihat seperti seorang pengantin perempuan yang sedang menikmati hari paling bahagia dalam hidupnya.
Sayangnya, ekspresi wajahnya justru terlihat seperti seseorang yang baru saja menerima surat putusan hakim.
“Gilak!” gumamnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin. “Sah beneran? Nikah beneran kamu, Qie? Sama itu orang?”
Tangannya perlahan naik menutup wajah.
Lyana Shaqiera benar-benar tidak habis pikir bagaimana hidupnya bisa berubah hanya dalam hitungan beberapa minggu. Di usianya yang baru menginjak dua puluh satu tahun, ia masih sibuk dengan tugas kuliah, jadwal presentasi, jurnal yang harus dibaca, serta berbagai perkara hukum yang membuat kepalanya sering terasa ingin meledak. Ia bahkan belum selesai memikirkan masa depan setelah lulus kuliah, tetapi sekarang tiba-tiba saja satu gelar baru sudah melekat pada dirinya.
Bukan sarjana.
Bukan advokat.
Bahkan bukan calon magister seperti yang sering dibayangkan oleh keluarganya.
Melainkan "istri"
Dan yang lebih menyebalkan lagi, gelar tersebut kini melekat karena seorang pria bernama Ravian Aryasatya.
Pria yang paling tidak ingin ia jadikan pasangan seumur hidup.
Pria yang selama ini bahkan membuat Qiera berkali-kali bertanya-tanya apakah ada aturan hukum yang memungkinkan seorang mahasiswa mengajukan gugatan terhadap dosen karena terlalu menyebalkan.
Pintu kamar kemudian diketuk pelan sebelum terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk dengan senyum lembut yang tidak bisa menyembunyikan mata berkaca-kaca. Mama Qiera masih mengenakan pakaian formal untuk acara pernikahan, dengan beberapa helai rambut yang mulai terlepas dari sanggulnya. Begitu melihat putrinya yang duduk dengan wajah kusut, wanita itu langsung tersenyum geli.
“Qiera.”
Gadis itu menoleh. “Mama.”
Mama berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Tangannya kemudian merapikan sedikit bagian kebaya putih yang dikenakan putrinya. “Kenapa mukanya seperti habis kalah sidang?”
“Karena hidup aku baru saja kalah, Ma.”
Mama terkekeh. “Lebay.”
“Aku serius, Ma! Ini beneran, Ma?” Qiera menunjuk dirinya sendiri, kemudian menunjuk ke arah pintu kamar. “Yang di luar itu..”
Mama menahan tawa, “Yang di luar itu siapa?.”
“Suami baru aku!”
Kalimat itu meluncur begitu saja hingga Qiera sendiri terdiam.
Suami.
Astaga! Kata itu bahkan terdengar terlalu asing di telinganya.
Mama akhirnya menggenggam tangan Qiera erat. “Ravian Aryasatya, Qie.”
Qiera menatap mamanya tidak percaya. “Mama kok santai banget?”
“Karena Mama sudah tahu dari awal.”
“Nah, itu dia masalahnya.” Qiera berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan meja rias.
“Semua orang tahu dari awal, cuma aku yang kayak orang terakhir dikasih tahu. Tiba-tiba keluarga bilang ini perjodohan, Kakek Pak Ravi sakit, keluarga kita punya utang budi sama keluarga mereka, terus semuanya seolah masuk akal dan aku harus menerima begitu saja.”
Mama terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Tidak ada yang ingin memaksamu.”
Qiera langsung berhenti berjalan. “Benarkah?”
“Kalau kamu benar-benar menolak, Mama dan Papa tidak akan memaksamu.”
“Terus kenapa semuanya tetap terjadi?”
“Karena kamu sendiri yang akhirnya setuju.”
Qiera terdiam. Ia memang tidak bisa membantah bagian itu. Beberapa minggu lalu, ketika kedua orang tua mereka menjelaskan keadaan keluarga Ravi dan permintaan kakeknya, Qiera memang sempat menolak. Berkali-kali bahkan. Namun semakin banyak hal yang ia ketahui tentang hubungan kedua keluarga mereka, semakin sulit baginya untuk mengatakan tidak.
