Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Masakanku selesai sebelum adzan Maghrib berkumandang. Aku memilih kembali kekamar dan membiarkan mbak Nur yang membereskan dapur. Biasanya kalau ummi tidak sedang berkunjung, aku akan sholat di mushola bawah bersama yang lain. Tapi, kali ini aku memilih sholat di kamar saja. Malas rasanya turun lagi.
Usai sholat maghrib barulah aku bergabung dengan ummi dan mas Hanafi yang sedang duduk di ruang kelaurga. Kami langsung makan malam karena menunggu Abi Rahmad yang katanya akan datang bersama salah satu adiknya mas Hanafi.
" Fis, ummi mau bicara serius sama kamu " Aku menoleh kearah umminya Mas Hanafi. Akan ada apa lagi ini ?
" Njeh ummi silahkan "
" Melihat kamu yang selalu sibuk akhir-akhir ini dan itu berimbas kamu kurang memperhatikan suamimu, Hanafi jadi tidak terurus. Maka, ummi sudah memutuskan, dengan atau tanpa persetujuan kamu ummi akan mencarikan istri lagi untuk Hanafi "
Seketika jantungku berhenti berdetak. Kegilaan apa lagi yang akan dilakukan oleh ummi ini ? Astagfirullah hal Adzim.
" Maksud ummi bagaimana ya ?" Aku mencoba menekan amarahku.
" Kamu tidak perlu bereaksi berlebihan begitu. Toh kamu akan tetap jadi istri Hanafi " Jika tak ingat dosa, sudah ku umpat beliau tidak ada habisnya.
" Kemaren ummi baru saja dari Kudus dan bertemu dengan seorang kyai besar. Begitu melihat Hanafi, kyai Ahmad menginginkan Hanafi menjadi menantunya. Ya masak ummi tolak ?" ku tarik nafas dalam-dalam lalu, ku lihat ekspresi muka mas Hanafi yang begitu tenang. Seolah semaunya baik-baik saja.
" Ummi tidak butuh persetujuanmu, karena tanpa ijin dari kamu Hanafi akan tetap menikah." Kepalaku tiba-tiba terasa sakit.
" Kalau begitu, monggo semua terserah ummi. Saya capek ummi, silahkan lakukan saja semua yang menurut ummi baik. Saya terlalu lelah untuk berdebat dengan ummi "
Lagi-lagi mas Hanafi hanya terdiam. " Ya Allah lelaki macam apa yang menikahiku ini ?" Ucapku dalam hati.
Aku memilih masuk ke dalam ruang kerjaku. Ku sandarkan tubuhku di kursi kerjaku. Sejenak aku menutup mata, meresapi kuatnya luka yang sudah tergores di hati.
" Ya Allah ujian apa lagi ini ?" ucapku lirih.
" Masih belum cukup kah ya Allah ?"
Pintu ruang kerjaku tiba-tiba terbuka. Mas Hanafi masuk, tanpa aba-aba dia langsung memelukku erat.
" Kenapa mas kesini ?" Aku bertanya dengan nada sedikit ketus.
" Maaf dek " Ucapnya.
" Mas setuju kan dengan kemauan ummi ?"
" Mas bisa apa dek, mas takut ummi kenapa-napa kalau mas tolak "
" Ya udah lakukan saja " Pelukannya sedikit mengendur.
" Tapi, pastikan dulu kamu sudah melepaskanku dari ikatan ini " Di tertegun.
" Dek please jangan bicara begitu. Mas tidak mau pisah sama kamu "
" Ya sudah kamu tinggal pilih, aku atau dia ?"
" Dek..."
" Nggak usah kamu jawab mas, aku udah tau arahmu kemana ?" Aku memilih bangun dan meninggalkan mas Hanafi sendiri di ruang kerjaku.
Sebenarnya aku ingin langsung kembali ke kamar tapi, kulihat Abi Rahmad dan Choir adiknya mas Hanafi sudah ada di ruang kelaurga bersama ummi. Untuk menghormati beliau aku pun urung kembali kekamar dan segera menyiapkan makan malam.
