"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Aku segera memalingkan wajah, berpura-pura sibuk mengaduk isi tas yang sebenarnya sudah rapi. Kehadirannya di sana terasa seperti oksigen yang tiba-tiba hilang dari ruangan. Bagaimana bisa dia berdiri di sana dengan wajah sedatar itu setelah menghancurkan duniaku berkeping-keping?
"Fis, keluar sebentar. Gue mau bicara," suara bass-nya terdengar pelan, namun cukup untuk membuat beberapa teman sekelas yang belum ke kantin mulai berbisik.
Aku tidak bergeming. Aku tidak sudi menjadi tontonan, apalagi menjadi pihak yang terlihat memohon penjelasan pada laki-laki yang jelas-jelas sudah berpaling. Tanpa sepatah kata pun, aku berdiri, menyambar ponselku, dan berjalan cepat menuju pintu belakang kelas.
"Afisa!" panggilnya lagi, kali ini ada nada urgensi yang tidak biasanya.
Aku mempercepat langkah, setengah berlari menyusuri koridor belakang yang menuju ke arah perpustakaan. Aku tahu dia tidak akan mengejarku terang-terangan di depan banyak orang—Guntur terlalu menjaga image dingin dan tenang untuk melakukan hal sekonyol itu. Dan itulah yang kumanfaatkan.
Aku berbelok ke arah tangga darurat yang jarang dilewati siswa. Di sana, di balik tembok beton yang lembap, aku menyandarkan punggungku. Napas kubuang kasar, berusaha meredam detak jantung yang menggila.
Brengsek, umpatku dalam hati.
Kenapa dia harus datang? Kenapa tidak dibiarkan saja semuanya berakhir dalam diam seperti yang biasa dia lakukan? Apakah dia ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja agar rasa bersalahnya berkurang? Ataukah dia ingin memintaku untuk tidak memusuhi Fita demi kenyamanan hubungan baru mereka?
Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang belum kuhapus, meski sangat ingin kulakukan.
Guntur: Jangan lari, Fis. Gue cuma mau bilang kalau Fita nggak salah. Gue yang maksa dia buat diem.
Aku tertawa getir membaca pesan itu. Air mata yang kukira sudah habis semalam, kembali mendesak keluar. Jadi benar, dia datang bukan untukku. Dia datang untuk menjadi pahlawan bagi Fita. Dia ingin memastikan "surga baru"-nya tidak terusik oleh kemarahanku.
Aku mengetik balasan dengan jemari gemetar:
"Selamat, Guntur. Lo berhasil jadi pengecut paling hebat yang pernah gue kenal. Jangan pernah temuin gue lagi, atau gue nggak segan buat bikin kalian berdua malu di depan semua orang."
Belum sempat aku menyimpan ponsel, sebuah tangan tiba-tiba menahan pintu tangga darurat yang sedikit terbuka. Seseorang berdiri di sana, tapi bukan Guntur.
Itu Alif. Matanya menatapku dengan sorot yang sulit diartikan—antara kasihan dan sesuatu yang lebih dalam.
"Dia udah pergi, Fis. Guntur nggak bakal ngejar lo ke sini," ucap Alif pelan, hampir berupa bisikan.
Pergi, Lif. Gue nggak butuh penjaga pintu, apalagi dari orang yang kerjanya cuma nutup-nutupin kebusukan temannya," desisku tajam. Aku menyeka sisa air mata dengan kasar, berniat keluar dari persembunyian ini. Aku tidak sudi terlihat lemah di depan siapapun lagi.
Namun, saat aku mendorong pintu tangga darurat itu lebih lebar, langkahku terhenti. Dunia rasanya sekecil lubang jarum. Di depan sana, berdiri Kaila dan Ayu. Wajah mereka berdua pias, menatapku dan Alif bergantian dengan ekspresi yang sulit terbaca.
"Fis..." Kaila bergumam, matanya beralih ke Alif, kekasihnya, yang berdiri tepat di belakangku. Ada kilat kecurigaan yang terselip di balik rasa bersalahnya. "Lo... lo sama Alif di sini?"
Aku tertawa hambar. Situasi ini benar-benar lelucon. "Kenapa, Kai? Takut cowok lo juga gue rebut? Tenang aja, gue nggak serendah teman-teman kalian."
"Bukan gitu, Fis! Kita cuma nyariin lo dari tadi," potong Ayu cepat, langkahnya maju satu tindak seolah ingin meraih lenganku. "Kita semua khawatir."
"Khawatir?" Aku menatap Ayu dengan saksama. "Khawatir karena gue akhirnya tahu kebenarannya? Atau khawatir karena kalian nggak punya bahan tontonan lagi buat ngetawain kebodohan gue?"
"Fis, gue beneran sayang sama lo sebagai sepupu!" Kaila mendekat, suaranya mulai bergetar. "Alif juga cuma mau nenangin lo!"
Aku menoleh ke arah Alif yang masih mematung, lalu kembali menatap Kaila. "Sayang lo itu palsu, Kai. Kalau lo sayang, lo nggak bakal biarin gue tiap malam curhat soal cowok yang ternyata lagi dideketin sama sahabat kita sendiri. Lo, Alif, Ayu... kalian semua sama. Kalian lebih milih menjaga 'rahasia' Guntur daripada menjaga hati gue."
Aku melangkah maju, menembus barisan mereka yang seolah mengurungku. Bau parfum mereka yang biasanya akrab, kini tercium memuakkan.
"Mulai sekarang, jangan cari gue lagi. Anggap aja Afisa yang dulu lo kenal udah mati di kostan Fita kemarin," ucapku dingin tanpa menoleh lagi.
Aku berjalan menyusuri koridor sekolah dengan kepala tegak, meskipun dadaku rasanya ingin meledak. Aku tidak peduli lagi pada Guntur, Fita, atau siapapun. Di ujung lorong, aku melihat Guntur sedang berdiri di dekat mading, menatap ke arahku dengan sorot mata yang tak lagi sedingin biasanya—kali ini, ada sesuatu yang mirip dengan penyesalan.
,
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2