"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tertinggal
Lantai dua pabrik itu terasa seperti panggung eksekusi. Lantai kayunya berderit setiap kali Arthur melangkah. Reyhan berjalan di depan, memimpin jalan menuju ruang mandor dengan kaki yang terasa seberat timah. Di bawah sana, ia hanya bisa berharap Kiara dan Rendy sudah berhasil keluar melalui pintu belakang.
"Di sini, Pak," ucap Reyhan sambil membuka pintu kayu yang sudah rapuh.
Ruangan itu kosong, hanya ada meja tua dan debu. Arthur masuk, melihat sekeliling dengan tatapan meremehkan. Ia berjalan menuju meja, lalu mengusap debu di atasnya dengan ujung sarung tangan kulit hitamnya.
"Kosong, Reyhan. Sama seperti nyalimu malam ini," ucap Arthur pelan. Ia berbalik, menatap tajam ke mata Reyhan yang gelisah. "Kamu pikir saya bodoh? Kamu pikir saya tidak mencium bau parfum murah dan keringat ketakutan di bawah sana?"
Jantung Reyhan serasa berhenti. Arthur tahu.
"Saya memberikanmu kesempatan untuk menjadi besar, Reyhan. Tapi kamu lebih memilih menjadi tikus yang bersembunyi di lubang bersama teman-temanmu," Arthur melangkah mendekat, mengintimidasi. "Besok, saya ingin laporan kasus 2011 itu selesai di meja saya. Jika tidak... bukan hanya kariermu yang berakhir, tapi keselamatan orang-orang sipil yang kamu banggakan itu juga akan terancam."
Mendengar ancaman itu, Reyhan mengepal tinju. Arthur sudah melewati batas. Namun, sebelum Reyhan bisa membalas, Arthur berjalan keluar ruangan dengan angkuh.
Di Luar Pabrik
Kiara dan Rendy berhasil keluar dengan napas tersengal-sengal. Mereka bersembunyi di balik semak-semak, menunggu mobil Arthur pergi.
"Ra, kamu nggak apa-apa?" tanya Rendy sambil memeriksa keadaan Kiara.
Kiara meraba kepalanya, lalu wajahnya berubah pucat pasi. "Ren... jepit rambutku. Jepit rambut pemberian adik asuh Reyhan... jatuh di dalam bak mesin tadi!"
Rendy tertegun. "Apa?! Kalau si Kulkas Berjalan itu menemukannya..."
Baru saja Rendy selesai bicara, mereka melihat Arthur keluar dari pabrik. Di tangannya, ia memegang sebuah benda kecil yang berkilau terkena cahaya bulan. Sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu berwarna merah.
Arthur menatap benda itu dengan senyum tipis yang mengerikan, lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya sebelum melaju pergi.
Markas Kepolisian - Keesokan Harinya
Reyhan masuk ke kantor dengan mata merah karena tidak tidur. Di atas mejanya, sudah ada sebuah kotak kecil. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Di dalamnya terdapat jepit rambut Kiara dan sebuah nota kecil:
"Barang bukti yang tertinggal harus dimusnahkan, atau pemiliknya yang akan dimusnahkan. Pilihan ada di tanganmu, Detektif."
Tiba-tiba, ponsel Reyhan bergetar. Pesan singkat dari Rendy: "Rey! Kiara hilang! Dia nggak pulang semalam setelah kita pisah di pabrik. Gue cari di rumahnya nggak ada!"
Pandangan Reyhan seketika gelap. Rasa pening yang luar biasa menyerang kepalanya. Kali ini, rasa takutnya bukan lagi karena hantu, tapi karena kehilangan orang yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.
Bruk!
Reyhan jatuh pingsan di tengah kantor polisi. Namun kali ini, tidak ada Rendy yang menjahilinya. Hanya ada tawa dingin Arthur yang seolah bergema dari ruangannya di ujung lorong.
[Lokasi Rahasia: Ruang Gelap]
Di sebuah ruangan sempit yang berbau pengap dan bensin, Kiara duduk terikat di sebuah kursi kayu. Mulutnya dilakban, dan matanya tertutup kain hitam. Ia tidak bisa melihat apa-apa, tapi telinganya menangkap suara ombak yang menghantam dermaga di kejauhan.
Tiba-tiba, sebuah energi yang sangat besar dan jahat masuk ke ruangan itu. Bukan energi hantu, tapi energi manusia yang lebih kejam dari iblis mana pun. Langkah kaki itu berhenti tepat di depannya. Sebuah tangan yang dingin menyentuh pundak Kiara, membuat gadis itu gemetar hebat.
"Jangan takut, Gadis Indigo," suara seorang pria berbisik dingin. "Tuan Arthur hanya ingin kamu 'melihat' sesuatu untuknya. Jika kamu kooperatif, mungkin 'Detektif'-mu itu bisa melihatmu lagi dalam keadaan bernapas."
Kiara menangis di balik penutup matanya. Air matanya membasahi kain hitam itu. Di dalam hatinya, ia hanya bisa memanggil nama sahabat-sahabatnya.
Lampu koridor kantor polisi berkedip-kedip. Arthur berdiri di balkon, melihat ke arah kota yang diguyur hujan. Di tangannya, jepit rambut merah Kiara kini sudah patah menjadi dua.
Arthur tidak marah. Dia malah tersenyum. "Begitu ya? Kamu memilih mereka, Reyhan?" Arthur menyalakan pemantik emasnya, membakar sebuah foto lama sampai menjadi abu. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa kuat 'Benang Merah' kalian saat saya membakar seluruh kotanya."