Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setibanya di apartemennya, Aisha melangkah masuk ke dalam kamar. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk, menatap langit-langit kamar seraya mengembuskan napas panjang yang melelahkan.
" Hari ini benar-benar melelahkan.." gumam Aisha pelan, memejamkan matanya menikmati keheningan.
Namun, baru beberapa menit ia memejamkan mata, Aisha mendadak duduk dengan mata membelalak. Pikirannya melayang pada deretan berkas tugas kantor yang deadline-nya makin mencekik.
"Astagfirullah! Laporan Pak Anton!" jerit Aisha panik.
Ia memegang dadanya yang mendadak berdebar kencang. Ia merogoh ponsel di dalam tasnya, keheranan karena sejak tadi tidak ada satu pun panggilan masuk dari Tania atau teman-teman divisinya, padahal ia bolos kerja setengah hari.
Rasa penasaran dan cemas membuat Aisha bergegas menekan nomor telepon Chloe.
Tutt... Tutt...
"Halo, Sha?!" suara Chloe langsung menyambar dari seberang telepon. "Kamu di mana sekarang? Sudah balik ke apartemen?"
"Iya, Chlo. Aku sudah di rumah," jawab Aisha seraya mengelus dadanya yang masih berdebar. "Aku mau tanya... tadi Miss Tania ada nggak nanyain aku?"
"Ada! Nggak lama setelah kamu terlfon dia datang ke mejamu," sahut Chloe jujur.
Aisha seketika menahan napas. "Aduh, mati aku! Terus kamu bilang apa ke Miss Tania, Chlo?"
"Aku bilang kamu belum balik dari jam makan siang. Mau lanjut jelaskan alasannya, tapi Miss Tania langsung motong omonganku," terang Chloe santai.
"Dia cuma bilang 'Oh okay' dan langsung pergi."
Aisha membelalak kaget, lalu menghela napas lega luar biasa. "Ya Allah... oke deh, syukur banget kalau dia tidak marah atau ngamuk! Aku sempat panik setengah mati memikirkan nasib pekerjaanku."
"Iya, aman kok! Terus gimana sama orang kecelakaan yang kamu bantu tadi, Sha?" tanya Chloe penasaran. "Kondisinya gimana? Sudah aman?"
Aisha tersenyum kecil saat wajah tampan dan omelan sengak Zavran melintas di benaknya.
"Sudah aman kok, Chlo. Orang gila—maksudku korbannya sudah sehat dan sudah pulang ke rumahnya."
"Syukurlah kalau begitu! Ya sudah, kamu istirahat, ya. Jangan lupa besok laporan sore harus diserahkan ke Pak Anton."
"Iya, Chlo. Terima kasih banyak ya sudah bantu mengondisikan! Dah..."
Aisha mematikan sambungan teleponnya. Mengusir rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya, ia bergegas mandi dengan air hangat untuk menyegarkan badan, lalu menunaikan kewajibannya.
Usai beribadah, Aisha langsung membuka laptopnya di meja belajar. Tangannya menari lincah di atas papan ketik, merapikan deretan data dan tabel laporan yang besok pagi wajib ia serahkan kepada Pak Anton demi menjaga profesionalitas kerjanya.
Sementara itu, di kediaman Zavran.
Sang ayah berdiri dari duduknya saat melihat putranya melangkah masuk ke dalam rumah.
"Zavran?!" seru sang ayah dengan suara beratnya yang penuh terkejut. "Kepala kamu... kenapa diperban begitu?!"
Zavran menghentikan langkahnya, menghela napas pelan seraya membetulkan pakaiannya.
"Tidak apa-apa, Yah. Cuma luka kecil."
"Luka kecil gimana?! Itu perban melingkar di kepala kamu dan wajah kamu pucat begitu!" tegas Ayahnya seraya melangkah mendekat, menatap putranya dari atas ke bawah penuh selidik.
"Apa yang terjadi? Kamu kecelakaan mobil?!"
"Bukan kecelakaan," jawab Zavran datar seraya mendaratkan tubuhnya di sofa. "Tadi siang aku diserang beberapa orang di dekat persimpangan jalan utama usai pertemuan bisnis."
Mata sang ayah membelalak sempurna. "Diserang?! Siapa yang berani-beraninya mengusik putraku?!"
"Seseorang yang sepertinya tidak menyukai ekspansi bisnis baru kita, yah" sahut Zavran dingin.
"Kurang ajar sekali mereka!" bentak Ayahnya murka. "Kamu sudah lapor polisi?!"
Zavran diam sejenak.
"Belum, yah. Ponsel aku rusak gara-gara kejadian tadi. Setelah ini aku akan minta Leo untuk segera mengurusnya " tutur Zavran pelan.
"Jadi...kamu sendirian saat kejadian itu? Tidak bersama Leo?" Selidik Ayahnya cemas.
"Sendirian, Yah."
"Lalu bagaimana kamu bisa sampai ke rumah sakit tanpa pengawal?"
