NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 22 ] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Suaminya yang dingin itu, Oscario, juga sudah atau akan terjerat dalam permainan berbahaya yang dikendalikan oleh wanita berjas hitam di depannya itu.

sementara engung riuh lelang mewah malam itu mendadak tenggelam oleh ketukan kayu yang menghantam meja.

"Dua ratus juta!"

"Lima ratus juta!"

Suara juru lelang melengking, memicu pacu jantung para tamu elite yang haus eksklusivitas. "Ada lagi penawaran dengan harga tertinggi?!"

"Saya! sembilan ratus juta!" seorang pria tua berjas abu-abu pekat memotong cepat, dadanya membusung jemawa.

TOK!

TOK!

TOK!

"Terjual!"

Palu mengetuk keras. Pria tua itu tersenyum puas, melihat kepergian lukisan mewah yang baru saja dipamerkan.

Namun, jauh dari keramaian panggung utama, di sebuah ruang penyimpanan yang temaram dan beraroma cat minyak mahal, Nyonya Chika berdiri mematung.

Jemarinya yang terawat rapi mengusap pinggiran bingkai kayu dengan tatapan nanar. Dadanya bergemuruh pelan. Setiap karya yang di-packing hati-hati ke dalam kotak tebal berbahan beludru itu bagaikan serpihan jiwanya yang dicopot paksa demi angka-angka nominal. Wajah cantiknya dingin, menutupi rasa enggan yang mendalam.

BZZZ...

Dengung kecil dari earphone di telinganya memecah keheningan.

"Nyonya?" suara berat beraksen dingin bergema di telinganya. Itu suara pengawal pribadinya yang mengawasi aula. "The Black Parade baru saja terjual dengan harga fantastis."

Chika menghela napas panjang, menguasai emosinya kembali. "Catat nama, identitas, dan latar belakang usahanya. Aku mau datanya jelas dan detail," perintah Chika tegas sebelum melangkah keluar menuju lorong.

Di dunia pelelangan, penawar tertinggi selalu mendapat perhatian khusus dari Sang Direktur.

Namun, saat melangkahkan kaki di lorong labirin yang dipenuhi deretan lukisan megah, Chika menghentikan langkahnya. Matanya memicing menatap sosok wanita bermata lembut dengan balutan busana muslimah dan cadar rapi yang tampak celingukan panik.

"Nyonya Anisa?" panggil Chika heran.

Anisa tersentak, tangannya meremas ujung gamisnya. Wajah di balik cadarnya memanas karena malu. "A-Aah... iya, Direktur. Saya... saya lupa jalan kembali ke ruang lelang utama," cicitnya canggung. Lorong-lorong megah ini benar-benar terasa seperti labirin tanpa ujung.

"Lalu bagaimana Anda bisa sampai ke lorong belakang ini?" tanya Chika heran.

Anisa mengusap jemarinya yang dingin. "Tadi saya minta tolong beberapa pengawal untuk mengantar ke kamar mandi. Mereka baik sekali mau mengantar, tapi pas saya keluar... mereka sudah hilang. Lorongnya sama semua, jadi saya makin tersesat."

Chika menggelengkan kepala, helaan napas kekecewaan terdengar jelas. Batinnya menyumpahi ketidakbecusan anak buahnya. "Maaf atas ketidaknyamanannya sampai membuat Anda tersesat begini. Nanti akan saya tegur keras mereka."

"Eh, tidak perlu, direktur Chika! Tidak apa-apa, kok," potong Anisa panik, tak enak hati.

"Mari, saya antarkan," ujar Chika halus, menuntun langkah Anisa. Menjaga kenyamanan anggota keluarga Carolus adalah prioritasnya saat ini suasana hatinya terasa tenang apalagi kini ia mengetahui wanita di sampingnya itu ternyata adalah istri seseorang dari masa lalu yang paling memiliki momen bersamanya

Sambil berjalan berdampingan, Chika melirik tipis ke arah Anisa.

"Sejujurnya... saya sedikit kecewa. Kenapa Oscar menikah tanpa memberi tahu saya? Atau minimal mengundang saya?"

Anisa terpaku. Langkahnya agak melambat, matanya mengerjap bingung di balik cadar. "Sepertinya... Direktur Chika tahu banyak tentang suami saya?"

Chika terkekeh pelan, tatapannya menerawang ke depan. "Yah... tidak juga sih. Tapi jujur, saya selalu khawatir tiap kali ada wanita yang mendekatinya."

Deg.

Dada Anisa berdesir aneh. Rasa tidak nyaman yang menggebu perlahan merayapi pikirannya. Apakah wanita anggun di sampingnya ini punya masa lalu khusus dengan istrinya? "Maksud direktur... bagaimana?"

