NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAMA-SAMA ANAK IBU JUGA

“Ck… Ibu kan tahu Danu itu gimana, Bu. Pemalas, nggak ada kerja, bisanya cuma makan tidur aja!” Gerutu Dini kesal, suaranya meninggi saat ia melihat kedua orangtuanya duduk dengan santai di ruang tamunya setelah mengutarakan tujuan kedatangan mereka.

Sementara Danu yang tengah dibicarakan, kini terlihat santai duduk di sofa lengkap dengan earphone di telinga dan ponsel di tangannya.

Ia yang tahu dirinya tengah disindir hanya melirik sekilas, lalu kembali menunduk menatap layar seolah hidup di dunianya sendiri.

“Ya mau gimana lagi, Maira nggak mau Danu ada di rumah..." Ucap Bu Susi datar, tangannya sibuk mengelus lutut.

“Tapi kan Ibu bisa tekan dia! Gunain akting lama Ibu itu, Bu. Yang waktu Maira nggak mau nampung Ibu dulu, yang Ibu pura-pura nangis terus bikin dia ngerasa bersalah.” Ujar Dini dengan nada mengejek dan menahan kesal yang sudah memuncak.

"Ck… Udah, udah. Untuk sementara biarin adik kamu itu tinggal di sini sama kamu." Potong Pak Bowo, suaranya pelan tapi tegas. Ucapannya tak memberi ruang untuk dibantah.

Dini memutar bola matanya, lalu mengerang.

“Terus untuk makannya gimana Pak? Aku harus tanggung juga?” Tanyanya sinis, seolah Danu adalah orang asing, atau lebih tepatnya… beban untuk dirinya.

Bu Susi berdecak kesal. Matanya melirik Danu yang masih tenang di sofa, kemudian menatap tajam ke arah Dini yang bisa dikatakan selalu perhitungan akan sesuatu.

Padahal Dini adalah kakak kandung dari Danu. Keduanya adalah anak dari pernikahan kedua Bu Susi bersama suami yang sekarang—Pak Bowo. Dan memang bisa dikatakan sifat keduanya jauh berbeda dari Maira—anak dari suami pertama yang dulu ia tinggalkan demi untuk bisa bersama Pak Bowo.

Dulu saat meninggalkan Maira dan ayahnya yang kala itu warung nasi mereka sudah di ambang kebangkrutan, Bu Susi berpikir hidupnya akan lebih mudah bersama Pak Bowo.

Tapi kenyataannya jauh dari bayangan.

Hidupnya bersama Pak Bowo ternyata tak semudah yang ia kira. Uang yang ia terima dari suaminya selalu pas-pasan, apalagi setelah punya dua anak—Dini dan Danu. Kebutuhan rumah tangga terus menumpuk, hutang di sana-sini, hingga pada akhirnya rumah sebagai tempat tinggal mereka harus mereka jual demi melunasi semua hutang.

Sementara itu, di sisi lain kehidupan mantan suaminya dan anak yang ia tinggalkan justru perlahan bangkit. Warung nasi kecil yang dulu nyaris tutup kini tumbuh besar menjadi restoran yang ramai, bahkan akan membuka cabang kedua.

“Ya ampun Din… kamu tuh kakaknya sendiri, bukan orang lain. Masak buat makan aja kamu keberatan?” Ucap Bu Susi akhirnya, mencoba menahan nada jengkel dalam suaranya.

“Aku bukan keberatan, Bu. Tapi kalau dia tinggal lama dan kerjanya cuma main ponsel terus gimana? Aku juga punya anak kecil, punya suami." Sahut Dini cepat.

Bu Susi yang merasa benar juga akan ucapan putrinya, tampak berpikir. Wajahnya sedikit menegang, bola matanya menerawang ke depan tanpa fokus. Ia tahu, kehidupan Dini memang juga tidak mudah akhir-akhir ini.

Bahkan untuk urusan pekerjaan saja, suami Dini baru saja mendapatkan pekerjaan… dan itupun hasil dari memaksa Maira.

Ya, suami Dini yang sejak awal memang tidak memiliki keahlian apapun—tak pandai berdagang, tak mampu bertahan di pekerjaan manapun pada akhirnya bekerja sebagai pengawas lapangan untuk para tukang yang membangun restoran cabang kedua Maira di kota sebelah.

“Yaudah, untuk beras atau apapun nanti Ibu bawain dari rumah Maira." Putus Bu Susi dengan cepat.

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, seolah tak butuh pertimbangan lebih lanjut. Ia sudah merencanakan, akan mengambil persediaan bahan makanan dan beberapa hal yang sekiranya tak langsung ketahuan.

Tentu semua itu tanpa persetujuan Maira. Sebab ia tahu, Maira mana mungkin akan mengizinkan. Sekeras apapun Maira menolak, bagi Bu Susi itu tetap milik anaknya. Dan sebagai ibunya, ia juga merasa memiliki hak.

Dini yang mendengar kalimat ibunya langsung menyunggingkan senyum puas. “Nah, gitu dong, Bu. Harusnya Ibu kayak gini dari dulu. Bantu kebutuhan anak perempuan Ibu ini.”

