Menceritakan Kayla Eleody Seorang gadis kaya raya dengan kehidupan glamour sempurna, gadis pemberani ini tiba tiba saja bertukar jiwa dengan Zara seorang gadis miskin yang menjadi korban bully di sekolah, mampukan Kayla hidup dalam raga Zara dengan segala kesulitannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Skorsing
Sita menarik tangannya dengan kaku setelah mendaratkan tamparan keras pada Zara, wanita setengah tua itu tampak menyesal seketika.
Sementara wajah Zara terlempar ke arah samping, ia kembali menatap sang ibu dengan nyalang, selama hidupnya ia tak pernah merasakan tamparan seperti ini, menyakitkan.
"Bagus kalo kamu mau ngasih pelajaran buat anak kamu" Ucap Ibu Michele.
Sementara Michele tersenyum Samar melihat sita menampar Zara, itu memuaskan baginya.
Zara merasa malu sekaligus sakit hati, gadis itu berlari keluar ruangan kepala sekolah.
"Zara!" Panggil sita berteriak.
Sita kembali pada posisinya, ia bertekuk lutut dan menangkup kedua tangannya untuk memohon, "Tolong jangan keluarkan anak Saya!" Mohonnya.
"Ada apa ini?" Seorang pria datang menginterupsi.
"Selamat siang Pak harris?" Kepala sekolah menyapa.
"Ada apa ini?" Tanya lagi.
Ayah Michele mendekat, menjabat tangan rekan bisnis sekaligus pemilik sekolah tersebut.
"Hanya masalah kecil" Katanya.
"Kenapa berlutut?" Tanya Harris pada Sita.
"Bu Sita silahkan berdiri!" Pinta sang kepala sekolah.
Sita semakin menunduk takut, ia takut kehadiran Harris semakin memperburuk suasana, bagaimana jika laki laki kaya itu mengambil keputusan buruk setelah tau kelakuan putrinya?
"Hanya kenakalan remaja, putri Saya Michele mengalami kekerasan yang dilakukan oleh putri ibu Sita , Zara namanya" Ungkap ayah Michele.
Harris melirik ke arah Sita, dan beralih pada widya juga Michele yang berada di sampingnya, dua keluarga dengan kondisi yang sangat berbeda, terlihat dari penampilan mereka.
"Saya memutuskan untuk memberi sanksi berupa skorsing pada Zara, namun bapak Jaya dan ibu widya menolaknya, mereka ingin Zara di keluarkan dari sekolah" Ungkap sang kepala sekolah.
"Kenapa Zara dan Michele selalu terlibat perkelahian, beberapa kali Saya mendapat pesan bahwa Michele melakukan kekerasan pada Zara dan sekarang zara yang melakukan kekerasan pada Michele?" Tanya Harris.
Semua orang terkejut, kenapa Harris bisa berbicara demikian, padahal sebelumnya laporan terhadap michele tak pernah sampai pada Harris, mereka menyelesaikan hanya sampai pihak kepala sekolah"
"Saya gak pernah melakukan kekerasan pak" Sangkal Michele.
Sita terkejut mendengar nya, apakah Zara benar benar pernah mengalami perundungan?
"Saya juga tidak memiliki bukti, ada akun sosial media yang mengirim pesan pada Saya, tapi Saya tidak memiliki bukti apapun" Jawab Harris.
"Sialan! Zara diem diem ngelaporin gue sama pak Harris?" Batin Michele.
"Pak Saya tidak yakin anak Saya melakukan hal yang tidak terpuji begitu, anak Saya ini berasal dari keluarga terhormat!" Sangkal sang ibu.
Harris mengangguk, "Saya tidak bisa mengeluarkan Zara dari sekolah begitu saja, dia siswi yang berprestasi, itu adalah alasan Saya, Saya harap anda semua bisa nemerimanya" final Harris.
Sita bernapas lega, putrinya selamat dan masih memiliki kesempatan.
"Baik Pak" Jawab kepala sekolah.
Jaya dan widya tampak kecewa dengan keputusan yang di ambil oleh harris, namun keduanya tak berani membantah lagi.
"Baik kalau begitu Saya permisi dulu" Pamit widya.
Michele dan kedua orang tuanya meninggalkan ruangan dan menyisakan 3 orang yang masih berdiri di sana.
"Terimakasih atas kesempatan bapak" Ucap Sita tulus.
"Saya harap kejadian seperti ini tidak terulang ibu" Katanya
Sita mengangguk, wanita itu berpamitan pergi kemudian.
"Apa Zara tidak pernah membuat laporan tentang perundungan yang terjadi di sekolah?" Tanya Harris pada kepala sekolah.
