Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Rapat itu selesai, tapi tidak ada yang benar-benar keluar dari ruang makan.
Mereka kembali ke dapur dengan langkah yang sama dan wajah yang berbeda. Kompor dinyalakan, bumbu dipotong, piring-piring pertama mulai berdatangan dari depan seperti hari-hari lainnya. Tapi setiap orang membawa sesuatu yang tidak ada di atas nampan: kalimat yang belum selesai, tatapan yang buru-buru dialihkan, dan rasa tidak enak yang menempel seperti uap minyak di dinding.
Anindya berdiri di depan bak cuci dengan sarung tangan kuning yang basah sampai pergelangan, mencuci tanpa bicara. Ia tahu apa yang akan terjadi. Orang yang baru saja dibicarakan biasanya tahu. Dan ia sudah cukup sering berada di sisi ini untuk hafal bunyinya: bisikan yang menurun saat ia lewat, dan senyum yang terlalu cepat dipasang.
Sindiran pertama datang menjelang jam sepuluh, dilemparkan seperti kain lap ke arah yang tidak disebutkan.
"Ya namanya juga orang dikasih sarung tangan," kata Teh Lilis kepada Jaka sambil mengaduk panci sup, dengan suara yang terlalu jelas untuk disebut bisik. "Pantes tangannya halus terus. Orang lain mah, tangan merah-merah juga nggak ada yang nanya."
Jaka tidak menjawab. Ia hanya menatap Teh Lilis dengan satu alis terangkat.
"Apa? Teteh cuma ngomong."
Tapi suara Teh Lilis bergetar di ujung kalimat. Dan hanya Jaka yang menyadari bahwa tangan yang mengaduk panci itu juga gemetar.
Anindya meletakkan piring di rak dan mengambil yang berikutnya. Busa menggunung di bak, putih dan tebal, dan ia membayangkan bahwa mungkin seluruh siang ini akan ia habiskan dengan menatap busa itu saja.
Sindiran kedua lebih rapi, dan datang dari Mbak Sari.
Mbak Sari tidak pernah memakai kata yang salah. Itu yang membuatnya lebih sulit dibantah.
"Tangan halus tuh sebenernya cocoknya kerja yang ringan," katanya kepada talenan di depannya. "Di depan, misalnya. Deket-deket yang punya warung. Kalau di bak cuci mah ya, kasihan."
Pisaunya tidak berhenti bergerak. Irisan bawangnya tetap rata dan tipis.
Anindya menarik napas. Ia menjaga suaranya tetap datar. "Mbak, kalau ada yang kurang dari kerjaan saya, bilang langsung aja. Saya nggak keberatan."
"Siapa yang bilang kerjaan kamu kurang?" Mbak Sari akhirnya menoleh. Wajahnya tenang, nyaris terlalu tenang. "Saya cuma ngomongin tangan."
Hening sebentar. Lalu Mbak Sari kembali pada bawangnya, Teh Lilis kembali pada supnya, dan percakapan itu ditutup rapat seperti tutup panci.
Anindya menatap punggung Mbak Sari sebentar lebih lama dari yang seharusnya. Ini perempuan yang seminggu lalu menyuruhnya menambah cabai rawit rebus di sambal kacang. Perempuan yang dengan jujur mencicipi nasi uduknya. Ia tidak mengerti apa yang berubah.
Tapi ia tidak marah. Itu yang aneh. Yang ia rasakan justru sesuatu yang lebih sunyi dan lebih sakit: seperti seseorang yang baru saja melihat pintu yang ia kira terbuka, ditutup pelan-pelan dari dalam oleh tangan yang ia percaya.
Mbak Sari mengerti, dan itu bagian yang tidak akan pernah ia ucapkan.
Sejak rapat tadi, satu kalimat terus berputar di kepalanya seperti piring yang tidak mau berhenti berputar di atas jari. *Tidak. Saya bilang tidak.* Itu suara Reyhan, dua jam lalu, ketika Anindya menawarkan diri untuk pergi. Enam tahun Mbak Sari bekerja di dapur ini, enam tahun menjaga rasa, menjaga takaran, menjaga warung ketika Reyhan sakit dan ketika Reyhan pulang larut. Dan tidak sekali pun ia mendengar nada seperti itu diarahkan kepadanya.
Ia tidak membenci Anindya. Ia hanya tidak tahu cara menyimpan sesuatu sebesar itu tanpa membaginya menjadi kalimat-kalimat kecil yang menyakitkan. Dan setiap kali satu kalimat keluar dari mulutnya, sebagian dirinya yang lain, yang lebih tua dan lebih lelah, berbisik: *Berhenti, Sari. Kamu sedang melakukan sesuatu yang kamu sendiri tidak bisa maafkan.*
Tapi pisau tetap bergerak. Dan mulut tetap berbicara.
---
"Mbak."
Bayu berdiri di sisi meja potong, dengan lap di tangan dan suara yang jauh lebih rendah dari biasanya.
"Apa, Bay?"
"Jangan."
"Jangan apa?" Mbak Sari tidak mengangkat kepala. "Saya nggak ngapa-ngapain."
"Itu dia masalahnya, Mbak."
Mbak Sari berhenti memotong. Untuk sesaat, pisau itu menggantung di udara. Lalu ia melanjutkan, lebih keras dari tadi, dan Bayu hanya menatapnya sebentar sebelum pergi.
Siang itu dapur tidak pernah benar-benar ribut, tapi tidak pernah benar-benar tenang juga. Setiap kali Anindya lewat membawa nampan piring, percakapan di sekitarnya mengecil. Setiap kali ia menoleh, ada seseorang yang baru saja menunduk. Seperti ruangan penuh orang yang sedang membicarakan hal-hal yang tidak ingin ia dengar, dan semuanya terlalu sopan untuk berhenti.
