Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Baskara yang biasanya tidak tersentuh oleh emosi apa pun, merasakan dadanya seperti dihantam sesuatu yang sangat berat.
Panggilan "Papa" itu bergema di telinganya, meruntuhkan dinding es yang selama ini ia bangun.
Baskara perlahan menurunkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya mengusap punggung Alex dengan kaku.
"Jangan takut, Jagoan. Papa di sini. Tidak akan ada yang menyakiti kalian lagi," bisik Baskara, suaranya parau dan jauh dari kesan mengancam.
"Alex, lepaskan! Mama bilang lepaskan!" suara Swari meninggi, ia mencoba menarik Alex menjauh, namun kakinya yang lemas membuatnya hampir terjatuh.
"Swari! Jangan bentak Alex!" ucap Baskara.
Baskara merasakan dadanya sesak melihat air mata bocah yang baru pertama kali ia temui ini.
Ia segera berlutut, membawa Alex ke dalam pelukannya yang kokoh, menenggelamkan wajah mungil itu di bahu jas mahalnya.
"Sstt... jangan menangis. Mama tidak sengaja, Jagoan. Mama hanya sedang lelah," bisik Baskara sambil menatap tajam ke arah Swari dimana sebuah tatapan peringatan agar Swari tidak melampiaskan traumanya pada anak itu.
Swari terpaku di tempatnya berdiri dan melihat pemandangan itu, hatinya seperti diiris sembilu.
Alex, putranya yang selalu waspada pada pria asing, justru mencari perlindungan pada pria yang paling ingin ia hindari.
"Alex, sini Sayang. Maafkan Mama," ucap Swari dengan suara bergetar, ia mencoba mendekat namun langkahnya masih limbung akibat sisa bius.
Alex justru menyembunyikan wajahnya lebih dalam di leher Baskara.
"Tidak mau! Mama galak. Papa Baskara baik, nggak bentak Alex!"
Papa baskara menggelengkan kepalanya dan meminta Alex untuk tidak bicara seperti itu kepada Swari.
Disisi lain dimana Alexandria membuka matanya dan melihat mereka.
"M-mama..... Mulut Alexandria sakit, Ma."
Baskara segera mengambil langkah cepat ketika mendengar rintihan Alexandria.
Melihat bekas kemerahan di mulut mungil itu akibat bekapan preman, amarahnya kembali mendidih.
Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dokter Ramdani, dokter pribadi keluarga Surya yang sangat ia percayai.
"Halo, Dokter. Segera datang ke vila saya di Puncak. Sekarang juga! Ada anak kecil dengan luka memar di wajah, saya butuh penanganan terbaik," perintah Baskara tanpa basa-basi.
Setelah menutup telepon, Baskara beralih ke Alexandria.
Ia menggendong gadis kecil itu dengan lembut, sementara Alex masih enggan lepas dari pelukannya.
"Alexandria, Tuan Putri Papa, tahan sebentar ya, Sayang. Dokter sedang jalan ke sini. Papa janji sakitnya akan hilang," ucap Baskara dengan nada suara yang begitu lembut, hingga Swari yang menyaksikannya merasa dunianya seolah terbalik.
Swari hanya bisa terduduk lemas di tepi sofa, menatap pemandangan yang mustahil di depan matanya.
Baskara Surya pria kejam yang baru saja membiusnya kini sedang menenangkan kedua anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa, Bas?" bisik Swari dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Kenapa kamu melakukan ini semua? Kamu menculikku, membiusku, dan sekarang kamu berlagak menjadi pahlawan bagi anak-anakku?"
Baskara menoleh ke arah Swari, matanya yang tadi lembut kembali menajam.
"Karena mereka berhak mendapatkan perlindungan, Swari. Dan jika preman-preman kiriman Dimas itu berani menyentuh mereka lagi, aku akan memastikan mereka tidak akan pernah melihat matahari besok pagi."
Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar mendekat ke halaman vila.
Dokter Ramdani tiba dengan tas medisnya, wajahnya tampak tenang namun sigap saat melangkah masuk ke ruang tengah yang tegang itu.
Baskara segera memberi isyarat agar sang dokter mendekat ke arah sofa tempat Alexandria berada.
