Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nara Bukan Sekadar Pajangan
Mobil Arga berhenti tepat di depan lobi hotel bintang lima tempat acara gala dinner kolega bisnisnya diadain. Suasana di luar udah penuh sama mobil-mobil mewah dan kilatan lampu kamera yang bikin silau. Arga ngelirik Nara yang duduk di sebelahnya. Malam itu Nara bener-bener beda. Dia pakai gaun satin warna emerald gelap—warna yang sama kayak sampel kain yang sempat bikin meja kerja Arga berantakan tempo hari.
"Nara, lo oke?" tanya Arga. Nadanya nggak sedingin biasanya, ada sedikit getar khawatir yang nyelip.
Nara narik napas panjang, benerin antingnya yang agak miring. "Jujur? Gue deg-degan parah. Pasti mereka bakal ngelihatin gue kayak lagi inspeksi barang dagangan. 'Siapa sih cewek yang bisa naklukin si robot Arga?' gitu kan pikirannya?"
Arga mendengus pelan, tangannya tanpa sadar ngeraih jemari Nara yang kerasa dingin. "Inget kata gue semalam. Lo di sini bukan buat jadi pajangan atau sekadar pelengkap jas gue. Lo Nara, desainer yang punya visi. Kalau ada yang macem-macem, biar gue yang sikat."
Nara senyum tipis. Genggaman tangan Arga itu rasanya jauh lebih ampuh daripada kopi tubruk paling kental sekalipun buat bikin dia tenang.
Pas mereka masuk ke ballroom, perhatian orang-orang langsung ketuju ke mereka. Bener dugaan Nara, bisik-bisik mulai kedengaran di kanan-kiri. "Itu istrinya Arga?" atau "Cantik sih, tapi paling cuma buat manis-manis doang biar citra kaku suaminya ketutup."
Puncaknya pas mereka ketemu sama Pak Hendra, salah satu investor gede yang mulutnya terkenal pedas dan kuno banget cara mikirnya.
"Wah, Arga! Jadi ini 'permata' yang lo sembunyiin selama ini?" sapa Pak Hendra sambil natap Nara dari atas ke bawah dengan tatapan ngeremehin. "Cantik banget. Pinter lo milih pajangan buat di rumah, biar ruang tamu nggak sepi-sepi banget lah ya."
Muka Arga langsung mengeras. Dia baru aja mau buka mulut buat bales, tapi Nara ternyata lebih cepet. Dia maju selangkah, ngasih senyum paling profesional—tapi paling tajam—yang dia punya.
"Makasih pujiannya, Pak Hendra. Tapi saya rasa 'pajangan' bukan kata yang pas," ujar Nara tenang, suaranya jernih banget nggak ada ragu-ragunya. "Karena kalau Bapak merhatiin konsep renovasi lobi kantor Arga yang baru, itu hasil coretan tangan saya. Saya lebih suka disebut partner yang ikut bangun pondasi, bukan cuma penghias sudut ruangan."
Pak Hendra agak melongo. Dia nggak nyangka 'pajangan' di depan dia ini bisa ngomongin soal konsep arsitektur. "Oh? Jadi kamu desainer juga? Saya pikir Arga cuma cari pendamping buat acara formal begini."
"Arga punya standar yang tinggi banget, Pak. Dia nggak bakal mau sama orang yang nggak punya isi kepala," tambah Nara sambil ngelirik Arga yang sekarang malah natap dia dengan binar bangga yang nggak bisa ditutupin.
Debat kecil itu lanjut ke soal tren material bangunan tahun depan. Nara dengan luwes ngejelasin soal efisiensi kuningan dan estetika modern, bikin Pak Hendra yang tadinya ngeremehin malah jadi sibuk dengerin penjelasan Nara sampai manggut-manggut.
Pas Pak Hendra akhirnya pamit buat nyapa tamu lain, Arga deketin mukanya ke telinga Nara.
"Tadi itu... gila sih, keren banget," bisik Arga.
"Katanya jangan jadi pajangan?" Nara ngerling nakal.
"Iya, tapi gue nggak nyangka lo bakal seberani itu di depan investor paling galak se-Jakarta. Lo bener-bener bikin dia mati kutu."
Nara ketawa kecil, rasanya semua beban di pundaknya ilang. Di bawah lampu kristal yang mewah itu, dia sadar kalau posisinya di samping Arga bukan lagi soal kontrak di atas kertas. Dia ngerasa dihargai, bukan cuma sebagai istri sandiwara, tapi sebagai manusia yang punya jati diri.
