NovelToon NovelToon
Urus Saja Mantanmu Dan Anaknya Itu

Urus Saja Mantanmu Dan Anaknya Itu

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Anak Genius / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:192k
Nilai: 5
Nama Author: Byiaaps

“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

“Bilang apa sama Om Darma?” Malam ini Darma bermain ke rumah budenya untuk memberikan mainan pada kembar.

“Terimakasih, Om,” ujar kembar bersama-sama tanpa ekspresi.

Tak enak pada Darma karena anak-anaknya seperti tak suka dengan pemberian Darma yang menurutnya mahal, Syafira mengalihkan suasana.

“Oh iya, besok kalian sudah bisa bersekolah dan bertemu teman-teman baru!” Syafira tampak antusias mengabarkan berita ini, berharap kembar bisa tersenyum bahagia.

Nyatanya, mereka tetap tak berekspresi apapun, hanya diam sembari memainkan mainan yang Darma berikan.

Membiarkan kembar bermain di ruang tengah, Syafira dan Darma kembali berbincang di ruang tamu.

“Bude sudah cerita semuanya, aku ikut berduka atas semua yang terjadi padamu, Syaf. Tapi, kalau boleh tahu, apa sebenarnya alasan kamu pindah ke sini? Bude bilang sebelum ini kamu sudah bekerja di Jakarta.” Darma memberanikan diri menanyakan hal yang menurutnya ingin sekali diketahuinya.

Awalnya, bunda kembar itu enggan bercerita. Tapi, entah mengapa ia malah seperti nyaman sekali untuk menceritakan semuanya agar beban ini sedikit terlepas dari pundaknya. Terlebih, Darma yang ia kenal adalah teman baiknya semasa putih abu-abu. Tak ada sedikitpun rasa canggung saat bercerita.

Bahkan soal Putra yang menjadi alasan utamanya pergi dari Jakarta pun tak luput ia ceritakan.

Bak sedang melepas sesak, tak terasa air matanya terjatuh begitu saja saat menarik mundur cerita awal mula kehancuran rumah tangganya.

“Setiap melihat mereka berdua, tak tega rasanya. Aku merasa bersalah karena telah membawa mereka ke dalam keadaan seperti ini. Mereka berhak bahagia, tapi aku tidak bisa memberikannya. Perlahan, rasa sesal mulai muncul. Andai saja dulu aku mau bersabar atas apa yang dilakukan mantan suamiku, mungkin mereka tidak akan merasakan kehidupan seperti ini. Harusnya aku bisa berpikir jauh ke depan, harusnya aku mau berkorban sakit hati melihat dia bersama perempuan lain demi anak-anakku, harusnya aku…” Syafira tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Darma pun mencoba menahan untuk tidak berinteraksi lebih, namun melihat Syafira yang terlihat hancur, seperti ada yang menggerakkan tangannya untuk menggapai pundak mantan istri Khale itu ke dalam pelukannya.

“Jangan salahkan dirimu. Tidak boleh ada yang berkorban sakit. Keluarga yang baik adalah keluarga yang seluruh anggotanya harus bahagia, tanpa terkecuali. Anggap memang jalanmu masih terjal, tapi percayalah ada sesuatu yang baik menunggumu di depan sana, Syaf,” tutur Darma menenangkan.

“Kini semuanya sudah terlambat, Dia sudah terlalu jauh menyakitiku dengan perempuan itu dan anaknya. Sakit,” lanjut Syafira mengingat bagaimana Khale mengkhianatinya.

“Aku pergi ke rumah sakit sendirian, sedangkan dia memilih menemani anak mantannya itu berobat. Aku berjuang dengan kehamilanku sendiri. Saat aku pergi pun, mereka masih saling bertemu, sampai bertahun-tahun lamanya dia masih menjalin hubungan dengan mantannya. Aku bahkan melihat dia menemani anak dari mantannya itu ke minimarket, memanjakannya, membelikannya es krim, sedangkan aku mati-matian menghemat uang untuk jajan anak-anakku.” Isak Syafira kian menjadi.

Sementara Darma terus mengusap lembut lengan wanita di sampingnya itu, tak memintanya untuk berhenti bercerita, berharap setelah ini hati Syafira bisa lebih lega.

Dalam diamnya, lelaki yang hampir berusia 35 tahun itu tak berhenti berbicara dalam hatinya.

