Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 7
Keesokan harinya, suasana di toko perhiasan ternama di pusat perbelanjaan tampak tenang. Cahaya lampu kristal memantul indah di atas etalase kaca yang memajang deretan cincin berlian mewah.
Niken melangkah dengan gaya anggunnya, menatap satu per satu perhiasan di balik kaca. Khadafy berjalan di sampingnya dengan kedua tangan masuk ke saku celana bahan, ekspresi wajahnya datar meski tetap mendampingi. Khadafy kembali di buat kesal saat menjemput Calrissa, karena calon istrinya itu masih mengenakan pakaian terbuka.
Walau Khadafy sudah mengingatkan, namun Niken tetap saja memiliki alasan yang membuat Khadafy menghindari pertengkaran.
"Mbak, tolong keluarkan cincin berlian yang itu!" tunjuk Niken antusias pada sebuah cincin emas putih dengan mata berlian solitaire yang berukuran cukup besar.
Pegawai toko tersenyum ramah, mengambilkan cincin tersebut menggunakan sarung tangan kain hitam.
"Silakan, Mbak. Ini salah satu koleksi exclusive limited edition kami. Ukurannya size 13."
Niken langsung mencobanya ke jari manis tangan kanannya. Namun, baru sampai di buku jari, cincin itu tersangkut. Niken memaksa mendorongnya masuk hingga kulit jarinya memerah.
"Aduh..." ringis Niken pelan, lalu tertawa kecil menutupi kecanggungannya.
"Agak sempit ya, Mbak?"
"Iya, Mbak Niken. Ukuran jari Mbak sepertinya size 14. Cincin yang ini ukurannya size 12 dan kebetulan model ini tidak bisa di resize karena tatanan berlian di sekeliling jalurnya cukup sensitif," jelaskan pegawai toko dengan sopan.
Khadafy melirik jari Niken yang tampak terjepit dan memerah. "Niken, jangan dipaksa. Cari model lain saja yang ukurannya pas. Masih banyak pilihan di etalase lain."
"Enggak mau, Mas!" sahut Niken cepat, memprotes keras. Ia terus memutar dan menekan cincin itu hingga akhirnya berhasil masuk, meski kini jarinya tampak bengkak dan memerah parah.
"Lihat deh! Bagus banget kan di tanganku? Ini berliannya besar, kelihatan mewah banget kalau dipake pas pesta nanti!"
"Niken, itu jarimu sampai merah begitu," Khadafy memijat pangkal hidungnya, rasa lelah kembali melingkupi dadanya.
"Cincin nikah itu dipakai seumur hidup, bukan cuma buat pamer saat resepsi. Kalau kekecilan begitu, jarimu bisa sakit dan peredaran darahmu terganggu."
"Ya ampun, Mas Khadafy! Cuma agak ketat dikit aja kok heboh banget sih?" sungut Niken sambil mengagumi jarinya di bawah lampu etalase.
"Nanti aku tinggal diet dikit atau pakai sabun pas mau lepas. Yang penting aku mau cincin yang ini! Aku enggak mau model lain yang berliannya lebih kecil, nanti kelihatan biasa banget!"
Pegawai toko tampak serba salah. "Maaf, Mbak... tapi kalau dipaksa pakai terus-menerus, jarinya bisa membengkak dan nanti lepasnya harus dipotong—"
"Mbak enggak usah ikut campur ya!" potong Niken ketus, menatap tajam pegawai toko itu. Lalu ia beralih menatap Khadafy dengan mata memohon yang dibuat-buat. "
Mas, usahakan dong! Ini kan hari bahagia kita. Masa untuk cincin impian aku sendiri kamu enggak mau turuti? Kan kamu yang bayar! Aku bisa diet dan past cincin ini cukup!"
Khadafy menatap Niken lekat-lekat. Dalam diamnya, ia teringat bagaimana Niken selalu memaksakan kehendak tanpa peduli rasa sakit atau dampaknya—sama seperti bagaimana perempuan ini dan ibunya menuntut Zheana bekerja tanpa henti hingga kelelahan. Ego dan gengsi selalu berada di atas segalanya.
"Mbak, bungkus yang ini saja. Mas Khadafy yang bayar," bayar Niken tanpa menunggu persetujuan Khadafy lagi, menyodorkan kartu kredit milik Khadafy yang memang sempat dipinjamnya.
Khadafy hanya mendesah pelan, menahan kekecewaan yang makin menumpuk. Lagi-lagi, ia memilih diam daripada harus memicu keributan di tempat umum.
Khadafy tidak mengambil kembali kartu itu dari tangan pegawai toko. Ia hanya mengamati jemari Niken yang kini mulai memerah di sekitar cincin ketat tersebut. Rasa lelah di hatinya kian menumpuk, mengikis sisa kesabaran yang sengaja ia pertahankan sejak semalam.
