Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 - MADU DAN RACUN BARU
Setelah upacara mahkota emas murni itu, hidupku di istana seharusnya menjadi lebih tenang.
Seharusnya.
Karena aku sudah menjadi Permaisuri Sejati, tidak ada lagi selir yang berani iri, tidak ada lagi yang berani menatapku sinis. Semua menteri menunduk hormat dalam-dalam setiap kali aku lewat. Bahkan Ibu Suri pun mulai memanggilku dengan sebutan "Anakku Kahiyang" di depan umum, bukan lagi "Permaisuri Mawar dari Adiningrat" dengan nada sinis.
Tapi justru karena ketenangannya itu, aku menjadi lengah.
Pagi ini, Mbok datang ke teras Paviliun Mawar ku dengan nampan yang berbeda dari biasanya. Biasanya Mbok membawa teh mawar dan kue beras. Pagi ini, Mbok membawa satu guci kecil dari tanah liat yang ditutup dengan kain putih, dan satu mangkuk bubur sumsum putih yang masih mengepul.
"Gusti Permaisuri Sejati, ini ada kiriman dari Ibu Suri. Madu hutan asli dari Desa Lereng Gunung, katanya untuk menambah tenaga setelah malam gerhana kemarin yang melelahkan. Ibu Suri bilang madu ini sangat langka, hanya ada satu guci dalam setahun. Dan bubur sumsum ini dibuat sendiri oleh Ibu Suri pagi ini untuk Gusti," kata Mbok dengan wajah polos dan bangga, karena kiriman dari Ibu Suri adalah sebuah kehormatan besar.
Aku menatap guci madu itu. Warnanya cokelat keemasan, kental, dan harum sekali. Harum bunga hutan.
Di kepalaku, Sistem yang seharusnya sudah hilang bersama buku putih yang terbakar, tiba-tiba berbunyi lagi dengan suara yang sangat pelan dan serak, seperti radio yang kehabisan baterai.
[PERINGATAN... SISTEM CADANGAN AKTIF... DETEKSI ZAT ASING DI MADU... BUKAN RACUN MEMATIKAN... TAPI...]
Suara Sistem hilang lagi sebelum selesai.
Deteksi zat asing di madu? Bukan racun mematikan?
Aku menjadi waspada. Setelah kejadian teh beracun, anggur beracun di Pesta Panen, dan bubuk gatal di kukunya Selir Jelita dulu, aku sudah belajar untuk tidak mudah percaya pada makanan kiriman, bahkan dari Ibu Suri sekalipun.
Tapi Mbok sudah terlanjur membuka guci itu dan menuangkan satu sendok madu keemasan itu ke dalam bubur sumsum putih.
"Gusti, Mbok coba dulu ya sedikit, biar Mbok tahu rasanya enak atau tidak," kata Mbok dengan tulus, ingin melindungiku.
Aku belum sempat melarang, Mbok sudah menjilat ujung sendok yang ada madunya.
Satu detik. Dua detik.
Mbok tidak pingsan. Mbok tidak muntah busa. Wajah Mbok malah memerah dan tersenyum.
"Enak sekali, Gusti! Manis! Manis sekali seperti gula aren campur bunga! Tidak ada rasa pahit sama sekali!" kata Mbok dengan mata berbinar.
Aku mengambil sendok dan mencicipi bubur sumsum dengan madu itu sedikit saja, hanya seujung lidah.
Rasanya memang manis sekali. Terlalu manis. Manis yang lengket di tenggorokan.
Lima menit berlalu. Aku dan Mbok tidak apa-apa. Tidak ada yang pingsan, tidak ada yang kejang.
Mungkin Sistem cadangan ku salah. Mungkin madu itu memang aman. Mungkin Ibu Suri memang sudah berubah dan tulus ingin memberiku madu untuk menambah tenaga.
Aku pun memakan bubur sumsum dengan madu itu sampai habis setengah mangkuk, karena rasanya memang enak dan aku lapar setelah semalaman di Candi Langit.