Aku memilih duduk dekat Naufal, dengan telaten aku menyuapi putraku. Senang Naufal sudah kembali makan dengan lahap. Kebiasaanku mengambilkan mas Hanafi makan aku tinggalkan, aku yakin abi dan Choir pasti heran, biarlah.
" Fis, ambilkan dulu makanan untuk suamimu, masak begitu saja setiap hari musti ummi ajari "
" Maaf mas, bisa ambil sendiri kan ?" Mas Hanafi hanya menganguk.
" Bunda udah kenyang banget " Seru putraku.
" Ya sudah kalau sudah kenyang. Adik sama mbak Mirna dulu ya "
" Iya bunda, bunda mau makan ya ?" Aku mengangguk.
" Mbak Mirna tolong bantu Naufal minum obatnya ya mbak ?"
" Baik bu "
Suasana meja makan kembali hening, hanya suara dentingan sendok yang terdengar. Aku sebenarnya tidak ada nafsu untuk makan. Makanya aku hanya menghabiskan sisa makananya Naufal.
" Fis, gimana soal yang tadi ?" Aku hanya bisa menghela nafas. Ku lihat Abi Rahmad dan Choir melihat kearahku.
" Soal apa ya Ummi ?" Aku memilih pura-pura lupa saja.
" Soal pernikahan kedua Hanafi "
Klontang ...sendok abi Rahmad terjatuh, mungkin karena beliau terkejut.
" Maksud ummi apa, jangan aneh-aneh ummi " Ucap beliau sembari menyodorkan air minum ke arah Choir yang sampai tersedak karena terkejut mendengar ucapan umminya.
" Apa sih bi, ummi lho sedang membantu Nafis, biar ada yang bantu dia mengurus Hanafi. Sementara dia sibuk di luar sana "
" Ummi tau kan, mbak Nafis sibuk diluar sana karena apa ?" Giliran Choir bersuara.
" Apa sih kurangnya mbak Nafis mi ?"
Aku hanya diam, membiarkan ummi diberondong pertanyaan oleh abi dan Choir.
" Kamu tidak lihat kakakmu sekarang tidak keurus. Pantas kan ummi mencarikan tambahan istri yang bisa berbagi tugas dengan Nafis."
" Astagfirullah hal adzim mi " Abi Rahmad sepertinya sudah hilang kesabaran.
" Jangan ikuti kegilaan ummimu Hanafi " Imbuh beliau.
" Mana bisa bi, ummi sudah kadung janji mau melamar putrinya kyai Ahmad. Ning Hafizah juga sudah setuju. Impian ummi memiliki menantu keturunan kyai besar akan terwujud, mana bisa di sia-sia kan bi "
" Jadi karena itu ummi menginginkan mas Hanafi menikah lagi ?"
" Ya iya lah, dari dulu ummi sangat ingin punya menantu seoarang ning. Yang bisa ummi banggakan, sayang saja Hanafi kadung milih kamu "
Allah kenapa sakit banget ya mendengar ummi bicara begitu ?
" Lalu kenapa dulu ummi mengijinkan kami menikah ?"
" Apa ummi tidak mempertimbangkan perasaan cucu-cucu ummi ?" Suaraku mulai bergetar.
" Mereka masih kecil ini, lagian ummi yakin ning Hafizah bakalan terima mereka dengan senang hati "
" Apa calon menantu ummi sudah tau soal status mas Hanafi ?" Beliau terlihat gelagapan. Aku yakin ummi tidak jujur soal status mas Hanafi kepada calon istri baru mas Hanafi.
" Salah kamu sendiri kenapa sok sibuk diluar, nggak becus ngurus suami " Lagi-lagi aku merasa sakit mendengar ucapan ummi.
" Saya bukan sok sibuk diluar ummi. Saya banting tulang mencari nafkah untuk keluarga ini. Jika saya berdiam diri dirumah lalu, dangan apa kami membayar biaya administrasi Zizah di pesantren yang tidak sedikit itu?"
