Fei Xing berasal dari abad masa depan—tahun 3080—dimana hampir semua aspek kehidupan dikuasai oleh mesin pintar canggih.
Kemajuan teknologi yang terlalu cepat mengakibatkan banyak kerusuhan dan konflik di seluruh dunia.
Ayahnya, seorang profesor jenius di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan sebuah sistem canggih yang terpasang pada jam pintar Fei Xing.
Tujuan utama penciptaan sistem itu adalah untuk melindungi anaknya dengan mengirimkannya pergi dari tahun 3080 yang penuh bahaya.
Di dunia baru ini, Fei Xing bebas mengendalikan sistemnya sesuai keinginannya.
Sistem kecerdasan buatan ini sangat pintar dan memiliki protokol dasar: tidak boleh menyakiti atau melawan tuannya.
Dalam kurun waktu 100 tahun, Fei Xing sudah sering melakukan perjalanan lintas dunia—dari zaman modern, masa lalu, hingga dunia saat ini—hanya untuk bertahan hidup dan mengembangkan kemampuannya.
Namun Sistemnya membutuhkan energi untuk tetap beroperasi dan menjaga kelangsungan hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fei Xing
Fei Xing terbangun dengan tubuhnya yang masih sedikit pegal. Tanpa berlama-lama, dia melangkah menuju jendela lebar yang menghadap ke luar, membuka pintu balkon dengan gerakan yang tenang.
Udara pagi yang masih berkabut menyapa wajahnya—benar-benar segar dan berbeda dari apa yang pernah dia rasakan sebelumnya.
Di depannya, hanya ada deretan hutan lebat yang menjulang tinggi hingga ke cakrawala yang tak terlihat ujungnya.
"Benar-benar telah tiba di dunia lain." Suara itu terdengar tegas dalam benaknya.
Tak lama kemudian, beberapa sosok terbang dengan cepat menuju arah rumahnya.
Itu adalah sekelompok burung dengan bulu berwarna merah menyala, seukuran elang dewasa.
Namun, ketika hanya beberapa meter lagi dari tempat dia berdiri, sebagian burung yang terbang lebih rendah tiba-tiba menabrak sesuatu yang tak terlihat di udara—bunyi benturan yang keras terdengar jelas sebelum mereka terjatuh ke tanah begitu saja.
Fei Xing mengeluarkan senyum kecil. "Baiklah, ayo coba hidangan daging burung merah panggang..."
Dia berbalik dan turun ke lantai satu. Ruangan tamu yang mewah dengan perabotan kayu berkualitas tinggi menyambutnya, namun dia tidak berhenti lama.
Langkahnya lancar saat mendorong pintu utama rumah, dan pandangannya langsung terpaku pada halaman luas yang dihiasi taman indah. Tanpa ragu, dia berjalan menuju gerbang rumah.
Di sana, burung-burung merah itu tergeletak tak berdaya di tanah. Fei Xing membuka gerbang dengan mudah, lalu melihat ke arah depan—hutan lebat yang sama yang tampak dari balkon menghadangnya sejauh mata memandang.
Tanpa berlama-lama, dia berbalik untuk mengumpulkan burung-burung tersebut.
Saat jemari tangannya menyentuh tubuh salah satu burung, jam tangan pintar yang terpasang di pergelangannya tiba-tiba mengeluarkan suara elektronik yang jelas.
[Burung Api Merah]
Energi: A
Poin: 100
Fei Xing mengangguk puas. Dia segera membawa ketiga burung tersebut masuk ke dalam halaman, dan tepat setelah dia memasuki area rumah, pintu gerbang secara otomatis tertutup dengan sendirinya, menyembunyikan dunia hutan yang ada di luar.
Saat sampai di dapur yang luas dengan kompor batu dan rak kayu yang terawat rapi, Fei Xing segera menaruh ketiga burung Api Merah di lantai yang bersih.
Dia mengangkat tangan yang mengenakan jam pintar, lalu menekan beberapa tombol hingga sinar hijau menyala terang.
Saat sinar menyentuh tubuh dua di antara burung tersebut, mereka perlahan menghilang dari pandangan seperti ditarik ke dalam ruang tersembunyi.
Suara elektronik jam pintarnya terdengar kembali: "Tersimpan sukses!"
Fei Xing mengangguk puas. Dia mengambil burung yang tersisa di lantai, lalu mulai membersihkannya dengan alat yang sudah siap di dapur.
Matanya bersinar dengan antusias—dia berniat membuat hidangan burung bakar pedas dengan bumbu yang telah dia siapkan sejak tiba di dunia ini.
Di sisi lain, jauh dari lokasi Fei Xing, kawasan hutan yang lebih terbuka menunjukkan pemukiman kecil dengan gubuk-gubuk yang terbuat dari jerami dan kayu.
Banyak pria, wanita, dan anak-anak berpakaian kulit hewan beraktivitas dengan giat—beberapa sedang mengeringkan hasil tangkapan hari sebelumnya, yang lain sedang merawat tanaman di sekitar pemukiman.
Beberapa pria muda baru saja keluar dari salah satu gubuk terbesar, membawa tombak kayu yang diasah tajam dan perbekalan berupa tali serta ember terbuat dari kulit hewan.