"Soal itu... ada seorang gadis yang tidak sengaja lewat dan menolong Aku, yah."
Ayahnya mengerutkan dahi, menatap Zavran heran. "Gadis? Dia membawa kamu ke rumah sakit sendirian?"
"Iya. Dia menghentikan pengeroyokan itu, setelah itu langsung melarikanku ke Royal Infirmary Hospital, bahkan... Pakaian ini dia yang membelikannya," terang Zavran, jemarinya menyentuh kemeja yang melekat di tubuhnya.
Sang ayah tertegun. "Siapa nama gadis baik hati itu? Kita harus membalas budinya dan mengundangnya makan malam di rumah ini!"
Zavran menghela napas panjang, bersandar pada sandaran sofa seraya memejamkan mata.
"Dia... menolak memberitahu namanya."
"Zaman sekarang masih ada orang yang menolong tanpa mengharapkan imbalan atau nama?"
"Iya, Zavran juga bingung, Yah. Dia gadis yang keras kepala." gerutu Zavran pelan.
"Jadi kamu berniat mencari gadis yang telah menyelamatkan kamu itu?"
Zavran menyandarkan punggungnya di sofa empuk, menarik napas panjang seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat santai.
"Nggak, Yah," sahut Zavran dengan santai.
"Gadis itu juga dari awal bilang tidak mau ketemu lagi. Katanya, tiap kali kita tidak sengaja ketemu, pasti ada saja hal aneh atau kesialan yang datang."
Ayahnya ikut tertawa kecil menggelengkan kepala.
"Ya sudah kalau begitu," ujar Ayahnya, mengusap bahu putranya pelan.
"Oh iya, Zav... sebenarnya ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan sama kamu. Kamu bisa bicara sekarang? Atau mau besok saja tunggu kamu agak mendingan?"
Zavran menaikkan sebelah alisnya, sedikit penasaran. "Bicara tentang apa, Yah? Sekarang saja tidak apa-apa."
"Tadi teman dekat Ayah di Indonesia menelepon," ujar ayah memulai percakapan.
"Dia cerita kalau dia sedang mencari menantu untuk putrinya. Dari pembicaraan tadi, kami berdua sepakat dan berniat untuk menjodohkan kalian berdua."
Zavran mendengarkan diam tanpa memotong, membiarkan sang ayah melanjutkan.
"Menurut Ayah, putrinya itu anak yang sangat baik," lanjut Ayahnya dengan tatapan penuh harapan. "Ayah yakin dia pasti bisa jadi ibu yang baik buat Devan. Ayah benar-benar ingin melihat Devan punya sosok ibu yang merawat dan mengasihinya, begitu juga dengan kamu. Lihat kondisi kamu hari ini... kalau ada kejadian kayak gini lagi, siapa yang bakal menjaga kamu?"
Zavran helai napas pelan. "Ayah benar-benar yakin kalau putrinya bisa menerima Devan?"
"Ayah sangat yakin," jawab Ayahnya mantap.
Zavran mengangguk lambat, tatapannya menyiratkan kepasrahan sekaligus rasa tanggung jawab yang besar. "Bagi Zavran, siapapun wanitanya tidak masalah, Yah... asalkan dia bisa benar-benar menyayangi Devan layak anak kandungnya sendiri. Kalau dia bisa tulus sama Devan, Zavran juga akan berusaha sekuat tenaga untuk mencintai dan menyayanginya."
Zavran mengusap wajahnya sebentar, mengingat ingatan kurang menyenangkan di masa lalu. "Ayah kan tahu sendiri, selama ini perempuan-perempuan yang pernah Ayah kenalkan, atau orang-orang yang Zavran kenal sendiri... tidak ada satu pun dari mereka yang mau menerima keberadaan Devan di dalam keluarga kami."
"Ayah tahu," sahut Ayahnya lembut, menepuk jemari Zavran. "Tapi yang kali ini beda. Ayah sangat yakin dia wanita yang tepat."
Zavran mengangguk pelan. "Tapi gimana caranya, Yah? Zavran kan tidak punya banyak waktu di Indonesia kalau harus urus proses kenalan yang lama."
"Kita percepat saja prosesnya," usul Ayahnya cepat. "Nanti setelah akad atau pernikahan selesai, kamu bisa langsung membawa dia tinggal bersama kita di sini."
"Boleh juga, Yah," jawab Zavran menyetujui. Namun sebuah pikiran mendadak terlintas di kepalanya. "Yah... memangnya ayah sudah memberi tahu keluarga mereka tentang keberadaan Devan, kan?"
"Sudah," tegas papanya tanpa ragu. "Mereka sudah tahu semuanya dari awal."
Zavran menghembuskan napas lega, rasa cemas di dadanya perlahan terangkat. Ia menatap Ayahnya dengan senyum tulus.
"Baik, Yah. Semoga kali ini... dia memang bisa menjadi istri yang baik untuk Zavran, dan ibu yang tulus buat Devan."
.....