Dahulu, ketika Papa mengalami masalah kesehatan serius dan harus menjalani operasi, keadaan keluarga mereka benar-benar berada di titik yang membuat semua orang panik. Saat itu rumah sakit tempat papa dirawat sedang menangani pasien kecelakaan beruntun, sementara papanya sendiri harus segera ditangani. Hal tersebut mendorong Kakek Ravi, seorang direktur rumah sakit sekaligus dokter senior untuk mengambil alih operasi papa Qiera. Beliau bukan hanya membantu melakukan operasi, tetapi juga menjadi salah satu orang yang membuat keluarga Qiera mampu melewati masa sulit tersebut. Sejak saat itu, hubungan kedua keluarga tetap terjaga, meskipun tidak pernah sampai pada hubungan yang sangat dekat.
Sampai kemudian, kabar mengenai kondisi kesehatan Kakek Ravi datang. Usianya sudah tidak muda lagi dan penyakit yang dideritanya membuat keluarga mulai mempersiapkan segala kemungkinan. Salah satu keinginannya sebelum keadaan memburuk adalah melihat cucunya menikah.
Masalahnya, cucu yang dimaksud bukan sembarang cucu.
Ravian Aryasatya.
Dosen muda yang saat ini sedang melanjutkan pendidikan S3 di bidang hukum sambil tetap mengajar di kampus tempat Qiera menempuh pendidikan.
Dosen yang menurut Qiera seharusnya tidak pernah berada dalam satu ruangan dengannya lebih dari dua jam.
Dan sekarang pria itu menjadi suaminya.
“Ma,” panggil Qiera pelan, membuat Mama kembali menatapnya. “Aku masih enggak ngerti kenapa harus dia.”
“Karena keluarga Ravian dan keluarga kita sudah lama saling mengenal.”
“Bukan itu.” Qiera menghela napas. “Maksudku, kenapa harus Pak Ravian? Dari semua laki-laki di dunia, kenapa harus dosenku sendiri?”
Mama tersenyum kecil. “Memangnya kenapa kalau dosen?”
“Dia menyebalkan.”
“Menurutmu.”
“Bukan menurutku saja. Banyak mahasiswa yang takut sama dia.”
“Takut atau segan?”
“Dua-duanya.”
Qiera kembali duduk sambil menyilangkan tangan di depan dada. “Mama tahu sendiri bagaimana dia di kampus.”
Tentu saja Mama tidak benar-benar tahu. Ia tidak pernah berada di ruang kelas ketika Qiera berdebat dengan Ravian. Ia tidak pernah melihat bagaimana pria itu bisa membungkam dua puluh mahasiswa hanya dengan beberapa pertanyaan. Dan ia tentu saja tidak pernah menjadi orang yang harus berdiri di depan kelas sambil mempertahankan argumen yang sudah dipersiapkan berhari-hari, hanya untuk kemudian mendengar satu kalimat dari Ravian yang membuat semua persiapannya terasa sia-sia.
“Argumen Anda menarik, tetapi masih banyak celah.”
Kalimat itu adalah mimpi buruk Qiera.
Hampir setiap kali ia menyampaikan pendapat dalam kelas, Ravian selalu berhasil menemukan sesuatu yang kurang. Bukan karena pria itu sengaja ingin mempermalukannya. Qiera tahu Ravian tidak pernah menghina mahasiswa. Ia bahkan selalu menjelaskan alasan di balik kritiknya dengan sangat masuk akal. Itulah yang membuat Qiera semakin kesal. Kalau Ravian hanya asal membantah, Qiera bisa dengan mudah membencinya. Tetapi masalahnya, pria itu hampir selalu memiliki dasar yang kuat.
Pernah suatu kali Qiera berdebat cukup panjang mengenai sebuah perkara dalam mata kuliah yang diajarkan Ravian. Ia sudah membaca berbagai jurnal, putusan pengadilan, bahkan mencari pendapat beberapa ahli hukum untuk memperkuat argumennya. Dengan percaya diri, ia memaparkan pendapatnya di depan kelas.
Ravian mendengarkan sampai selesai tanpa memotong satu kata pun. Setelah Qiera selesai, pria itu hanya menyandarkan tubuh ke kursinya dan bertanya, “Kalau dasar pemikiran Anda seperti itu, bagaimana Anda menjelaskan konsekuensi hukumnya terhadap pihak kedua?”
Qiera menjawab.
Ravian bertanya lagi.
Qiera menjawab lagi.
Begitu terus sampai akhirnya ia menyadari bahwa semakin lama ia menjawab, semakin banyak celah dalam argumennya yang terbuka.
Yang paling menyebalkan adalah wajah Ravian tetap tenang sepanjang proses tersebut.
Tidak tersenyum mengejek.
Tidak tertawa.
Tidak meremehkan.
Hanya menatapnya dengan ekspresi datar seperti seorang dosen yang sedang membantu mahasiswanya memahami kesalahan sendiri.
