Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Suasana koridor ICU yang semula tegang karena intimidasi Harva, kini berubah menjadi medan pertempuran harga diri. Cengkeraman Bang Haris di kerah baju Harva semakin kuat, membuat napas pria pesolek itu memburu tak beraturan.
"Lepaskan, Haris! Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!" bentak Harva, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan yang mulai mengintip.
"Aku tahu persis sedang berhadapan dengan siapa," sahut Bang Haris dengan suara rendah yang berbahaya. "Aku sedang berhadapan dengan pengecut yang bersembunyi di balik setelan mahal dan tumpukan uang."
Aku melangkah maju, menghapus air mata dengan punggung tanganku. Tidak ada lagi ruang untuk isak tangis. Rasa sedihku telah bermutasi menjadi keberanian yang murni. Aku menatap lurus ke mata Harva—mata yang dulu kukira memancarkan perlindungan, ternyata hanya lubang hitam yang haus obsesi.
"Pergi dari sini, Harva," ucapku tajam. "Sebelum aku memanggil keamanan dan menyerahkan flashdisk ini ke polisi sekarang juga. Kamu pikir uangmu bisa membungkam kebenaran yang sudah terekam?"
Harva menatapku, mencari celah manipulasi yang biasa ia gunakan. Namun, ia tidak menemukan Rania yang rapuh. Ia hanya menemukan wanita yang baru saja mendapatkan kembali ingatannya tentang cinta yang sebenarnya. Dengan kasar, ia menyentak tangan Bang Haris dan merapikan jasnya yang kusut.
"Kamu akan menyesal, Rania. Tanpa dukunganku, kariermu dan perusahaanmu itu akan tamat dalam semalam," ancam Harva, mencoba melakukan serangan terakhir.
"Silakan ambil karierku, ambil posisiku, ambil semua itu jawabku tanpa ragu. "Aku lebih baik kehilangan pekerjaan daripada terus bernapas di bawah bayang-bayang pria iblis sepertimu. Pergi!"
Harva mendengus, lalu berbalik dan melangkah cepat meninggalkan koridor. Bunyi langkah sepatunya yang angkuh perlahan menghilang, menyisakan keheningan yang menyesakkan di depan pintu ICU.
Bang Haris berbalik dan memelukku erat. Aku terisak di dadanya, mengeluarkan seluruh sesak yang tertahan selama tiga tahun. "Bang... Arlan... aku sudah jahat sekali padanya. Aku memaki orang tuanya, aku menyebutnya menjijikkan... padahal dia..."
"Ssst... sudah, Ran. Arlan kuat. Dia bertahan selama tiga tahun ini hanya untuk momen ini. Untuk melihatmu tahu kebenarannya," bisik Bang Haris menenangkan.
Tiba-tiba, lampu di atas pintu ICU berubah warna. Seorang dokter keluar dengan masker yang sudah diturunkan ke leher. Wajahnya kelelahan, namun ada seulas senyum tipis di sana.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya. Detak jantungnya stabil, meski kesadarannya belum pulih sepenuhnya akibat syok hebat pada sistem sarafnya," jelas Dokter tersebut. "Tapi, ada sesuatu yang aneh. Sejak tadi, dalam tidurnya, dia terus menggumamkan satu nama."
Aku menahan napas, menatap Dokter itu dengan penuh harap.
"Dia memanggil Rania," lanjut Dokter. "Sepertinya, suara Anda saat masuk tadi memberikan rangsangan emosional yang kuat padanya."
Lututku lemas. Aku terduduk di kursi tunggu, menutupi wajahku dengan kedua tangan. Tuhan, terima kasih. Kamu memberiku kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
"Boleh saya masuk, Dok? Sebentar saja," pintaku parau.
Dokter itu mengangguk. "Hanya satu orang. Gunakan pakaian steril yang disediakan perawat."
Aku melangkah masuk ke dalam ruangan dingin yang dipenuhi bunyi mesin bedside monitor yang monoton: beep... beep... beep... Di atas ranjang itu, Arlan terbaring lemah. Wajahnya yang dulu ceria saat SMA, kini tampak tirus dan pucat. Banyak selang menempel di tubuhnya yang tampak kurus.
Aku duduk di samping ranjangnya, meraih tangannya yang dingin dan kasar. Aku menempelkan tangan itu di pipiku, membiarkan air mataku membasahi kulitnya.
"Lan... ini aku, Rania," bisikku di telinganya. "Aku sudah tahu semuanya. Maafkan aku... maafkan aku karena sudah menjadi pengecut yang langsung pergi tanpa mendengar penjelasanmu. Maafkan aku karena sudah membencimu selama seribu hari ini."
Jari-jari tangan Arlan bergerak sedikit. Sangat pelan, namun aku merasakannya.
"Bangun, Lan... Aku tidak akan pergi lagi. Kali ini, bukan hanya untuk menemani prosesmu, tapi untuk menjagamu dari siapa pun yang mencoba menyakitimu. Aku bukan lagi gadis dingin itu, Lan. Aku akan melindungimu."
Di luar jendela ICU, fajar mulai menyingsing. Kegelapan malam yang panjang mulai terkikis oleh cahaya. Sama seperti hatiku, es yang membeku selama tiga tahun itu kini telah cair sepenuhnya, menyisakan hamparan luka yang siap untuk disembuhkan bersama.
Namun, di saku blazernya, ponsel Rania bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal:
"Kamu pikir video itu cukup untuk menjatuhkanku? Siska bukan satu-satunya saksi yang bisa dibeli, Rania. Selamat bermain di babak kedua."