NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 27

Pagi itu, berita tentang cincin gaharu menyebar lebih cepat daripada kabut yang naik dari permukaan sungai. Bukan karena ada pengumuman resmi, tetapi karena Siti memiliki mata yang sangat jeli. Saat Siska sedang mencuci tangannya di tepian sungai, Siti menangkap kilatan batu sungai di jari manis gurunya itu.

"Bu Siska sudah diikat oleh Bang Andi!" teriak Siti sambil berlari menuju balai desa, membuat Mahesa yang sedang menyeduh kopi di teras hampir tersedak.

Andi keluar dari pondoknya dengan wajah canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Namun, ketegangan itu segera mencair ketika Mahesa menghampirinya dan menepuk bahunya dengan keras.

"Aku sudah menduga kayu gaharu itu hilang dari meja kerjamu untuk alasan yang bagus, Ndi," goda Mahesa dengan tawa lebar. "Jadi, kapan kita harus menyiapkan pesta? Aku tidak punya jas, tapi aku bisa memastikan semua lampu tenaga surya kita menyala terang malam nanti."

"Tidak perlu pesta besar, Ma," jawab Andi sambil melirik Siska yang berjalan mendekat dengan wajah merona. "Kami hanya ingin sesuatu yang sederhana. Di bawah Si Mbah Jagat."

Sore harinya, desa Arlan berubah menjadi sibuk tanpa perlu diperintah. Ibu-ibu desa, dipimpin oleh ibunda Siti, memetik bunga-bunga hutan yang berwarna cerah—anggrek hutan, kembang sepatu liar, dan melati gambir—untuk dirangkai menjadi mahkota sederhana. Sementara itu, Dedi dan anak-anak lelaki lainnya membersihkan area di bawah pohon ulin raksasa, menghamparkan tikar pandan baru yang masih berbau harum.

Saat matahari mulai tergelincir, memberikan semburat warna emas di antara celah kanopi, "upacara" itu dimulai.

Tidak ada pendeta atau pejabat dari Jakarta. Yang memimpin adalah tetua desa Arlan, seorang kakek yang rambutnya sudah seputih kapas namun matanya masih tajam. Siska tampak sangat anggun dengan gaun katun putih sederhana dan mahkota bunga hutan, sementara Andi mengenakan kemeja kain tenun lokal yang merupakan pemberian warga.

"Di bawah perlindungan Si Mbah Jagat," suara tetua desa menggema, tenang namun berwibawa. "Dua jiwa ini berjanji untuk tidak hanya saling menjaga, tapi juga menjaga tanah yang memberi mereka tempat tinggal. Janji mereka tidak tertulis di kertas yang bisa lapuk, tapi tertanam dalam akar yang kita pijak."

Andi memegang tangan Siska, suaranya mantap saat ia mengucapkan janji yang ia susun sendiri. "Aku berjanji untuk terus membangun, tidak hanya bangunan kayu, tapi masa depan di mana anak-anak kita nanti masih bisa melihat matahari dari balik celah pohon ini."

Siska menjawab dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan. "Dan aku berjanji untuk terus menanam, tidak hanya benih ulin, tapi kasih sayang yang akan membuat hutan ini tetap hidup selamanya."

Saat mereka dinyatakan sebagai pasangan, seluruh warga desa bersorak rendah. Mahesa, yang berdiri di barisan depan, diam-diam menyeka sudut matanya. Baginya, ini adalah penutupan sempurna dari bab kehidupan mereka yang penuh badai di masa lalu.

Malam itu, mereka makan bersama di atas tanah, beralaskan daun pisang. Ikan bakar sungai, nasi jagung, dan buah-buahan hutan menjadi hidangan termewah yang pernah mereka rasakan. Tidak ada botol sampanye, hanya air sungai yang sudah disaring jernih, yang mereka minum sebagai simbol kehidupan yang murni.

Ketika kerumunan mulai bubar dan warga kembali ke rumah masing-masing, Siska dan Andi berjalan pelan menuju jembatan ulin mereka.

"Siapa sangka, CEO yang paling ditakuti di Sudirman akhirnya menikah di bawah pohon tua dengan mahkota bunga liar?" bisik Andi sambil merangkul bahu istrinya.

Siska menyandarkan kepalanya, menatap cincin gaharunya yang kini terasa seperti bagian dari tubuhnya sendiri. "Gelar itu tidak pernah membuatku merasa seberharga ini, Ndi. Di sini, aku bukan siapa-siapa, dan itulah sebabnya aku merasa memiliki segalanya."

Waktu seolah melambat, namun alam tidak pernah berhenti bekerja. Sepuluh tahun berlalu di Arlan, dan hutan itu kini tidak lagi sekadar menjadi proyek restorasi; ia telah menjelma menjadi sebuah organisme raksasa yang bernapas dengan harmoni yang sempurna.