"Dulu, waktu umur kami cuma selisih dua tahun... saat masih TK, keluarga kami sempat menjodohkan kami di gedung ini," Chika bercerita santai tanpa sadar kalimatnya membuat pias wajah Anisa. "Dulu saya pikir bocah itu beneran menerima tanggung jawab dari orang tuanya."

Chika menoleh, menatap Anisa lembut. "Tapi kami terlalu kecil dan akhirnya menganggapnya sebagai angin lalu.dan Lagi pula, saat masa SMA... Tuan Muda Rolando yang malah menyatakan keseriusannya pada Saya. Di situ saya sadar, saya mungkin pantas mendapatkan cinta, tapi bukan dari pria yang dulu pernah dijodohkan keluarga untuk saya."

Anisa mengembuskan napas lega yang sempat tertahan di tenggorokan.

"saya khawatir bukan karena hal aneh, nyonya Anisa," Chika menyunggingkan senyum tipis. "Oscar itu pria paling bebas dan keras kepala dibanding saudara-saudaranya. saya cuma takut... anda jadi korban di sini?"

Anisa menggeleng cepat, matanya berbinar tulus. "T-Tidak, direktur... Mas Oscar pria yang sangat baik. Dia selalu menghormati dan menghargai saya. Jujur, saya tidak pernah menyangka dia bisa selembut itu." Anisa teringat bagaimana Oscar selalu mengikis jarak dengan amat hati-hati demi menjaga perasaan dan pendengarannya.

"Baguslah," Chika tersenyum lega. "Kalau begitu, anda memang wanita terbaik yang terpilih untuknya."

Mereka tiba di depan pintu besar ruang lelang. "Mari, silakan masuk—"

Namun, sebelum Anisa melangkah, pandangannya terkunci pada sosok pria berjas putih rapi di ujung lorong seberang. Pria itu berdiri kaku, menatap Anisa dengan mata membelalak penuh kejutan.

Anisa membeku. Jantungnya berdegup kencang serasa mau melompat keluar.

"Ada apa, Nyonya Anisa?" Chika menyadari perubahan raut wajah Anisa dan ikut menoleh. "Tuan Muda Li? Anda mengenalnya?"

"A-Aah! Tidak!" pekik Anisa panik, mencoba mengelak. "S-Saya baru sadar ponsel saya tertinggal di kamar mandi!"

Chika ikut cemas. "Astagaa!, benarkah? Perlu saya antarkan lagi?"

"Tidak usah, direktur Chika! Masuklah duluan, saya ingat jalannya, kok!" dorong Anisa terburu-buru hingga Chika terpaksa melangkah masuk.

Brak!

Anisa menutup pintu rapat-rapat, lalu memutar tubuhnya dan berlari kencang. Di seberang sana, langkah kaki An Liu Li bergaung cepat menyeberangi lorong.

"Anisa! Tunggu!" teriak An Liu Li, suaranya menggema liar di lorong sepi.

Aksi kejar-kejaran tak terhindarkan. Langkah kaki Anisa yang berbalut sepatu datar tak mampu menandingi langkah lebar An Liu Li. Hanya dalam hitungan detik, cengkeraman kuat mendarat kasar di lengan Anisa.

"Lepaskan, Kak!" jerit Anisa, matanya membelalak ketakutan.

"Tidak, Anisa! Kamu harus ikut aku!" An Liu Li terengah-engah, matanya memerah penuh obsesi. "Kamu mau balik ke pria itu?! Aku tahu kamu menderita! Kamu cuma dijadikan alat pelunas utang, kan?!"

"Kak, lepaskan! Ini tidak sopan!" Anisa berontak, memukul lengan berurat pria itu. "Aku sudah bersuami! Tolong jangan lakukan hal berdosa seperti ini!"

"Aku tidak peduli!" bentak An Liu Li, matanya mengkilap gila. "Pria brengsek itu tidak boleh memperlakukanmu seperti mainan! Kamu ikut aku pulang!"

"LEPASKAN AKU!" Anisa berteriak sekuat tenaga, menghempas tangannya kasar hingga An Liu Li tersentak dan terdorong mundur.

"Apa salahku, Anisa?!" An Liu Li memegang dadanya yang naik-turun. "Aku berusaha menyelamatkanmu! Pria kejam berdarah dingin itu pasti sudah mencuci otakmu!"

"Suamiku bukan pria seperti itu!" napas Anisa memburu, dadanya kencang. "Justru Kakak yang tidak punya etika! Kakak sendiri sudah punya istri!"

"Istri?!" Alis An Liu Li menyatu, matanya menyipit penuh jijik. "Wanita tidak berguna itu bukan istriku!"

Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga Anisa memundurkan tubuhnya terdesak ke dinding. "Kamu tahu betapa sengsaranya aku bersamanya?! Aku tersiksa, Anisa! Dan... aku cuma menginginkan kamu~" Suaranya berubah lembut secara mengerikan, tatapan benci berganti menjadi obsesi buta.

