Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak ayah tua : 32
“Ayah, antara aku dan Lanira tak ada hubungan lebih daripada seorang kakak terhadap adiknya. Sama seperti Rania. Aku memang memiliki rasa cinta, tapi tidak berkeinginan merusak persaudaraan keluarga besar, menyakiti banyak hati. Tolong beri kesempatan, sebab aku merasa semua ini masih bisa dibicarakan, didamaikan,” ia memohon, menatap hormat pria baik hati berdiri tidak jauh darinya.
Yang lain masih diam, kendatipun kedua orang tua Intan sudah ingin bersuara, tetapi mereka tahu adab. Setiap orang memiliki hak dan porsi masing-masing.
“Sayangnya, ayah sendiri tak setuju. Kau tak pantas bersanding dengan putriku, Nak. Walaupun kau putra ayah, bukan berarti harus didukung ketika dirimu sudah melakukan hal fatal,” katanya jelas.
Kamal menatap terkejut, tidak mengira kalau bapak sambungnya menyuruhnya mundur.
“Nilai seorang wanita ada di harga diri, dan mahkotanya. Hampir saja Intan kehilangan itu disebabkan pemuda pecundang, plin plan, kalah oleh nafsu daripada mengedepankan logika, hati nurani. Ya, memang hal mengerikan itu tak terjadi, dan Alhamdulillah kehormatan Intan masih terjaga. Namun, ayah telah menganggap kau gagal, tidak bisa menjaga calon istrimu. Lantas, sudah semestinya dieliminasi bukan?”
“Ayah!” Kamal menekankan panggilan. Berharap ayah tua berubah pikiran.
“Maaf, Nak. Intan terlalu berharga bila disandingkan dengan pemuda yang tidak tahu bagaimana caranya menghormati wanita,” suara sarat kecewa. Ayah tua mengangkat kedua tangannya, tanda keputusannya telah final.
Suasana langsung sunyi, hanya terdengar helaan napas berat dan lega.
“Intan, kau tak keberatan kan dengan keputusan ayah tua ini?”
Intan menatap hormat pria yang menyeka sudut matanya. Dia menggeleng, melangkah cepat lalu memeluk erat sosok begitu disayanginya. “Ayah … maafkan Intan kalau sudah mengecewakan.”
Kulit punggung tangan di hiasi keriput itu mengusap pucuk kepala tertutup hijab, sebelahnya lagi menepuk punggung wanita menangis tersedu-sedu. “Nak … ayah yang semestinya meminta maaf, sebab dulu berinisiatif menjodohkanmu dengan pemuda masih jauh dari kata dewasa.”
Bahu Intan di dorong lembut sampai pelukan terlepas. Wajah terpahat sempurna dibingkai telapak tangan, dan netra indahnya ditatap penuh kasih sayang. “Nak … kau masih mau kan jadi anaknya ayah tua? Kendatipun gagal menjadi menantu Nugraha?”
“Jangan cakap macam itu, Ayah. Aku memang anak ayah dan ibu Nirma,” katanya disela-sela tangis.
“Alhamdulillah.” Dia tersenyum sambil menangis. “Meskipun pertunangan ini batal, ayah pastikan hubungan keluarga tetap terjaga. Intan, terima kasih telah berani bersuara, kalau saja kau memilih bungkam, entah macam mana nanti jadinya jika sampai kalian telah menikah. Mungkin ayah tua tidak akan sanggup menanggung rasa bersalah.”
“Terima kasih, ayah,” hatinya sangat lega. Intan mencium takzim punggung tangan ayah keduanya, lalu dia mendekati sang ibu kandung, bersimpuh seraya memeluk lutut tertutup rok.
“Mamak, aku sudah memutuskan pertunangan dengan Kamal, tak mengapa ‘kan?”
Ibu Meutia tergugu, dipeluknya punggung sang putri. “Maafkan mamak, Nak. Maaf sudah egois memaksakan kehendak, sehingga membuatmu menderita.”
“Bukan salah, mamak. Mungkin ini memang sudah jalan-Nya, kami tak berjodoh,” ucapnya, tetap menjaga lisan dan tidak ingin menyalahkan siapa-siapa.
Disaat Intan dipeluk ibunya, dikuatkan, dan diberi kata-kata penenang – giliran pasangan labil yang ditanyai.
