Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Melihat wajah Bianca yang masih dipenuhi amarah, Sari juga merasa sedikit bersalah. Memang, Bima sudah keterlaluan—menggoda dirinya, terlalu dekat dengan Yeni, dan sekarang bahkan berani mengganggu Bianca.
Setelah berpikir sejenak, ia akhirnya mengambil keputusan.
“Bagaimana kalau begini. Nanti aku cari waktu untuk membawamu menemuinya dan memintanya minta maaf secara langsung. Kalau kau masih kesal… aku sendiri yang akan memberi pelajaran padanya.”
“Baiklah…” Bianca mendesah kesal. “Agar kau tidak terlalu sulit, aku tidak akan membuatnya terlalu parah.”
Ia mengepalkan tangan dengan kuat. “Cukup pukul dia sampai kepalanya bonyok kayak bakpao saja.”
Di sebuah ruang privat Executive Club, lelaki kurus yang dipanggil Paman Surya sedang melapor kepada Dimas.
“Tuan Muda, semuanya sudah saya selidiki dengan jelas! Orang itu bernama Bima, sopir armada milik Garuda Group. Kabarnya dia baru saja dipindahkan menjadi asisten Sari, tetapi pekerjaannya tetap saja sopir pribadi.”
Paman Surya adalah kepala pelayan sekaligus tangan kanan kepercayaan keluarga besar Dimas. Selama tiga puluh tahun ia mengurus segala keperluan rumah tangga dan bisnis gelap milik ayah Dimas, ketua Prawira Group.
Meski usianya sudah lanjut, Paman Surya masih sangat lihai mengurus urusan di "bawah tanah". Di lingkungan keluarga mereka, ia dikenal sebagai orang tua yang licin sekaligus sangat berpengalaman.
Dua hari lalu, para pengawal Dimas dipecat secara memalukan. Sejak itu Dimas, yang sempat merasa ketakutan, langsung memanggil Paman Surya untuk melindunginya. Kehadiran orang tua itu membuatnya kembali merasa jumawa.
“Dari informasi yang saya kumpulkan,” lanjut Paman Surya, “anak itu seorang yatim piatu. Ia mantan tentara, tetapi belum lama berada di Jakarta. Sekarang dia tinggal di kawasan kumuh. Alamatnya juga sudah saya dapatkan.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada tenang. “Secara umum, dia tidak punya bekingan apa pun. Kalau Tuan Muda ingin melampiaskan amarah… bahkan jika ingin menghabisinya, seharusnya tidak akan menjadi masalah besar. Namun, untuk orang kecil seperti itu, kita tidak perlu repot. Saran saya—cukup patahkan saja kakinya.”
“Baik! Kita pakai saran Paman Surya!” kata Dimas dengan senyum ganas. “Patahkan kedua kakinya—tidak, patahkan tiga kakinya sekaligus! Berani-beraninya dia mendekati wanita milikku!”
Sambil berbicara, kedua tangannya terus meremas bahu dua gadis cantik yang duduk di sampingnya hingga mereka meringis kesakitan, namun mereka tidak berani menghindar.
“Baiklah, kalau begitu kita lakukan sesuai keinginan Tuan Muda.” Paman Surya mengangguk. “Di kawasan kumuh itu ada seorang preman lokal bernama Tigor, pemimpin Geng Cobra. Di bawahnya ada puluhan anak buah. Jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk membereskan Bima.”
“Akan saya minta dia menangani urusan ini. Paling-paling kita hanya perlu memberi sedikit 'uang rokok' tambahan. Waktunya… besok malam.”
“Bagus! Besok malam aku juga akan datang!” kata Dimas sambil menggertakkan gigi. “Aku sendiri yang akan meremas aset bocah itu sampai hancur!”
Paman Surya menggeleng pelan. “Tuan Muda, sebaiknya Anda tidak ikut. Biarkan mereka yang menyelesaikannya. Jika terjadi sesuatu, biarkan mereka yang menanggungnya. Lagipula besok saya harus kembali melapor kepada Tuan Besar.”
“Apa yang mungkin terjadi?” Dimas mendengus meremehkan. “Dia cuma bekas tentara bau yang punya sedikit kemampuan. Masa Geng Cobra dengan puluhan orang tidak bisa membereskan satu orang?”
Paman Surya berpikir sejenak. Ia juga pernah mengamati Bima di bar beberapa hari lalu dan tidak melihat ada yang istimewa. Akhirnya ia membiarkan keinginan Dimas.
“Kalau bisa menginjak-injak Bima tepat di depan kaki Sari, itu akan jauh lebih menyenangkan,” gumam Dimas dengan mata menyipit. “Biar dia tahu seberapa hebat Tuan Muda dari Prawira Group ini.”
Sementara itu, Bima sedang merasa sangat pusing. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa polisi wanita yang tadi malam ia goda ternyata adalah teman serumah Sari dan Wanda.
Bagaimana mungkin ketiganya—si dewi dingin, si ceria Wanda, dan polwan galak itu—bisa tinggal bersama? Semakin dipikirkan, kepalanya semakin sakit. Terutama Bianca. Gadis itu seperti tong mesiu yang siap meledak kapan saja. Mustahil dia akan melepaskan urusan tadi malam begitu saja.
Besok pagi ia masih harus menjemput Sari ke kantor. Haruskah ia pergi? Kalau pergi, sudah pasti Bianca menunggunya. Kalau tidak, seolah ia benar-benar takut pada wanita itu.
“Huh! Angin timur bertiup, genderang perang ditabuh! Aku ini Bima—siapa yang perlu kutakuti!” Ia mendengus. “Kalau gadis itu berani terus menggangguku, sekalian saja kutolong dia operasi plastik. Dadanya kugembungkan… pantatnya juga! Biar nanti dia bahkan tidak bisa duduk di toilet!”
Dengan keputusan itu, perasaannya sedikit lega. Tak lama kemudian ia tiba di rumah kontrakannya di kawasan kumuh. Bangunan itu adalah rumah tua dua lantai; lantai bawah untuk gudang, dan Bima tinggal di lantai dua.
Meski seadanya, tempat ini membuatnya tenang. Namun, begitu membuka pintu dan melangkah masuk, mata Bima tiba-tiba menyipit tajam.
Ada seseorang yang pernah masuk ke kamarnya.
Tubuh Bima seketika memasuki keadaan siaga.
Ia menahan napas, telinganya waspada menangkap setiap suara. Namun ruangan yang gelap itu sunyi senyap, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah memastikan tidak ada bahaya, ia menyalakan lampu.
Di dalam kamar tidak tampak ada yang berubah—kecuali satu hal. Di atas meja kopi ruang tamu tergeletak seuntai gelang batu akik merah. Di tengah ruang tamu juga ada sebatang dupa yang masih menyala, diletakkan di depan dua plakat arwah yang berdiri khidmat.
"Mira..."
Sebuah wajah cantik yang dipenuhi air mata muncul dalam ingatan Bima. Amira Susanti. Wanita yang pernah berjuang bersamanya di medan hidup dan mati. Gelang di meja itu adalah hadiah ulang tahun yang pernah ia berikan padanya.
"Mira... maafkan aku."
Bima menatap dua plakat arwah yang dingin itu, menggenggam gelang yang masih menyisakan sedikit kehangatan.
"Aku tidak punya pilihan. Aku harus memberi penjelasan kepada dua saudara Garuda Hitam yang telah gugur. Darah harus dibayar dengan darah." Matanya menyipit dingin.