---
Nara cuma senyum simpul sambil benerin posisi clutch di tangannya. Rasanya puas banget bisa bungkam mulut Pak Hendra yang tadinya nganggep dia cuma piala hiasan. Tapi, euforia itu nggak bertahan lama. Pas Nara lagi asyik ngelihatin instalasi seni di tengah ruangan, matanya nggak sengaja nangkep sosok yang paling dia hindari di dunia ini.
Rio Pratama.
Si brengsek itu berdiri nggak jauh dari meja bar, lagi ketawa-ketiwi sama beberapa kolega bisnisnya. Gayanya masih sama; sok asik, sombong, dan ngerasa paling ganteng seisi ruangan. Nara refleks megang lengan Arga lebih kencang, bikin Arga yang lagi asyik perhatiin tamu lain langsung nengok.
"Kenapa, Nara? Muka lo langsung pucet gitu," tanya Arga. Dia ngikutin arah pandang Nara, dan sedetik kemudian, rahang Arga mengeras. "Oh, si sampah itu ada di sini juga?"
"Ga, kita bisa pindah ke sisi lain nggak? Gue lagi nggak mau ngerusak suasana," bisik Nara. Suaranya agak bergetar, bayangan kejadian di lobi tempo hari mendadak muncul lagi di kepalanya.
Arga nggak langsung narik Nara pergi. Dia malah makin ngerangkul pinggang Nara, posesif banget. "Kalau kita pindah, dia bakal mikir kita takut. Lo tadi udah hebat di depan Pak Hendra, jangan kasih celah buat pengecut kayak dia ngerasa menang."
Tapi ternyata Rio emang nggak punya urat malu. Begitu dia sadar ada Nara dan Arga, dia malah jalan mendekat sambil muter-muter gelas sampanye di tangannya. Senyum miringnya bener-bener bikin Nara mual.
"Wah, reuni kecil-kecilan nih? Halo, Nara. Penampilan lo oke juga malem ini, pinter ya sekarang mainnya di level atas," sindir Rio pas udah berdiri tepat di depan mereka. Matanya ngelihatin Nara dari atas ke bawah dengan cara yang nggak sopan.
Arga maju setengah langkah, nutupin akses pandang Rio ke arah Nara. "Jaga mata lo kalau masih mau liat matahari besok pagi, Rio."
Rio ketawa hambar, sok berani. "Santai, Ga. Gue cuma mau nyapa mantan tunangan gue doang. Nggak nyangka aja, Nara yang dulu pemalu sekarang udah bisa dampingin CEO besar kayak lo. Tapi ya... kita semua tahu lah ya, ini semua demi apa. Pencitraan kan?"
Nara ngerasain darahnya mendidih. Dia nggak mau lagi jadi Nara yang cuma bisa nangis dan sembunyi di balik punggung orang. Dia ngelepas pegangannya di lengan Arga, berdiri tegak sejajar sama suaminya itu.
"Rio, denger ya. Lo mau ngomong apa pun soal gue, gue nggak peduli. Tapi kalau lo berani bawa-bisa hubungan gue sama Arga ke dalam mulut kotor lo itu, gue pastiin lo bakal nyesel udah dateng ke acara ini," ucap Nara, suaranya dingin dan tajem banget.
Rio kaget, dia nggak nyangka Nara bakal seberani itu. "Wah, udah pinter ngejawab ya sekarang? Siapa yang ngajarin? Arga? Atau jangan-jangan lo cuma akting biar kelihatan—"
"Cukup," potong Arga. Suaranya pelan banget tapi tekanannya kerasa sampai ke tulang. "Bayu!"
Tiba-tiba Bayu muncul entah dari mana, seolah dia emang udah nunggu aba-aba.
"Tolong hubungin penyelenggara acara. Kasih tahu mereka kalau ada tamu nggak diundang yang ganggu kenyamanan tamu VVIP saya. Dan satu lagi, pastiin proyek renovasi ruko punya keluarga Pratama di Jakarta Barat dipending dulu buat audit keamanan. Saya curiga ada yang nggak beres di sana," perintah Arga dengan nada yang tenang banget, kayak lagi pesen kopi.
Muka Rio langsung berubah dari merah jadi putih pucat. "Ga! Lo nggak bisa gitu, itu bisnis keluarga gue!"
"Gue bisa ngelakuin apa pun yang gue mau, Rio. Selama lo masih berani muncul di depan istri gue, hidup lo nggak bakal tenang," balas Arga telak.
Bayu langsung giring Rio buat keluar dari area ballroom sebelum keributan makin gede. Rio cuma bisa melotot penuh dendam tapi nggak bisa berbuat apa-apa.
Setelah Rio hilang dari pandangan, Arga balik natap Nara. Dia ngerapihin rambut Nara yang agak berantakan kena angin AC. "Gue tadi bilang apa? Dia itu cuma debu. Jangan biarin dia ngerusak malem lo."
Nara narik napas lega, rasanya kayak baru aja menang perang besar. Dia natap Arga, sadar kalau pria kaku di depannya ini bener-bener tepatin janjinya. Nara bukan sekadar pajangan, dan Arga... Arga bukan lagi sekadar rekan kontrak.
"Makasih ya, Ga. Udah jadi 'buldoser' buat gue malem ini," canda Nara, mencoba cairin suasana.
Arga cuma senyum miring, tipe senyum yang cuma dia kasih buat Nara. "Sama-sama. Sekarang, gimana kalau kita nikmatin makan malemnya? Gue laper banget gara-gara ngadepin dua orang kolot sekaligus."
---
Nara cuma bisa geleng-geleng kepala sambil ketawa pelan. "Dua orang kolot? Pak Hendra sama Rio maksudnya? Kasihan banget mereka disamain."
"Ya emang kenyataannya gitu, kan? Sama-sama hobi ngeremehin orang tanpa ngaca," sahut Arga santai sambil narik kursi buat Nara di meja bundar yang udah disediain.
Pas mereka duduk, beberapa mata masih aja ngelirik-lirik penasaran. Tapi sekarang tatapannya beda. Bukan lagi tatapan ngeremehin, tapi lebih ke arah segan. Kabar soal gimana Nara "natar" Pak Hendra dan gimana Arga "ngusir" Rio lewat Bayu kayaknya udah nyebar secepat kilat di antara meja-meja tamu.
Nara mulai nyicipin appetizer di depannya, tapi pikirannya masih melayang ke kejadian barusan. "Ga, soal proyek keluarganya Rio itu... kamu serius mau audit atau cuma gertak doang biar dia kicep?"
Arga yang lagi motong steaknya berhenti sejenak. Dia natap Nara lurus-lurus. "Saya nggak pernah main-main sama ucapan saya, Nara. Kalau saya bilang audit, ya diaudit. Lagian, saya emang dapet laporan kalau ada beberapa spek material yang nggak sesuai di proyek mereka. Anggap aja ini pembersihan bisnis, sekalian bonus karena dia udah berani bikin kamu nggak nyaman."
Nara diem sebentar. "Kamu... segitunya ya?"
"Kenapa? Kamu kasihan sama dia?" tanya Arga, nadanya agak berubah sedikit lebih dingin, kayak ada rasa cemburu yang nyempil tapi dia nggak mau ngaku.
"Nggak lah! Gila aja. Gue cuma... nggak terbiasa ada orang yang pasang badan buat gue sampai sejauh itu. Biasanya gue harus hadapi semuanya sendiri," jawab Nara jujur, kali ini pakai bahasa yang lebih santai.
Arga naruh pisaunya, terus nyenderin punggung ke kursi. "Mulai sekarang, biasain aja. Lo nggak perlu ngerasa sendirian lagi. Kontrak atau bukan, selama lo masih pakai cincin itu, urusan lo jadi urusan gue juga."
Kalimat itu simpel, tapi efeknya ke jantung Nara bener-bener nggak main-main. Nara buru-buru minum air putihnya biar nggak kelihatan salting. Di tengah denting sendok dan musik klasik yang mulai main lagi, Nara ngerasa kalau pesta ini nggak seburuk yang dia bayangin.
"Eh, Ga," panggil Nara pelan.
"Apa?"
"Makasih ya. Malem ini gue bener-bener ngerasa bukan pajangan. Gue ngerasa... ada."
Arga cuma nunduk, fokus lagi ke makanannya biar nggak perlu ngelihat mata Nara yang lagi berkaca-kaca. "Hm. Habisin makanan lo. Habis ini kita pulang, besok pagi lo harus jelasin lebih detail soal konsep kuningan itu di kantor. Pak Hendra kayaknya bakal beneran minta penawaran."
Nara senyum lebar. Arga emang tetep Arga—si bos yang selalu balik lagi ke urusan kerjaan. Tapi buat Nara, itu jauh lebih baik daripada kata-kata manis yang nggak ada buktinya.
Malam itu ditutup dengan dansa singkat yang sebenernya nggak ada di agenda Arga. Tapi demi menjaga image pasangan serasi di depan kolega, Arga akhirnya narik tangan Nara ke lantai dansa. Di bawah sorot lampu yang temaram, di antara pasangan-pasangan lain, mereka cuma gerak pelan. Jarak mereka deket banget sampai Nara bisa denger detak jantung Arga yang ternyata sama cepetnya kayak jantung dia sendiri.
Ternyata, si robot CEO ini bisa deg-degan juga kalau deket istrinya.