Total ada tujuh orang yang akan pergi berburu untuk memberi makan seluruh suku. Pria paling tua di antara mereka dengan wajah bertato dan tubuh berotot adalah pemimpin kelompok.
"Kita akan pergi ke selatan. Aku melihat babi tanduk banyak berkeliaran di sana beberapa hari yang lalu..." jelas Hu Zen sambil memimpin langkah kelompoknya menjauh dari pemukiman.
"Baik!" Para pria muda mengangguk setuju.
Si Bin, pria muda yang mengenakan rok kulit macan dengan pola khas, mendekat ke Hu Zen. "Hu Zen, sebentar lagi musim hujan tiba. Bagaimana dengan kondisi rumah kita nanti? Beberapa bagian atap sudah mulai sobek."
Da Wang, pria dengan rambut panjang yang diikat dengan rumput jerami, menyela dengan nada agak kesal. "Hujan terakhir kali menghanyutkan semua persediaan makanan kita. Kalau musim hujan datang lagi dan kita tidak punya cadangan yang cukup, suku akan kesusahan."
Hu Zen mengerutkan keningnya, matanya menatap jalan yang akan ditempuh. "...Kita akan membahas itu dengan pemimpin suku setelah kita kembali dengan hasil buruan.
Yang jelas sekarang, kita harus tetap bersikap waspada dan fokus pada tugas hari ini. Hutan sekarang penuh dengan bahaya yang lebih besar dari sebelumnya."
Fei Xing duduk di atas kursi kayu di meja makan yang luas, menikmati hidangan burung bakar pedas yang aromanya menggugah selera.
Sambil mengunyah, matanya melirik ke luar melalui jendela, memperhatikan pemandangan halaman yang masih terawat rapi meskipun berada di tengah hutan.
Tiba-tiba, suara elektronik dari sistem rumah terdengar jelas di ruangan: [Tuan, apakah Anda ingin berjalan-jalan di luar?]
Fei Xing mengambil gelas air yang terletak di sebelahnya, mengangkatnya sedikit sebelum bertanya: "...Apakah aman?"
[Saya akan memindai lingkungan untuk Anda!] jawab sistem dengan nada sopan. Beberapa detik berlalu sebelum suara itu kembali terdengar:
[20 meter dari rumah terdeteksi adanya manusia asli dunia ini. Total jumlah: 7 orang.]
Alis pria itu sedikit mengerut. "...Oh, coba tampilkan mereka!"
[Video akan dimuat sebentar lagi!]
Fei Xing menaruh gelasnya kembali di meja dengan hati-hati. Tak lama kemudian, sebuah gambar hologram muncul di udara tepat di depannya—menampilkan rekaman visual dari kamera tersembunyi di sekitar rumah.
Di layar itu terlihat tujuh pria berpakaian kulit hewan, membawa tombak dan perlengkapan berburu yang sederhana.
"Mereka tampaknya pemburu..." ucap Fei Xing dengan keyakinan.
[Sepertinya memang begitu, Tuan.] jawab sistemnya.
Fei Xing terdiam sejenak sambil menatap gambar hologram tersebut.
Dia tahu bahwa kawasan rumahnya tidak akan pernah bisa dilihat atau ditemukan oleh penduduk asli dunia ini—kecuali jika dia sendiri mengizinkan mereka untuk masuk ke dalam area perlindungan yang telah dipasang sistemnya.
Dan tentu saja, dia tak akan membiarkan siapapun masuk kawasan rumahnya tanpa izin yang jelas darinya.
Fei Xing mengambil piring kotor setelah selesai makan, lalu meletakkannya ke dalam dimensi khusus untuk cuci piring yang secara otomatis akan membersihkan dan menyimpan peralatan makan.
Setelah itu, dia keluar dari rumah dan berjalan menuju halaman samping, di mana berdiri sebuah pasar swalayan yang menjadi miliknya.
Fei Xing berasal dari abad masa depan—tahun 3080—dimana hampir semua aspek kehidupan dikuasai oleh mesin pintar canggih.
Kemajuan teknologi yang terlalu cepat mengakibatkan banyak kerusuhan dan konflik di seluruh dunia.
Ayahnya, seorang profesor jenius di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan sebuah sistem canggih yang terpasang pada jam pintar Fei Xing.
Tujuan utama penciptaan sistem itu adalah untuk melindungi anaknya dengan mengirimkannya pergi dari tahun 3080 yang penuh bahaya.
Di dunia baru ini, Fei Xing bebas mengendalikan sistemnya sesuai keinginannya.
Sistem kecerdasan buatan ini sangat pintar dan memiliki protokol dasar: tidak boleh menyakiti atau melawan tuannya.
Dalam kurun waktu 100 tahun, Fei Xing sudah sering melakukan perjalanan lintas dunia—dari zaman modern, masa lalu, hingga dunia saat ini—hanya untuk bertahan hidup dan mengembangkan kemampuannya.
Sistemnya membutuhkan energi untuk tetap beroperasi dan menjaga kelangsungan hidupnya, dan sumber energi yang bisa diterima adalah barang-barang berharga dari berbagai dunia yang dia kunjungi.
Berkat pengalamannya yang luas, Fei Xing sendiri sudah mengumpulkan lebih dari 80 juta koin yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan.
Bisa dibilang, sistemnya tidak perlu khawatir lagi mengenai kekurangan energi atau kelangsungan hidup mereka di dunia mana pun.