Dan setelah kelas berakhir, ketika Qiera berjalan keluar dengan wajah kesal, Ravian bahkan sempat berkata, “Jangan terlalu dipikirkan, Shaqiera. Argumenmu sebenarnya sudah bagus.”
Bagus?
Setelah membuatnya mempertanyakan seluruh hidup selama hampir tiga puluh menit, pria itu hanya mengatakan bagus?
Sejak hari itu, Qiera menyimpulkan satu hal.
Ravian Aryasatya memang menyebalkan.
Sangat menyebalkan.
Dan sekarang, orang menyebalkan itu duduk di ruang keluarga sebagai suaminya.
“Qiera.” Suara Mama membuatnya kembali ke kenyataan.
“Hm?”
“Turunlah. Sebentar lagi keluarga Ravian akan pulang.”
Qiera menghela napas. “Aku harus duduk sebelahan sama dia?”
“Dia suamimu.”
“Jangan ulangi kalimat itu terus, Ma..!” rengek Qiera muak mendengarnya.
Mama tertawa kecil. “Kamu akan terbiasa.”
“Semoga tidak.”
“Qiera.”
“Iya?”
Mama menatapnya sebentar, lalu mengusap pipinya dengan lembut. “Mama tahu semuanya terjadi cepat. Tapi jangan langsung berpikir bahwa pernikahan ini pasti akan buruk.”
Qiera tidak menjawab.
Ada satu hal yang tidak bisa ia bantah. Meskipun pernikahan ini terjadi karena keadaan yang tidak pernah ia bayangkan, Ravian sendiri tidak pernah sekalipun memperlakukannya dengan buruk. Bahkan selama proses pembicaraan keluarga, pria itu tidak pernah memaksanya untuk mengatakan iya. Ravian juga tidak pernah mengatakan bahwa dirinya menginginkan Qiera.
Ia hanya diam.
Dan entah kenapa, justru diamnya itu yang membuat Qiera semakin tidak mengerti.
Mama akhirnya meninggalkan kamar, sementara Qiera masih duduk di depan cermin. Ia menarik napas panjang sebelum bangkit dan berjalan keluar.
Begitu sampai di ruang keluarga, pandangannya langsung menemukan sosok yang sejak tadi berusaha ia hindari.
Ravian.
Pria itu duduk di sofa bersama kakeknya. Berbeda dengan sosok dosen yang biasa berdiri tegak di depan kelas dengan kemeja rapi dan ekspresi sulit ditebak, malam ini Ravian terlihat jauh lebih santai. Kemeja putih yang dikenakannya memiliki dua kancing bagian atas yang terbuka, rambutnya tidak serapi biasanya, dan wajahnya menunjukkan ketenangan yang aneh.
Bahkan ia sempat tersenyum ketika berbicara dengan kakeknya.
Qiera berhenti beberapa detik.
Ia tidak tahu kenapa pemandangan itu terasa asing.
Selama ini, di kampus, Ravian hampir selalu terlihat seperti manusia yang tidak mengenal kata santai. Tetapi malam ini, ia terlihat seperti pria biasa yang sedang menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Seolah menyadari tatapan Qiera, Ravian menoleh.
Mata mereka bertemu.
Qiera refleks memalingkan wajah.
Bagus.
Belum lima menit bertemu suami sendiri dan dia sudah gugup.
Menyebalkan!
“Qiera, sini,” panggil Papa dari sofa.
Qiera akhirnya berjalan mendekat dan duduk di samping Mama. Beberapa anggota keluarga masih berbincang, sementara Kakek Ravi terlihat memperhatikan mereka berdua dengan senyum puas. Setelah beberapa saat, lelaki tua itu memanggil cucunya.
“Ravi.”
“Iya, Kek.”
“Jaga Qiera.”
Suasana mendadak sedikit lebih hening.
Ravian menatap kakeknya beberapa detik sebelum kemudian mengalihkan pandangan kepada Qiera. Tatapannya kali ini berbeda. Tidak ada kesan dosen yang sedang menilai jawaban mahasiswa. Tidak ada pula ekspresi dingin yang selama ini Qiera kenal.
Hanya ketenangan.
“Ravi akan menjaganya, Kek.”
Qiera tidak tahu kenapa kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa aneh. Ia segera mengalihkan pandangan dari dosen sekaligus suaminya.
Kakek Ravi kemudian tersenyum lega. “Bagus. Kakek bisa tenang.”
.
.
To be continued
See you🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