Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Ark of the Sky-Lords
Asher baru saja menyesap air dari botol yang diberikan Aruna. Cairan dingin itu berhasil menurunkan hawa panas yang masih menguar dari tubuhnya setelah duel sengit melawan Zane. Ia berdiri tepat di sisi Aruna, bahunya yang lebar seolah menjadi tameng alami bagi gadis itu, sementara matanya tetap tertuju ke arah Aerlisto yang masih duduk santai di akar Pohon Hitam.
"Apa kau benar-benar tidak punya pekerjaan lain di Hutan Primordial, Elf? Mengikuti kami ke wilayah Beastkin terasa seperti tindakan orang yang sedang kurang kerjaan," sindir Asher dengan nada dingin yang khas.
Aerlisto tertawa kecil, jemarinya memainkan sehelai daun hitam yang gugur. "Oh, percayalah, Ksatria Agung. Pekerjaanku di sini jauh lebih menarik daripada duduk di pertemuan dewan yang membosankan. Lagipula—"
Kalimat Aerlisto terputus seketika. Raut wajahnya menjadi sangat serius dalam hitungan detik. Telinga Elf-nya yang lancip sedikit berkedut, menangkap getaran frekuensi yang tidak wajar di udara.
Ding!
[Peringatan Darurat! Mendeteksi ancaman berkecepatan tinggi!
Objek: Anak Panah Beracun. Jarak: 25 meter.
Mengaktifkan protokol perlindungan Host!]
'Eh?' Aruna tersentak mendengar teriakan sistem di kepalanya yang mendadak memekakkan telinga. Belum sempat ia menoleh ke arah kegelapan hutan yang mengepung arena, sebuah desisan tajam membelah keheningan.
Sring!
Sebuah anak panah hitam pekat melesat dari balik bayangan Pohon Hitam, mengincar tepat ke arah leher Aruna yang sedang tidak memakai perlindungan apa pun. Kecepatannya luar biasa, didorong oleh sihir angin tingkat rendah yang membuatnya hampir tak terlihat.
Bruk. Asher dengan refleks menjatuhkan botol minumnya. Syuut... Tangannya langsung menarik pinggang Aruna agar berlindung di balik tubuh tegapnya. Sayangnya, Aerlisto bergerak jauh lebih cepat dengan sihir alamnya yang sudah siaga.
BRAKK!
Tanah di depan Aruna meledak. Akar-akar dari Pohon Hitam yang keras muncul secara instan, menjalin diri menjadi sebuah dinding kayu. Anak panah itu menghantam dinding akar dengan keras, racun hijau di ujungnya mulai mendesis dan membakar permukaan kayu. Whush, sihir Aerlisto segera menetralisirnya hingga menjadi abu kering.
"Sepertinya ular-ular itu mulai lapar," gumam Aerlisto. Ia sudah berdiri, matanya mulai memindai kegelapan hutan di sekeliling Arena Tulang.
Asher menghunus Solis-Aeterna. Tekanan cahaya dari pedangnya menciptakan gelombang energi yang seketika menetralkan sisa-sisa racun di udara hingga udara kembali jernih dalam sekejap. "Viper's Fang. Mereka benar-benar berani menyerang ke tanah Primal Abyss."
Dari balik kegelapan hutan, muncul lima sosok bertopeng dengan pakaian serba hitam yang menyatu sempurna dengan bayangan. Mereka bergerak sunyi, namun mematikan.
Boomz... "Hanya lima orang?" geram Vargos menghantamkan kapak batunya ke tanah, menciptakan getaran hebat. "Prajurit Taring Hitam! Jaga gerbang Cangkang Dewa! Jangan biarkan tikus-tikus ini mengusik wilayah suci kita!"
Blash... Pertempuran pecah dalam sekejap. Lima pembunuh Viper's Fang itu bukanlah lawan sembarangan; mereka adalah unit khusus. Salah satu dari mereka meluncur dari dahan pohon, menghunus belati ganda ke arah kepala Aruna.
"Menjauh darinya!" Swish... Tubuh Asher seolah menghilang dan muncul kembali tepat di lintasan sang pembunuh. Slash! Dia membelah udara dengan satu tebasan, membelah tubuh pembunuh itu dalam seketika sebelum ia jatuh hingga hancur berkeping-keping.
