Sejumlah muslimah berjilbab didera berbagai permasalahan pelik yang menyerang pilihan jalan mereka untuk berhijab.
Barada, Rina Viona, dan para personel Geng Bintang Tujuh, dituntut memecahkan masalah rumit yang mereka hadapi, termasuk masalah percintaan.
Lalu bagaimana cara mereka bertahan dalam balutan jilbabnya yang harus menghadapi tantangan perkembangan zaman yang semakin terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Silva Monica
*Masnaini Muslimah Rekayasa*
Empat bulan yang lalu.
Mobil sedan mewah berwarna biru terang itu berhenti di pinggir Jl. Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat. Ia berhenti tidak jauh dari jalan kecil permukiman yang masih bisa dilalui mobil kecil. Tampak pula keramaian para pekerja Ibu Kota yang menunggu angkutan di sekitar halte.
Memang waktu masih tergolong pagi, baru pukul 06.20 WIB, tapi bagi kota metropolitan yang menjadi ibu kota negara, Jakarta sudah mulai memenuhi jalan-jalannya dengan aktivitas kendaraan bermotor.
Seorang gadis berkulit putih bersih keluar dari mobil. Wajahnya cantik layaknya wajah-wajah orang kaya yang selalu hidup di bawah hembusan angin ber-AC. Berseragam putih lengan panjang dengan dasi panjang berwarna hitam berlogo sesuatu. Rok abu-abunya juga panjang. Ia mengenakan sepatu hitam bergaris putih bermerek punya luar negeri. Tangan kanannya menjinjing tas berwarna merah dengan hiasan gantungan kunci berbandul miniatur gitar listrik.
Ia berjalan menelusuri jalan masuk permukiman yang tembus ke area pinggiran pasar. Berlalunya ia di jalan itu cukup mendapat perhatian sepintas oleh sesama pejalan kaki atau orang-orang yang dilaluinya sepanjang jalan. Hingga akhirnya ia tiba untuk pertama kalinya di gerbang sekolah yang memiliki gedung tiga lantai berwarna putih terang.
Memasuki lingkungan sekolah swasta itu, gadis tersebut pun menjadi pusat perhatian oleh para siswa yang baru berdatangan.
Selain wajah cantiknya yang laksana bintang kejora di langit malam tanpa awan, wajahnya juga memang tayang perdana di sekolah itu. Namun, yang lebih membuat gadis ini menjadi pusat magnet di pagi itu karena rambut sebahunya yang berwarna kuning emas seperti orang bule. Roknya yang panjang juga tampil beda di antara para siswi yang rata-rata berok pendek.
Kemunculan si gadis berambut bule itu membuat hampir semua siswa yang melihat kedatangannya tidak segera membuang pandangannya ke obyek yang lain. Minimal terjadi loading di mata, kepala, bahkan di hati mereka.
Bahkan, seorang guru berwajah sejuk berjenggot lima jari dan mengenakan peci hitam khas Indonesia, berdiri terdiam memandang kedatangan siswi baru itu. Ia adalah guru agama Islam di sekolah itu. Ia memandangi siswi baru yang berjalan, bukan karena cantiknya, tapi karena rambutnya yang aneh untuk sekolah di Indonesia.
Dengan membaca plang petunjuk yang dipasang di sisi atas lorong sekolah, si gadis pirang tidak perlu bertanya untuk menemukan di sudut mana ruangan Kepala Sekolah SMK berada.
Saat di lorong yang menuju ruang kepala sekolah, siswi baru berpapasan dengan dua siswi cantik yang langsung berhenti berjalan dan menunjukkan wajah terpana takjub.
Siswi pertama rambut sebahunya di kepang kanan dan kiri, bertabur ikat rambut karet warna-warni. Siswi kedua berambut panjang. Sisi kanan kepalanya hanya dihiasi satu jepit rambut warna putih terang.
Siswi baru hanya memandang keduanya sejenak tanpa senyum, lalu berlalu.
“Han Ga-in!” pekik kedua siswi itu dengan wajah terkejut dan saling menatap tidak percaya.
Nama yang mereka berdua sebut adalah nama seorang bintang film Korea Selatan.
Kedua siswi yang bernama Windi Anggita dan Ade Irma itu memang dijuluki sebagai Duo K di sekolah itu, karena mereka adalah maniak musik K-Pop serta drama dan film-film Korea Selatan. Mereka banyak menghapal nama-nama bintang Korea Selatan yang tergolong susah dilafaz oleh lidah orang Indonesia.
Memang, wajah siswi berambut pirang tadi mirip dengan aktris Korea Selatan Han Ga-in, bintang utama di drama “Bad Guy” (2010) dan film “Architecture 101” (2012).
