Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Pekan berikutnya di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu datang bersama hembusan angin basah khas musim peralihan yang membawa aroma tanah basah dari celah-celah ventilasi. Keira menyambut pagi dengan perasaan yang jauh lebih lapang dari biasanya. Buku sketsa bersampul hitam tebal kini tersimpan rapi di laci meja, sementara layar ponsel retaknya tidak lagi diteror oleh kecemasan menunggu balasan revisi.
Draf ilustrasi kamar kecil dan senja yang ia perbaiki tempo hari telah disetujui sepenuhnya oleh Rian. Proses cetak zine independen bertema kontemplatif itu dikabarkan sudah masuk tahap akhir di salah satu percetakan lokal kecil di kota Bimantara. Meskipun belum ada nominal uang besar yang berpindah tangan, sebuah janji honor sederhana telah disepakati—cukup untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa garis-garis arsir di atas kertas kasar itu memiliki nilai riil.
Pagi itu, hari Selasa, Davin sudah berangkat kerja sejak pukul delapan setelah sempat berpesan agar Keira tidak terlalu lelah membereskan kamar karena cuaca di luar tampak mendung kelabu. Selepas kepergian kekasihnya, Keira menikmati kesunyian pagi sambil menyeruput teh hangat buatan sendiri.
Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama.
Pukul sepuluh lewat sepuluh menit, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekati pintu kamar kos, disusul ketukan keras yang tidak beraturan—bukan ketukan ringan tiga kali seperti kebiasaan Davin, melainkan ketukan bertalu-talu yang memecah keheningan koridor Jalan Melati.
Jantung Keira langsung melompat kaget. Tangannya yang memegang cangkir hampir saja terlepas.
Siapa yang datang siang-siang begini? Apakah Davin tertinggal dompet atau kunci ruangannya? pikir Keira panik, buru-buru meletakkan cangkir teh di atas meja, merapikan kerudungnya, lalu melangkah cepat menghampiri pintu kayu.
Ia membuka selot besi dan menarik daun pintu ke samping.
Bukan wajah Davin yang berdiri di ambang pintu. Seorang kurir paruh baya berjaket kain kusam dengan tas selempang besar tampak berdiri terengah-engah sambil menyeka peluh di dahinya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah amplop coklat berukuran sedang yang cukup tebal.
"Atas nama Mbak Keira?" tanya kurir itu dengan suara serak.
Keira mengerjap kaget, menatap amplop coklat tersebut dengan rasa tidak percaya. "Iya, benar, Pak. Saya sendiri."
"Ini ada kiriman paket dokumen dan sampel cetak dari penerbit Ruang Aksara Bimantara. Tolong tanda tangan di sini ya, Mbak," kata kurir itu sambil menyodorkan papan kecil dan bolpoin.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Keira membubuhkan tanda tangannya di kolom penerima. Setelah kurir tersebut menyerahkan amplop coklat itu dan berlalu pergi menyusuri koridor, Keira perlahan menutup pintu kayu kos, menguncinya rapat-rapat dari dalam, lalu menyandarkan punggungnya pada daun pintu.
Ia menatap amplop coklat tebal di tangannya. Logo kecil penerbit indie milik Rian tertera di sudut kiri atas amplop tersebut.
Langkahnya tertatih menuju meja plastik di sudut ruangan. Ia duduk bersila di atas karpet, lalu dengan hati-hati merobek bagian atas amplop coklat itu. Isinya langsung meluncur keluar ke atas permukaan meja: sebuah buku zine independen berukuran A5 dengan sampul kertas daur ulang berwarna coklat muda yang estetik, beberapa lembar stiker bertuliskan kutipan puisi, serta selembar surat kecil beramplop putih bersih.
Keira membuka surat beramplop putih itu terlebih dahulu. Tulisan tangan yang rapi langsung menyambut matanya:
“Halo, Kak Keira. Terima kasih banyak atas kerja sama yang luar biasa untuk edisi perdana zine kita ini. Buku ini sudah resmi cetak, dan sesuai janji kecil kita, ini sampel fisik buat Kakak. Di dalam amplop ini juga kutitipkan sedikit honor penjualan awal dari pre-order kemarin mungkin belum seberapa, tapi ini adalah hak Kakak sepenuhnya atas ilustrasi kamar senja yang indah itu. Salam hangat dari tim Ruang Aksara.”
Kalimat dalam surat itu dibaca Keira berulang-ulang hingga matanya terasa sedikit panas. Ia kemudian merogoh bagian dalam amplop coklat dan mendapati selembar uang kertas ratusan ribu rupiah yang terselip rapi di dalam lipatan kertas karton honor pertamanya dari hasil menggambar.
Bukan jumlah yang besar jika dibandingkan dengan uang belanja bulanan yang biasa diberikan Davin. Namun, makna yang terkandung di balik selembar uang dan buku zine di hadapannya jauh melampaui angka nominal apa pun di dunia.
Itu adalah buah dari keringatnya sendiri, bukti nyata dari kerja keras tangan dan pikirannya, hasil dari sebuah ruang kecil di dalam kepalanya yang ia bangun tanpa meminta izin atau bergantung pada siapa pun.
Untuk beberapa menit, Keira hanya duduk terpekur menatap amplop coklat tersebut, membiarkan rasa haru menyapu bersih sisa-sisa keraguan yang selama ini menghantui hari-harinya.
Menjelang sore hari, cuaca di luar berubah drastis. Langit Kota Bimantara yang tadinya mendung kini benar-benar tumpah dalam bentuk hujan deras yang menderu-deru, menghantam atap seng kos dan menggenapi Jalan Melati dengan genangan air kecoklatan.
Di tengah deru hujan sore itu, suara motor matic Davin terdengar memasuki halaman kos. Ketukan tiga kali di pintu kayu menyusul beberapa detik kemudian, terdengar lebih cepat dari biasanya karena lelaki itu berusaha berteduh dari amukan air hujan.
Keira yang sedari tadi sudah merapikan buku zine dan menyimpan uang honornya di bagian paling dasar tumpukan diktat kuliah langsung bangkit dengan tenang. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan degup jantungnya, lalu melangkah membukakan pintu.
Davin berdiri di ambang pintu dengan jas hujan plastik transparan yang basah kuyup.
Rambutnya basah, kemejanya lembap di bagian bahu, dan wajahnya menyiratkan kelelahan yang luar biasa pekat.
"Wah, parah banget hujan di jalan, Kei. Untung aku sempat ngebut sebelum makin lebat," sapa Davin terengah-engah, melepas sepatunya dengan cepat dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Keira segera mengambilkan handuk kering dan menyerahkannya kepada kekasihnya.
"Duh, basah kuyup begitu, Vin. Sini handukan dulu, nanti masuk angin."
Davin menerima handuk tersebut, mengusap kepala dan lehernya kasar, lalu menjatuhkan diri ke tepi kasur dengan helaan napas berat.
"Capek banget, Kei. Proyek audit cabang Bandung benar-benar bikin gila minggu ini. Besok adalah hari penentuan penyerahan laporan akhir ke kantor pusat, dan dari tadi siang si Nadia malah bikin ulah lagi di kantor."
Mendengar nama Nadia disebut di tengah keletihan Davin, Keira menghentikan sejenak gerakannya merapikan sepatu basah kekasihnya. Ia menoleh perlahan ke arah Davin yang kini sedang memijat pelipisnya dengan mata terpejam.
"Ada apa lagi sama Nadia, Vin?" tanya Keira pelan, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar netral dan penuh perhatian seperti biasa.
"Dia salah input data lampiran rekapitulasi aset inventaris cabang, padahal itu bagian paling krusial yang harus dicek ulang sebelum laporan dicetak," gerutu Davin dengan nada suara tertahan, menumpahkan kekesalannya tanpa ragu.
"Aku terpaksa harus tegur dia keras di depan anak-anak divisi keuangan tadi sore. Bikin suasana kantor tegang banget menjelang jam pulang."
Keira mendengarkan keluhan itu sambil mengangguk-angguk kecil. Ia tahu persis betapa melelahkannya tekanan pekerjaan yang sedang dipikul Davin. Di permukaan, ia tetaplah perempuan yang setia mendengarkan, merawat, dan menjadi tempat pelarian paling aman bagi lelaki itu dari segala kekacauan dunia luar.
Ia berjalan mendekat, mengambil tempat duduk di samping Davin, lalu mengusap punggung kekasihnya dengan lembut untuk meredakan amarah yang masih membakar dada lelaki itu.
"Sabar, Vin. Besok kan hari terakhir penyerahan laporannya. Setelah itu semuanya bakal selesai, dan kamu bisa istirahat total," bujuk Keira tulus.
Davin membuka matanya, menatap wajah Keira yang begitu sabar menenangkan dirinya. Garis-garis ketegangan di wajah lelaki itu perlahan-lahan mencair. Ia menarik tangan Keira, lalu mengecup telapak tangan itu dengan penuh rasa syukur.
"Makasih ya, Kei... Cuma sama kamu aku bisa waras lagi," ucap Davin lirih, menyandarkan kepalanya di bahu Keira.
Keira membalas pelukan itu dengan senyuman hangat di bibirnya. Ia memainkan jemarinya di atas bahu Davin, menjadi perempuan penurut yang menenangkan.
Namun, di dalam sela-sela tumpukan diktat kuliah di sudut meja di bawah tumpukan buku yang sama sekali tidak tersentuh oleh curahan hati Davin amplop coklat berisi buku zine dan honor pertama itu bersemayam diam-diam.
Dunia Davin sedang berkejaran dengan badai besar laporan kantor, angka-angka audit, dan ketegangan bersama rekan kerjanya di luar sana. Dan Keira, di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter ini, kini memiliki denyut nadinya sendiri sebuah dunia rahasia di atas kertas yang mulai bernapas, menghasilkan karya, dan membuktikan bahwa ia tidak lagi hidup dalam kehampaan.