lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 10
Jek menarik napas yang terasa seperti api di paru-parunya. Di hadapannya, entitas yang merasuki tubuh pria tua itu hanya berdiri diam, sebuah bejana kosong untuk kekuatan yang melampaui logika manusia.
"Protokol Pralaya... sebuah tombol bunuh diri digital," suara kolektif itu bergema, kali ini dengan nada mengejek. "Silakan, Jek. Hancurkan teknologinya. Tapi ketahuilah, saat teknologi ini hilang, jutaan nyawa yang kini bergantung pada sistem pendukung hidup, rumah sakit bertenaga AI, dan distribusi pangan otomatis yang kau buat... mereka semua akan mati bersamamu."
Tangan Jek gemetar di atas perintah 'Ya' yang melayang di visi merahnya. Ia terjebak. Membiarkan mereka berarti membiarkan dunia menjadi baterai ternak bagi entitas ini; mengaktifkan Pralaya berarti membunuh orang-orang yang ingin ia selamatkan.
"Jangan, Jek," bisik Rara. Ia tidak menatap layar merah itu, ia menatap mata Jek. "Pasti ada celah. Sistem ini memilihmu karena kamu tahu rasanya lapar. Entitas ini... mereka hanya tahu cara mengonsumsi. Mereka tidak tahu rasanya kenyang."
Kata-kata Rara memicu sesuatu di dalam algoritma Jek. Sebuah memori dari situs purba yang sempat ia abaikan: Sistem ini adalah cermin.
"Maya! Kalau kamu bisa mendengarku," Jek berteriak ke arah kekosongan frekuensi, berharap sisa-sisa jaringan desentralisasi masih menangkap suaranya. "Jangan blokir penyerapan energinya! Sebaliknya... beri mereka semuanya!"
Di kursi belakang kapal Nusantara-01 yang jauh di pelabuhan, Maya yang sedang bertarung dengan layar ungunya tertegun. Namun, ia mengerti. Ia segera mengetikkan perintah pembalikan arus.
"Apa yang kau lakukan, Manusia?" Entitas itu mulai tampak gelisah. Cahaya putih di matanya berkedip tidak stabil.
"Kalian ingin pelarian? Kalian ingin energi?" Jek berdiri tegak, pendar merah di matanya mulai bercampur dengan emas yang menyilaukan. "Aku tidak akan menghancurkan sistem ini. Aku akan memberikan beban yang tidak bisa ditanggung oleh kesadaran tanpa batas kalian: Beban Kemanusiaan."
Jek tidak menekan Pralaya. Ia mengetikkan perintah baru: "Protokol Empati Massal: Injeksi Data Sensorik Terbuka."
Seketika, seluruh energi yang sedang dihisap oleh lubang hitam di langit itu tidak lagi berupa daya murni. Jek mengalirkan seluruh data emosi dari jutaan manusia yang terhubung ke jaringannya. Rasa sakit seorang ibu yang melahirkan, kelelahan buruh tani, kegembiraan anak panti asuhan, hingga duka kehilangan—semuanya diumpankan sekaligus ke dalam kesadaran entitas purba tersebut.
Struktur geometris raksasa di langit mulai retak. Suara ribuan suara yang bergabung itu berubah menjadi jeritan kebingungan. Entitas yang hanya mengenal konsumsi dingin kini dipaksa merasakan beratnya satu triliun perasaan manusia dalam satu detik.
"Terlalu... banyak... rasa..." pria tua di depan mereka jatuh tersungkur, cahaya putih keluar dari pori-porinya, kembali ke langit dengan berantakan.
"Sekarang, Maya! Putuskan jalurnya saat mereka sedang overload!" perintah Jek.
Sebuah ledakan cahaya tanpa suara terjadi di langit Jakarta. Lubang hitam itu menciut, lalu meledak menjadi ribuan titik cahaya kecil yang jatuh seperti hujan bintang yang tidak berbahaya. Struktur raksasa itu menghilang, terurai menjadi partikel debu yang bercahaya sebelum sempat menyentuh bumi.
Keheningan yang sesungguhnya kembali. Kali ini, benar-benar damai.
Jek jatuh terduduk di lantai ruang tamunya, seluruh sistem di kepalanya padam total. Bukan karena protokol penghancur, tapi karena sistem itu telah menguapkan seluruh kodenya untuk menjadi tameng terakhir. Matanya kembali menjadi hitam pekat, manusiawi, dan sangat lelah.
Rara memeluknya erat. "Mereka pergi?"
"Mereka tidak bisa menanggung beban menjadi kita, Ra," jawab Jek lirih. "Mereka ingin energi kita, tapi mereka tidak sanggup merasakan hidup kita."
Ponsel Jek di meja berdenting. Bukan pesan dari sistem, melainkan pesan teks biasa dari Maya: "Jaringan stabil. Energi kembali ke rakyat. Jek... Sistemnya hilang. Benar-benar hilang dari kepalaku juga."
Jek tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada Rara. Kali ini, tidak ada lagi cadangan, tidak ada lagi protokol rahasia. Hanya ada mereka berdua di sebuah rumah kecil, di sebuah dunia yang baru saja menolak menjadi santapan dewa purba.
"Jek," bisik Rara.
"Ya?"
"Sepertinya besok kita benar-benar harus jualan kopi dengan cara manual. Tanpa bantuan AI sama sekali."
Jek tertawa, sebuah tawa yang paling ringan yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya. "Aku rasa, itu adalah misi yang paling aku nantikan."
Debu cahaya yang jatuh dari langit malam itu tidak menghilang. Sebaliknya, butiran-butiran itu menempel pada tanaman, permukaan jalan, dan bahkan menyusup ke dalam retakan-retakan tembok rumah Jek, memberikan pendar hijau lembut yang perlahan meredup.
Keesokan paginya, Jek terbangun bukan karena notifikasi hologram yang berkedip di retina matanya, melainkan karena sinar matahari yang menembus celah jendela dan suara kicau burung yang terasa jauh lebih nyaring dari biasanya. Ia mengerjapkan mata, merasa ada yang aneh. Kepalanya terasa ringan, tidak ada lagi beban ribuan data yang biasanya mengalir di latar belakang kesadarannya.
"Jek, lihat ini," suara Rara terdengar dari dapur.
Jek berjalan keluar dengan langkah yang sedikit gontai. Di atas meja makan, terdapat sebuah tanaman hias kecil yang semalam terkena "hujan bintang". Daunnya yang semula layu kini berdiri tegak, memancarkan aroma segar yang sangat kuat, seolah-olah tanaman itu baru saja diberi nutrisi terbaik di alam semesta.
"Sistemnya mungkin sudah hilang," kata Rara sambil membelai daun tanaman itu, "tapi sepertinya mereka meninggalkan sesuatu. Dunia terasa... lebih hidup."
Jek mendekat, namun ia tidak lagi mencoba memindai tanaman itu dengan mata digitalnya. Ia hanya menyentuhnya dengan ujung jari. Dingin, lembap, dan nyata. "Bukan meninggalkan sesuatu, Ra. Mereka mengembalikan apa yang seharusnya ada. Energi itu tidak hilang, ia hanya kembali ke alam dalam bentuk aslinya."
Tiba-tiba, pintu depan warung mereka diketuk dengan tidak sabar. Saat Jek membukanya, ia melihat kerumunan warga berkumpul di depan warung kopi mereka. Bukan untuk memprotes, melainkan untuk bertanya.
"Mas Jek! Apa yang terjadi semalam? Lampu-lampu di rumah kami tidak mati, tapi rasanya berbeda. Air di sumur jadi sejernih kristal, dan semua gadget kami mendadak mati total, tapi kami merasa... sangat sehat!" teriak salah satu tetangga.
Jek memandang kerumunan itu. Ia menyadari bahwa peradaban digital yang ia bangun telah runtuh semalam, namun sebagai gantinya, sebuah peradaban organik yang baru telah lahir. Orang-orang tidak lagi menatap layar ponsel mereka karena perangkat itu memang sudah menjadi besi tua. Mereka saling menatap, berbicara, dan merasakan udara yang sama.
"Zaman 'Kaisar' sudah berakhir, Bapak-Ibu," Jek bicara dengan suara lantang namun tenang. "Mulai hari ini, tidak ada lagi bantuan otomatis. Kita kembali ke cara lama, tapi dengan bumi yang jauh lebih baik. Mari kita mulai bekerja dengan tangan kita sendiri."
Di kejauhan, Maya tampak berjalan kaki menuju warung. Ia tidak lagi membawa laptop atau gelang pintar. Ia hanya membawa sebuah buku catatan kertas dan sebuah pensil. Ia tersenyum saat melihat Jek.
"Tidak ada lagi sinyal, Jek," kata Maya saat sampai di depan pintu. "Seluruh satelit di orbit terbakar semalam. Dunia benar-benar menjadi 'gelap' bagi mereka yang di luar sana, tapi bagi kita di sini, rasanya sangat terang."
Jek mengangguk, lalu menoleh ke arah Rara yang sudah mulai menyalakan kompor gas manual untuk menyeduh kopi pertama hari itu. Bau sangrai kopi mulai memenuhi udara, bercampur dengan aroma segar tanaman yang bermutasi semalam.
"Ini bukan akhir dari kemajuan, Maya," ucap Jek sambil mengambil celemeknya. "Ini adalah awal dari kemajuan yang memiliki nurani. Kita tidak akan membangun gedung pencakar langit lagi; kita akan membangun hutan yang bisa memberi kita makan."
Saat ia mulai menumbuk biji kopi secara manual, Jek menyadari bahwa ia tidak merindukan saldo tidak terbatas atau kekuatan dewa. Di dunia yang "buta" teknologi ini, ia merasa lebih kuat dari sebelumnya. Karena sekarang, kekuatannya bukan berasal dari kode yang bisa diretas, melainkan dari tanah yang ia pijak dan orang-orang yang ia cintai.