NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:88.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

SEMBILAN TAHUN LALU

Hari itu, hari kedua Budi menjadi mahasiswa. Kampus terasa begitu ramai pagi itu karena masih momen ospek. Mahasiswa berlalu-lalang, sementara suara tawa dan obrolan memenuhi hampir setiap sudut halaman.

Budi berjalan tergesa-gesa karena ia hampir telat.

“Permisi… permisi…”

Saat berbelok di persimpangan gedung fakultas, seseorang tiba-tiba muncul dari arah berlawanan.

Bruk!

Map yang dibawa perempuan itu terjatuh, isinya berserakan.

“Maaf!” Budi refleks berjongkok dan membantu memunguti lembaran-lembaran yang entah apa itu. “Maaf, saya nggak sengaja.”

Perempuan itu ikut berjongkok. “Tidak apa-apa. Aku juga tadi nggak lihat.”

Untuk pertama kalinya, Budi melihat wajahnya dari dekat. Dan seketika…Budi diam.

Perempuan itu memiliki rambut hitam panjang yang tergerai melewati bahu. Wajahnya cantik, tetapi bukan sekadar cantik. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Budi lupa bagaimana caranya berbicara.

“Sini." Perempuan itu mengulurkan tangan, meminta kertasnya yang ada di tangan Budi.

Budi masih menatapnya.

“Kamu dengar gak?”

“Hah?”

Perempuan itu berdecak. “Aku bilang, siniin."

“Oh…” Budi buru-buru menyerahkan lembaran kertas tersebut. “Ini."

Setelah menerimanya, perempuan itu merapikan rambutnya, lalu pergi begitu saja.

Budi masih berdiri di tempatnya. Matanya mengikuti langkah perempuan tersebut sampai sosoknya menghilang di balik gedung.

“Gila…” Budi menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya berdetak tidak normal. "Cantik banget."

“Bud!”

Tepukan di bahunya membuat Budi tersentak. Adit, mahasiswa baru yang merupakan teman SMA nya dulu, menatap Budi. “Ngapain bengong?”

Budi menunjuk ke arah perempuan yang baru saja pergi. “Itu siapa?”

Temannya langsung tertawa. “Serius nggak tahu?”

Budi menggeleng. “Itu Kak Jena.”

“Jena?”

“Iya. Kak Jena. Dia senior terkenal di kampus ini. Cantik, pintar, aktif organisasi, dan panitia ospek juga."

"Hah!" Budi kembali menatap ke arah perempuan tadi, kok kemarin dia gak lihat.

“Kemarin kayaknya dia telat deh, jadi gak ikut pas pembukaan ospek. Ayo ah, kita harus segera kumpul." Adit menarik lengan Budi.

“Kenapa lo senyum-senyum?”

“Nggak apa-apa.” Padahal dalam hati, ia sudah mengakui sesuatu yang bahkan terlalu cepat untuk disebut cinta. Ia jatuh hati, pada pandangan pertama.

Hari-hari berikutnya, Budi mulai sering melihat Jena dari kejauhan. Di kantin, di perpustakaan, di halaman kampus, di depan ruang organisasi dan dimana pun.

Kadang Jena sedang tertawa bersama teman-temannya. Kadang sibuk membawa tumpukan berkas. Kadang berjalan terburu-buru sambil mengikat rambutnya.

Budi tidak pernah punya keberanian untuk menghampiri. Mereka bahkan tidak pernah benar-benar berkenalan. Hanya pernah bertabrakan di lorong kampus. Hanya pernah saling bertukar beberapa kalimat. Namun bagi Budi, pertemuan singkat itu terasa seperti sesuatu yang istimewa.

Setiap kali mendengar seseorang menyebut nama Jena, tanpa sadar kepalanya akan menoleh. Dan ketika melihat perempuan itu dari kejauhan, jantungnya selalu berdetak sedikit lebih cepat.

Entah itu sebuah keberuntungan untuk Budi, atau hari sial Jena, untuk kedua kalinya, takdir membuat mereka kembali saling berinteraksi.

Hari itu kampus benar-benar berbeda. Lapangan utama dipenuhi mahasiswa dari berbagai fakultas. Spanduk warna-warni terbentang di antara gedung, suara musik terdengar dari pengeras suara, sementara sorak-sorai penonton menggema setiap kali pertandingan berlangsung.

Pekan olahraga kampus selalu menjadi salah satu acara terbesar setiap tahun.

Budi yang baru selesai mengikuti pertandingan basket, duduk di pinggir lapangan sambil mengatur napas, menonton tim berikutnya yang bertanding.

Kausnya basah oleh keringat. Namun bukan pertandingan di lapangan yang membuat perhatiannya tertuju.

Jena.

Perempuan itu terlihat mengenakan kaus panitia, berdiri di dekat meja pertandingan sambil membawa clipboard.

Budi tersenyum sendiri. Entah kenapa, di antara ratusan orang, matanya selalu berhasil menemukan Jena.

Ia memperhatikan Jena yang sedang sibuk mengatur beberapa panitia.

“Budi!”