Ia terus bekerja. Karena itu satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan.
Lewat jam satu, suara dari gudang belakang memecah semuanya.
"Kamu yang nyuruh aku tanda tangan!"
"Kamu yang duluan ember!"
"Itu bukan alasan buat bikin surat kayak gitu, Mas!"
"Siapa yang bikin? Aku cuma bawa kertasnya!"
Dimas dan Rafi berdiri berhadapan di antara rak tepung dan karung beras, dada naik turun, wajah merah sampai ke telinga. Yoga meringkuk di pojok dengan mata berkaca. Jaka muncul dari pintu dengan wajah orang yang sudah terlalu lelah untuk kaget.
"Kalian berdua ini bukan anak SMP," katanya, melangkah di antara mereka dan mendorong dada keduanya dengan telapak tangan lebar. "Kalau mau berantem, di luar. Jangan di dapur orang."
"Dia yang..."
"Dia, dia, dia." Jaka menggeleng. "Kamu semua ini sama aja. Salah semua. Nggak ada yang bener."
Hening yang jatuh sesudah itu panjang dan memalukan. Dimas menunduk menatap sepatunya. Rafi mengusap hidungnya dengan lengan baju. Yoga mulai terisak pelan, dan Anindya, yang berdiri di ambang pintu dengan keranjang gelas di pelukan, merasakan dadanya sesak. Karena ia tahu persis, di balik semua kemarahan itu, ada tiga anak muda yang ketakutan. Dan ia tahu, tanpa bisa menyalahkan mereka, bahwa ketakutan seperti itu sering berubah menjadi tindakan yang mereka sendiri sesali.
Di ruang kerjanya, Reyhan mendengar semuanya.
Ia berdiri di balik pintu dengan tangan di gagang, siap membukanya. Tiga detik. Lima. Lalu ia melepaskan gagang itu dan kembali ke mejanya, dengan keyakinan dingin yang ia sendiri tidak percaya: *itu bukan urusan saya.*
Tiga menit kemudian ia menyesali keputusan itu, dan tidak melakukan apa pun. Karena ia tahu apa yang akan terjadi kalau ia keluar: semua orang akan menatapnya, dan ia tidak punya satu pun jawaban yang bisa ia berikan tanpa mengkhianati sesuatu.
---
Sore itu, ketika Anindya membawa keranjang gelas bersih ke rak minuman, ia mendengar sesuatu di lorong sempit di belakang gudang.
Suara tangis yang ditahan.
"Teteh nggak bermaksud, Mbak. Teteh cuma ngomong sama ibu-ibu itu, Teteh pikir nggak apa-apa..."
"Diam, Lis."
"Tapi..."
"Diam." Suara Mbak Sari rendah dan datar. "Jangan sampai ada yang denger."
Anindya berhenti di tikungan dengan keranjang gelas di pelukan. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa alasan yang bisa ia jelaskan. *Ibu-ibu mana? Ngomong apa?* Ia membuka mulut, hampir melangkah maju, tapi sesuatu menahannya. Bukan takut, hanya perasaan bahwa jika ia menyela sekarang, ia hanya akan mendapat jawaban yang disiapkan.
Ia mundur pelan-pelan tanpa suara. Di rak minuman, gelas-gelas berdenting lembut ketika ia menaruhnya satu per satu.
Dan di sela denting itu, ia menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui: bahwa sebagian dirinya, bagian yang paling lelah, sudah tahu sesuatu sedang disembunyikan darinya. Bahwa sakit yang ia rasakan sejak pagi bukan hanya karena sindiran. Melainkan karena dua perempuan yang pernah memeluknya itu, kini menatapnya seperti seseorang yang memikul sesuatu yang bukan miliknya.
---
Jam tiga kurang, seorang perempuan paruh baya dengan blus batik dan tas anyaman duduk di meja dekat jendela, memesan teh tawar dan sepiring nasi dengan ayam bakar.
Bu Ratna sudah dua tahun makan di Waroeng Sederhana. Ia selalu duduk di meja yang sama, selalu memesan menu yang sama, dan selalu meninggalkan piring yang bersih tanpa sisa. Hari ini ia makan lebih lambat dari biasanya, dengan mata yang sesekali melirik ke arah dapur.
Rafi mengantar tehnya dengan tangan sedikit gemetar. "Silakan, Bu."
"Terima kasih, Nak." Bu Ratna tersenyum sopan. "Mas Reyhan ada?"
"Ada, Bu. Di ruang kerja."
"Boleh Ibu bicara sebentar? Bukan soal makanan."
Rafi menelan ludah. Ia mengangguk terlalu cepat, lalu berjalan ke koridor dengan langkah yang jauh lebih tergesa dari biasanya. Di ujung lorong, ia mengetuk pintu ruang kerja dua kali.
Pintu terbuka. Reyhan berdiri di sana dengan kemeja kusut dan lingkar hitam di bawah mata.
"Ada apa, Raf?"
"Bu Ratna, Mas. Katanya mau bicara. Katanya bukan soal makanan."
Reyhan menatap Rafi sebentar. Lalu matanya bergerak ke arah ruang makan, tempat seorang perempuan berblus batik sedang menatap ke arah mereka dengan senyum yang terlalu lembut untuk berita baik.
Dan Reyhan tahu, tanpa perlu diberi tahu, bahwa surat bertanda tangan empat itu hanyalah pembukaan.
Ia melangkah keluar dengan punggung tegak dan dada yang terasa seperti ditekan batu. Karena untuk pertama kalinya sejak warung ini berdiri, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan: takut pada kebenaran yang akan ia dengar.
Bersambung ke Bab 15...