"Periksa dia, Dokter. Pastikan tidak ada luka dalam selain memar di wajahnya," perintah Baskara dengan suara yang tertahan.
Dokter Ramdani mengangguk kecil. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia mulai memeriksa Alexandria.
Gadis kecil itu sempat meringis saat jemari dokter menyentuh bekas kemerahan di sudut bibirnya, namun keberadaan Baskara yang terus memegang tangannya seolah memberikan kekuatan ajaib bagi Alexandria.
"Ini hanya luka memar ringan di jaringan lunak, Tuan Baskara. Sepertinya akibat tekanan yang cukup kuat," ujar Dokter Ramdani sambil mengoleskan salep dingin ke area yang bengkak.
"Tidak ada tanda-tanda trauma tulang atau cedera serius lainnya. Saya akan berikan vitamin dan obat oles untuk meredakan nyerinya."
Selesai memeriksa Alexandria, Dokter Ramdani menoleh ke arah Alex yang masih bersandar di bahu Baskara, lalu beralih ke Swari yang tampak pucat di sudut ruangan.
"Nona Swari, Anda juga terlihat sangat tidak stabil. Tekanan darah Anda mungkin sangat rendah sekarang karena pengaruh sisa bius dan stres," ucap dokter itu prihatin.
Baskara menatap Swari sejenak sebelum kembali fokus pada anak-anak.
"Berikan apa pun yang mereka butuhkan agar mereka bisa beristirahat dengan tenang malam ini. Pastikan mereka merasa aman."
Setelah Dokter Ramdani menyelesaikan tugasnya dan berpamitan, keheningan kembali menyelimuti ruangan
Peluk hangat Alex kepada Baskara seolah menjadi belati yang menusuk sekaligus menjahit hati Swari.
Ia melihat bagaimana tangan Baskara yang biasanya digunakan untuk menandatangani dokumen miliaran rupiah, kini dengan canggung namun tulus mengusap sisa air mata di pipi Alex.
"Yudha, siapkan sup hangat dan pasta untuk anak-anak. Pastikan teksturnya lembut agar tidak menyakiti mulut Alexandria," perintah Baskara tanpa melepaskan pandangannya dari si kembar.
Yudha mengangguk sigap dan segera berlalu ke dapur.
Sementara itu, Baskara perlahan melepaskan pelukan Alex dan mendudukkan bocah itu di samping kembarannya.
Ia mengecup kening Alexandria singkat yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
"Makanlah dengan Om Yudha dulu. Papa harus bicara sebentar dengan Mama," ucap Baskara.
Panggilan 'Papa' itu kini meluncur lebih alami, seolah-olah ia memang telah lama menantikan peran itu.
Baskara kemudian beralih ke arah Swari. Ia tidak menunggu persetujuan wanita itu.
Dengan satu gerakan tegas namun protektif, ia menggenggam tangan Swari merasakan perban yang masih melilit telapak tangannya dan membimbingnya kembali menuju kamar di lantai bawah.
Begitu pintu kamar tertutup, Swari langsung menyentakkan tangannya.
"Berhenti bersandiwara, Baskara! Apa tujuanmu sebenarnya? Kamu membiusku, membawaku ke sini dan sekarang membiarkan anak-anak memanggilmu 'Papa'? Kamu tahu betapa bahayanya ini bagi mental mereka jika kamu tiba-tiba pergi?" suara Swari bergetar hebat, matanya menyala oleh amarah dan ketakutan.
Baskara tidak langsung menjawab dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke lembah Puncak yang gelap, membelakangi Swari.
"Dimas tidak akan berhenti, Swari," ucap Baskara rendah.
"Preman-preman tadi hanyalah pembuka. Dia tahu titik lemahmu adalah anak-anak itu. Jika aku tidak mengambil tindakan ekstrem hari ini, mungkin besok aku akan menemukanmu menangis di atas nisan mereka."
Baskara berbalik, menatap Swari dengan intensitas yang mematikan.
"Soal panggilan 'Papa', aku tidak menyuruh Alex mengucapkannya. Tapi jika itu bisa membuat mereka merasa aman di bawah perlindunganku, maka aku akan menjadi Papa mereka. Aku akan memberikan mereka nama belakang Surya, perlindungan hukum, dan keamanan yang tidak bisa diberikan oleh Mas Navy-mu itu."