" Sementara uang yang mas Hanafi berikan, untuk kami makan saja tidak cukup ummi. Uang yang mas Hanafi kasih ke saya bahkan lebih kecil dari gajinya pengasuh Naufal." Choir memelukku dari samping.
" Salah kamu sendiri sudah tau penghasilan suamimu sedikit sok-sokan pakai pembantu segala "
" Allahu Akbar " Sebutku dalam hati.
" Karena itu saya bekerja ummi, saya tidak mau anak-anak saya terlantar jika saya hanya mengandalkan nafkah dari mas Hanafi. Dan sekarang Ummi mau mas Hanafi menikah lagi, bagaimana caranya dia menafkahi kami berdua, sementara satu istri saja saya masih ikut pontang-panting begini, apa tidak akan menjadi suami zalim nanti mas Hanafi ummi?" Aku tak lagi peduli jika ummi dan mas Hanafi sakit hati. Aku sudah terlalu banyak mengalah selama ini.
" Lalu mau kalian suruh tinggal dimana dia, disini ?"
" Dirumah yang bahkan satu rupiah pun tak ada uang kalian, kamu pikir aku izinin mas ?"
" Selama ini saya selalu mengalah karena tak mau ada huru-hara. Mohan maaf abi jika, Nafus terkesah tidak sopan. Apa yang ummi dan mas Hanafi lakukan sudah sangat keterlaluan. Nafis capek abi " Air mataku luruh kali ini.
" Sudah-sudah tidak akan ada yang menikah lagi." Abi Rahmad mencoba melarai kami.
" Mana bisa begitu abi, orang ummi sudah sepakat buat meminang ning Hafizah."
" Silahkan lakukan saja apa yang hendak ummi lakukan. Nafis sudah tidak punya tenaga untuk mendebat ummi lagi, toh hasilnya akan tetap sama bukan ?"
" Maaf abi Nafis ijin ke kamar, Nafis capek abi " Abi Rahmad hanya mengangguk.
" Dengar ummi pokoknya tidak ada yang akan menikah lagi atau, ummi mau abi yang akan menikah lagi ?" Sayup-sayup masih kudengar perdebatan di ruang tamu.
Aku tak lagi peduli, lelah rasanya menghadapi keegoisan ummi mertuaku. " Ya Allah harus bagaimana lagi aku ini ?"
Kupikir mas Hanafi akan menyusulku kekamar, setidaknya berusaha menenangkanku. Sayang itu tidak terjadi sama sekali, seperti biasa dia hanya peduli dengan perasaan umminya.
semoga kluarga istri ke 2 dan kluarga suami zalim dpt karma.
kl ortu istri ke 2 punya harga diri hrse cerai kan anak nya bukan mlh laki orang Mau di bawa pulang. alasan ae buat di didik. aslinya ya biar menang istri 2 dpt hanafi sepenuhnya tanpa berbagi. pasti alasan hamil di pake buat itu. istri ke 2 pling jg gk Mau ngalah merasa menang krn istri pertama mundur.. semoga dpt karma orang ngerti agama tp pada bejat.
nunggu karma nya, semoga anak Dr istri ke 2 gk lahir normal kasian anak Dr istri pertama dpt saudara tiri Dr Pelakor.
ya Pelakor Mau se sholehah apa pun wanita kl sdh merusak rumah tangga orang lain ttp Pelakor Dan ortu perempuan ttp mendukung 🤣🤣 Gila sih label kyai sekarang serem serem dng dalil agama.
hrse cerai semua, istri ke 2 tau diri nglepas hanafi bukan me lanjut kan pernikhan. mang dasarnya istri ke 2 doyan saja.
kl takut melukai ya hrse pisah.
hanafi me lanjut kan dakwah eh siapa yg Mau denger dakwah laki model bgitu. yg di omongin pasti poligami tok🤣. ustad cabul.