Kurang setengah jam kemudian, bersama Kepala Sekolah Drs. Didi Sudrajat, MM yang berusia 45 tahun, siswi baru pergi ke kelas barunya, yaitu Kelas 2 Sekretaris A.
Untuk sampai ke kelas itu, keduanya harus melalui lima kelas dari sembilan kelas yang dimiliki SMK sekolah tersebut.
Seiring berlalunya Didi dan siswi baru di depan kelas-kelas itu, terjadi kehebohan yang tidak biasa. Bagi kelas yang sedang diajar oleh gurunya, murid-murid hanya bisa memandang keluar melalui jendela atau pintu yang terbuka dari tempat duduknya masing-masing. Sejenak beralih dari penjabaran guru di depan kelas. Untuk melihat jelas, mereka sampai berdiri dari duduknya, terutama mereka yang duduk di dekat jendela. Mau tidak mau, guru-guru yang mengajar hanya bisa tarik napas dan geleng-geleng melihat heboh dadakan para murid seiring melintasnya siswi baru.
Berbeda dengan Kelas 3 Akuntansi yang gurunya tidak hadir. Kelas ini lebih banyak murid lelakinya dibanding murid wanitanya. Sontak semuanya berhamburan ke pintu dan jendela-jendela kelas, sehingga mereka menumpuk seperti penumpang kereta api di waktu mudik. Tawa mereka tercipta riuh, tidak peduli bahwa yang berlalu adalah kepala sekolah mereka.
“Rambutmu membuatku klepek-klepek!” terdengar teriakan dari seorang murid lelaki, entah dari sebelah mana.
“Huuu...!” sorak para murid perempuan.
“Target terkunci, target terkunci!” teriak murid lelaki yang lainnya meniru laporan pilot jet tempur yang siap membidik pesawat penyusup musuh.
“Hahaha...!” meledaklah tawa di kelas paling senior di SMK itu.
“Torpedo Agus siap ditembakkan!” sahut lelaki yang lain menyambut candaan temannya.
“Hahaha...!” tawa satu kelas kian kencang, karena pikiran mereka langsung mengasumsikan sesuatu yang kotor.
“Semuanya kembali ke bangku masing-masing!” seru Didi agak marah dengan candaan para siswa.
Siswa kelas tiga itu pun seketika berhamburan kembali ke kursi masing-masing. Tawa riuh mereka seketika hilang berganti sisa-sisa cekikikan.
Akhirnya Didi Sudrajat tiba di pintu kelas 2 sekretaris A.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Didi.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab murid-murid dan seorang guru perempuan yang sedang mengajar di depan kelas.
“Waaah!” desah murid-murid kelas dua sekretaris itu, tapi tidak begitu kencang. Mata mereka semua tertuju kepada tamu yang datang.
Perhatian mereka bukan pada sosok kepala sekolah mereka, tetapi kepada sosok siswi baru.
“Han Ga-in banget,” ucap Ade Irma kepada Windi Anggita di sebelahnya, keduanya ternyata murid Kelas 2 Sekretaris A. Kali ini mereka lebih seksama memandangi wajah siswi baru.
Kelas dua sekretaris A memiliki 30 murid, hanya satu di antaranya murid lelaki.
Pada akhirnya siswi baru diberi waktu untuk memperkenalkan diri.
“Teman-teman baru sekalian!” sapa siswi baru seraya tersenyum, logat bulenya langsung kental terasa dalam pengucapan kata-kata bahasa Indonesia yang tidak fasih. “Namaku Silva Monica. Aku lahir dan besar di London. Aku sebelumnya sekolah di London. Karena orang tuaku ditugaskan di Jakarta, jadi aku dan keluarga ikut ke sini. Aku harap, teman-teman bersedia membantuku dalam proses belajar dan beradaptasi. Aku rasa sekian dan thank’s.”
“Wow! UK, boo!” desis seorang siswi berbisik kepada temannya.
“Pak, tanya!” seru seorang siswi sambil acung pulpen di jarinya, ia bernama Rahmah Alaina, ketua kelas.
“Silakan,” kata Didi.
“Memang boleh rambut dicat begitu, Pak? Sebab saya yakin itu bukan warna rambut asli,” kata Rahmah.
“Tidak boleh, tapi Silva akan merubahnya lagi menjadi hitam,” jawab Didi. “Baik, anak-anakku tercinta, agar tidak terlalu memakan jam pelajaran, Bapak rasa cukup!”
“Silva bisa duduk di samping Saskia,” kata ibu guru seraya menunjuk kursi yang kosong yang di sebelahnya duduk wanita gemuk berambut kepang. (RH)
gak heran kalo jandanya sekaliber bunda Maia dapatnya duda sekaliber Irwan Mursi 🤣🤣 eh kok malah ngelantur gue 🤣🤣🤣