Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...
Cahaya bulan menyelinap masuk melalui celah gorden, menyinari wajah Dimas yang tampak pucat dan penuh peluh. Napasnya pendek-pendek, panas yang keluar dari paru-parunya seolah membakar udara di sekitar ranjang kami. Di mata ku, suhu tubuhnya bukan sekadar angka di termometer, melainkan aura merah yang kacau dan bergejolak, menandakan sel-sel manusianya sedang berjuang keras melawan kelelahan yang melampaui batas.
“Manusia ini... benar-benar rapuh,” Keluh ku sambil mengusap keningnya yang panas dengan telapak tangan ku yang dingin. “Kenapa kau begitu keras kepala, Dimas? Kau memaksakan diri bekerja demi masa depan kita, tapi kau lupa bahwa tanpa diri mu, tidak akan ada masa depan. Kau adalah jangkar bagi jiwa ku di dunia yang asing ini. Jika kau patah, aku akan hanyut kembali ke dalam kegelapan hutan yang kesepian.”
Aku melepaskan yukata hitam ku, membiarkan kulit ku bersentuhan langsung dengan udara malam yang dingin. Sebagai siluman rubah, suhu tubuh ku bisa beradaptasi, namun malam ini aku butuh menjadi penghantar energi yang murni. Aku merangkak naik ke atas tubuhnya, memposisikan diri ku dengan sangat hati-hati agar tidak membebani dadanya yang sesak, namun cukup dekat untuk menciptakan sirkulasi energi.
Telinga cokelat ku berdiri tegak, menangkap setiap detak jantung Dimas yang tidak teratur. Ekor tebal dari ku kini keluar sepenuhnya, mengembang besar dan menyelimuti tubuh kami berdua seperti kepompong sutra yang hangat.
"Dimas... dengarkan suara ku," bisik ku tepat di telinganya. "Jangan melawan panas itu. Biarkan aku masuk. Biarkan aku mengambil alih beban tubuh mu."
Dimas mengerang kecil, matanya terbuka sedikit, namun sorotnya kosong karena delusi demam. "Linda... dingin... aku merasa... sangat dingin..."
"Aku di sini, Sayang. Aku tidak akan membiarkan mu kedinginan," aku memeluknya erat, menempelkan pipi ku ke pipinya yang membara.
Aku memejamkan mata dan mulai memusatkan mana atau energi spiritual yang tersimpan di dalam inti ku. Di dunia ku, kami tidak butuh antibiotik atau parasetamol. Kami memiliki cara yang jauh lebih intim dan mendalam untuk menyembuhkan luka. Aku mulai membayangkan aliran energi berwarna hijau giok yang tenang mengalir dari jantung ku, turun ke lengan ku, dan meresap ke dalam kulit Dimas melalui setiap titik sentuhan kami.
“Masuklah... dinginkan apinya,” perintah ku dalam hati. “Serap racun kelelahan itu, bawa keluar melalui pori-porinya, dan gantikan dengan kekuatan ku.”
"Ah..." Dimas tersentak kecil saat energi ku mulai merasuki sistem sarafnya. Tubuhnya sedikit menegang, lalu perlahan-lahan mulai rileks. "Rasanya... seperti air... air terjun di tengah hutan..."
"Iya, Dimas. Tetaplah di sana. Tetaplah di air terjun itu bersama ku," aku mulai mencium lehernya, bukan dengan nafsu, melainkan dengan niat penyembuhan. Setiap kecupan adalah cara untuk menarik keluar hawa panas yang terjebak di pembuluh darah besarnya.
Kontak fisik ini menjadi sangat intens. Aku bisa merasakan setiap pori-pori kulitnya yang terbuka, setiap tetes keringatnya yang membawa sisa-sisa stres kantor. Aku menelan semua rasa sakitnya ke dalam diri ku sendiri. Sebagai siluman, tubuh ku lebih kuat untuk memproses energi negatif ini, meski itu membuat kepala ku sedikit berdenyut.
"Kenapa kau... melakukan ini, Linda?" suaranya mulai terdengar lebih jelas, meski masih sangat lemah. "Kau akan... kehabisan tenaga..."
"Diamlah, Manajer bodoh," aku mendesis pelan, ekor ku melilit kakinya lebih kencang, memberikan sensasi dekapan yang mutlak. "Kau milik ku. Aku tidak akan membiarkan maut atau penyakit mencuri satu detik pun waktu mu dari ku. Jika aku harus memberikan separuh nyawa ku agar kau bisa berdiri tegak besok pagi, maka aku akan melakukannya tanpa ragu."