"Aku tidak butuh namamu! Aku tidak butuh hartamu!" teriak Swari.
"Tapi kamu butuh aku untuk menghancurkan Dimas," potong Baskara dengan tenang.
Ia melangkah mendekat, mengunci tubuh Swari di antara dirinya dan pintu.
"Hanya aku yang punya kuasa untuk membuat iblis itu membusuk di penjara tanpa menyentuh nama baikmu. Hanya aku, Swari."
Wajah mereka begitu dekat hingga Swari bisa merasakan deru napas Baskara yang beraroma mint dan maskulin.
Rasa sakit di dada Swari kembali berdenyut, namun kali ini bercampur dengan getaran aneh yang tidak mampu ia definisikan.
"Kenapa kamu sangat peduli, Bas? Kita hanya orang asing yang bertemu enam tahun lalu. Kenapa kamu sampai harus repot-repot menikahi janda dengan dua anak sepertiku?"
Baskara terdiam. Ia menatap bibir Swari yang gemetar, lalu naik ke matanya yang basah.
"Karena aku benci melihat barang milikku disentuh orang lain. Dan saat ini, kamu dan anak-anak itu sudah menjadi tanggung jawabku."
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan. Suara kecil Alexandria terdengar dari luar.
"Mama...Papa... Alex nggak mau makan kalau nggak sama Mama."
Baskara memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan debaran jantungnya.
Ia menatap Swari, memberi isyarat agar wanita itu merapikan wajahnya.
"Kita lanjutkan ini nanti. Sekarang, jadilah ibu yang baik untuk mereka. Aku akan berada di sana sebagai 'Papa' yang mereka inginkan."
Baskara membuka pintu dan langsung disambut oleh Alex yang sudah berdiri di sana.
Baskara mengangkat Alex ke gendongannya dengan mudah.
"Ayo, Jagoan. Kita makan bersama. Papa juga lapar," ucap Baskara sambil melangkah menuju ruang makan, meninggalkan Swari yang masih terpaku, merasa seperti tawanan yang mulai jatuh cinta pada penjaganya sendiri.
Di meja makan suasana terasa sangat kontras. Alex dengan ceria menceritakan tentang sekolah barunya kepada Baskara, sementara Alexandria sesekali menyuapi Baskara dengan pastanya yang membuat baju mahal pria itu terkena saus. Namun, Baskara hanya tertawa kecil saat melihat noda itu.
Swari hanya diam, memainkan makanannya. Ia melihat bagaimana Baskara dengan telaten membersihkan sisa saus di sudut bibir Alexandria menggunakan tisu dengan gerakan yang sangat lembut.
"Bas," panggil Swari lirih di tengah percakapan anak-anak.
"Ya?" Baskara menoleh, menaikkan sebelah alisnya.
"Besok, Mbak Ratri dan Mas Navy akan datang ke pertemuan keluarga dengan ibumu. Apa yang harus aku katakan pada mereka soal keberadaan kami di sini malam ini?"
Baskara meletakkan garpunya, ia menatap Swari dengan pandangan yang tak tergoyahkan.
"Katakan yang sebenarnya. Bahwa calon suamimu baru saja menyelamatkan anak-anakmu dari penculikan dan kamu memutuskan untuk tinggal di bawah perlindunganku mulai sekarang. Tidak ada lagi rahasia dari mereka, Swari. Karena mulai besok, kamu akan menjadi bagian dari keluarga Surya secara resmi."
Setelah makan malam, anak-anak mulai mengantuk.
Baskara tidak membiarkan perawat atau Yudha membawa mereka.
Ia sendiri yang membopong si kembar satu per satu ke kamar tamu yang sudah disulap Yudha menjadi kamar anak yang nyaman dalam waktu singkat.
Swari mengikuti dari belakang, melihat Baskara menyelimuti mereka dan mengecup kening keduanya sekali lagi.
Saat mereka keluar dari kamar anak, Baskara menahan lengan Swari.
"Tidurlah di kamar bawah tadi. Aku akan tidur di sofa ruang tengah. Jika terjadi sesuatu, panggil aku." ucap Baskara.
Swari menganggukkan kepalanya dan ia masuk ke kamarnya.
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor