NovelToon NovelToon
Tangis Digerbang Pesantren

Tangis Digerbang Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ukhti nisa terpilih

Ukhti Nisa duduk meliuk lesu di bangku kayu luar sekretariat. Bahunya terkulai, tangannya memangku dagu dengan raut wajah yang benar-benar lunglai. Padahal, pengumuman nama-nama pengurus baru baru saja dibacakan, dan namanya terpilih masuk dalam jajaran pengurus OSIS—sebuah pencapaian langka mengingat ia masih santri baru di kelas 1.

Melihat juniornya menunduk lesu seperti kehilangan semangat hidup, Ukhti Maya yang melintas langsung menghampiri. Dengan senyum teduhnya yang selalu berhasil menenangkan suasana, Ukhti Maya duduk bersimpuh di samping Nisa.

"Kenapa, Nisa? Kok mukanya ditekuk begitu? Harusnya senang dong, baru kelas 1 sudah dipercaya masuk kepengurusan," panggil Ukhti Maya lembut.

Nisa mendongak pelan, menatap Ukhti Maya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa lelah dan beban pikiran yang menumpuk membuat pertahanannya runtuh. Ia meluapkan isi hatinya yang mengganjal.

"Nisa bingung, Ukhti Maya..." curhat Nisa dengan suara lirih dan bergetar. "Nisa kan baru kelas 1, belum paham apa-apa soal organisasi. Kenapa malah Nisa yang terpilih?"

Ukhti Maya menatap Nisa dengan penuh pengertian, mengelus pelan bahu adik kelasnya itu. "Nisa, pengurus senior dan ustazah memilih kamu tentu bukan tanpa alasan. Kamu itu pintar menggambar, kaligrafi kamu bagus sekali. Di bagian kesenian, bakat kamu itu sangat dibutuhkan. Kamu bisa ajari adik-adik atau teman-temanmu bikin dekorasi panggung, melatih kaligrafi... Lagian bagian kesenian itu ndak seberat tugas bagian keamanan atau pengajaran, Nisa."

Mendengar hiburan itu, Nisa bukannya tenang, justru makin memajukan bibirnya. Ia menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya ke dinding kayu dengan raut pasrah.

"Tapi tetap aja, Ty..." sahut Nisa mengeluh, nadanya benar-benar terdengar letih. "Harus ikut rapat dan kumpulan sampai malam... Belum lagi nanti harus bantu urus adik-adik yang lain pas ada acara. Nisa kan capek, Ty..."

Ukhti Maya terkekeh pelan melihat kepolosan dan rasa lelah Nisa yang begitu jujur. Ia sangat memahami perasaan santri kelas 1 yang mendadak diberi tanggung jawab besar di tengah padatnya jadwal hafalan dan sekolah.

Ukhti Maya mengulurkan tangan, menggenggam jemari Nisa yang terasa dingin.

"Ukhti paham banget rasanya, Nisa," tutur Ukhti Maya dengan nada bicara yang begitu mengayomi. "Dulu pas Ukhti pertama kali ditunjuk jadi pengurus, Ukhti juga kaget dan merasa capek banget. Rasanya mau nangis setiap habis rapat malam. Tapi percaya sama Ukhti, kamu ndak bakal jalan sendirian."

Ukhti Maya menatap mata Nisa dengan dalam dan penuh keyakinan.

"Di bagian kesenian, kamu punya tim. Ada kakak kelas 5 dan teman-temanmu yang bakal saling bantu. Kumpulan sampai malam itu cuma di awal-awal pas ada acara besar saja, ndak setiap hari kok. Dan urus adik-adik... Anggap saja itu cara Nisa buat berbagi kebaikan dan melatih kesabaran."

Ukhti Maya tersenyum manis, mengusap puncak jilbab Nisa. "Lelahnya pasti ada, Nisa. Tapi nanti pas kamu lihat hasil karya kaligrafimu dipajang di panggung besar, atau lihat adik-adik berhasil melukis gara-gara kamu ajari, rasa capek itu bakal berganti jadi rasa bangga yang luar biasa. Nisa pasti bisa, Ukhti yakin."

Nisa menatap Ukhti Maya. Kehangatan dan motivasi dari seniornya itu perlahan-lahan mengikis rasa panik dan lelah di dadanya. Meski masih ada rasa berat, Nisa akhirnya mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis di balik sisa keluhannya.

-----

Kabar gembira mengenai terpilihnya Nisa sebagai pengurus bagian kesenian menyebar cepat bagaikan angin sore di sepanjang lorong asrama. Santriwati kelas 1 yang biasanya dikenal pemalu dan pandai melukis itu kini resmi mengemban amanah baru di OSIS.

Di kamar Aira dan Nazwa, riuh celoteh girang langsung pecah begitu Nisa melangkah masuk menyeberangi ambang pintu.

"Selamat ya, Ty Nisa!" seru Aira, Nazwa, Rifa, dan Syifa serempak dengan nada suara melengking penuh antusias.

"Masya Allah, pengurus baru kita! Bagian kesenian lagi!" tambah Aira bersemangat sambil melompat kecil dari ranjangnya. "Selamat ya, Ukhti Nisa! Nanti kalau ada acara Muhadhoroh, dekorasi panggung kita pasti paling keren se-pondok!"

Namun, bukannya menyambut ucapan selamat itu dengan senyum bangga atau tawa lebar, Nisa justru menghentikan langkahnya di tengah kamar. Ia menarik napas panjang, lalu memasang muka amat sedih—bibirnya maju beberapa senti, matanya berkaca-kaca, dan badannya lemas seperti tidak bertulang.

BRUK!

Nisa menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur busa milik Nazwa, menutupi wajahnya dengan bantal.

Aira dan Nazwa yang tadinya hendak menyambut dengan tepuk tangan heboh mendadak membeku. Masing-masing saling pandang dengan raut bingung.

"Loh... Ukhti Nisa kenapa?" bisik Nazwa heran, pelan-pelan mendekati ranjang. "Orang-orang terpilih jadi pengurus pada sujud syukur, kok Ukhti Nisa malah mukanya melas banget kayak dompet di akhir bulan?"

Nisa pelan-pelan menurunkan bantalnya, menampilkan wajahnya yang memerah dan mata yang makin sembap.

"Aira... Nazwa... Jangan panggil 'Ukhti' dulu, Nisa mau nangis aja rasanya," rintih Nisa dengan suara parau yang amat dramatis. "Kalian ndak tahu penderitaan yang bakal Nisa hadapi mulai minggu depan..."

Aira duduk bersimpuh di samping Nisa, mengelus bahu senior terpilihnya itu penuh simpati. "Penderitaan apa, Ty? Katanya bagian kesenian seru, bisa megang cat warna-warni, melukis kaligrafi..."

"Seru dari mananya, Airaaa?!" potong Nisa gemas, duduk tegak dengan raut wajah paling merana di dunia. "Melukisnya sih seru! Tapi rapatnya itu loh! Tiap malam harus rapat sampai jam sebelas malam! Belum lagi nanti harus mikirin konsep dekorasi, harus ngatur adik-adik yang susah diatur, harus bolak-balik minta tanda tangan ke pengurus keamanan..."

Nisa memegang kepalanya dengan kedua tangan, menggeleng-geleng frustrasi.

"Nisa kan masih kelas satu, Aira! Nisa belum siap kehilangan jam tidur! Nisa baru aja mau menikmati hidup tenang di pondok, kok malah ditunjuk jadi pengurus? Gimana nanti nasib hafalan Nisa? Gimana kalau Nisa ketiduran pas rapat terus dihukum Ukhti Inggit?!" lanjut Nisa panjang lebar, meratapi nasibnya dengan penuh penghayatan.

Nazwa yang mendengar rentetan keluhan dramatis itu tak sanggup lagi menahan tawa. Ia menutupi mulutnya rapat-rapat, namun tawanya tetap meledak.

"Aduuh, Ukhti Nisa..." gelak Nazwa sambil memegang perutnya. "Tadi di luar kami dengar Ukhti Nisa habis curhat ke Ukhti Maya, katanya dibisiki kata-kata mutiara. Kok pas masuk kamar merananya makin menjadi-jadi?"

"Ukhti Maya kan cuma menghibur biar Nisa ndak pingsan di tempat!" balas Nisa membela diri, wajah sedihnya kini bercampur cemberut yang konyol. "Tapi kan yang bakal ngalami capeknya itu Nisa! Nanti kalau Nisa kurus gara-gara kurang tidur gimana?"

Aira menyenggol lengan Nisa pelan, menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan di balik tawa kecilnya.

"Ukhti Nisa, dengar Aira ya," ujar Aira lembut, menatap Nisa penuh keyakinan. "Nisa ndak bakal sendirian. Kalau nanti bagian kesenian butuh bantuan buat ngecat panggung atau nempel-nempel kertas kaligrafi, Aira sama Nazwa siap jadi pasukan bantu-bantu! Gratis, ndak usah dibayar!"

"Beneran, Ra?" mata Nisa berkedip polos, raut sedihnya mendadak surut sedikit.

"Beneran!" sahut Nazwa mantap. "Nanti kalau Ukhti Nisa capek rapat malam-malam, pas balik ke kamar, nanti Nazwa seduhin Milo hangat dari stok kami. Biar matanya segar lagi!"

Nisa menatap Aira dan Nazwa bergantian. Kehangatan dukungan dari teman-teman sekamarnya itu perlahan-lahan mencairkan rasa panik dan beban berat yang sempat menghimpit dadanya. Raut dramatis di wajah Nisa perlahan luluh, berganti dengan senyum tipis yang tulus.

"Awas ya kalau janji kalian cuma dibibir aja," ancam Nisa berpura-pura galak, walau matanya berkaca-kaca terharu. "Kalau Nisa ketiduran pas piket kesenian, kalian harus bangunkan!"

"Siap, Pengurus Kesenian Baru!" seru Aira dan Nazwa serempak sambil memberi hormat grak.

Satu kamar kembali meledak dalam tawa dan riuh gembira, menyambut babak baru perjuangan Nisa sebagai pengurus OSIS dengan penuh kehangatan dan kebersamaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!