Di tepi sungai yang kini airnya jauh lebih dalam dan jernih, berdiri seorang pemuda tegap dengan kulit terbakar matahari. Itu adalah Dedi. Ia tidak lagi memegang parang kecil, melainkan sebuah tablet tangguh bertenaga surya yang terhubung dengan ribuan sensor bio-akustik di seluruh penjuru lembah.

"Dedi, bagaimana laporan dari Blok utara?" Suara itu terdengar dari alat komunikasinya.

"Aman, Bu Siti. Keluarga macan dahan yang baru sudah menempati wilayah dekat air terjun. Si Mbah Jagat juga menunjukkan pertumbuhan lingkar batang yang sehat tahun ini," jawab Dedi sambil tersenyum ke arah kamera sensor.

Di sisi lain hutan, di sebuah bangunan kayu luas yang berfungsi sebagai sekolah alam sekaligus laboratorium botani, Siti kini telah menjadi kepala pendidikan di Arlan. Ia tidak lagi hanya mendengarkan cerita, tapi ia yang menuliskan kurikulum tentang bagaimana cara bicara dengan hutan kepada anak-anak dari desa-desa sekitar.

Sementara itu, di sebuah teras rumah kayu yang letaknya agak tinggi di perbukitan, Andi sedang asyik menyerut sepotong kayu kecil. Rambutnya mulai dihiasi uban di bagian pelipis, namun tangannya masih sekuat dulu. Di sampingnya, seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun dengan mata yang mirip sekali dengan Siska, sedang serius belajar menyemai benih ulin di dalam pot kecil.

"Ayah, kenapa pohon ulin tumbuhnya lama sekali?" tanya anak itu, Arla, yang namanya diambil dari tempat yang menyatukan orang tuanya.

Andi berhenti menyerut, lalu mengelus rambut anaknya. "Karena sesuatu yang hebat dan kokoh tidak dibangun dalam semalam, Arla. Sama seperti rumah kita ini, ia butuh waktu untuk menghujamkan akar sedalam mungkin supaya tidak tumbang saat badai datang."

Siska muncul dari arah kebun herbal, membawa keranjang berisi jahe dan kunyit segar. Langkahnya masih ringan, meski garis-garis kedewasaan kini mempertegas kecantikannya. Ia mendekat, mencium puncak kepala Arla, lalu duduk di samping Andi.

"Ada pesan dari Mahesa?" tanya Andi.

Siska mengangguk, menunjukkan pesan di layar ponselnya. Mahesa kini lebih banyak menghabiskan waktunya di Jakarta, bukan sebagai eksekutif, melainkan sebagai penasihat senior kementerian lingkungan. Ia menjadi "benteng" di pusat kekuasaan, memastikan tidak ada satu pun izin tambang atau sawit yang bisa menyentuh wilayah Arlan dan sekitarnya.

"Ma bilang, delegasi internasional bulan depan akan datang lagi. Tapi kali ini mereka tidak bawa dokumen investasi," ujar Siska. "Mereka datang hanya untuk belajar bagaimana caranya manusia bisa hidup tanpa merusak. Mereka menyebutnya 'Arlan Way'."

Andi terkekeh pelan. "Arlan Way... padahal kita hanya belajar dari apa yang sudah diajarkan hutan ini selama ribuan tahun."

Sore itu, mereka bertiga berjalan menuju jembatan ulin yang legendaris itu. Jembatan itu masih kokoh—bahkan kayu ulinnya semakin gelap dan keras seiring bertambahnya usia. Mereka berdiri di sana, melihat matahari terbenam yang membiaskan warna ungu dan jingga di langit Borneo.

Dedi dan Siti terlihat berjalan pulang dari arah hutan, melambai ke arah mereka dari kejauhan. Arlan kini bukan lagi tentang tiga orang yang melarikan diri dari kota. Arlan telah menjadi sebuah peradaban kecil yang membuktikan bahwa kemajuan tidak harus berarti kehancuran.

"Kita berhasil, Ndi," bisik Siska sambil menggenggam tangan suaminya. Cincin gaharu di jarinya kini telah menghitam sempurna, menyatu dengan kulitnya.

Andi menarik napas panjang, menghirup oksigen murni yang diproduksi oleh ribuan "paru-paru" hijau di sekeliling mereka. "Bukan kita, Sis. Hutan ini yang berhasil menyelamatkan kita. Kita hanya cukup rendah hati untuk membiarkannya memimpin."

Di bawah mereka, air sungai terus mengalir, membawa cerita Arlan menuju laut, membisikkan pesan kepada dunia bahwa di jantung Borneo, ada sebuah tempat di mana manusia akhirnya menemukan jalan pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!