Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bidak Jatuh
Ruang makan Kekaisaran tampak megah seperti biasa, dipenuhi aroma hidangan hangat yang baru saja disajikan.
Mo Yuuran dan Kaisar Zi Xuan duduk berdampingan, sementara para pelayan bergerak rapi menata makanan di atas meja panjang.
Itu adalah pertama kalinya mereka makan bersama berdua. Biasanya mereka baru akan bersama jika memenuhi acara formal istana.
Mo Yuuran tersenyum manis, sesekali melirik ke arah suaminya dengan tatapan yang sulit ditebak.
Zi Xuan hanya diam, menatap wanita di sampingnya dengan sorot mata dalam. Ia tentu menyadari perubahan sang permaisuri sejak bangun dari kecelakaan itu.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang terasa canggung.
Mo Yuuran akhirnya memecah suasana dengan suara lembut namun penuh makna. “Zi Xuan bolehkah aku meminta sesuatu?”
Zi Xuan langsung menoleh, alisnya terangkat tipis. Ekspresinya berubah dingin dalam sekejap, seolah sudah menebak maksud di balik sikap manis itu. “Jadi, semua sikap baikmu ini hanya karena kau menginginkan sesuatu?”
Mo Yuuran menggeleng pelan, wajahnya tetap tenang. “Tidak, kali ini aku tulus,” ucapnya jujur, meski sorot matanya menyimpan sesuatu yang lain. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, “Namun, permintaan ini memang berbeda.”
Zi Xuan menyandarkan tubuhnya, menatapnya penuh selidik. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya singkat, tanpa melepas pandangan.
Tanpa ragu, Mo Yuuran langsung menyampaikan maksudnya. “Tambang emas atas namaku aku ingin seluruh hasilnya dikembalikan kepadaku, bukan lagi dialihkan ke Kediaman Mo.” Suaranya terdengar tegas, jauh dari nada manja sebelumnya.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin. “Dan aku juga ingin semua pasokan makanan serta senjata untuk pasukan yang berada di bawah keluarga Mo dihentikan.”
Zi Xuan terdiam, jelas terkejut dengan permintaan itu. Ia menaikkan salah satu alisnya, mengingat sesuatu dari masa lalu. “Bukankah dulu kau sendiri yang memintanya?” katanya pelan namun tajam. “Bahkan kau mengancam akan mengakhiri hidupmu jika aku tidak menyetujuinya.”
Mo Yuuran menundukkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatapnya dengan mata yang lebih dingin. “Dulu aku bodoh,” jawabnya singkat, tanpa ragu sedikit pun.
Zi Xuan menyipitkan mata, semakin penasaran. “Lalu sekarang? Apa alasanmu berubah sejauh ini?” tanyanya, kali ini dengan nada lebih serius.
Wajah Mo Yuuran perlahan kehilangan kehangatan. “Aku ingin semua sumber daya keluarga Mo hilang,” ucapnya dingin. “Aku ingin mengambil kembali semua yang seharusnya menjadi milikku.”
Suasana itu tiba-tiba berubah saat Mo Yuuran mencemberut. Ia menatap Zi Xuan dengan ekspresi yang tak terduga, hampir seperti anak kecil yang mengeluh. “Selama ini mereka menikmati semuanya, sementara aku tidak mendapatkan apa-apa,” katanya dengan nada sedikit kesal.
Ia menghela napas pendek, lalu menambahkan dengan nada dramatis. “Aku ini permaisuri miskin. Apa Yang Mulia tega melihatku hidup miskin seperti ini?”
Zi Xuan sempat terpaku, lalu hampir tak mampu menahan senyumnya. Ia segera mengalihkan pandangan, berusaha menjaga wibawanya sebagai kaisar. Namun, sudut bibirnya tetap terangkat, jelas menikmati sisi baru yang diperlihatkan sang permaisurinya.
Ia kembali menatap Mo Yuuran, kali ini dengan sorot mata yang lebih lembut. “Jika itu yang kau inginkan, kau boleh mengambil semua hartaku,” ujarnya perlahan. Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih dalam, “Asalkan kau tidak meninggalkanku.”
Mo Yuuran tertegun, jelas tidak menyangka jawaban itu. Untuk sesaat, ia hanya menatap Zi Xuan tanpa berkata apa-apa. Ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya, namun ia segera menutupinya.
Ia lalu mengangguk ringan, seolah menjawab dengan santai. “Baiklah, itu ide yang bagus,” katanya dengan nada ringan. “Aku akan mengambil semua hartamu supaya kau menjadi kaisar miskin.”
Ia tersenyum tipis, matanya berkilat penuh rencana. “Dengan begitu, tidak akan ada wanita lain yang menginginkanmu selain aku.”
Para pelayan yang berada di sekitar mereka langsung terdiam, beberapa bahkan tanpa sadar membuka mulut karena terkejut. Tidak ada yang berani bersuara, meski suasana mendadak terasa aneh.
Wajah Zi Xuan sendiri kini memerah. Sementara itu, Mo Yuuran tetap tersenyum tipis, seolah tidak terjadi apa-apa. Di balik senyum itu, tekadnya semakin kuat ini baru permulaan.
Ia akan membalas semuanya, satu per satu. Dan kali ini, ia tidak hanya akan merebut kembali apa yang menjadi miliknya tetapi juga mengambil alih seluruh harta yang pernah dirampas dari ibunya.
“Baiklah apa pun untukmu,” ucap Zi Xuan dengan nada ringan, namun jelas mengandung ketulusan yang tak ia sembunyikan.
Tatapannya melembut, berbeda dari sikap dinginnya selama ini. Dalam hatinya, ia justru merasa lega melihat Mo Yuuran mulai menjauh dari keluarga Mo.
Ia menyandarkan tubuhnya dengan santai, memperhatikan setiap gerak-gerik sang permaisuri. “Akhirnya kau membuka mata juga,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Namun sorot matanya menunjukkan kepuasan yang nyata.
Tak lama kemudian, hidangan telah tersaji sempurna di atas meja panjang itu. Uap hangat mengepul dari berbagai masakan, memenuhi ruangan dengan aroma menggugah selera. Para pelayan mundur beberapa langkah, menunggu perintah selanjutnya.
Mo Yuuran dengan tenang mengambil mangkuk, lalu menyendok nasi untuk Zi Xuan terlebih dahulu. Ia menambahkan sup ginseng dengan potongan ayam ke dalam mangkuk itu, gerakannya lembut dan teratur. “Yang Mulia, silakan,” ucapnya sambil menyodorkan mangkuk tersebut.
Zi Xuan sedikit terkejut, namun tidak menolak. Ia menerima mangkuk itu sambil menatap wajah Mo Yuuran dengan penuh arti. “Kau berubah semakin menarik,” katanya sangat pelan.
Mo Yuuran tidak menjawab, hanya tersenyum tipis sebelum mengambil mangkuknya sendiri. Sup ginseng itu sudah tersedia di dalam mangkuknya, tampak sama seperti milik Zi Xuan. Ia mengangkat sendok perlahan, lalu mencicipinya. Namun, dalam sekejap, gerakan Mo Yuuran terhenti.
Wajahnya yang semula tenang langsung berubah. Sorot matanya menggelap, seolah terseret ke dalam ingatan kelam yang tak ingin ia ulangi. Rasa itu pahit samar yang hampir tak terasa, namun sangat ia kenali.
Ingatan dari kehidupan sebelumnya menghantamnya tanpa ampun. Ia mengingat bagaimana racun itu diberikan sedikit demi sedikit, hingga tubuhnya melemah tanpa disadari. Hingga akhirnya kematian menjemputnya perlahan.
Sendok di tangannya bergetar halus sebelum akhirnya ia meletakkannya kembali ke dalam mangkuk. “Panggil koki istana,” ucapnya tiba-tiba, suaranya dingin dan tajam.