Di sisi lain, Aerlisto tidak membiarkan satu pun musuh mendekat. Ia menjentikkan jarinya, Swish... swish... akar-akar di bawah kaki dua pembunuh lainnya melilit kaki mereka dengan kuat, lalu menyeret mereka masuk ke dalam tanah seolah bumi sedang menelan mereka hidup-hidup.
"Cih... Terlalu lemah," ejek Aerlisto, meski ia tetap waspada.
Setelah melihat keadaan yang tidak menguntungkan dua pembunuh terakhir mencoba melarikan diri, namun serangan kilat dari Dranco yang mengayunkan kapak raksasanya dan cakar mana dari Ellish memastikan tidak ada yang lolos hidup-hidup.
Setelah keheningan kembali, Vargos mendekat dengan wajah mendung. "Mereka hanya umpan pengintai, Putri Auristela. Jalur darat Abyss sudah tidak aman lagi. Fenrir, Ellish, kalian berdua tetap disini."
"S1alan!" maki Aruna pelan. Jantungnya masih berdegup kencang karena kaget. "Mereka gigih banget."
"Hmm... Kita harus bergerak ke tempat yang tidak bisa mereka jangkau dengan mudah," sela Dranco sambil menunjuk ke arah puncak gunung yang diselimuti awan merah membara. "Ark of the Sky-Lords. Di sana, naga-naga penjagaku akan memanggang siapa pun yang berani mendekat."
Aruna menatap Fenrir dan Ellish yang harus tinggal di wilayah mereka. "Kalian berdua... jaga diri baik-baik di sini."
"Jangan cemaskan kami, Auristela," balas Fenrir dengan seringai taringnya. "Cemaskan saja dirimu sendiri. Jika kau m4ti, siapa yang akan memberiku makanan enak lagi?"
Pendakian pun dimulai. Jalur tebing yang terjal dan sempit menjadi siksaan fisik bagi Aruna. Setiap langkah terasa berat, otot kakinya menjerit protes karena udara yang semakin tipis dan panas.
Asher tetap berada di belakang Aruna, tangannya beberapa kali menahan pinggang gadis itu saat ia hampir terpeleset di bebatuan licin. Sementara Aerlisto berjalan di depan dengan sangat ringan, sesekali menciptakan pijakan akar yang stabil untuk Aruna.
Setelah perjuangan berjam-jam, kabut merah di puncak perlahan menghilang, menampakkan kota benteng raksasa yang seolah tumbuh dari puncak gunung berapi. Arsitekturnya luar biasa megah, dijaga oleh Naga Obsidian yang berdiri tegak seperti patung hidup.
Begitu gerbang logam raksasa tertutup, Aruna langsung menghempaskan tubuhnya ke tumpukan karpet bulu Snow-Leopard di aula utama. "Akhirnya... kakiku serasa mau copot," gumamnya tak berdaya.
Asher segera berlutut di sisi Aruna. Wajahnya menunjukkan gurat kecemasan yang nyata. "Putri Auristela... biarkan aku memeriksa kondisimu. Kamu tampak sangat pucat."
Aruna menepis tangan Asher dengan sisa tenaganya, lalu menatap ksatria itu ketus. "Aku tidak apa-apa... Aku hanya lelah, bukan sekarat! Berhenti bersikap berlebihan dan urus saja dirimu sendiri!"
Asher menarik tangannya kembali, berdiri tegak dengan posisi formal. "Aku hanya ingin memastikan keadaanmu, Putri. Keselamatanmu adalah prioritas utama."
"Prioritaskan saja istirahatmu! Kamu juga bertarung tadi! Ingat, manamu baru stabil!" balas Aruna sambil memunggungi Asher.
Aerlisto tertawa kecil dari kejauhan. "Dia benar, Ksatria Agung. Terkadang perhatianmu itu terasa lebih menyesakkan daripada racun Viper's Fang."
Clap! "Malam ini, tidurlah sepuas kalian," sela Dranco. "Aku sudah mengaktifkan perlindungan total."
Aruna memejamkan mata, membiarkan kelelahan membawanya ke alam mimpi.
Ding!
[Status Host: Kelelahan Ekstrem. Mengaktifkan mode pemulihan seluler. Selamat beristirahat, Host.]
Di luar dinding Ark yang kokoh, sosok dengan mata merah yang mengintai sejak tadi perlahan menghilang ke dalam kegelapan. Gagal melakukan serangan kilat tidak membuatnya menyerah; ia punya waktu untuk menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar.