Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab II—DEPRESI
Rena terlalu santai dengan kepalan tangan dari Jay yang akan menghampirinya “Apa?? Mau pukul gue? Dasar cowok ga guna, masih zaman aja menghajar cewek.”
Mendengar hal itu hati kecil Jay menghentikan apa yang di perintahkan otak kepadanya “AHHHHRG…SIAL…SIAL…SIAL” ujarnya mengganti objek pukulannya dengan tembok kamarnya.
“Ckk dasar lebay.”
Mendengar hal itu Jay semakin naik pitam lalu dengan lirih ia berucap “Kau…silahkan pergi dari sini…beresi barang-barangmu lalu pergi dari sini?.”
“Gak usah kau suruh, aku juga akan pergi sama cowo-cowo di luaran sana yang sekarang pasti sedang menungguku.”
“PERGI BANGSAT…LONTE TERKUTUK…CEWEK BRENGSEK” Umpatnya deangan wajah yang memerah seakan sebentar lagi akan meledak.
Rena memasang wajah datar, kemudian dia turun dari ranjang dengan posisi masih tanpa secuil kainpun di badannya. Dia menuju kearah Lemari dan menyiapkan koper di depannya, ia mengambil satu set pakaian untuk ia pakai lalu pakaian lainnya ia masukan kedalam Koper yang telah dia siapkan. Setelah kopernya penuh oleh baju dan barangnya, ia melangkahkan kaki keluar namun sebelum mencapai pintu kamar dia berbalik sejenak dan mengucapkan hal yang paling memuakan.
“Ambil saja bajuku dan dalemanku di ranjangmu itu, buat aja sebagai kenangan. Kalau memang kau lagi kepengen pakai aja sebagai bahan pemuasmu. Bye cowo gak guna.” Ucapnya dengan nada merendahkan sambil melanjutkan langkahnya untuk pergi.
“BANGSAT…ANJING…”Umpatnya yang entah sudah ke berapa kali.
Malam itu yang tersisa hanya umpatan yang keluar dari mulutnya sampai suaranya habis di pagi hari, dengan habisnya suaranya ia baru dapat terdiam dan tertidur dengan sendirinya sampai.
26 jam terlewati
Ia terbangun dari tidur panjangnya. Rasa pusing menerpa kepala, rasa lapar nan nyeri menerpa lambungnya tapi yang paling terasa sakitnya mengalahkan rasa sakit di badan lain ialah hatinya. Ia merasa seperti hatinya telah di iris menggunakan pisau yang amat tajam atau serasa telah di tumbuk oleh bulldozer. Rasa sakit itu sungguh menyiksanya.
“Ahh…mungkin aku mati aja lebih baik.” Lirihnya
Ia masih terkapar di ubin dengan menatap kearah langit-langit kamar. Tatapannya sungguh kosong, tak ada cahaya dalam tatapan mata itu.
“Hidupku yang telah kuserahkan semua padanya, tapi inikah balasannya padaku…” ucapnya pelan hingga semut mungkin ta dapat mendengar ucapannya.
“Dunia sungguh sadis padaku…Dunia telah mengambil kedua orang tuaku dari aku kecil…setelahnya dunia menggiringku ke rumah paman dan bibiku tapi dunia juga telah mengambil mereka tak lama setelah itu, dan sekarang dunia sialan ini telah memerintah sahabatku satu-satunya untuk berkhianat padaku, hanya karena segumpal daging… huh lucu sekali hidup si pecundang ini” Lanjutnya tak kalah pelan dengan ucapan sebelumnya.
Tatapan jay semakin kosong lalu dengan tatapan itu meyakinkan diri dan berucap “Ya besok aku akan menghukum dunia dengan kematianku sendiri tapi untuk sekarang aku akan makan dahulu setelahnya aku akan kemana saja atau akan melakukan apa saja yang ingin aku lakukan tanpa memperdulikan apapun.”
Ia bangun perlahan lalu menuju kearah dapur dan meneguk 4 gelas air putih untuk menghilangkan dahaganya. Sungguh dahaganya telah hilang sepenuhnya, sekarang yang belum hilang ialah rasa laparnya. Namun sebelum menghilangkan rasa lapar itu dia akan membersihkan dirinya dulu karena selama 3 hari lamanya ia belum mandi sama sekali.
“Ga lucu juga jika aku mati nanti di temukan dengan bau keringat yang menyengat.” Kelakarnya dengan senyuman merendahkan diri sendiri.
Mandinya telah selesai, ia pun berpakain dengan rapi tak seperti biasanya. Langkah kakinya sekarang ringan seolah beban hidupnya telah ia lepas sepenuhnya. Ia mulai pergi mencari makan setelahnya pergi ke tempat-tempat yang ingin ia kunjungi. Sialnya saat sudah melakukan semua yang di inginkannya, ia bertemu dengan Rena bersama seorang pria paruh baya. Pria paruh baya tersebut merupakan bosnya sendiri di perusahaan tempat ia bekerja.
“Eh…ada si madesu” Ujar pendek rena.
Jayendra menghiraukannya, ia melanjutkan langkah kakinya dengan cepat.
“Jay berhenti…” suruh pria baya tersebut
Langkahnya berhenti sejenak mengikuti perkataan si pria paruh baya
“Songong juga kau bertemu dengan bos, ga nyapa gak apa…mau aku pecat?”
Mendengar hal itu, ia melanjutkan langkah kakinya dan berkata dengan lambaian tangan “Gausah banyak omong bangsat, gausah lu pecat gua juga mau keluar sendiri.”
Langkahnya semakin ringan. Seakan tak ada penyesalan dalam hidupnya sekarang. Namun langkahnya selarang tiba di jembatan antar kota. Jembatan yang begitu megah nan tinggi.
Begitu sampai di sana ia memanjat pagar-pagar jembatan dengan kemantapan ingin menjatuhkan diri, namun hal yang tak masuk akal tiba-tiba datang membawa kekacauan bagi yang tak bisa menolak dan membawa kesempatan atau kebahagiaan bagi mereka yang menerima untuk beradaptasi.
Begitulah awal perubahan hidup dari Artha Jayendra.