NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

​Matahari jam istirahat menyelinap di antara celah-celah daun pohon besar di taman belakang sekolah. Di bawah bayangannya, Mori sedang duduk melingkar bersama Jessica, Nadya yang sudah sembuh, dan Alissa.

​Suasana sangat cair. Jessica baru saja menceritakan kejadian konyol Jojo yang salah masuk kelas pagi tadi, dan itu sukses membuat Mori tertawa lepas. Bahunya berguncang hebat, wajahnya yang biasanya serius kini terlihat sangat cerah. Tawa Mori yang renyah itu adalah pemandangan langka di SMA Garuda, dan siapa pun yang melihatnya pasti akan ikut tersenyum.

​"Aduh, sumpah! Jojo beneran duduk anteng di kelas 12? Terus nggak sadar kalau itu mapel Ekonomi?" tanya Mori di sela tawanya, sambil mengusap air mata yang sedikit keluar karena terlalu banyak tertawa.

​"Iya! Dia baru sadar pas dipanggil maju ke depan buat ngerjain soal akuntansi! Muka dia langsung pucat kayak kertas!" balas Jessica yang disusul tawa meledak dari mereka semua.

​Di tengah tawa yang masih tersisa, sesosok cowok dengan almamater OSIS yang rapi mendekat. Langkahnya tenang, auranya menyejukkan—siapa lagi kalau bukan Vano. Dia berdiri di depan meja taman mereka dengan senyum yang sangat sopan.

​"Mori, kayaknya lagi asyik banget nih," sapa Vano lembut.

​Mori segera merapikan duduknya dan berusaha menghentikan tawanya, meski sisa-sisa kegembiraan masih terlihat di matanya. "Eh, Kak Vano. Iya, lagi dengerin cerita Jessica tadi."

​"Baguslah kalau kamu sudah bisa ketawa lagi setelah kejadian kemarin," ucap Vano tulus. "Oh iya, soal materi debat yang kita tunda karena... kejadian di kelas kemarin, apa kamu ada waktu luang setelah ini? Aku mau kasih lihat beberapa referensi kasus nasional."

​Vano menatap Mori dengan penuh harap. Nadya dan yang lainnya mulai saling lirik, memberikan ruang bagi Vano untuk melakukan langkahnya.

​Namun, sebelum Mori sempat memberikan jawaban, sebuah suara berat yang sangat familiar terdengar dari arah belakang Vano. Suara itu tidak terdengar marah, justru terdengar sangat santai namun penuh dengan nada provokatif.

​"Referensinya bisa ditunda dulu nggak, Pak Ketua?"

​Lian berjalan santai dengan tangan di dalam saku celana. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin taman, menambah kesan bad boy yang sangat kuat. Dia tidak berhenti di belakang Vano, melainkan terus melangkah sampai berdiri tepat di samping Mori.

​Lian membungkukkan badannya, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Mori yang sedang duduk. Matanya menatap Mori dengan binar nakal.

​"Udah puas ketawanya, Baby Girl? Dicariin dari tadi juga," ucap Lian dengan volume suara yang sengaja dikeraskan agar semua orang di taman itu dengar.

​DEG.

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Mori. Matanya melotot lebar, mulutnya sedikit terbuka karena syok. "L-Lian?! Lo bilang apa tadi?!"

​"Baby girl. Kenapa? Kurang keras? Mau gue pake toa masjid sekalian?" balas Lian santai sambil mengacak-acak rambut Mori tanpa rasa bersalah.

​Vano mengernyitkan alisnya dalam-dalam. Ekspresinya yang biasanya tenang kini terlihat sangat terganggu. "Lian, tolong jaga sopan santun kamu. Mori bukan objek yang bisa kamu panggil seenaknya."

​Lian berdiri tegak, menatap Vano dengan tatapan menantang. "Gue panggil dia gitu karena gue suka. Dan seingat gue, Mori nggak keberatan... ya kan, Mor?" Lian melirik Mori dengan senyum miringnya yang paling menyebalkan.