“Dia tidak mengerti betapa posesifnya aku terhadap keberadaannya,” Keluh ku sambil terus mengalirkan energi. “Bagi manusia, sakit adalah hal biasa. Bagi siluman yang telah memilih pasangannya, sakit pasangannya adalah penghinaan terhadap kekuatannya. Aku adalah pelindung mu, Dimas. Aku adalah tembok yang memisahkan mu dari kegelapan.”
Aku memindahkan tangan ku ke dadanya, tepat di atas jantungnya. Aku bisa merasakan detak jantungnya mulai melambat, menjadi lebih stabil dan kuat. Aura merah yang tadinya kacau kini mulai mereda, berganti dengan cahaya hijau lembut yang selaras dengan energi ku.
"Linda... telinga mu... bergerak-gerak," Dimas bergumam, tangannya yang gemetar terangkat untuk menyentuh salah satu telinga rubah ku.
Aku membiarkannya. Sentuhan jarinya yang mulai mendingin memberikan rasa lega yang luar biasa di hati ku. "Itu tandanya sihirnya bekerja, Dimas. Kau mulai sembuh."
"Kau sangat cantik... meski saat sedang marah," ia tersenyum tipis, sebuah senyum asli yang sudah sangat aku rindukan sejak tadi pagi.
"Aku selalu marah jika kau sakit," aku menggigit bibir bawah ku, menahan haru. "Jangan pernah lakukan ini lagi. Jangan pernah biarkan tubuh mu hancur demi hal-hal yang tidak punya nyawa seperti pekerjaan itu. Janji pada ku?"
"Janji... Nyonya Rubah..."
Aku meningkatkan intensitas aliran energi ku untuk tahap terakhir. Aku merasakan gelombang panas yang besar berpindah dari tubuhnya ke tubuh ku dalam satu hentakan napas yang panjang. Rasanya seperti menelan bara api, tapi aku menahannya. Aku tidak akan melepaskannya sampai aku yakin dia benar-benar bersih dari demam itu.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, napas Dimas menjadi sangat teratur dan tenang. Suhu tubuhnya sudah kembali normal. Dia tertidur sekarang, bukan karena pingsan akibat sakit, tapi karena kelelahan yang berangsur pulih dan efek penenang dari sihir ku.
Aku ambruk di sampingnya, tubuh ku terasa sangat lemas. Napas ku terengah-engah, dan kepala ku terasa berputar. Menggunakan energi spiritual secara masif untuk menyembuhkan manusia membutuhkan pengorbanan yang besar bagi ras kami. Namun, saat aku melihat wajahnya yang kini tampak damai dalam tidurnya, rasa lelah itu menghilang begitu saja.
“Lihatlah kau sekarang,” Keluh ku, mengelus rambut hitamnya yang kini kering dari keringat. “Kau terlihat seperti bayi manusia yang tidak berdosa. Siapa yang sangka pria ini adalah manajer logistik yang ditakuti di kantornya? Di sini, di bawah perlindungan ku, kau hanyalah milik ku yang rapuh.”
Aku menarik selimut untuk menutupi kami berdua. Ekor-ekor ku tidak aku tarik masuk; aku membiarkan mereka tetap menyelimuti Dimas, memberikan kehangatan alami yang tidak akan bisa diberikan oleh selimut mana pun. Aku ingin aroma ku meresap ke dalam setiap serat pakaiannya, ke dalam setiap pori kulitnya, sehingga saat dia bangun nanti, dia akan tahu bahwa dia telah "dilahirkan kembali" oleh cinta ku.
"Mimpi indah, Dimas," bisik ku sebelum mata ku mulai memberat. "Besok, kau akan bangun dengan kekuatan baru. Tapi jangan harap kau bisa lepas dari pengawasan ku. Aku akan tetap mengurung mu di sini sampai aku benar-benar yakin kau tidak akan tumbang lagi."
Aku memejamkan mata, membiarkan kesadaran ku memudar di samping pria yang telah mencuri jantung siluman ku. Di apartemen nomor 404 ini, keajaiban bukanlah hal yang mustahil. Penyakit manusia memang lemah, tapi obat alami dari ras siluman... itu adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh sains mana pun.
Esok pagi, matahari mungkin akan bangun dengan cahayanya yang terang, tapi bagi ku, cahaya itu sudah ada di sini, di dalam pelukan ku.