Mbok memakan sisanya.
Siang berlalu dengan tenang. Aku memakai mahkota emas ku yang berat itu untuk rapat kecil dengan para kepala desa tentang perbaikan lumbung padi. Semua kepala desa menatap mahkota ku dengan kagum.
Sore harinya, saat aku sedang duduk di teras sambil melepas mahkota karena leher pegal, tiba-tiba aku merasa pusing.
Bukan pusing biasa. Pusing yang berputar-putar, seperti habis naik kuda terlalu lama. Pandanganku berkunang-kunang. Telingaku berdenging.
"Mbok... Mbok... kepala saya pusing sekali, Mbok," panggilku pelan sambil memegang pilar teras.
Mbok yang datang berlari, wajahnya juga pucat dan memegang kepalanya.
"Gusti... Mbok juga... Mbok pusing sekali, Gusti... dunia berputar-putar, Gusti," kata Mbok dengan suara pelan dan hampir jatuh.
Kami berdua terduduk di lantai teras, memegang kepala yang pusing berputar-putar.
Bukan racun mematikan. Tapi racun yang membuat pusing dan lemah. Racun yang membuat orang tidak bisa berdiri.
Dari gerbang Paviliun Mawar, muncul Ibu Suri dengan dua pengawal pribadinya dan Selir Cempaka yang wajahnya cemas.
Ibu Suri melihatku dan Mbok yang terduduk lemas di lantai teras, dengan mangkuk bubur dan guci madu yang sudah setengah kosong di samping kami, dan dia tersenyum tipis. Senyum kemenangan yang sangat tipis, yang hanya bisa dilihat jika diperhatikan dengan seksama.
"Oh, Kahiyang, Anakku, kenapa kau duduk di lantai? Apa kau pusing? Apa madu hutan dari Desa Lereng Gunung itu tidak cocok di perutmu?" tanya Ibu Suri dengan suara yang dibuat cemas, tapi matanya tidak cemas sama sekali.
Dia berjalan mendekat dan mengambil guci madu itu. "Madu ini memang keras untuk orang yang tidak biasa minum madu hutan asli. Harusnya diminum sedikit saja, tidak setengah mangkuk seperti ini."
Racunnya bukan racun mematikan. Racunnya adalah madu hutan yang difermentasi terlalu lama, dicampur dengan sedikit getah bunga kecubung putih yang membuat pusing berputar-putar selama dua hari. Tidak mematikan, tapi membuat Permaisuri Sejati terlihat lemah, pusing, dan tidak bisa memakai mahkota emasnya dengan tegak di depan umum. Membuatku terlihat tidak pantas menjadi Permaisuri Sejati.
Rencana yang licik dan halus. Tidak membunuh, hanya mempermalukan.
Aku mencoba berdiri, tapi kepalaku berputar lagi dan aku jatuh terduduk.
"Kahiyang!" Terdengar suara yang sangat kukenal, suara yang panik dan berlari cepat dari arah Balairung.
Segara El-Bhumi datang berlari dengan jubah hitam yang belum sempat dia ganti setelah rapat. Wajahnya pucat melihatku dan Mbok yang tergeletak lemas di lantai teras.
"Apa yang terjadi? Mbok! Tabib Ageng! Cepat panggil Tabib Ageng!" teriaknya sambil langsung jongkok dan mengangkat kepalaku ke pangkuannya.
Dia melihat mangkuk bubur dan guci madu itu, lalu menatap Ibu Suri yang masih berdiri dengan senyum tipis.
"Ibu! Apa yang Ibu berikan pada Kahiyang?!" tanya Segara dengan suara keras dan marah, untuk pertama kalinya dia membentak Ibu Suri di depan banyak orang.
Ibu Suri terkejut dibentak dan langsung memasang wajah sedih dan tersakiti. "Segara! Apa maksudmu membentak Ibu seperti itu? Ibu hanya memberikan madu hutan untuk menambah tenaga istrimu! Ibu tidak tahu jika dia akan makan setengah mangkuk sekaligus! Ibu... Ibu hanya ingin berbuat baik!"
Drama Ibu Suri dimulai. Air mata palsunya mulai menetes.
Tapi Segara tidak tertipu lagi. Sejak kejadian teh beracun dan anggur beracun, dia sudah mulai curiga pada Ibu Suri.
Dia mengambil guci madu itu dan mencium aromanya. Aroma manis yang terlalu menyengat.
"Ini bukan madu hutan biasa. Ini madu yang sudah dicampur dengan getah kecubung. Bau getahnya masih tercium, Ibu," kata Segara dengan suara dingin yang mengerikan. "Aku dulu pernah diajari Tabib Ageng cara membedakan madu murni dan madu campur getah saat aku kecil."
Ibu Suri terdiam, wajahnya pucat.
Segara menggendongku dengan hati-hati, seperti menggendong anak kecil yang sakit. Kepalaku masih berputar-putar, tapi di dalam gendongan Segara yang hangat dan bidang itu, pusingku sedikit berkurang.
"Tabib Ageng! Bawa air kelapa muda yang banyak! Dan arang aktif Permaisuri!" teriaknya sambil membawaku masuk ke dalam Paviliun Mawar.
Di dalam Paviliun, dia meletakkanku di ranjang dengan sangat pelan. Dia mengambil air kelapa muda dan meminumkannya padaku sedikit demi sedikit.
"Kahiyang, minum ini pelan-pelan. Muntahkan jika mau muntah. Jangan ditahan," bisiknya dengan suara yang lembut dan panik, sambil mengelus rambutku yang berantakan karena pusing.
Aku menatapnya dengan mata yang berkunang-kunang. "Gusti Kaisar... mahkota saya... jatuh di teras..."
"Mahkota tidak penting, Kahiyang. Kau yang penting. Mahkota bisa dibersihkan, tapi kau... kau jangan pusing lagi," katanya sambil menggenggam tanganku erat.
Di luar Paviliun, Ibu Suri masih berdiri dengan wajah pucat dan malu, dikelilingi oleh para selir yang menatapnya dengan tatapan kecewa.
Selir Jelita yang melihat semua itu, maju dan berkata dengan suara lantang, "Ibu Suri, cukup, Ibu Suri. Kami semua sudah lelah dengan racun dan madu dan getah. Gusti Permaisuri Sejati tidak pernah meracuni siapa pun, bahkan saat kami iri padanya, dia malah memberi kami lipstik surga. Kenapa Ibu Suri tidak bisa seperti dia?"
Kata-kata Selir Jelita itu membuat Ibu Suri terdiam total dan berbalik pergi dengan langkah gontai, meninggalkan guci madu beracun itu di teras.
Malam itu, aku dan Mbok terbaring lemas di Paviliun Mawar dengan kepala yang masih berputar-putar, ditemani oleh Segara yang tidak mau pergi dari samping ranjangku, dengan air kelapa muda dan arang aktif di meja.
Mahkota emas murni ku tergeletak di lantai teras, kotor karena debu.
Tapi Segara tidak mengambilnya. Dia membiarkannya di sana, karena dia tahu, mahkota emas itu tidak ada artinya jika permaisurinya sedang pusing dan tidak bisa memakainya dengan tegak.
Alurnya memang santai hari ini, hanya madu dan pusing berputar-putar.
Tapi ngena sekali, karena untuk pertama kalinya, Segara membentak Ibu Suri nya sendiri demi aku, dan untuk pertama kalinya, Selir Jelita yang dulu pernah meracuniku, sekarang berdiri membelaku di depan Ibu Suri.
Racun baru itu memang tidak mematikan, tapi membuatku sadar, bahwa menjadi Permaisuri Sejati dengan mahkota emas itu, tanggung jawabnya memang berat, dan musuhnya bukan hanya racun yang mematikan, tapi juga madu yang terlalu manis.