Suasana ruang makan langsung berubah tegang.
Para pelayan saling berpandangan sebelum salah satu dari mereka bergegas keluar. Tidak butuh waktu lama, koki istana pun masuk dengan wajah penuh hormat. Ia menunduk dalam, berusaha terlihat tenang.
Mo Yuuran menatapnya tanpa ekspresi. Ia mengenali pria itu dengan sangat jelas. Kaki tangan Mo Weiwei orang yang selama ini menjadi alat untuk perlahan membunuhnya.
“Kau yang membuat sup ini?” tanya Mo Yuuran datar.
“Benar, Permaisuri,” jawab koki itu dengan sopan, meski keringat mulai terlihat di pelipisnya. Ia berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.
Mo Yuuran menggeser mangkuknya sedikit ke depan. “Bagus,” katanya pelan. Lalu ia menatap lurus ke mata koki itu. “Kalau begitu makanlah.”
Ruangan seketika hening.
Koki istana itu terdiam, jelas terkejut dengan perintah tersebut. Ia menelan ludah, lalu mencoba tersenyum kaku. “Permaisuri, hamba tidak pantas menikmati hidangan Yang Mulia,” ujarnya mencari alasan.
Mo Yuuran tersenyum tipis, namun senyum itu sama sekali tidak hangat. “Tidak pantas?” ulangnya pelan. “Atau kau tidak berani?”
Koki itu mulai panik, namun tetap mencoba bertahan. “Hamba hanya mengikuti aturan istana, Permaisuri,” jawabnya cepat. “Setiap hidangan telah melalui proses uji rasa sebelumnya.”
Zi Xuan yang sejak tadi diam, kini mulai memperhatikan dengan serius. Tatapannya beralih dari Mo Yuuran ke koki itu, lalu kembali lagi. Ia sudah menangkap sesuatu yang tidak beres.
Mo Yuuran tertawa pelan, namun terdengar sinis. “Uji rasa?” katanya sambil memiringkan kepala. “Kalau begitu, tidak ada masalah bagimu untuk mencicipinya sekali lagi, bukan?”
Koki itu semakin pucat. Tangannya gemetar halus di balik lengan bajunya. “Permaisuri … hamba—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Mo Yuuran tiba-tiba terhuyung. Tangannya mencengkeram meja, napasnya berubah berat. Wajahnya memucat dalam sekejap.
“Yang Mulia .…” gumamnya lemah, tubuhnya tampak kehilangan tenaga.
Zi Xuan langsung berdiri, wajahnya berubah drastis. “Yuuran!” serunya, menangkap tubuh wanita itu sebelum jatuh. Amarah mulai membara di matanya.
Mo Yuuran bersandar lemah di pelukannya, napasnya tersengal. Namun di balik kelopak matanya yang setengah terpejam, tersembunyi rencana yang berjalan sempurna.
Zi Xuan mengangkat wajahnya, menatap koki istana dengan tatapan membunuh. “Berani sekali kau meracuni permaisuriku?”
Koki itu langsung berlutut, tubuhnya gemetar hebat. “Hamba tidak bersalah, Yang Mulia! Hamba tidak tahu apa-apa!” teriaknya panik.
Tentu ia panik, karena seharusnya racun itu tidak menimbulkan apa-apa karena racun itu baru berefek setelah beberapa tahun lagi.
“Tidak tahu?” ulang Zi Xuan dingin. Ia memberi isyarat tajam kepada para pengawal. “Tangkap dia dan siksa sampai dia mengaku siapa yang telah menyuruhnya.”
Para pengawal segera bergerak, menyeret koki itu tanpa ampun. Pria itu berteriak memohon ampun, namun tidak ada yang peduli.
Mo Yuuran sedikit membuka matanya, menatap ke arah itu dengan samar. Sudut bibirnya hampir tak terlihat terangkat.
dia ketakutan
smngat terus buat up'y ya....💪💪
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar