NovelToon NovelToon
My Ex Brother In Law

My Ex Brother In Law

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: MeNickname

Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Carol memesan kamar sendiri yang tentunya tidak berada di gedung yang sama dengan kamar Andrew, dia tidak mau kalau sampai Andrew mengganggunya.

Rasanya air matanya sudah tidak tertahankan tapi sebisa mungkin Carol menahannya, dia berjalan sambil menggeret koper menuju ke hotel seberang dan memesan kamar baru.

Saat pintu kamar dibuka Carol langsung masuk dan terduduk di belakang pintu. Gadis itu menangis sejadi-jadinya.

Ingin rasanya dia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa Andrew berbicara seperti itu setelah membuatnya seperti orang yang kebingungan. Andai saja Andrew bicara sejak awal mungkin dia tidak akan semarah ini.

Apalagi saat melihat interaksi Rose pada Andrew, sungguh dia sangat cemburu.

Rose yang sangat cantik, anggun dan berkelas membuatnya insecure setengah mati. Apalagi saat wanita itu bilang jika mereka sudah saling kenal sejak kecil. Itu benar-benar membuat Carol juga merasa kecil.

Ditambah Andrew yang sama sekali tidak menolak permintaan Tuan Gerald yang katanya ingin anaknya diajari, dan yang tidak kalah penting yaitu status keduanya. Andrew yang seorang duda dan Rose yang seorang janda.

Semuanya bercampur aduk di dalam hati dan pikiran Carol. Lalu dengan entengnya Andrew bilang jika dia berlebihan? Dan satu lagi, ucapan Andrew yang memperjelas semuanya jika perasaannya tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan pekerjaan.

Ya, Carol tahu Andrew adalah orang yang sangat perfeksionis untuk masalah pekerjaan. Carol juga ingat jika mereka sepakat akan tetap professional tapi setidaknya harapan Carol pria itu juga bisa sedikit menjaga perasaannya. Bukan malah menghakiminya dengan kata berlebihan.

Ternyata begini, resiko menjalani hubungan secara diam-diam. Tidak ada yang bisa Carol lakukan kali ini selain menangis.

...----------------...

Malam harinya tanpa Andrew ketahui, Carol keluar dari hotel seorang diri.

Gadis itu memesan sebuah taksi untuk mengantarkannya ke suatu tempat, meskipun dengan mata yang sedikit sembab Carol terlihat pede saja.

Menurut informasi yang dia dapat dari internet di sekitar sini ada salah satu coffe shop yang cocok untuk anak-anak muda. Dan Carol ingin mencoba pergi kesana, lagipula suntuk ada di dalam kamar terus-menerus.

Setelah ban mobil berputar selama hampir lima belas menit lamanya akhirnya Carol sampai di tempat tujuan.

Nampak dari depan tempat ini memang terlihat cocok untuk anak-anak gen-Z sepertinya.

Carol melangkah masuk, dia mengedarkan pandangannya dan menemukan spot meja kosong di sudut ruangan.

Tanpa berpikir lagi Carol langsung melangkahkan kakinya menuju meja itu. Saat langkahnya hampir sampai tiba-tiba saja seseorang sudah duduk mendahuluinya, seorang pria.

Mendengar langkah kaki yang tiba-tiba berhenti pria itupun menoleh dan mendapati seseorang yang baru saja dia kenali hari ini.

"Nona.. eh, maksudku Carol?"

"Oh, Gabriel. Kita bertemu lagi." Carol yang semula ingin marah berubah ramah.

"Saya tidak menyangka kita akan bertemu disini." sahut Gabriel.

"Aku hanya mengunjungi tempat yang direkomendasikan melalui ponsel jadi aku datang kemari."

"Oh.. ah iya, kamu mau duduk? Ayo silahkan, kita bisa berbagi tempat."

"Ow oke, thank you."

Namun sebelum Carol duduk Gabriel lebih dulu berdiri dan memundurkan kursinya baru setelah itu dia mempersilahkan Carol untuk duduk.

"Silahkan."

Carol terkesiap dibuatnya, "Sekali lagi. Thank you!"

...----------------...

Sementara itu di belahan dunia lain seorang pria nampak begitu khawatir, dia berdiri di balkon kamarnya sambil mencoba menghubungi seseorang tapi tidak pernah tersambung.