Teriakan temannya membuat ia menoleh.

“Ayo foto bareng!”

“Nanti.”

“Kamu lihat apa sih?”

“Enggak.”

Temannya mengikuti arah pandang Budi.

“Oh…” Ia langsung tertawa. “Jena lagi, Jena lagi. Dia udah punya pacar, Bud."

Budi tersenyum simpul. Meski tahu Jena sudah punya pacar, rasa itu tak pernah hilang, ia masih tetap mengagumi gadis itu, meski Jena sekali pun tak pernah melihatnya.

Tama menyodorkan sebotol air mineral pada Budi. "Coba kalau lo berani, kasih air minum ini pada Jena."

"Jangan ah, gak enak sama pacarnya," tolak Budi.

"Cuma ngasih minum. Lagian pacarnyakan gak kuliah disini. Ayo, Bud! Buruan!"

"Gak ah, entar ada yang ngadu."

"Cemen lo!"

"Bukan cemen, tapi gak mau ntar dikira merebut cewek orang."

"Lah elo, udah tahu cewek orang, masih aja elo taksir." Tama geleng-geleng. "Eh, noh si Ghea datang, pasti mau bawain lo minum, dia kan naksir lo." Menatap gadis cantik yang berjalan ke arah mereka.

"Males ah." Budi buru-buru bangkit untuk menghindari Ghea. "Sini air minumnya." Menyambar botol di tangan Tama, lalu menghampiri Jena.

"Beneran nekat nih anak." Budi yang maju, Tama ikut deg-degan.

Sebagai salah satu panitia, Jena berada di sisi lapangan untuk memastikan jalannya pertandingan tetap tertib.

Saat seorang pemain melakukan lemparan keras, bola melesat keluar lapangan. Bola itu mengarah tepat ke tempat Jena berdiri.

“Jena!” Seseorang berteriak.

Jena menoleh. Terlambat.

Budi yang kebetulan sudah berada dekat dengan Jena, langsung menarik Jena ke arahnya.

Duk!

Bola menghantam tiang besi tepat di belakang mereka.

Jena syok, nafasnya naik turun.

Budi masih memegang bahunya, menatap dari dekat. “Kamu nggak apa-apa?”

Jena terdiam, kemudian menggeleng.

Budi menghela napas lega. “Syukurlah.”

Jena melihat ke arah tiang yang baru saja dihantam bola. Kalau cowok di depannya terlambat beberapa detik saja. “Aku tadi hampir kena?”

“Iya.”

Jena menatap Budi, mata mereka bertemu, cukup lama.

“Lo gak papa kan, Jen?"

Suara Ana menyadarkan Jena. Ia buru-buru menyingkirkan tangan Budi di bahunya.

"Enggak, aku gak papa."

"Untunglah. Ke dalam aja, mending kamu istirahat."

"Makasih ya." Jena menatap Budi.

“Lain kali jangan berdiri terlalu dekat lapangan.”

Jena mengangguk, lalu pergi bersama Ana.

Meski sudah bertahun-tahun, Budi tak pernah bisa melupakan kejadian tersebut, tapi Jena, sepertinya beberapa kali momen tak terduga bersama Budi, sama sekali tak berarti, menguap begitu saja.

1
Diana Fitri.N
semangat kak semangat up nya 🥰,
Shee_👚
emang itu tugas suami jena. budi juga punya harga diri. dan menikah bukan sebuah permainan
Shee_👚
😄😄😄😄
Shee_👚
yuk jujur bud, tapi jangan lah nanti jena ke GeEr an🤣
Shee_👚
nah lebih baik seperti itu, dari pada di awal dah bikin perjanjian nikah. lebih baik nikah beneran kalau emang gak cocok ya dan pisah.
Shee_👚
bungkam bud pake bibir biar gak ngomong mulu😂
Shee_👚
jena ampe setakut itu nikah ya😭
bukan karena cerita orang lain tapi dia mengalami sendiri, dan melihat ibunya tersakiti karena perbuatan bapaknya😭
Aprisya
Jena jebakan badman kamu jen🤣🤣🤣🤣
dyah EkaPratiwi
ayo pertimbangkan Budi jen
Septi
selama pernikahan usaha dapetin hati Jena aja bud.. semangat 💪🏻🤭
Septi
jiahhhh Budi di kamar pujaan hati 🤣
Septi
bisa jadi selamanya 😅
Septi
benar sekali 🤣🤣
Septi
langsung curiga aja ya.. udah hafal benget kayaknya 🤭
Rahmawati
untung budi paham agama, pernikahan bukan sesuatu yg bisa dipermainkan
Ummah Intan
good Budi
Ummah Intan
cewek lamar cowok,Budi emang limited edition
Ummah Intan
terima aja Bud dan setelah resmi kerja jd suami Jena buat dia jatuh cinta ma kamu
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Udah Jen nikah beneran aja Budi g bakal ngecewain kamu.
G bakal selingkuh karena dia udah lama suka sama kamu.
Mau g yah si Jenna????
Ass Yfa
gentian Jena yg shock🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!