“Lanira, Fatan, apa sebenarnya yang terjadi dengan rumah tangga kalian, sampai menyebabkan putusnya hubungan pertunangan orang lain?” ayah Hasan, bapaknya Lanira bertanya seraya memandang putri dan menantunya.
“Lanira salah paham, Pa. Dia mengira aku selingkuh, padahal hanya membantu teman lama tengah kesulitan ekonomi, sampai tidak memiliki kendaraan pribadi untuk transportasi bekerja,” jawab Fatan.
“Bantuan apa yang kau maksud? Memberi tumpangan dalam satu mobil, dia duduk di depan bersamamu, seperti itukah?”
Kali ini Fatan ragu menjawab, berakhir mengangguk perlahan.
“Lanira, jelaskan!” titah sang ayah.
“Dua bulan sudah aku mencurigai bang Fatan. Dari seringnya ada panggilan tugas mendadak, jam pulang kerja tidak lagi tepat waktu, sampai terakhir ku dapati pesan lebih dari sekadar rekan kerja pada ponsel. Ternyata wanita itu mantan kekasihnya,” ungkap Lanira sambil menunduk.
“Apa kau sudah bertanya kepadanya?” bu Wahyuni ikutan menginterogasi.
“Sudah, Buk. Bang Fatan selalu beralasan rekan kerja, bilang kalau aku cemburu buta. Banyak hal dia sembunyikan, tidak lagi jujur seperti setahun lalu awal kami menikah.”
“Itu karena kau tak percaya, mau apapun penjelasanku tetap dicurigai,” sanggah Fatan.
“Intinya kau betulan melakukan apa yang dikatakan oleh Lanira tidak, Fatan?!” ibu Wahyuni tidak sabaran.
“Iya. Namun aku dan dia tidak berbuat lebih, apalagi berzina.”
“Astaghfirullah. Kau dan si Kamal tak jauh berbeda! Meyakini kalau tidak berselingkuh, padahal apa yang kalian lakukan sudah dianggap melanggar norma. Jelas-jelas kau sudah beristri, masih saja memberikan perhatian ke wanita lain yang bisa jadi disalah artikan olehnya,” ibunya Intan sampai beristighfar, menyela pembicaraan.
Ibu Wahyuni mengurut pelipisnya, dia mulai paham akar permasalahan awal ada di putri dan menantunya.
Intan tidak benar-benar memperhatikan, dia duduk di karpet lantai, bersandar pada lutut sang ayah yang terus mengusap pucuk kepalanya.
“Lantas mengapa kau pergi ke rumah pria yang jelas-jelas tunangan sepupumu, Lanira?”
Lanira memberanikan diri memandang wajah bijaksana ayahnya. “Aku tak mau membuat ibuk dan bapak khawatir. Di sana juga ada Rania, dia tidak membiarkan aku dan bang Kamal berduaan.”
Rania berdiri kaku, paham kalau disini dirinya juga salah, ada andilnya menyebabkan kandasnya hubungan sang abang dengan Intan.
“Ibuk hampir kehilangan kata-kata, tak tahu lagi harus bilang apa. Kau bukan gadis belia, lah dewasa dan menjadi seorang istri. Mengapa tidak berpikir panjang, malah menjadi malapetaka bagi hubungan orang lain, Lanira?” ibu Wahyuni memejamkan mata.
“Buk, apa salahnya aku meminta tolong ke orang yang telah puluhan tahun hidup berdampingan dengan kita. Toh, aku tetap menjaga diri _”
“Salah! Jelas salah dan tak bisa dibenarkan!” habis sudah kesabaran Meutia Siddik. Dia sampai menunjuk wajah sang keponakan.
“Karena tindakan kekanakanmu bersama Rania, putriku hampir dicelakai preman. Andai saja tak ada yang menolong, maka lain lagi ceritanya kini. Bisa jadi aku gila tak sanggup melihat kehancuran anak kebanggaan keluarga Rasyid. Mengapa bebal sekali otak kalian?!” murkanya menahan geram.
“Kenapa cuma adikku yang dipojokan, sementara Intan dibela mati-matian. Sedangkan dia juga memendam cinta bertahun-tahun lamanya ke suamiku. Mengapa …?”
.
.
Bersambung.
selama masih belum ada tulisan "update berikutnya tgl 22"..tetep tak tungguin
sehat selalu ya kak Othor, biar up nya deras seperti air hujan 😍
atas pertanyaannya ayah besar