​"KEBERATAN BANGET, LIAN! JANGAN PANGGIL GUE GITU!" bentak Mori dengan wajah yang kini bukan lagi merah karena tawa, tapi merah padam karena malu yang luar biasa. Dia benar-benar ingin menenggelamkan diri ke dalam kolam ikan di samping taman sekarang juga.

​Namun, reaksi berbeda datang dari arah sahabat-sahabatnya.

​"CIEEEEEEE!!!!" teriak Jessica, Nadya, dan Alissa secara serempak.

​"Aduh, kuping gue nggak salah denger kan? Baby girl katanya!" Jessica menyenggol lengan Nadya dengan semangat.

​"Lian, lo beneran mau bikin satu sekolah pingsan ya? Visual kalian berdua pas Lian bilang gitu... gila sih, chemistry-nya dapet banget!" sahut Alissa sambil menutup mulutnya.

​Bahkan beberapa siswa lain di taman mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk ke arah mereka. Kabar tentang sebutan "Baby Girl" ini dipastikan akan menjadi trending topic di grup angkatan dalam waktu kurang dari lima menit.

​Vano menarik napas panjang, mencoba mempertahankan martabatnya sebagai Ketua OSIS. "Mori, kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu bisa ikut aku sekarang ke perpustakaan. Kita bahas urusan yang lebih penting."

​Lian langsung merangkul pundak Mori—tindakan yang sangat berani mengingat mereka masih di area publik sekolah. "Sori banget, Van. Tapi 'Baby Girl' gue ini lagi butuh asupan gula. Gue mau ajak dia ke kantin buat beli es krim kesukaannya. Urusan debat lo itu... bisa lewat email aja kan?"

​"Lian, lepasin tangan lo!" Mori mencoba melepaskan rangkulan Lian, tapi Lian justru mempereratnya.

​"Jangan galak-galak, nanti cantik lo ilang," bisik Lian tepat di telinga Mori, membuat bulu kuduk gadis itu merinding.

​Mori menatap Vano dengan rasa bersalah yang besar. "Kak Vano... maaf banget. Kayaknya aku... aku harus urusin 'masalah' ini dulu. Nanti aku hubungi Kakak lagi ya."

​Vano hanya bisa mengangguk pelan, meski tatapan matanya menunjukkan kekecewaan yang mendalam. Dia melihat Lian menyeret Mori menjauh dari taman dengan gaya posesifnya.

​"Lian! Lo bener-bener gila ya?! Panggilan apaan itu tadi?! Najis tau nggak!" protes Mori sepanjang jalan menuju kantin.

​Lian tertawa puas. Tawa yang terdengar sangat lepas, seolah dia baru saja memenangkan lotre miliaran rupiah. "Tapi berhasil kan bikin si Vano itu mundur? Lagian, lo kelihatan cocok banget dipanggil gitu. Muka lo pas salting itu... mahal harganya."

​"Gue nggak salting! Gue marah!"

​"Marahnya lo itu salting buat gue, Mor," Lian berhenti melangkah, membuat Mori ikut berhenti. Dia menatap Mori dengan tatapan yang tiba-tiba berubah menjadi lembut. "Gue cuma nggak suka liat lo ketawa selebar itu buat orang lain. Tawa lo itu... harusnya cuma buat gue."

​Mori terdiam. Dia ingin membalas dengan kalimat pedas, tapi melihat binar posesif di mata Lian, kata-katanya mendadak hilang. Dia sadar bahwa dia sedang berurusan dengan red flag tingkat paling berbahaya: tipe yang bisa membuatmu merasa paling berharga sekaligus paling kesal di waktu yang bersamaan.

​Di ujung koridor, Jessica dan yang lainnya masih terus berteriak "Ciee!", sementara Mori hanya bisa menutupi wajahnya dengan jaket Lian yang masih ia bawa, mencoba menyembunyikan senyum yang sialnya, mulai muncul di bibirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!