"T-tidak pak" Bohongnya.
"Bapak akan di beri sanksi tegas jika menutupi masalah ini, tapi kali ini Saya memilih percaya pada bapak" Katanya.
"Iya Pak terimakasih"
...****************...
Zara melempari kerikil kecil di sungai, ia meluapkan rasa kesalnya setelah kejadian di sekolah tadi.
"Ngapain gue diem aja sih! lagian kan dia bukan ibu gue!" Gerutunya.
"Tapi gue gak mungkin juga nyakitin dia, gimanapun dia udah ngerawat gue dengan baik" Batinnya.
"Zara!" Teriakan nyaring ia dapatkan.
Zara tidak menoleh, ia merasa itu bukanlah namanya, gadis itu tetap menatap aliran deras sungai tanpa mempedulikan seseorang datang semakin mendekat.
"Ra!"
Tepukan pelan menyadarkan nya, "Apaan sih?!" Jawabnya tak santai.
Seorang anak laki laki yang terlihat seumuran dengannya tersenyum lebar menyapa.
"Aku denger kamu habis tenggelam ya?" Tanyanya.
"Siapa ini?" Kayla membatin.
"Iya!" Jawabnya ketus.
"Untung kamu selamet ra!" Tiba tiba anak laki laki itu memeluknya dari arah Samping.
"Aah kampung! bau tau gak!?" Zara mendorong pemuda itu hingga hampir terjatuh.
"Jutek banget kamu ra" Protesnya heran.
"Lo siapa sih?!"
"Kamu lupa sama aku?" Tanyanya tak percaya.
"Kepala gue kepentok batu!"
pemuda itu mengangguk anggukan kepalanya, "Kamu anemia?"
"Amnesia bego!" Makinya.
"Iya itu deh, aku amir temen kamu smp, jadi beneran gak inget ya?" Tanya amir heran.
"Amir? aduhh lagian si Zara punya temen model kampung gini"
"Dulu kita sering main bareng, masa gak inget?"
"Enggak!" Jawabnya ketus
Amir mengangguk, namun ia kecewa Zara melupakannya.
"Yaudah gak papa, gimana sekolahmu?" Tanyanya.
"Gak baik"
"Gak baik kenapa?"
"Bacot ah! berisik tau nggak? gue kesini mau nenangin diri, ganggu aja!" Marahnya.
Zara memutuskan pergi meninggalkan Amir yang diam di tempat sambil menggaruk pelipisnya.
"Anemia bisa bikin orang jadi galak juga ya?" Heran amir.
...****************...
"Cell? kamu jujur sama mama kamu gak pernah kan bully anak itu?" sungut widya.
"Y-ya enggak lah ma, aku kan udah janji bakalan jaga reputasi mama" Bohong Michele.
"Bagus kalo kamu inget! mama gak mau denger kamu macem macem jangan malu maluin mama!" Peringkatnya.
"Iya" Jawab Michele ketus.
"Sialan ini semua gara gara Zara, berani beraninya dia ngadu ke pak Harris, untung aja nyokap percaya" Batin Michele.
"Lagian papa heran kenapa dia berani ngelawan kita, harusnya dia tau siapa papa kan?" Tanya Jaya.
"Y-ya harusnya sih iya, michele juga heran tuh kenapa dia berani banget ngelawan papa sama mama" Sahut Michele.
"Ya menurut kamu kenapa dia berani ngomong kalo dia gak bersalah! jadi sebenarnya siapa sih yang mulai duluan, kamu atau dia?"
Michele terdiam sesaat matanya melirik kesana kemari, bisa tamat riwayatnya jika sang ibu tau kelakuannya selama ini.
"Bukan aku kok, mama gak liat apa jelas jelas aku yang di siram sambel begini, sakit tau" Rengeknya manja.
"Ya oke kali ini mama percaya, tapi jangan sampe mama denger kamu jadi pembully, kamu tau kan penting nya reputasi keluarga kita? mama sama papa udah bangun citra sebaik mungkin, kamu tau papa kamu mau jadi politikus?" Tanyanya.
"Tau" Jawab Michele pelan.
"Awas aja kamu macem macem!"
"gara gara si cupu! ish gue makin dendam sama tuh cewek!" Batin michele.
"Papa sih berharap dia di keluarin dari sekolah, tapi Harris udah bersuara begitu papa cuma bisa nurut, papa juga harus jaga image papa buat orang penting kaya dia, jadi harusnya kamu paham"
"Iya pa iya"
"Hadeh pusing mama" Keluh widya.