NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama di Bawah Atap Joglo

Matahari tenggelam dengan cepat di langit Surakarta, meninggalkan bias warna jingga tua yang perlahan berubah menjadi kelam. Langit malam di dusun pinggiran kota itu terasa jauh lebih luas dan sunyi dibandingkan langit London yang selalu diterangi lampu sorot kota metropolitan. Tidak ada deru mobil kencang atau suara sirine ambulans; yang terdengar hanyalah simfoni malam khas pedesaan tropis—derik jangkrik, desau angin yang menggesek daun-daun pohon mangga, dan sesekali suara cicak di sudut-sudut kayu joglo.

Martha duduk di atas sebuah dipan kayu jati berukir klasik di dalam kamar tamu dalam Rumah Joglo Setiawan. Kamar itu berukuran cukup luas, dengan dinding bata ekspos yang dicat putih bersih, jendela berjeruji kayu jati antik, serta aroma khas kayu tua bercampur wangi dupa tipis yang dibakar di sudut ruangan. Di atas meja kecil di samping tempat tidur, sebuah lampu tidur berpijar kekuningan memancarkan cahaya temaram yang hangat.

Ia baru saja selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian ganti yang lebih longgar—sebuah dres katun polos berlengan panjang berwarna biru muda yang dibawanya dari London. Rambut cokelat madunya yang basah tergerai bebas di atas bahunya.

Meskipun lelah luar biasa setelah penerbangan panjang melintasi benua, mata Martha masih terbuka lebar. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai bayangan dan kecemasan. Siang tadi, sambutan para warga dusun memang ramah, tidak ada caci maki seperti di Inggris. Namun, sorot mata penuh tanya dari para sesepuh, perbedaan kebiasaan, serta ketidaktahuannya tentang aturan adat istiadat setempat membuat dadanya diliputi rasa asing yang mendalam.

Apakah aku benar-benar bisa bertahan di sini? batin Martha gamang. Di tempat di mana aku adalah orang asing yang paling mencolok?

Ketukan pelan di pintu kayu kamar memecah keheningan.

"Martha?" suara bariton Adnan terdengar lembut dari balik pintu.

Martha segera bangkit dari dipan dan membukakan pintu. Adnan berdiri di ambang pintu dengan mengenakan sarung tenun kotak-kotak berwaran cokelat tua dan kemeja koko putih lengan pendek. Wajah pria itu tampak lelah setelah seharian membereskan ruang kerja di bagian belakang joglo dan menemui beberapa pengurus yayasan, namun sorot matanya tetap memancarkan keteduhan yang sama. Di tangannya, Adnan membawa sebuah nampan kecil berisi segelas teh hangat melati dan semangkuk kecil kue tradisional wedang ronde.

"Belum tidur?" tanya Adnan tersenyum tipis, melangkah masuk setelah Martha mengangguk memberi izin.

"Belum," jawab Martha lirih, menarik napas pelan. "Aku masih mencoba menyesuaikan diri dengan suasana di sini. Semuanya begitu... berbeda, Adnan. Sunyi, tapi di saat yang sama kepalaku terasa penuh dengan ribuan pertanyaan."

Adnan meletakkan nampan di atas meja kayu, lalu berbalik menatap Martha lekat-lekat. Pria itu menyadari betapa besar beban adaptasi yang harus ditanggung oleh wanita di hadapannya itu—seorang wanita yang seumur hidupnya terbiasa dengan fasilitas modern London, kini harus melebur ke dalam denyut kehidupan dusun tradisional Jawa.

"Saya tahu ini tidak mudah, Martha," kata Adnan lembut, mendekat dan menggenggam tangan Martha yang terasa dingin. "Perubahan ini terlalu cepat dan ekstrem untuk Anda. Tapi ingatlah, Anda tidak sendirian di sini."

Martha mendongak, menatap mata hitam legam Adnan yang selalu menjadi tempat paling aman baginya. "Bagaimana kalau warga dusun ini tidak bisa menerimaku, Adnan? Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan adat yang menyinggung perasaan mereka? Aku tidak tahu apa-apa tentang tata krama Jawa yang rumit."

Adnan tersenyum menenangkan. Ia merangkul pundak Martha pelan, membimbingnya duduk di tepi dipan.

"Aja kebacut kuwatir," bisik Adnan lembut, menggunakan bahasa Jawa yang penuh penegangan menenangkan. (Jangan terlalu khawatir). "Masyarakat di sini berhati tulus. Mereka mungkin kaku pada awalnya karena belum pernah melihat orang luar tinggal di lingkungan mereka. Tapi ketulusan dan niat baik seseorang selalu bisa dibaca dari bahasa tubuh dan senyuman, bukan dari seberapa paham orang itu pada aturan adat."

Adnan menyodorkan segelas teh melati hangat ke tangan Martha. Aroma harum bunga melati langsung menguar, memberikan sensasi relaksasi yang seketika menghangatkan tenggorokan Martha saat ia menyesapnya perlahan.

"Minumlah. Ini teh melati asli racikan Paklik Harjo," lanjut Adnan. "Dan besok pagi, saya akan mengajak Anda berkeliling dusun, mengenalkan Anda pada lingkungan sekitar, dan perlahan-lahan menunjukkan keindahan tempat ini—bukan sebagai orang asing yang terasing, tapi sebagai bagian dari rumah ini."

Mendengar kata-kata itu, ketegangan di dada Martha sedikit mencair. Ia meletakkan gelas tehnya, lalu menyandarkan kepalanya ke dada bidang Adnan. Pria itu langsung memeluknya erat-erat, membelai lembut rambut cokelat madu Martha dengan penuh kasih sayang. Di dalam pelukan itu, Martha merasa bahwa seberat apapun rintangan kultural di tanah Jawa ini, keberadaan Adnan adalah jangkar yang membuat dunianya tetap seimbang.

Keesokan paginya, matahari terbit di atas atap joglo memancarkan cahaya keemasan yang menembus celah-celah dedaunan pohon mangga. Suara kokok ayam jantan bersahutan di kejauhan, berpadu dengan suara sapu lidi yang digoreskan di atas halaman berpasir oleh Mbok Jum, seorang wanita paruh baya tetangga sebelah yang datang membantu membersihkan pendopo joglo.

Martha terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar. Ia mengenakan pakaian sederhana berupa celana linen panjang berwarna krem dan kemeja katun tipis berlengan panjang yang rapi.

Ketika ia melangkah keluar kamar menuju ruang tengah joglo yang terbuka, ia mendapati Adnan sedang duduk bersila di atas tikar pandan, mengenakan sarung dan kaus putih polos, khusyuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara baritonnya yang merdu dan tenang. Gema bacaan itu berpadu dengan angin pagi yang sejuk, menciptakan atmosfer spiritual yang begitu damai di dalam Rumah Joglo tersebut.

Martha tertegun sejenak di ambang pintu. Ia berdiri diam, menikmati keindahan dan ketenangan yang belum pernah ia saksikan secara langsung setiap pagi selama hidupnya di London. Di titik itu, Martha semakin memahami mengapa Adnan memiliki ketenangan jiwa yang begitu kokoh—semuanya berakar dari keyakinan dan kedisiplinan spiritual yang dijaganya setiap hari.

Sadar akan kehadiran Martha di dekatnya, Adnan menghentikan bacaannya, merapikan kitab suci di atas meja kecil, lalu menoleh dan tersenyum ramah.

"Selamat pagi, Martha," sapa Adnan hangat. "Sudah siap untuk berjalan-jalan pagi menyusuri dusun?"

Martha membalas senyuman itu dengan tulus. "Selamat pagi, Adnan. Ya... aku siap."

Beberapa menit kemudian, mereka berdua melangkah keluar gerbang Rumah Joglo, menyusuri jalan setapak berbatu kerikil yang membelah area pesawahan hijau yang terbentang luas di bawah langit pagi Solo. Udara pagi terasa begitu segar tanpa polusi kendaraan bermotor. Di kejauhan, siluet megah Gunung Merapi dan Merbabu tampak menjulang membiru di balik kabut tipis cakrawala.

Beberapa petani dusun yang sedang berjalan membawa cangkir bambu atau menuntun sepeda tua tampak berpapasan dengan mereka. Saat melihat Adnan, para petani itu mengangguk takzim sambil menyapa ramah dalam bahasa Jawa halus, "Monggo, Den Adnan..."

Dan ketika pandangan mereka beralih ke arah Martha, mereka tidak menunjukkan tatapan sinis atau menghakimi. Sebagian besar dari mereka justru tersenyum ramah, menganggukkan kepala menyambut kehadiran wanita asing tersebut dengan kesantunan khas pedesaan Jawa.

Martha membalas senyuman para petani itu dengan membungkukkan sedikit kepalanya, mengikuti isyarat yang diajarkan Adnan. Rasa cemas yang sempat mencengkeram dadanya semalam perlahan-lahan menguap, digantikan oleh kehangatan kultural yang tak terduga.

Di tengah perjalanan pematang sawah itu, Adnan menggenggam tangan Martha erat-erat.

"Bagaimana?" tanya Adnan melirik lembut. "Masih takut?"

Martha menggeleng pelan, senyuman lebar terkembang di bibirnya. Ia menghirup udara pagi Solo dalam-dalam. "Tidak, Adnan. Ternyata... tanah ini tidak sekejam yang kuugkapkan dalam kepalaku."

"Karena cinta dan ketulusan selalu punya cara sendiri untuk diterima di mana pun ia berada," jawab Adnan mantap.

Namun, di balik kedamaian pagi itu, mereka berdua belum tahu bahwa badai yang sebenarnya tidak datang dari para petani dusun yang ramah, melainkan dari silsilah keluarga besar Adnan yang memegang teguh tradisi leluhur dan hukum agama—yang sebentar lagi akan menguji sejauh mana hubungan lintas dunia mereka mampu bertahan di bawah atap tanah leluhur.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!