NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Aksarasastra

Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tradisi Merah Emas.

Butik gaun pengantin yang mereka datangi sore itu terlihat lebih seperti galeri seni daripada toko pakaian biasa. Lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi, memantulkan cahaya lembut ke deretan gaun yang dipajang rapi di sepanjang ruangan.

Kain satin, tulle, dan lace berkilau halus di bawah lampu, membuat setiap gaun terlihat seperti sesuatu yang hanya muncul di film romantis mahal.

Alya berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Sedikit kagum.

Sedikit gugup.

Sedikit… tidak percaya.

Ia melirik Adrian yang berdiri santai di sampingnya, tangan dimasukkan ke saku celana dengan ekspresi datar seperti biasa.

“Aku masih bingung,” kata Alya sambil berbisik. “Kenapa harus ke butik desainer terkenal begini.”

Adrian menoleh sedikit ke arahnya.

“Karena ini pernikahan.”

Jawabannya singkat.

Namun Alya tetap mendecakkan lidah kecil.

“Pernikahan juga bisa pakai gaun biasa,” gumamnya.

Salah satu staf butik, seorang wanita elegan berusia sekitar tiga puluhan, mendekat dengan senyum profesional.

“Selamat datang. Kami sudah menerima detail dari Pak Adrian sebelumnya.”

Alya langsung menoleh cepat.

“Kamu sudah pesan duluan?”

Adrian mengangguk ringan.

“Untuk baju sangjit.”

Alya mengerjap.

“Oh.”

Ia hampir lupa bahwa selain gaun pengantin, mereka juga harus menyiapkan pakaian untuk acara sangjit.

Staf itu membawa mereka ke area lain yang dipenuhi gaun dengan warna yang jauh lebih berani..., merah tua, emas, dan beberapa warna tradisional yang terlihat sangat mewah.

Alya langsung tertarik pada satu gaun merah dengan bordir emas yang sangat indah.

“Ini cantik,” katanya spontan.

Adrian memperhatikan gaun itu lalu mengangguk kecil.

“Memang.”

Ia kemudian berkata dengan nada santai, “Warna merah dan emas itu sangat penting dalam budaya Tionghoa.”

Alya menoleh ke arahnya.

Adrian melanjutkan penjelasannya dengan suara tenang, sesuatu yang jarang ia lakukan secara panjang.

“Merah melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan perayaan. Sedangkan emas biasanya melambangkan kemakmuran dan kehormatan keluarga.”

Alya mendengarkan dengan cukup serius.

Ia memandangi gaun merah emas itu lagi.

“Jadi intinya…”

Ia menoleh lagi ke Adrian.

“…biar hidup kita penuh hoki?”

Adrian menatapnya beberapa detik.

Lalu ia mengangguk kecil.

“Kurang lebih begitu.”

Alya langsung tersenyum puas.

“Oke aku suka konsep hoki.”

Staf butik tertawa kecil mendengar itu.

Beberapa menit kemudian Alya dibawa ke ruang fitting besar dengan cermin tinggi yang memenuhi hampir seluruh dinding. Beberapa gaun putih sudah disiapkan di sana, masing-masing dengan desain yang berbeda.

Alya menyentuh salah satu gaun dengan hati-hati.

“Aku boleh pilih sendiri?”

Staf itu mengangguk ramah.

“Tentu saja.”

Alya mulai melihat satu per satu gaun yang digantung rapi.

Ada yang dengan dada terbuka lebar.

Ada yang tanpa lengan.

Ada juga yang penuh payet berkilau.

Namun setelah beberapa menit memperhatikan semuanya, Alya akhirnya menunjuk satu gaun yang menurutnya paling menarik.

Gaun itu sangat elegan.

Bagian atasnya tertutup sampai leher dengan lace halus yang terlihat klasik. Lengan panjangnya ramping, sementara bagian pinggang jatuh lembut lalu sedikit mengembang ke bawah dengan lapisan tulle tipis yang memberi kesan anggun.

Gaun itu terlihat seperti sesuatu yang dipakai bangsawan Eropa dalam film sejarah.

“Aku mau coba yang ini,” kata Alya.

Beberapa menit kemudian ia keluar dari ruang ganti dengan gaun itu sudah terpasang rapi di tubuhnya.

Staf butik tersenyum kagum.

“Cocok sekali.”

Alya berdiri di depan cermin besar sambil memutar tubuh perlahan.

Ia sendiri terlihat cukup puas.

Gaun itu membuatnya terlihat elegan tanpa terlalu berlebihan. Leher tertutup memberi kesan klasik, sementara bagian rok yang mengembang ringan membuatnya terlihat anggun ketika bergerak.