Ia lalu menyandarkan tubuh di sofa dengan santai, melempar pandangan ke arah dapur.

“Nggak apa-apa ngambil dari rumah Mbak Maira, toh juga aku sama dia kan saudara, Bu. Sama-sama anak Ibu juga. Apalagi hidup dia kan jauh lebih enak dari aku, nggak mungkin dia keberatan kalau seandainya ketahuan."

Bunyi dan bau masakan menyeruak dari arah dapur. Aroma bawang putih, lada hitam, dan daging yang dipanggang perlahan memenuhi udara di seluruh rumah.

Maira memperhatikan suaminya yang tampak fokus dengan spatula di tangan, membalik steak dengan gerakan yang terampil. Api kompor yang menyala kecil-kecil memantulkan cahaya hangat di wajah Farid.

Senyumnya mengembang. Setelah semua pertengkaran yang sempat memuncak dan juga pergumulan panas mereka, Farid sang suami akhirnya memutuskan untuk menebus semuanya dengan cara sederhana tapi manis: memasakkan steak favorit istrinya.

“Tadaa… masakan spesial untuk istri tercinta." Ucap Farid sambil menyodorkan piring berisi steak matang dengan garnish kentang dan sayuran rebus ke hadapan Maira.

Maira mengangguk sambil tertawa kecil, senyumnya makin lebar. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak seperti ini. Duduk berdua di meja makan, bercanda, dan menikmati kehangatan rumah tanpa gangguan.

Sejak setahun terakhir, sejak orang tuanya tinggal bersama mereka, rumah ini terasa lebih sempit dan lebih tegang. Tapi hari ini… berbeda. Ketidakberadaan Bu Susi dan Pak Bowo di rumah itu, dimanfaatkan oleh Maira dan suaminya.

Keduanya merasa seperti kembali ke awal pernikahan mereka yang penuh cinta dan canda seperti dahulu.

“Enak nggak sayang masakan Mas?” Ucap Farid memuji dirinya sendiri sambil duduk di seberang Maira.

Maira mencicipi daging dengan mata tertutup sejenak lalu tersenyum puas. “Makasih ya, Mas… ini kado terindah di ulang tahun pernikahan kita.”

Farid ikut tersenyum, namun dengan cepat alisnya naik sedikit, menatap istrinya penuh arti. “Kalau itu kado untuk kamu… kado untuk Mas mana?” Celetuknya cepat, nada suaranya jahil tapi hangat.

Maira pura-pura mengerutkan dahi, berpura-pura berpikir. “Hmm… kado ya?” Bibirnya menyungging senyum misterius. Ia lalu bangkit dari kursi, berjalan perlahan ke arah Farid, lalu memeluk leher suaminya dari belakang.

“Gimana kalau aku kasih kado yang nggak bisa dibungkus?” Bisiknya pelan. “Kado yang cuma kamu yang bisa buka, Mas.”

Farid tersenyum kecil dan membalik tubuhnya, kini memandang wajah istrinya yang tampak cantik meski tanpa riasan.

“Berarti malam ini kita tempur lagi dong." Ucapnya sembari mengedip nakal.

Maira tertawa geli dan mencubit pelan lengan suaminya. “Kamu ya, Mas!” Ujarnya gemas, tapi wajahnya tak bisa menyembunyikan rona bahagia.

Farid tertawa pelan lalu menarik Maira ke dalam pangkuannya. Ia memeluk sang istri erat-erat, dagunya bertumpu di atas kepala Maira. Hangat. Nyaman.

Hening sejenak, hingga akhirnya ia menatap lekat wajah wanita yang telah menemaninya selama lima tahun terakhir.

“Sayang…” bisiknya pelan. "Boleh nggak kalau Mas minta kado pernikahan tahun ini… kita punya anak?”

Suasana mendadak berubah lebih tenang. Senyum di wajah Maira yang tadi mengembang perlahan memudar. Matanya menatap kosong sebentar, sebelum akhirnya menarik napas panjang dan menghela perlahan.

Semenjak menikah, Maira memang belum pernah melakukan program hamil ataupun memeriksakan dirinya ke dokter. Bukan karena ia tak ingin, tetapi karena kesibukan di restorannya yang nyaris tak pernah mengenal jeda.

Pun Farid memang tak pernah menuntut. Ia selalu terlihat tenang, sabar, dan menerima keadaan mereka. Tapi kali ini… nada di suaranya berbeda. Ada harapan yang perlahan menebar, dan Maira bisa merasakannya.

“Mungkin dalam minggu ini… aku mau konsultasi ke dokter, Mas.” Jawaban itu meluncur akhirnya, pelan namun tegas.

Farid menatapnya lekat-lekat. Seolah ingin memastikan bahwa istrinya benar-benar serius, bahwa kalimat itu bukan hanya karena keinginan sesaat atau sekadar ingin menyenangkan hatinya.

“Kamu serius, Sayang?” Bisiknya nyaris tak terdengar.

Maira mengangguk kecil dengan senyum tipis mengiyakan pertanyaan suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!