Marsya, seorang istri yang selalu di hina oleh suami dan keluarga nya hanya karena dia dianggap karyawan di salah satu toko kue.
Tapi tanpa sepengetahuan keluarga suami nya, bahwa toko kue itu adalah milik nya dan dia adalah seorang sarjana.
Dia sengaja menyembunyikan identitas nya atas permintaan sang ibu, kini Marsya tahu sendiri seperti apa suami nya dan juga keluarga nya.
Selain di berikan nafkah yang jauh dari kata cukup, Marsya juga di duakan oleh suami nyam dengan seorang wanita yang merupakan rekan kerja suami nya di kantor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
"Apa maksud kamu Sya? Selama ini kan tugas kamu yang belanja, masih untung hari ini ibu mau bantuin kamu belanja. Tinggal bayar aja kok repot!" Omel bu Ana dengan kesal.
"Kalau Marsya ada uang nya ya gak masalah bu, tapi kan Marsya gak ada uang. Ibu sendiri kan yang bilang sama mas Dani agar tidak memberikan Marsya uang lagi!" Marsya mengingat kan ibu mertua nya.
"Itu salah kamu sendiri, karena kamj sering menilep uang belanja!" Bu Ana malah menuduh Marsya yang bukan - bukan.
"Mau nilep bagai mana bu? Cuma 30 ribu sehari, ibu lihat sendiri kan tadi belanja nya habis berapa untuk kebutuhan satu minggu. Jadi ibu mikir sendiri dong, 30 ribu di kali 3 hari jadi nya 210 ribu. Apa itu cukup untuk makan selama satu minggu!" Marsya kesal dengan ibu mertua nya.
"Bukti nya selama ini semua terpenuhi, gak mungkin kalau uang itu tidak cukup!" Bu Ana tetap ngotot.
"Udah lah bu, urusan utang sama bu Eni ibu bisa minta mas Dani untuk membayar nya!" Marsya tidak ingin lagi berdebat dengan bu Ana dan dia pun melangkah kan kaki nya meninggal kan bu Ana di ruang tamu.
"Dasar menantu keluarga ajar, awas ya kamu!" Omel bu Ana karena Marsya menolak membayar hutang nya.
Marsya merubah kan tubuh nya di atas tempat tidur, dia sudah lelah di perlakukan bak pembantu di rumah ini. Selama ini dia menutupi semua kebutuhan rumah dengan uang nya sendiri secara diam - diam, tapi kini Marsya tidak akan melakukan hal itu lagi.
"Sudah cukup selama ini aku berkorban untuk kalian, sekarang silahkan kalian gunakan uang kalian sendiri untuk memenuhi semua kebutuhan kalian!" Guman Marsya sambil memandangi langit - langit kamar nya.
Marsya bertahan di sini karena dia ingin mengumpulkan bukti lebih banyak lagi tentang perselingkuhan Dani, jika bukti nya sudah terkumpul maka Marsya akan menggugat cerai Dani. Dani tidak akan bisa menyanggah lagi, karena semua bukti sudah ada.
"Mama, aku kangen Mama. Besok aku akan mengunjungi Mama!" Tiba - tiba Marsya teringat pada wanita yang sudah melahirkan kan nya ke dunia ini.
Setelah beristirahat sejenak, Marsya segera pergi ke dapur. Dia mulai memasak untuk makan malam nanti, Marsya hanya tersenyum saat melihat semua bahan makanan sudah tersedia dan itu memang cukup untuk stok selama satu minggu ke depan.
"Ini tidak ada bumbu dan yang lain nya, minyak goreng juga habis!" Guman Marsya saat dia melihat stok bumbu seperti bawang dan yang lain nya sudah habis.
Minyak sayur dan gula juga sudah tidak ada lagi, tempat nya sudah kosong, hanya ada sedikit cabe. Itu pun Marsya petik dari kebun nya pak Amin di belakang.
"Ah, sebaik nya aku rebus saja. Terserah mau makan atau tidak, toh mau bagai mana lagi semua bumbu tidak ada!" Guman Marsya sambil mencuci ayam yang sudah di potong nya.
Marsya tahu jika dia meminta uang pada bu Ana untuk membeli bumbu, maka sudah pasti bu Ana tidak akan memberikan nya. Jadi dia masak saja seadanya, ayam rebus di kasih sedikit garam. Karena yang tersisa hanya lah garam saja.