Alya menoleh ke arah Adrian.

“Gimana?”

Adrian menatapnya beberapa detik.

Ekspresinya sulit dibaca seperti biasa.

Namun di dalam pikirannya, satu kata muncul.

Cantik.

Sangat cantik.

Namun alih-alih mengatakan itu, Adrian hanya berkata datar.

“Lumayan.”

Alya mengerutkan kening.

“Lumayan?”

Namun sebelum ia sempat protes lebih jauh, Adrian berkata lagi.

“Coba yang lain.”

Alya menghela napas kecil.

Baiklah.

Ia kembali ke ruang ganti.

Beberapa menit kemudian staf butik membawa satu gaun lain yang katanya dipilih oleh Adrian.

Alya bahkan belum melihat desainnya ketika gaun itu sudah dipasangkan ke tubuhnya.

Dan ketika ia keluar dari ruang ganti…

Seluruh ruangan menjadi sunyi.

Alya berdiri di depan cermin dengan ekspresi yang perlahan berubah dari bingung… menjadi tidak percaya.

Gaun yang ia pakai sekarang sangat aneh.

Bagian atasnya memiliki potongan besar berbentuk hati yang terlalu terbuka di dada. Di bahu ada dekorasi bulu besar yang membuatnya terlihat seperti burung eksotis yang tersesat di pesta pernikahan.

Bagian rok juga tidak kalah aneh.

Alih-alih mengembang elegan, rok itu memiliki lapisan ruffle bertumpuk yang terlihat seperti kue pengantin raksasa.

Alya menatap dirinya sendiri di cermin.

Beberapa detik.

Lalu ia menoleh perlahan ke arah Adrian.

“Ini… apa?”

Adrian menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan santai.

“Gaun.”

Alya memicingkan mata.

“Aku tahu ini gaun.”

Ia menunjuk rok ruffle yang sangat besar.

“Tapi ini kenapa kayak tirai jendela digulung terus ditempel di badan?”

Staf butik berusaha menahan tawa.

Adrian menatap Alya dengan ekspresi datar.

“Aku pikir kamu suka hal yang… unik.”

Alya melongo.

“Unik?!”

Ia berbalik lagi ke arah cermin.

“Aku kelihatan kayak cupcake yang kena badai!”

Adrian akhirnya tersenyum tipis.

Ia sebenarnya sengaja.

Ia ingin melihat reaksi Alya.

Dan reaksi itu ternyata jauh lebih lucu dari yang ia bayangkan.

Alya mulai berjalan ke arah Adrian dengan rok besar itu.

Namun karena rok tersebut sangat lebar dan berat, gerakannya menjadi sangat canggung.

“Ini gaun pernikahan atau kostum festival?” katanya kesal.

Ia mencoba mengangkat sedikit rok itu agar bisa berjalan lebih cepat.

Namun langkahnya malah menjadi semakin tidak stabil.

“Alya hati-hati—”

Belum selesai staf butik memperingatkan, kaki Alya tersangkut lapisan ruffle besar itu.

Segalanya terjadi sangat cepat.

Alya kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya miring ke samping.

Tangannya mencoba menangkap sesuatu di udara.

Namun yang ia tangkap hanyalah udara kosong.

“Eh—”

Lalu—

BRAK!

Alya terjungkal ke lantai dengan posisi yang sangat dramatis.

Rok besar gaun itu mengembang ke segala arah seperti payung yang baru dibuka. Lapisan ruffle menyebar di lantai seperti gelombang kain yang tidak terkendali.

Sementara Alya sendiri… terjebak di tengahnya.

Ia berbaring setengah miring dengan kaki terlipat aneh di bawah lapisan kain.

Rambutnya sedikit berantakan.

Ekspresinya kosong.

Seluruh ruangan hening selama dua detik.

Lalu salah satu staf butik tidak bisa menahan diri lagi dan tertawa kecil.

Adrian menutup mulutnya dengan tangan.

Ia sebenarnya ingin tetap terlihat tenang.

Namun pemandangan Alya yang terjebak di dalam gaun raksasa itu benar-benar terlalu lucu.

Alya mengangkat kepalanya sedikit dari lantai.

Ia menatap Adrian dengan wajah datar.

“Kamu…”

Ia menunjuk gaun itu.

“…sengaja ya.”

Adrian akhirnya tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk butik itu, ekspresi dinginnya benar-benar retak.

Alya memejamkan mata beberapa detik.

Lalu menghela napas panjang.

“Baiklah,” gumamnya.

“Ini resmi.”

Ia menunjuk Adrian lagi dengan wajah serius.

“Direktur ternyata punya selera humor jahat.”

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!