Sepertinya nomornya di blokir lagi. Baru saja dia habis menemui resepsionis untuk menanyakan kamar atas nama Carol tapi dia tidak mendapatkan informasi apapun disana.

Dia bahkan sampai mengaku-ngaku bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang sedang bertengkar, barulah resepsionis itu bersedia memberi informasi namun setelah dicek tidak ada pesanan kamar atas nama tersebut malam ini.

"Si4l seharusnya tadi aku tidak membiarkannya pergi begitu saja!"

Sumpah demi apapun kepalanya seakan ingin pecah sekarang. Gadis itu pergi dengan marah entah kemana di kota orang pula.

Karena tidak ada pilihan lain Andrew akhirnya memilih untuk menghubungi satu-satunya orang yang bisa membantunya mencari Carol dengan cepat dan tepat.

"Lacak nomor yang aku kirim, kirimkan padaku lokasinya!" tanpa menunggu jawaban pria itu langsung menutup teleponnya.

Dia masuk ke dalam mengambil sebuah sweater dan memakainya. Dan tentu saja, tidak membutuhkan waktu lama sebuah pesan baru masuk ke ponselnya.

Titik lokasi keberadaan Carol berhasil dia dapat. Pria itu langsung melangkah keluar dengan pasti.

Di lobi dia menyetop taksi karena tidak ada waktu untuk menghubungi sopir dan mobil yang dia sewa itu.

Dia menunjukan layar ponselnya dan sang sopir langsung tau kemana arah tujuan mereka.

Andrew duduk di kursi penumpang dengan tidak nyaman, sudah sepuluh menit tapi mobil yang dia tumpangi belum juga berhenti.

"Sebenarnya mau kemana kau malam-malam begini, Carl?"

Taksi yang terasa bergerak sangat lama itu akhirnya berhenti di depan sebuah coffe shop. Andrew mengernyit bingung.

"Apa titiknya sudah benar?" tanyanya.

"Betul, Tuan. Silahkan dicek lagi."

Andrew mengecek ponselnya dan memang benar ini adalah tempat tujuannya. Setelah membayar bill-nya Andrew pun turun.

"Jika salah, maka ini adalah kesalahan pertamamu." gumamnya.

Dengan ragu Andrew melangkah ke dalam, dia mengedarkan pandangannya ke semua penjuru.

Coffe shop yang di desain ala anak muda jaman sekarang dengan luas yang cukup besar itu terlihat sangat ramai padahal bukan hari weekend.

Andrew melangkah lagi ke bagian ujung tapi seorang waiters memberhentikannya.

"Halo selamat malam, mohon maaf sekali karena bagian sebelah sini sudah penuh. Mari saya antar ke bagian lain!" ucapnya ramah.

Namun Andrew tidak mempedulikannya, tatapan matanya malah tertuju pada seorang wanita berambut blonde yang diikat ekor kuda sedang duduk membelakanginya di meja ujung sana.

Karena merasa penglihatannya benar Andrew pun melangkah pasti, dia meninggalkan waiters yang masih berdiri kebingungan.

Semakin dekat suara tawa yang paling Andrew kenali mulai terdengar, tangannya mengepal kuat.

"Carol!" suaranya nampak tertahan.

Dia baru saja melihat gadisnya duduk, tertawa dan makan berduaan dengan pria lain setelah beberapa saat lalu gadis itu marah-marah tidak jelas padanya.

Carol menoleh, dia mendapati wajah Andrew yang merah padam. Carol sudah menduga ini, pria itu pasti akan melakukan hal semacam itu lagi.

1
MamDeyh
Duda gk zelaaas
MamDeyh
Ribet bgt sih.. Tinggalin aja. Ngapain jg jd merendahkan diri buat cowok.😒
Ruwi Yah
menarik alur ceritanya semangat updatenya kak
Ruwi Yah
sebagai atasan kamu harus tegas ndrew jangan sampai sikapmu disalah artikan oleh sekretaris seksimu
Ruwi Yah
sekali kali jual mahal dikit Carl
MamDeyh
Km jd kelihatan murahan dg begitu.. Kalo mau membuktikan dia apakah ada perasaan dg pergi menjauh. Bukan kek wanita ...😒
Ruwi Yah
masih nyimak alur ceritanya
Ruwi Yah
lanjut
Ruwi Yah
Terima kasih upnya kak
MamDeyh
Lanjuut
Ruwi Yah
mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!