******
Setelah sholat magrib, baru lah Dani pulang ke rumah. Akhir - akhir ini Dani memang tidak pernah pulang cepat, setelah pulang kerja dia menghabis kan waktu nya bersama Mela terlebih dahulu. Bukan nya Marsya tidak tahu, tapi dia berpura - pura tidak tahu.
"Marsya,,,,,,!!!" Terdengar teriakan bu Ana dari dapur.
"Marsya bergegas melangkah kan kaki nya ke dapur menemui sang ibu mertua.
"Ada apa bu?" Tanya Marsya pura - pura polos.
"Apa maksud mu dengan memasak seperti ini ha!" Bentak bu Ana dengan kasar.
"Bu, aku kan udah bilang aku masak apa yang ada. Semua bumbu di dapur udah pada habis, yang tersisa hanya garam saja. Ya udah aku rebus sama garam aja!" Jawab Marsya santai.
"Kamu udah semakin kelewatan Sya, kalau gak ada bumbu ya beli lah. Masa hal sepele gitu aja hafus selalu di ingat kan!" Dani pun ikut menyalahkan Marsya.
"Mas, emang kamu ada ngasih uang belanja buat membeli semua nya?" Tanya Marsya dengan nada datar.
"Kamu lan kerja Sya, ya pake uang kamu sendiri lah!" Jawab Dani sewot.
"Mas, kalian lupa ya kerjaan aku kan cuma pelayan dan kamu tahu sendiri kan gaji aku itu kecil. Aku juga punya kebutuhan, kamu gak pernah kasih aku nafkah!" Marsya kini dengan berani nya mengungkap kan isi hati nya.
"Maka nya jangan jadi orang miskin biar gak bergantung terus sama suami!" Bu Ana kini kembali menghina sang menantu.
"Jangan lupa bu, orang miskin ini lah yang selama ini memberi kalian makan. Apa kalian pikir uang 30 ribu sehari bisa membeli bahan makanan enak setiap hari nya!" Ujar Marsya dengan geram, nafas nya turun naik menahan emosi.
Dani dan Bu Ana terdiam mendengar ucapan Marsya, di dalam hati nya bu Ana membenar kan ucapan menantu nya. Dia berbelanja untuk satu minggu saja hampir menghabis kan uang satu juta rupiah, apalagi Marsya yang cuma di kasih 30 ribu perhari.
"Jangan salah kan aku Sya, jika aku mencari wanita lain. Sebagai seorang istri kau tidak bisa melakukan kewajiban menyenangkan suami mu!" Kini Dani malah balik mencari pembenaran untuk diri nya sendiri.
"Sebelum bicara sebaik nya kau ngaca dulu mas, kau minta aku melaksanakan kewajiban ku tapi kau sendiri tidak mau melaksanakan kewajiban mu pada ku! Apakah kau pernah memberikan aku nafkah?" Balas Marsya telak.
"Kurang ajar kau!" Dani mengangkat tangan nya ingin menampar Marsya.
"Hentikan Dani!" Teriak pak Amin yang tiba - tiba muncul di depan pintu penghubung dapur dan ruang keluarga.
"Kamu yang keterlaluan Dani, hanya laki - laki pengecut yang berani main tangan!" Ujar Pak Amin sehingga Dani pun menurun kan tangan nya dan tidak jadi menampar Marsya.
"Pak, kenapa kau membela menantu miskin ini?" Bu Ana tidak terima karena suami nya membela Marsya.
"Ibu juga sudah sangat keterlaluan, ingat bu kita juga punya anak perempuan. Bagai mana perasaan ibu jika nanti nya anak perempuan kita di perlakukan seperti ibu memperlakukan Marsya!" Pak Amin mengingat kan istri nya.
"Anak kita itu berpendidikan tinggi pak, dia akan bekerja di kantoran nanti. Dia tidak mungkin melakukan pekerjaan di dapur!" Bu Ana membanggakan anak perempuan nya.
Pak Amin geleng - geleng kepala melihat sikap istri nya, bu Ana terlalu memandang seseorang dari status sosial dan harta saja. Dia akan sangat menghormati orang yang berharta, tapi dia akan sangat merendah kan orang miskin.