Setelah transaksi selesai dan kuitansi ditandatangani, Niken berjalan keluar dari toko perhiasan mewah itu dengan dagu terangkat bangga. Tangannya mengayun, memamerkan cincin yang menyiksa jarinya sendiri di bawah sorotan lampu mall. Cincin yang akan di gunakan nanti saat pernikahan mereka.
"Yuk, Mas! Sekarang antar aku ke..." Niken menggantung kalimatnya, melirik jam tangan mewahnya seraya berpura-pura kaget.
"Eh, tunggu dulu deh, Mas."
Khadafy menghentikan langkahnya, menatap Niken datar. "Kenapa?"
"Kamu duluan aja deh pulangnya. Aku ada urusan mendadak," sahut Niken cepat seraya mengibaskan rambutnya.
Alis Khadafy bertaut. "Urusan apa? Bukannya hari ini agenda kita cuma cari cincin dan kamu janji mau langsung istirahat di rumah sebelum acara pernikahan kita lusa?"
"Aduh, Mas... ini penting banget. Aku mau ketemu sama manager aku sebentar di kafe lantai bawah. Pembahasan proyek foto terakhir sebelum aku libur panjang buat nikahan kita," dalih Niken dengan nada manis yang terkesan dipaksakan.
Khadafy menatap pakaian Niken dari atas ke bawah, atasan crop top bertali spageti yang memperlihatkan bahu dan perutnya secara terbuka, dipadukan dengan celana ketat. Penampilan yang tadi pagi sempat memicu perdebatan kecil di mobil.
"Biar aku antar ke kafenya. Sekalian aku sapa managermu," tawar Khadafy dingin.
"Nggak usah, Mas!" potong Niken cepat, sedikit terlalu panik hingga suaranya meninggi. Menyadari reaksi berlebihannya, ia menepuk lengan Khadafy lembut.
"Maksud aku... nggak perlu repot-repot, Mas Khadafy sayang. Pembahasannya santai kok, cuma urusan internal agency. Kamu kan sibuk, mending balik ke kantor atau istirahat. Aku nanti bisa pulang naik taksi online."
Khadafy menatap manik mata Niken lekat-lekat, menangkap riak kegelisahan di sana. Ada keraguan membayang di benaknya, namun melihat sikap Niken yang begitu keras kepala, Khadafy memilih tidak memperpanjang perdebatan.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Hati-hati," ucap Khadafy singkat.
"Pasti, Mas! Makasih ya udah beliin cincin impian aku!" Niken berjinjit, mendaratkan kecupan cepat di pipi Khadafy sebelum berbalik dan melangkah terburu-buru menuju eskalator turun.
Khadafy tidak langsung pergi. Instingnya menolak untuk percaya begitu saja. Ia melangkah pelan memandangi Niken dari lantai atas, mengikuti pergerakan calon istrinya yang tampak setengah berlari menelusuri lorong mall.
Bukannya menuju kafe yang biasa digunakan agency tempat Niken bernaung, langkah Niken justru berbelok menuju sebuah restoran remang-remang yang berada di sudut lantai bawah.
Di sana, di salah satu meja booth yang tersembunyi, seorang pria bertubuh kekar dengan kemeja agak terbuka dan tatanan rambut klimis sudah menunggu. Pria itu bukan manager Niken yang dikenal Khadafy.
Dari lantai atas, Khadafy memperhatikan dengan jelas bagaimana wajah Niken mendadak berbinar tanpa beban. Tidak ada raut tegang atau penyesalan seperti yang ia perlihatkan di rumah semalam. Niken langsung mendaratkan tubuhnya di samping pria itu, bersulang gelas minuman, dan tertawa lepas.
"Ada apa Rico kamu mau ketemu sama aku?" tanya Niken.
"Aku mau memberikan ini padamu... Tiket impianmu ke paris,"
"Paris? Rico, apa kamu serius?" tanya NIken tak percaya. Dari lama impiannya adalah bisa debut di Paris.
"Mana mungki aku berbohong masalah ini, ini adalah impian kamu, Niken. Dan aku sudah berusaha mewujudkannya. Sekarang tergantung kamu, mau ambil atau tidak..."
"Kapan?"
"Dua hari lagi..."
"Itu hari dimana aku harus menikah, Rico..."
"Aku tahu, aku juga sebenarnya agak ragu memberikan ini padamu. Tapi aku harus memberikan ini. Yang terpenting aku pernah mengusahakan ini untuk kamu, Niken..."
"Semua tergantung dari keputusan kamu... Kesempatan ini tak akan pernah datang dua kali,"
"Tapi aku akan menikah dengan Khadafy... Semua sudah di siapkan..."
Khadafy tak bisa lama melihat interaksi mereka karena ada panggilan dari kantor.