“Ini semua juga salahku, Syaf. Andai dulu aku berani menemuimu di Jakarta dan menyatakan keinginanku sedari dulu untuk memintamu menjadi pasanganku, mungkin kamu tidak akan sesakit ini. Maafkan aku…”

***

“Apa Bapak masih ingat bentuk rumahnya? Atau pemilik rumah yang sempat membeli rumah mertua Bapak dulu?” tanya anak buah Khale yang kini tengah mengemudikan mobil bersama tuannya mencari keberadaan Syafira di kampung orang tuanya.

Terdiam, Khale tampak sedang mengingat-ingat semua cerita Syafira kala itu. Dulu, mantan istrinya itu memang pernah mengajaknya ke kampung orang tuanya di awal pernikahan mereka. Jadi, Khale hanya sekali saja berkunjung ke sana, itu pun saat rumah orang tua Syafira telah dibeli orang lain. Tentu, ia sudah lupa siapa nama pembelinya. Bahkan, bentuk bangunannya pun juga sudah lupa lupa ingat.

“Atau kalau tidak, kita tanyakan saja pada warga sekitar berdasarkan nama orang tua Bu Syafira,” saran anak buahnya.

Hingga beberapa menit kemudian, mobil Khale telah sampai di sebuah pedesaan.

“Ah, aku lupa kampungnya yang mana,” sesal Khale.

Setelah berdiskusi, mereka berdua mulai menyusuri beberapa kampung di sana dan bertanya pada setiap warga yang tak sengaja berlalu lalang.

“Pak, maaf. Apa Bapak tahu rumahnya Bu Sumarni dan Pak Yusuf?” tanya Khale penuh harap.

Menggeleng, dari 3 warga yang ditemui, mereka tak kenal siapa orang yang Khale maksud.

Merasa bukan di sini tempatnya, Khale mengajak anak buahnya buru-buru mengemudikan mobilnya menuju kampung sebelah.

Di kampung kedua yang mereka kunjungi, memori Khale mulai berputar. Dari jalanannya, persawahan di sekitar jalan masuk menuju kampung, dan beberapa bentuk rumah di sana seakan pernah ia lihat. Optimis, ia yakin kali ini tak salah masuk lagi.

Masih menanyakan pertanyaan yang sama, pencarian mereka nihil setelah 4 warga tak ada yang bisa menjawab.

Hingga warga ke-5 yang mereka temui di kampung itu, jawaban yang diberikan cukup mengobati keputusasaannya. “Setau saya mereka sudah meninggal, Pak.”

“Iya, betul, mereka sudah meninggal. Tapi, rumah mereka dibeli oleh tetangga, warga sini juga. Bapak kenal?” tanya Khale antusias.

“Iya, betul, rumahnya sudah dibeli dan dihuni Bu Tatik saat ini.” Jawaban warga tersebut mulai memberikan angin segar untuknya.

Sementara itu, pagi ini, Syafira mengantar kembar masuk ke sekolah baru. Berusaha membujuk mereka agar kembali bersemangat, Syafira menyatakan kesedihannya melihat kembar yang kini jarang tersenyum padanya. “Khanza dan Khayra sudah tidak sayang Bunda lagi?”

“Kalau kembar sayang Bunda, sekolah yang rajin ya, di sini,” pinta Syafira dengan mata nanar.

Saling berpandangan, kembar mengangguk pelan tanpa ekspresi.

Selesai berpamitan, Syafira meminta kembar untuk masuk ke dalam kelas. Dari luar jendela, ia masih memantau anak kembarnya itu. Di hari pertama ini, ia tak ingin meninggalkan mereka meskipun ia yakin kembar bisa beradaptasi dengan baik seperti yang sudah-sudah.

Merasa aman dan nyaman, Syafira mulai lega ketika melihat kembar bisa berbaur dengan teman-teman barunya, hingga ia bermaksud pergi dari tempatnya berdiri untuk mencari tempat duduk.

Tapi, baru juga ia melangkahkan kakinya, terdengar suara riuh dari dalam kelas kembar dan terdengar jelas suara tangisan Khanza yang selama ini jarang sekali menangis.

...****************...

1
Lisna Wati
lanjut
Feri Setyawati
khale termasuk laki laki bodoh. jadi klop lah dengan Safira. yang laki di cundangi karina. yang perempuan di cundangi putra.
Feri Setyawati
shafira jadi perempuan tidak punya prinsip. gampang di rayu. kelewat tolol sih.
Feri Setyawati
syafirah bodoh. plin plan.
Niza Neza
terlalu muter2 kayak gasingan
Niza Neza
katanya waktu sklh berprestasi dpt biasiswa tp otak di taro lutut. udah tau putra sprt apa tetap di ladenin. disuruh buka hijab di ladenin. itu di ngangkang jg oke x. dasar goblog kelewat
Niza Neza
gampang banget si fira ini di ombang ambingkn hanya dngn sebuah ucapan. katanya anak berprestasi waktu sklh. ...
tp ko.....kenyata'an tak sesuai
Kembarr Kembaarr
ternyata karina ini sosok wanita kranjingan yaaa... dn si khale pria bodoh yg dngn mudah di bohongi oleh si kranjingan
Memyr 67
kalau suami saya modelan khale, saya juga langsung kabur menghilang. nggak mau muncul sekalipun di depannya. apaan? yg jadi istrinya siapa yg jadi prioritas mantan pacar. istri disuruh mengalah ke mantan pacar? lupakan
ayu cantik
suka
Memyr 67
𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗆 𝖽𝗂 𝗋𝖾𝗌𝗍𝗈𝗋𝖺𝗇 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅. 𝗌𝗅𝖾𝗌𝖺𝗂 𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗆 𝗌𝗒𝖺𝖿𝗂𝗋𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗉𝖺𝗁 𝗄𝖾 𝗄𝖺𝗆𝖺𝗋 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗉𝗋𝖾𝗍𝖾𝗅𝗂
Memyr 67
𝗂𝗇𝗂 𝗇𝗈𝗏𝖾𝗅 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝗒𝖺? 𝗌𝗒𝖺𝖿𝗂𝗋𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝖺 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗈𝗋𝖻𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗄𝗂𝗍 𝗁𝖺𝗍𝗂 𝖺𝗀𝖺𝗋 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖻𝖾𝗋𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗄𝗂𝗍 𝗁𝖺𝗍𝗂 𝗄𝖾𝗍𝗂𝗄𝖺 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗅𝗂𝗁 𝗆𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀𝗀𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝖾𝗆𝗂 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖺𝗁𝖺𝗀𝗂𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗂𝗇? 𝗄𝗁𝖺𝗅𝖾 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗋𝗇𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗌 𝗄𝖾 𝗆𝖺𝗇𝗍𝖺𝗇 𝗉𝖺𝖼𝖺𝗋𝗇𝗒𝖺. 𝗍𝗂𝖺𝗉 𝗄𝖺𝗅𝗂 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗅𝖾𝗉𝗈𝗇, 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗌𝗎𝗇𝗀 𝗆𝗅𝗎𝗇𝖼𝗎𝗋. 𝗌𝖾𝗈𝗅𝖺𝗁 𝗉𝗋𝗂𝗈𝗋𝗂𝗍𝖺𝗌 𝗁𝗂𝖿𝗎𝗉𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖺𝗇𝗍𝖺𝗇 𝗉𝖺𝖼𝖺𝗋 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝗅𝖺𝗌𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾 𝗆𝖺𝗇𝗍𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗉𝖾𝗍 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗄𝖾 𝗆𝖺𝗇𝗍𝖺𝗇 𝗉𝖺𝖼𝖺𝗋 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺. 𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋 𝗉𝗎𝗍𝗋𝖺 𝗅𝗈𝗀𝗂𝗄𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖾𝗋𝗋𝗈𝗋
Memyr 67
𝗄𝗁𝖺𝗒𝗋𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗄𝗁𝖺𝗅𝖾? 𝗆𝗎𝗅𝖺𝗂 𝗍𝗒𝗉𝗈
Dede Bleher
Thor hebaat.
bikin peran utama tangguh
Dede Bleher
pergilah sebelum tambah sakit!
Rosita Tumbelaka
Aq juga akan lakukan hal spt Syafira...
Dara Sari
maaf yaa Thor sedikit koreksi....cerita nya berbelit-belit dan muter muter...kurang penegasan dlm cerita nya Syafira juga lembek...ga ada sifat tegas nya...mohon maaf ya Thor kl dikritik 🙏🙏
Rezi Linda
putra nggak tulus. ..jgn. sampe nikah sm syafira...balikan aja sm khale...khale nggak nikah jg sm karina...jgn di buat berteletele lah critanya 😄
Nina Rochaeny
ehhh..endingnya gmn ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!