Anisa yang panik meraba tasnya, menarik ponselnya untuk menelepon bantuan. Namun, An Liu Li bergerak cepat.

Sret! BUGH!

"Hah?!" Anisa menjerit saat ponselnya direbut dan dilempar keras ke lantai marmer.

PRANG!

Ponsel itu hancur berkeping-keping, serpihan elektroniknya bertebaran.

"Ayo ikut!" An Liu Li menarik paksa lengan Anisa menuju tangga darurat.

Namun, sebelum kaki mereka menuruni anak tangga pertama—

SRET! BUGH!

Sebuah sepatu kulit keras melayang dari atas, mendarat tepat di belakang kepala An Liu Li. Pria itu meringis, menoleh kaget. Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, sebuah tendangan melingkar berkecepatan tinggi menghantam telak wajah tampannya.

"AGGHH!"

An Liu Li menjerit kesakitan, tubuhnya limbung dan cengkeramannya pada Anisa terlepas. Darah segar menetes dari hidungnya.

Anisa terduduk di lantai, napasnya tersengal. Saat mengadah, matanya membelalak lega. Berdiri di sana, Edward yang mengenakan satu sepatu, menyunggingkan senyum dingin, sementara putra remajanya, Zaidan, baru saja menurunkan kaki kanan bekas menendang wajah An Liu Li.

"Sepertinya... ada yang perlu bercerita di sini?" ujar Edward santai, menatap Anisa sekilas sebelum mengunci pandangan ke An Liu Li.

An Liu Li bangkit sambil mengusap darah di wajahnya, napasnya memburu penuh murka. "Bajingan! Kau lihat itu, Anisa?! Bahkan kakaknya saja tidak punya sopan santun!"

"Ah... Tuan Muda An, ya?" Edward tertawa mengejek, langkahnya yang pincang sebelah tak mengurangi intimidasi dalam dirinya. "Saya kira pembinor rendahan."

"Kurang ajar kau, pendek!" An Liu Li melayangkan tinjauan mentah ke wajah Edward.

Namun, Edward bergerak lebih cepat. Dengan satu gerakan tangkas, ia mencengkeram pergelangan tangan An Liu Li, menahannya tanpa kesulitan berarti.

Sret! BUGH!

Edward menghempaskan tubuh jangkung itu hingga An Liu Li tersungkur beberapa meter ke depan. Tatapan Edward berubah dingin menusuk saat melihat Anisa yang gemetar ketakutan.

"Katakan satu hal yang mungkin bisa membuatku memaafkanmu," panggil Edward pelan, menghampiri An Liu Li yang mencoba bangkit kembali.

"AGGHH! KRIMINAL!" teriak An Liu Li penuh kebencian.

Kata kriminal menyentil saraf emosi Edward. Senyum manis terukir di bibir Edward, namun matanya sama sekali tidak memancarkan kehangatan.

"Hooh?... Kriminal?" gumamnya dingin.

Tanpa peringatan, Edward mengambil ancang-ancang. Satu tendangan kuat melayang lurus, meremukkan tulang rusuk dan pinggang An Liu Li.

CRACK!

"AARRGGHH!"

Tubuh An Liu Li terlempar keras, bergelinding tak berdaya menuruni puluhan anak tangga. Darah segar menetes tajam, membashi karpet merah tangga, tersamar oleh warna kain namun baunya menyengat.

Anisa menjerit kecil, menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Edward berbalik santai, merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut, lalu menatap Anisa dengan senyuman paling ramah seolah tak baru saja melempar orang turun dari tangga. "Ayo pulang~ Kakak antarkan kamu pulang."

kembali pada keadaan di dalam mobil.

Kembali di dalam mobil mewah yang membelah jalanan kota yang lengang ini, aura mencekam menyelimuti kabin. Oscar duduk di balik kemudi, mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.

Di sampingnya, Anisa menunduk, meremas jemarinya sembari menceritakan kembali ketakutan luar biasa yang dialaminya saat kepergian Oscar itu.

"Semenjak saat itu, Kak Edward sempat memarahi Ezekiel dan yang lainnya karena lengah... tapi mau bagaimana lagi, ini bukan salah mereka, Mas~" bisik Anisa pelan, menyudahi ceritanya.

Mata Oscar menajam. Rahangnya mengetat keras. Dulu, ia menganggap An Liu Li hanyalah seekor hama kecil yang tak berguna. Namun kini, pria itu telah berani menyentuh dan mengancam keselamatan istrinya.

Satu pesan tersirat berputar gila di dalam kepala Oscar. Pria itu menatap lurus ke jalanan di depannya, bersiap merancang kehancuran total bagi An Liu Li sampai tak tersisa.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!