Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Sang Arsitek
Lampu darurat ambulans membelah kegelapan dermaga Tanjung Perak, sirinenya meraung memekakkan telinga, namun bagi Reina, dunia mendadak menjadi sangat sunyi. Ia hanya bisa merasakan dinginnya jemari Kenzo yang perlahan melemas dalam genggamannya saat petugas medis mengangkat tandu itu masuk ke dalam mobil.
"Ken! Jangan tutup matamu! Kamu dengar aku?" teriak Reina, namun Kenzo hanya membalas dengan embusan napas tipis sebelum matanya terpejam sepenuhnya.
Rumah Sakit Bhayangkara – Pukul 01.00 WIB
Dinding putih rumah sakit terasa seperti penjara bagi Reina. Di koridor, Ibu Aris terlihat dibawa oleh petugas kepolisian dengan tangan terborgol, masih berteriak tentang kekuasaan yang ia miliki, namun suaranya perlahan hilang di telan lorong. Aris duduk di sudut lain, kepalanya terkulai lesu; ia telah menyelamatkan Reina, namun ia juga baru saja menghancurkan ibunya sendiri.
Pak Bramantyo berdiri di depan kaca ruang ICU, menatap putranya yang kini dipasangi berbagai selang penyambung nyawa. Saat melihat Reina mendekat, ia tidak lagi menunjukkan wajah keras.
"Dia memiliki daya tahan yang luar biasa, persis seperti ibunya," gumam Pak Bramantyo tanpa menoleh.
"Bapak berhutang penjelasan padaku," ucap Reina, suaranya parau namun tegas. Ia mengeluarkan foto usang yang tadi ia bawa dari perpustakaan. "Pria yang wajahnya dicoret di foto ini... siapa dia sebenarnya? Kenapa wajahnya harus dihapus dari sejarah?"
Pak Bramantyo terdiam lama, sebelum akhirnya ia mengeluarkan sebuah dompet kulit tua dari saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu identitas yang sudah menguning. Di sana tertera nama: Laksamana Hendra.
Reina terperangah. "Laksmana? Nama yang sama dengan orang yang mengkhianati kita tadi?"
"Laksmana yang tadi adalah anaknya. Laksmana senior—ayahnya—adalah pria di foto itu. Dia adalah rekan kerja ibumu, sekaligus pria yang dicintai ibumu sebelum ia terpaksa menikah dengan ayahmu yang sekarang hanya demi melindungimu," ungkap Pak Bramantyo dengan suara rendah. "Pria di foto itu... adalah ayah kandungmu yang sebenarnya, Reina."
Misteri di Balik Nama Laksmana
Reina merasa bumi yang ia pijak bergetar. "Jadi... Laksmana yang tadi... dia adalah kakakku?"
"Kakak tiri," koreksi Pak Bramantyo. "Laksmana senior menghilang setelah kematian ibumu. Dia pikir keluargaku terlibat dalam konspirasi itu, maka dia membesarkan anaknya dengan satu tujuan: Menghancurkan keluarga Dirgantara. Itulah kenapa Laksmana muda mendekati Kenzo sejak dulu. Dia tidak hanya mengincar uang, dia mengincar dendam."
Tiba-tiba, Vino berlari mendekat dengan napas tersengal. "Paman! Laksmana muda kabur! Dia tidak ikut tertangkap saat polisi meringkus orang-orang Ibu Aris. Dan satu hal lagi... dia membawa laptop Reina yang berisi data cloud asli!"
Reina meraba tasnya. Kosong. Di tengah kekacauan di dermaga tadi, Laksmana ternyata berhasil melakukan satu langkah terakhir.
Pukul 03.30 WIB – Sebuah Pesan Misterius
Ponsel Reina bergetar. Sebuah pesan dari nomor pribadi yang hanya berisi koordinat lokasi dan sebuah video singkat.
Dalam video itu, Laksmana muda terlihat sedang berdiri di depan sebuah makam yang sangat terawat di pinggiran Surabaya. Ia menatap kamera dengan tatapan yang tidak lagi penuh kebencian, melainkan kesedihan yang mendalam.
"Adikku, Reina... Kamu menang hari ini, tapi kamu belum tahu seluruh kebenarannya. Ayah kita tidak melarikan diri karena takut. Dia dipenjara di sebuah fasilitas rahasia milik Yayasan Pusat selama dua puluh tahun karena memegang kunci brankas desain SMA Garuda yang asli. Jika kamu ingin bertemu ayahmu—ayah kita—datanglah ke alamat ini sendirian. Jangan bawa Dirgantara, jangan bawa polisi."
Reina menatap pintu ICU tempat Kenzo sedang berjuang, lalu menatap pesan itu. Pilihan tersulit kini ada di tangannya: Menunggu pria yang ia cintai terbangun, atau pergi menyelamatkan ayah yang selama ini ia kira sudah tiada.
Reina memutuskan untuk melangkah pergi. Namun, saat ia sampai di lobi rumah sakit, seseorang menahan lengannya. Aris berdiri di sana, menyerahkan sebuah kunci motor.
"Aku tahu kamu mau ke mana. Laksmana tidak sendirian di sana. Yayasan Pusat sudah mengirim tim 'pembersih' untuk melenyapkan semua saksi hidup, termasuk ayahmu," bisik Aris. "Ambil ini. Di bawah jok ada alat pelacak yang terhubung langsung ke ponsel Kenzo. Jika Kenzo bangun, dialah satu-satunya yang bisa menemukanmu."
Reina menatap Aris dengan penuh terima kasih, lalu memacu motor itu menembus kabut pagi Surabaya menuju lokasi yang bisa mengubah takdirnya selamanya.
Reuni Berdarah: Reina sampai di lokasi rahasia dan menemukan seorang pria tua yang rapuh di dalam sel bawah tanah. Namun, Laksmana muda ternyata sedang memasang bom waktu di sana sebagai bentuk "balas dendam terakhir" untuk menghancurkan segalanya.